Chapter 78
"Cukup!" kata Ki Bagus Seta.
Ginggi terengah-engah bangun dan memegangi perutnya. Sesekali disekanya hidung yang masih mengeluarkan sedikit darah.
"Apa dosa saya, Juragan, disiksa seperti ini?" keluh Ginggi dengan nada hormat.
Ki Bagus Seta tidak menjawab, kecuali memberi tanda agar para pembantunya segera meninggalkan tempat itu.
"Engkau mencurigakan, anak muda. Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Bagus Seta sesudah mereka pergi.
"Nama saya Ginggi, Juragan!"
"Itu aku sudah tahu. Yang aku maksud, mengapa kau datang ke puri ini?"
"Saya tak bermaksud ke puri ini. Siapa saja yang menyalurkan saya bekerja, di sanalah saya berada, Juragan. Saya tinggal di sini karena Raden Suji mengirim saya ke sini dan kebetulan Juragan mau menerima saya. Hanya itu. Dan mengapa dianggap sebagai dosa sehingga saya mesti dianiaya seperti ini?" Ginggi kembali menyeka darah di lubang hidungnya.
Ki Bagus Seta mendengus kemudian menatap Ginggi. "Tidakkah kau datang karena diutus anakku?" tanyanya.
Giliran Ginggi yang balik menatap. "Ya, memang begitu. Bukankah tadi sudah saya katakan demikian?" jawab Ginggi berpura-pura polos.
"Tapi engkau diutus anakku untuk mencari dengar atau meneliti apa yang terjadi di sini, bukan?"
Ginggi terkejut. Benar, murid Ki Darma ini selalu penuh selidik. Terbukti pikirannya mampu menduga sampai ke sana.
"Saya tak tahu apa yang dimaksud Juragan," kata Ginggi sambil mengerutkan dahi.
"Kepandaianmu kasar, tak sebanding dengan para pembantuku. Tapi, sebetulnya tak layak bagi seorang badega memiliki ilmu kewiraan. Benarkah engkau seorang badega, atau kau berlindung di balik pekerjaanmu agar bebas melakukan penyelidikan?" tanya Ki Bagus Seta lagi.
"Saya seorang badega tulen, Juragan. Tapi kalau saya pandai memainkan jurus, itu karena di puri Raden Suji banyak orang pandai, dan saya diam-diam berlatih meniru mereka yang sedang berlatih. Saya masih muda dan cita-cita saya tinggi. Masa dari kecil sampai sekarang saya terus-terusan jadi badega? Tahun depan pada perayaan Kuwerabakti saya akan ikut uji keterampilan. Siapa tahu saya lulus jadi prajurit Pakuan," kata pemuda itu berkelit mencari alasan.
Mendengar ocehan tersebut, Ki Bagus Seta termangu sejenak, kemudian tertawa terkekeh-kekeh. Ginggi tak bisa menduga apa maksud tawa itu, apakah sekadar mencemooh atau memang merasa lucu. Yang jelas, hari itu Ginggi dibebaskan dan Ki Bagus Seta tidak memperpanjang urusan dengannya.
Ginggi kembali mengerjakan tugas sehari-hari di puri sebagai pelayan rumah tangga, menyuguhkan makanan, pakaian, atau keperluan apa saja bagi pemilik puri. Kini, setelah peristiwa itu, Ginggi semakin hati-hati dalam bertindak. Setiap berjalan, ia berusaha tidak segesit dan seringan sebelumnya karena gerakan seperti itu mengundang perhatian khusus bagi orang-orang pandai seperti Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta. Pemuda itu pun tak lagi sembrono menguping pembicaraan Ki Bagus Seta. Peristiwa penting yang bisa ia simak di puri setelah kejadian malam itu hanyalah rencana Ki Bagus Seta untuk "menawarkan" putrinya kepada Sang Prabu.
Suatu senja, Ginggi masuk ke ruangan tengah. Di sana sedang duduk Ki Bagus Seta beserta istrinya di satu pihak, serta Nyimas Layang Kingkin di pihak lain. Mereka duduk saling berhadapan. Ki Bagus Seta bersila tegak di atas bangku kayu jati berukir, sementara istri dan putrinya duduk bersimpuh di atas hamparan tikar beludru hitam bersulam benang emas. Tidak semua pembicaraan mereka bisa didengar Ginggi, namun inti percakapan tersebut adalah perihal keinginan Ki Bagus Seta.
"Bagaimana, sudah kau pikirkan baik-baik, anakku?" tanya Ki Bagus Seta menatap gadis elok yang duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk malu.
"Kehormatan paling besar bagi Nyimas bila kau berhasil dipersunting Raja," komentar istri Ki Bagus Seta yang tampak mendukung cita-cita suaminya.
"Hidup saya adalah untuk kebahagiaan Ramanda dan Ibunda. Namun, saya mempunyai masalah berat yang mungkin Ramanda dan Ibunda pun maklum adanya," kata Nyimas Layang Kingkin tetap menunduk.
Ki Bagus Seta tersenyum mendengarnya. "Ucapanmu hanya berarti kau setuju dengan pendapatku, anakku. Jangan kau risaukan urusan itu. Aku memang maklum kau menghadapi masalah berat sebab engkau sudah berhubungan intim dengan Raden Banyak Angga. Pertunanganmu dulu itu aku yang buat, dan aku pula yang akan memutuskannya," tegas Ki Bagus Seta.
"Saya tak berani menghadapi kemarahan Raden Banyak Angga beserta Pangeran Yogascitra, Ramanda!"
