Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 77

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 77

"Mengapa, Juragan?"

"Langkahmu ringan, begitu pun gerakanmu. Aku suka padamu. Kalau semua badega memiliki kepandaian sepertimu, semua majikan akan merasa terjaga keamanannya," kata Bangsawan Soka.

Berdebar dada pemuda itu mendengar pujian tersebut. Baru disadarinya kini bahwa selama ini dia kurang berhati-hati dalam bertindak. Membodohi pemuda Seta, Madi, atau bahkan setingkat Suji Angkara mungkin masih tak mengapa sebab kepandaian mereka yang sudah dia ukur tidak akan cukup jeli. Namun, kedua orang tua ini sudah memiliki asam garam pengalaman. Ginggi sudah mendengar bahwa Bangsawan Soka dulunya adalah perwira seribu pengawal Raja. Ki Bagus Seta, selain murid terpandai Ki Darma, juga dikabarkan banyak mencari ilmu tambahan setelah lama berpisah dengan sang guru.

Ginggi terlalu merendahkan kemampuan mereka, terbukti kini Bangsawan Soka sudah bisa meraba bahwa dirinya "berisi". Ginggi tak mungkin berpura-pura lagi; jika gerakannya tiba-tiba diperberat, hal itu hanya akan menambah kecurigaan sang bangsawan.

"Sebelum bertugas di Puri Bagus Seta, saya adalah badega Raden Suji Angkara. Di sana banyak jagabaya yang pandai, dan kadang-kadang saya diperbolehkan ikut serta latihan kewiraan. Saya memang berhasrat menjadi jagabaya juga," kata Ginggi mencari-cari alasan semampunya.

Rupanya bangsawan itu maklum dan kecurigaannya sedikit berkurang. Sampai tiba di puri kediamannya, Bangsawan Soka tidak mengajukan pertanyaan aneh-aneh lagi. Namun, setelah mengantar pulang bangsawan bertubuh gemuk itu, perasaan khawatir mulai menyelimuti Ginggi. Sekilas tadi, ia bisa menyaksikan sorot tajam penuh selidik dari Ki Bagus Seta. Barangkali benar, selama ini Ki Bagus Seta telah memendam rasa curiga. Bayangkan, hanya dalam sekilas saja Bangsawan Soka bisa menduga dia "berisi", apalagi Ki Bagus Seta yang hampir sebulan memiliki kesempatan menelitinya.

"Mudah-mudahan penilaianmu tidak keliru, sehingga aku pun tak meragukannya," terngiang lagi ucapan Ki Bagus Seta terhadap Suji Angkara ketika Ginggi diserahkan untuk bertugas di puri tersebut. Sejak hari itu, sebenarnya Ginggi sudah merasakan ada kesangsian dari orang tua tangguh itu. Namun, dugaannya sempat ia tepis dan menganggap perasaannya hanya berlebihan. Sekarang terbukti bahwa dugaannya tempo hari benar belaka.

Ginggi harus berhati-hati dan bersiap menghadapi segala kemungkinan setibanya di Puri Bagus Seta. Perlukah dia berterus terang bahwa dirinya adalah murid Ki Darma juga? Jika Ki Bagus Seta tahu Ginggi adalah utusan yang mengemban amanat sang guru, bagaimana pandangan pria itu terhadapnya? Akankah dia menariknya sebagai sekutu? Sekutu dalam hal apa? Ginggi masih bingung memikirkannya.

Ki Bagus Seta selama ini bergerak di lingkungan istana, namun Ginggi belum tahu persis apa yang sebenarnya ia lakukan di sana. Apakah semua kegiatan di Pakuan masih ada pertaliannya dengan misi yang dibebankan Ki Darma? Bila menyimak obrolan Ki Bagus Seta dengan Bangsawan Soka senja tadi, kentara sekali murid Ki Darma ini berupaya memegang kendali di Pakuan. Jika dipertalikan dengan gerakan Ki Banaspati, sepertinya mereka memiliki persamaan tujuan, yaitu sama-sama berambisi memiliki pengaruh di Pakuan. Gerakan Ki Banaspati malah lebih jelas dalam pandangan Ginggi, yaitu ingin merebut kekuasaan negara dari tangan Raja yang ada sekarang.

Keduanya memiliki persamaan tujuan, tapi apakah mereka sejalan dan bergabung dalam satu persekutuan? Ginggi belum bisa menebak. Di Pakuan, ia hanya satu kali melihat Ki Banaspati, yaitu saat uji keterampilan di alun-alun benteng luar. Setelah itu, Ginggi tidak melihatnya lagi. Ginggi mendapat kabar bahwa Ki Banaspati datang ke Pakuan untuk melaporkan kegiatannya di wilayah timur sekaligus menghadiri perayaan Kuwerabakti. Setelah perayaan itu selesai, kabarnya dia segera kembali ke timur. Gerakan Ki Banaspati yang tengah membangun pasukan di wilayah timur sudah bisa disimak oleh Ginggi.

Segalanya kini bergantung pada Ginggi; apakah ia akan bergabung dengan gerakan Ki Banaspati atau tidak. Namun, terhadap Ki Bagus Seta, dia perlu hati-hati dan penyelidikan harus terus dilakukan. Menurut penilaiannya, gerakan Ki Bagus Seta di Pakuan masih samar-samar. Sekalipun benar orang ini berusaha menanamkan pengaruh, Ginggi belum bisa meraba apa tujuan sebenarnya. Apakah benar demi amanat Ki Darma? Kalau benar Ki Bagus Seta melangkah di atas perintah guru, mengapa dia berperan sebagai pengendali penarikan pajak tinggi? Gerakan Ki Bagus Seta sepertinya bertolak belakang dengan perintah Ki Darma yang menginginkan semua muridnya berdiri di atas kepentingan rakyat.

