Chapter 76
Suasana semakin gelap karena matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Keremangan kian bertambah sebab kompleks puri ini, selain dikelilingi benteng tinggi, juga dikepung banyak pohon besar seperti kecik, tanjung, bahkan beringin. Suasana akan semakin gelap jika petugas penyulut lampu taman tidak segera datang.
"Coba kau katakan akal terbaik untuk menjegal keputusan Raja," kata Ki Bagus Seta.
"Engkau harus mencoba mengusulkan nama baru yang kau anggap paling cocok menjabat sebagai Penasihat Raja," jawab Bangsawan Soka.
"Siapa yang harus aku ajukan?"
"Seseorang yang kelak kebijaksanaannya akan menguntungkan posisimu sebagai muhara, Seta," kata Bangsawan Soka.
"Ya, siapa?" desak Ki Bagus Seta tak sabar.
"Aku!"
"Engkau yang harus aku ajukan pada Raja?"
"Benar, Seta."
Suasana kembali sepi. Rupanya Ki Bagus Seta sedang berpikir mengenai usul ini.
"Aku perlu memikirkan kemungkinannya," kata Ki Bagus Seta dengan suara yang terdengar bingung oleh Ginggi.
"Engkau meragukanku, Bagus Seta?"
"Bukan begitu," kata Ki Bagus Seta. "Aku sedang berpikir sejauh mana kekuatan dan pengaruh Pangeran Yogascitra di mata Sang Prabu. Aku tidak hafal benar tentangnya. Yogascitra jarang bergaul, sehingga aku kurang mengenal sifatnya. Kalau sekarang tiba-tiba Sang Prabu ingin memilihnya sebagai Penasihat Raja, tentu ada sebabnya."
"Kalau engkau tidak tersinggung, aku ingin mengemukakan sesuatu. Barangkali akan terungkap mengapa Sang Prabu menoleh kepada Bangsawan Yogascitra," kata Bangsawan Soka.
"Cobalah kau katakan."
Sunyi sejenak. Rupanya Bangsawan Soka tengah menyusun perkataan agar dapat diterima dengan baik. Sementara itu, malam sudah mulai jatuh sehingga penerangan di sekeliling hanya mengandalkan lampu taman.
"Aku merasa bahwa kepercayaan Sang Prabu mulai terganggu," kata Bangsawan Soka pada akhirnya.
"Hm, terganggu, ya?" gumam Ki Bagus Seta pelan.
"Dalam beberapa bulan terakhir ini, engkau banyak mengalami kegagalan. Pemasukan pajak semakin berkurang dan ada beberapa wilayah di sebelah barat Cisadane yang mulai berpaling dari Pakuan. Engkau harus berusaha mengembalikan kepercayaan Sang Prabu agar kedudukanmu kuat kembali, Bagus Seta."
"Selama ini aku berusaha mengatur kebijaksanaan agar pajak masuk dengan lancar dan besar."
"Bagaimana dengan wilayah timur yang kau katakan tengah diperjuangkan?" tanya Bangsawan Soka.
"Jangan salah mengerti. Sejak dulu kita bersatu dalam memperkuat kedudukan di Pakuan. Pertanyaanku tadi justru menginginkan jawaban pasti bahwa kedudukan kita tidak terganggu," sanggah Bangsawan Soka.
Sunyi lagi.
"Kau pernah melaporkan kepada Sang Prabu untuk memperkuat pengaruh Pakuan di wilayah timur Sungai Citarum, di mana beberapa wilayah kekuasaan Kandagalante harus dibangun kekuatan pasukan. Penyusunan pasukan sudah dilaksanakan, tapi sejauh ini wilayah timur belum memberikan hasil bagi Pakuan. Hasil pajak yang diambil dari sana masih tidak berarti dibandingkan dana yang sudah dikirim untuk membangun pasukan. Engkau harus bertanya pada pejabat kepercayaanmu yang bernama Ki Banaspati, sejauh mana dia berjuang untuk kepentingan Pakuan," kata Bangsawan Soka.
"Sudah aku tanyai dia. Menurutnya, pajak yang ditarik dari wilayah timur untuk tahun-tahun awal pembentukan pasukan akan sangat sedikit dikirim ke Pakuan karena sebagian besar digunakan untuk membiayai pembentukan pasukan itu sendiri," jawab Ki Bagus Seta.
Bangsawan Soka untuk sementara tidak memberikan komentar sehingga Ginggi hanya menyimak kesunyian, kecuali suara serangga malam yang terdengar dari arah pekarangan.
"Tapi apa pun yang terjadi, kita harus berjuang agar perhatian dan kepercayaan Sang Prabu jangan sampai pindah kepada Bangsawan Yogascitra!" tiba-tiba Bangsawan Soka berkata lagi.
"Ya, memang harus diusahakan. Tapi kita menghadapi kendala amat berat. Sang Prabu tengah menginginkan sesuatu dari Bangsawan Yogascitra. Beliau tertarik kepada keelokan Nyimas Banyak Inten. Kalau keinginan Sang Prabu terlaksana dan putri Bangsawan Yogascitra menjadi selir Raja, kedudukan bangsawan itu akan semakin kuat!"
"Hahaha!" Bangsawan Soka tertawa.
"Mengapa engkau tertawa, Soka?"
"Itulah rupanya kuncinya. Kalau putri Bangsawan Yogascitra dipersunting Raja, hubungan mereka semakin erat dan kedudukan bangsawan itu semakin kuat!"
"Ya, begitu. Tapi mengapa kau tertawa?" Ki Bagus Seta bertanya bingung.
"Sudah aku katakan, itulah kuncinya. Jadi, kalau kau ingin Yogascitra gagal memegang jabatan Penasihat Raja, carilah akal agar hubungan mereka menjadi renggang!" kata Bangsawan Soka.
"Kau maksudkan keinginan Sang Prabu dalam mempersunting putri Yogascitra harus kita gagalkan?"
"Nah, ternyata kau pandai menebak!" seru Bangsawan Soka.
"Tapi amat berbahaya menjegal keinginan Raja," kata Ki Bagus Seta setelah lama terdiam. "Rasanya itu perjuangan amat berat dan penuh risiko."
"Tidak berat kalau kau tahu caranya," desak Bangsawan Soka. "Raja belum pernah mengemukakan keinginannya itu secara langsung. Berita ini pun datangnya baru berupa bisik-bisik para dayang istana. Oleh karena itu, kita harus berpacu. Cepatlah pinang Nyimas Banyak Inten untuk putramu, Suji Angkara, sebab bukankah kau pun maklum tentang keinginan putramu itu?"
Sunyi sebentar.
"Jangan kau risau dengan ini. Barangkali benar Sang Prabu akan sedikit tersinggung, namun aku hafal betul perangai beliau. Kemarahannya akan cepat sirna kalau ada keinginan lain sebagai penggantinya. Serahkanlah putrimu, Nyimas Layang Kingkin, pada Raja. Beliau pasti senang!"
"Gila!"
"Kau jangan merendahkan anakmu sendiri, Seta! Nyimas Banyak Inten memang putri elok, tapi Nyimas Layang Kingkin lebih matang dan dewasa. Dia akan lebih pandai melayani keinginan Sang Prabu!"
"Tapi kau harus tahu, putriku sudah lama berhubungan dengan Banyak Angga, bahkan Bangsawan Yogascitra sudah mengajukan pinangan. Kami hanya menunggu waktu yang baik kapan mereka akan kunikahkan!" kata Ki Bagus Seta.
"Betul, tapi persetujuanmu dengan keluarga Bangsawan Yogascitra terjadi sebelum ada masalah pencalonan Penasihat Raja. Sekarang kau harus berpikir lain. Urusan pernikahan putrimu kini bukan sekadar memilih besan, melainkan sudah beranjak ke masalah kedudukan, bahkan memengaruhi nasib kerajaan ini sendiri. Segalanya kini bergantung kepada kebijaksanaanmu. Kalau kau mengalah dan membiarkan Yogascitra menjadi Penasihat Raja, kebijaksanaan di Pakuan dengan sendirinya akan banyak bergulir. Padahal selama ini kebijaksanaan Raja dalam mengendalikan Pakuan lebih terpusat dari lontaran gagasan kita. Kau pikirkanlah itu, Seta!" kata Bangsawan Soka sungguh-sungguh.
Kembali keheningan terjadi, sehingga Ginggi yang mendekam di atas atap sirap tidak mengetahui lagi apa yang sebetulnya tengah mereka lakukan.
Burung merpati yang senang berkeliaran di sekitar puri sudah mencari tempat berlindung untuk menghabiskan malam. Beberapa di antaranya hinggap di tepi genteng sirap tempat Ginggi mendekam. Semula, unggas itu tidak menjadi masalah bagi Ginggi. Namun, suatu saat pemuda itu terkejut ketika mendengar Ki Bagus Seta memanggilnya.
Ginggi tercekat. Tidak datang menghampiri akan menimbulkan pertanyaan, tetapi meloncat turun juga akan memicu kecurigaan karena burung-burung akan terkejut oleh gerakannya. Namun, karena situasi mendesak, pemuda itu mengambil risiko. Secara hati-hati dia meloncat turun dan menjejak tanah dengan ringan.
Meski gerakan itu terkontrol dan hampir tidak menimbulkan bunyi, desiran angin saat tubuhnya turun membuat beberapa merpati terkejut dan beterbangan. Ginggi segera menyelinap masuk ke ruangan belakang dan tergopoh-gopoh menuju ruangan tengah. Pemuda itu berdebar ketika kedua pejabat tersebut memandangnya dengan penuh selidik, terutama tatapan mata Ki Bagus Seta yang tajam.
"Ada apa, Juragan?" tanya Ginggi dengan suara senormal mungkin.
"Aku dengar di luar amat berisik, ada apakah?" Ki Bagus Seta masih menatapnya.
"Oh, baik, saya periksa apa yang terjadi di luar sana," jawab Ginggi hendak berlalu.
"Tidak usah pergi. Aku tahu di atas atap banyak burung dara menumpang tidur," gumam Ki Bagus Seta.
Ginggi menghentikan langkahnya.
"Kau bawalah obor, kemudian antar Juragan Soka pulang ke purinya!" perintah Ki Bagus Seta.
Ginggi mengangguk dan segera menuju ruangan belakang untuk mengambil obor. Di pekarangan depan, Bangsawan Soka sudah menanti, sementara Ki Bagus Seta berdiri di beranda. Mereka memandang Ginggi dengan saksama sebelum memberikan perintah untuk segera kembali setelah mengantar tamu tersebut.
"Baik, Juragan. Saya jalan di depan," kata Ginggi. Bangsawan Soka berjalan di belakangnya.
"Sudah berapa lama kau menjadi badega di puri Bagus Seta?" tanya Bangsawan Soka di tengah perjalanan.
"Hampir satu bulan, Juragan," jawab Ginggi sambil mengawasi jalan yang mereka lewati. Jalanan cukup gelap dan cahaya obor yang bergoyang terkena angin hanya membuat matanya silau.
"Rupanya engkau bukan badega biasa," gumam Bangsawan Soka.