"Mereka tidak akan marah sebab risikonya amat tinggi. Marah terhadapmu sama dengan marah terhadap Raja. Beranikah mereka berlaku kurang ajar terhadap Sang Prabu?" tanya Ki Bagus Seta. Istrinya ikut mengangguk.
"Hai, Ginggi! Pergi kau!" Ki Bagus Seta setengah membentak. Serta-merta pemuda itu berjingkat pergi dari ruangan sambil menjinjing baki kayu.
Sesampainya di ruangan belakang, Ginggi termangu-mangu. Ia masih mengingat pembicaraan penghuni puri tersebut. Aneh sekali rasanya, cinta bisa dioper-oper sedemikian mudahnya. Setahu Ginggi, antara Nyimas Layang Kingkin dan Banyak Angga sudah lama menjalin hubungan kasih. Bahkan kabarnya, Pangeran Yogascitra sudah mengirimkan surat pinangan dan Ki Bagus Seta telah menerimanya. Sekarang, bagaimana mungkin ikatan ini akan dibatalkan dengan mudah?
Yang paling mengherankan adalah sikap Nyimas Layang Kingkin sendiri. Masih terbayang di pelupuk mata Ginggi ketika acara di Leuwi Kamala Wijaya atau Leuwi Sipatahunan dalam perayaan Kuwerabakti beberapa bulan lalu. Hubungan pasangan muda-mudi bangsawan itu demikian mesra dan intim. Tampak sekali perhatian berlebih dari Banyak Angga terhadap Nyimas Layang Kingkin, dan sebaliknya. Beberapa minggu lalu, Ginggi bahkan sibuk mondar-mandir sebagai pengirim surat untuk kepentingan dua belah pihak.
"Pantas saja akhir-akhir ini Nyimas Layang Kingkin tak lagi menyuruhku mengantarkan suratnya," gumam Ginggi dalam kesendirian.
Begitu tegakah Nyimas Layang Kingkin mempermainkan cinta? Namun, pemuda itu ingat akan beberapa kejadian di kalangan istana Pakuan. Dalam beberapa bulan ini, ada putra-putri bangsawan yang melangsungkan perkawinan tanpa didasari cinta, melainkan hanya karena kewajiban terhadap orang tua. Apabila seorang putri bangsawan dicintai oleh atasannya—misalnya pejabat berpangkat mangkubumi—maka sang putri akan diserahkan tanpa bertanya apakah putrinya bersedia atau tidak. Keberadaan putra-putri bangsawan istana sepertinya hanya berfungsi sebagai penguat kedudukan orang tua. Begitu pula rupanya nasib Nyimas Layang Kingkin.
Dulu, hubungan Nyimas Layang Kingkin dan Banyak Angga direstui Ki Bagus Seta karena ingin memperkuat kedudukannya di Pakuan. Bangsawan Yogascitra merupakan orang penting dan kerabat Raja. Mungkin perhitungan Ki Bagus Seta saat itu, berbesan dengan kerabat Raja akan memperkuat posisinya. Namun belakangan, Bangsawan Yogascitra secara tak sadar telah menjadi rival bagi Ki Bagus Seta. Didukung pengaruh Bangsawan Soka, Ki Bagus Seta secara berani memutuskan sepihak hubungan pertunangan anaknya dan hendak "menyerahkannya" kepada Raja. Berbesan dengan Raja secara politis lebih menguntungkan ketimbang berbesan dengan Pangeran Yogascitra yang kelak bisa menjadi penghalang ambisinya.
Ya, menurut pengamatan Ginggi, tindak-tanduk sebagian bangsawan Pakuan ini ternyata menyebalkan. Mereka lebih banyak berbicara urusan kedudukan daripada hal-hal lainnya, seperti membela kepentingan rakyat. Sepertinya sudah tidak ada lagi kata hati, sebab yang ada hanyalah ambisi.
Suatu hari, Ginggi menyaksikan kerumitan akibat kebijakan Ki Bagus Seta tersebut. Ketika sedang menuntun kuda di jalan durian—sepanjang jalan menuju istana yang tepi-tepinya ditanami pohon durian—dia dicegat oleh Banyak Angga. Rupanya pemuda itu secara khusus menunggunya. Tiga kali dalam seminggu, Ginggi memang biasa membawa kuda dari puri Ki Bagus Seta untuk berolahraga agar binatang tersebut tidak kaku.
"Ginggi!"
"Oh, Raden Angga!" Ginggi menghentikan langkah kuda dan menghampiri Banyak Angga yang berteduh di bawah pohon durian.
"Sedang apakah, Raden?" tanya Ginggi menatap wajah pemuda yang putih dan tampan itu.
"Sudah lama aku tak melihatmu. Biasanya kau datang ke puriku. Ke mana saja kau akhir-akhir ini?" tanya pemuda itu sambil mengusap leher kuda yang berbulu hitam tebal.
"Saya tak ke mana-mana. Sekurang-kurangnya tiga hari dalam seminggu saya melewati jalan durian ini," jawab Ginggi hormat. Namun, ia tahu yang dimaksud pemuda itu bukanlah hal tersebut.
Banyak Angga mengambil sesuatu yang disimpan di saku bajunya yang lebar. Benda itu ternyata kotak surat terbuat dari kayu cendana. Tercium wangi kayu itu ketika ia menyodorkannya kepada Ginggi.
"Untuk Nyimas Layang Kingkin?" tanya Ginggi.
Banyak Angga mengangguk. "Tolong balasannya, Ginggi?" gumam Banyak Angga penuh harap.
Ginggi hanya menganggukkan kepala.