Sebelum benar-benar tahu apa tujuan sebenarnya Ki Bagus Seta, Ginggi berniat akan terus menyembunyikan jatidiri. Ginggi mengetuk pintu benteng puri yang sudah ditutup jagabaya. Pintu segera dibuka karena jagabaya tahu siapa yang datang.

"Padamkan oncor!" kata seorang jagabaya bertubuh kekar dengan cambang bauk yang cukup lebat.

Ginggi menurut memadamkan obor, dan situasi di pintu menjadi remang karena hanya mendapat cahaya dari lampu pekarangan yang letaknya agak jauh. Ginggi heran mengapa di depan puri tak dipasang obor. Pintu benteng segera ditutup dan di keremangan terdapat empat orang jagabaya lagi.

"Ikut aku!" kata si cambang bauk bertubuh kekar.

Ginggi mengikuti di belakangnya, sementara dua jagabaya lain menguntit dari belakang. Berdesir darah pemuda itu. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tak beres. Tidakkah ini lantaran kecurigaan Ki Bagus Seta terhadapnya? Ginggi harus siap-siap, kendati belum tahu persiapan apa yang mesti dia lakukan. Kecurigaan semakin menebal ketika jagabaya kekar itu membawanya ke sebuah gudang halaman belakang yang amat sunyi. Bangunan itu besar, terkesan angker, dan letaknya terpencil, sehingga jika terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya, tak mungkin diketahui penghuni puri yang lain.

"Masuk," gumam jagabaya ketus.

Ginggi menghentikan langkah. "Ada apakah, Paman?" tanya Ginggi heran, sengaja menampakkan wajah takut. Harus begitu, sebab jika pemuda itu berlaku tenang, hanya akan membuat mereka semakin curiga.

"Masuk, kataku!" Ginggi didorong masuk.

Setelah berada di dalam, daun pintu segera ditutup oleh dua jagabaya yang tadi mengikutinya. Begitu pintu tertutup rapat, ketiga orang itu segera menghambur ke depan dan mengirim beberapa pukulan telak ke arah Ginggi. Walau ada serangan dari tiga jurusan sekaligus, dalam pandangan Ginggi, serangan ketiganya hanya lamban saja. Ketiga jagabaya ini hanya memiliki gerakan luar dan mengandalkan tenaga kasar.

Jika Ginggi mau, hanya dengan satu tindak ke belakang dia sudah bisa menghindar. Jika ia mau, dalam satu sapuan kaki kiri saja, ia sudah bisa merobohkan ketiganya sekaligus karena kuda-kuda mereka lemah. Tapi, jika Ginggi melakukan semua itu, dia justru membuktikan kecurigaan mereka. Ginggi maklum, ketiga jagabaya ini tengah menjalankan tugas majikannya untuk menguji dan mengorek dirinya. Ginggi tak mau kecurigaan Ki Bagus Seta terbukti, untuk itulah dia membiarkan serangan itu berlangsung.

*Bak-bik-buk, bak-bik-buk!*

Beberapa pukulan bersarang ke tubuh Ginggi. Ada yang mengarah telak ke hidung sehingga darah segar mengucur, ada pula yang menghantam ulu hati sehingga tubuh Ginggi terjengkang.

"Ada apa ini! Ada apa ini!" Ginggi berguling-guling di tanah ketika ketiganya terus mengejarnya. "Hei, kalau mau berkelahi harap jujur! Jangan main keroyok seperti ini. Aduh! Pengecut kamu!" teriak Ginggi.

"Coba kau layani sendirian, Sarpani!" kata si kekar kepada seorang jagabaya.

"Disangka aku tak bisa berkelahi, ya? Ayo, maju satu-persatu!" kata Ginggi sembari menyeka darah di hidungnya.

Ginggi memasang kuda-kuda, namun gerakannya dibuat kasar. Ketika serangan tangan kanan lawan datang, Ginggi menepis dengan tangan kiri. Dua pasang tangan beradu keras dan Ginggi berteriak "kesakitan" sambil memegangi pergelangan tangannya. Sebelum dia berjingkat mundur, sodokan tangan kiri lawan datang lagi mengarah ke ulu hati. Ginggi mundur setindak, namun kakinya tersandung ember kayu dan tubuhnya jatuh telentang.

Sodokan gagal, dan si penyerang menggantinya dengan gerakan kaki kanan untuk menginjak perut pemuda itu. Ginggi tak sempat berguling. Akibatnya, kaki yang bertelapak kasar itu dia tahan dengan sepasang tangannya. Kini terjadi adu tenaga. Lawan dari atas berusaha keras menekan kakinya, sementara Ginggi di bawah berusaha menahannya. Tenaga pijakan itu sebetulnya biasa saja. Jika mau, sekali pelintir, sambungan tulang kaki lawan akan patah dan lepas. Namun, Ginggi tak melakukan itu. Dia malah berteriak-teriak minta tolong karena tangannya "tak kuat" menahan pijakan. Akhirnya, serangan kaki itu berhasil menekan ulu hatinya.

Pintu gudang tiba-tiba terbuka dari luar dan Ki Bagus Seta tampak berdiri membentuk bayangan hitam karena ruangan hanya remang-remang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment