Chapter 79
Sesudah itu, Ginggi memohon diri karena takut pemuda itu bertanya lebih jauh perihal gadis kekasihnya. Hari itu juga kotak surat diserahkannya kepada Nyimas Layang Kingkin. Ginggi selintas melihat wajah gadis itu sedikit berubah; sebentar tampak pucat, sebentar kemudian bersemu merah. Ginggi akan segera berlalu sebab merasa tidak pantas menyaksikan orang membaca surat.
"Kau tunggulah di sini, Ginggi," cegah gadis itu.
Namun, cukup lama ia menunggu, tidak tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu di ruangan dalam. Yang jelas, Ginggi merasa penat. Sesudah menunggu lama, gadis itu muncul dengan wajah kelabu dan tampak sangat gundah.
"Ginggi, sudahlah, pergilah kamu!" gumamnya seperti bingung.
Ginggi hendak berlalu, tetapi gadis itu memanggilnya lagi, membuat Ginggi sedikit kesal.
"Ada apakah, Nyimas?" tanya Ginggi menatap gadis itu.
"Aku barusan mau membuat surat balasan, tetapi tidak ada kata-kata yang harus kususun dengan baik. Setiap aku goreskan kata, terasa berat tanganku. Jadi, harus bagaimana aku?" tanyanya menatap Ginggi.
Ginggi hanya tersenyum tipis. "Bagaimana saya bisa membantu, sedangkan masalahnya saja saya tidak tahu?" jawabnya berpura-pura.
Gadis itu menghela napas panjang. "Aku berdosa besar padanya. Bagaimana aku harus katakan perihalku?" tanyanya pada diri sendiri.
"Saya tak tahu apa-apa, Nyimas," gumam Ginggi.
"Kau sampaikanlah padanya. Kadang-kadang hidup ini penuh arti bila sanggup meraih ambisi paling besar. Dan untuk meraih sesuatu yang paling besar, pengorbanan pasti terjadi," kata gadis itu.
Ginggi hanya mengangguk pelan. Ketika ia mengundurkan diri dari pelataran rumah gadis itu, ia berjalan sendirian di tepi taman dengan senyum pahit menghias bibirnya. Barangkali gadis itu tengah terombang-ambing antara cinta dan ambisinya. Namun, ternyata ambisinyalah yang harus dia menangkan. Dia akan memilih ambisi sambil mengorbankan cintanya.
Cinta? Benarkah gadis itu memiliki cinta? Benarkah ada cinta yang ia korbankan? Ginggi teringat kembali obrolan Nyimas Layang Kingkin dengan Suji Angkara, saudara tirinya. Ketika itu, Suji Angkara tampak gundah karena perasaan cintanya terhadap Nyimas Banyak Inten akan menghadapi tantangan besar karena harus bersaing dengan cinta seorang Raja. Namun, perasaan putus asa pemuda itu selalu ditepis oleh Nyimas Layang Kingkin. Gadis itu tetap memberikan dorongan agar pemuda itu memperjuangkan keinginannya.
Awalnya, Ginggi mengira dorongan itu muncul karena perasaan kasih seorang adik yang ingin membela kepentingan kakaknya. Namun setelah peristiwa beberapa hari ini, Ginggi punya dugaan lain bahwa Nyimas Layang Kingkin selalu mendesak Suji Angkara demi maksud tertentu. Bila Nyimas Banyak Inten bisa digaet Suji Angkara, Sang Prabu Ratu Sakti akan mencari gadis pengganti. Kentara sekali, Nyimas Layang Kingkin sebenarnya punya ambisi untuk menjadi selir Raja. Ketika gadis itu ditanya ayahnya tempo hari tentang kemungkinan ini, tidak ada bantahan berarti, padahal ia tahu dirinya telah bertunangan dengan Banyak Angga, kakak kandung Nyimas Banyak Inten.
"Hm, pandai sekali mereka mencari peluang," gumam Ginggi sambil melangkah menuju bangsal tengah.
Di bangsal, dia sudah dinanti Ki Bagus Seta. "Lama sekali engkau bepergian, Ginggi," kata penghuni puri itu.
"Saya berkeliling ke benteng luar agar kuda-kuda tidak merasa jenuh. Sudah hampir dua minggu mereka tidak berlari jauh. Juragan sudah lama tidak berburu ke lereng Gunung Salak," alasan Ginggi.
Ki Bagus Seta tidak mengomentari. Ia malah mengambil sesuatu dari atas meja. "Antarkan kotak surat ini kepada Pangeran Yogascitra," katanya menyerahkan kotak kayu cendana berukir indah.
Ginggi segera menerima kotak itu. "Harus hari ini juga tiba di Puri Yogascitra," perintah Ki Bagus Seta.
"Baik, Juragan."
Ginggi kembali berangkat ke luar puri. Ia menyusuri dalem khita, memotong ke lorong yang diapit dua benteng, lalu menyusuri jalan berbalay hingga tiba di Puri Pangeran Yogascitra.
"Ada keperluan apakah datang ke puri ini?" tanya jagabaya sopan.
"Saya utusan Ki Bagus Seta, hendak mengirimkan kotak surat untuk Juragan Yogascitra," kata Ginggi hormat.
"Mari aku antar ke dalam puri."
Saat diantar masuk, Ginggi bertemu dengan Banyak Angga. "Apakah itu kotak surat untukku, Ginggi?" tanya pemuda itu bergairah.
"Ini surat untuk ayahandamu, Raden," kata Ginggi.
"Kiriman dari Juragan Ki Bagus Seta," lanjutnya.
"Kiriman surat balasan untukku bagaimana, Ginggi?" Banyak Angga masih penasaran.
"Saya hanya diperintahkan mengirimkan kotak surat ini oleh Juragan Bagus Seta untuk Juragan Yogascitra," jawab Ginggi.
Ginggi melanjutkan langkah bersama jagabaya menuju paseban. Di sana, Pangeran Yogascitra sedang duduk bersama seorang lelaki tua berwajah lembut yang memakai sorban putih dan berjenggot panjang. Ginggi tahu itu adalah Purohita Ragasuci, jabatan kependetaan tertinggi di istana.
"Sampurasun," ucap Ginggi.
"Rampes. Silakan duduk anakku," jawab Pangeran Yogascitra ramah.
"Saya diutus Juragan Bagus Seta menyerahkan kotak surat ini," kata Ginggi sambil menyodorkan kotak kayu cendana.
Pangeran Yogascitra membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat seikat daun nipah. Ia membeberkan susunan daun tersebut dan membacanya dengan saksama. Kian lama menyimak, semakin berkerut dahinya. Ia kemudian menatap tajam Banyak Angga dan menyodorkan surat itu kepada Purohita Ragasuci.
Setelah selesai membaca, Purohita Ragasuci menoleh kepada Banyak Angga sambil tersenyum tipis. "Sebaiknya sampaikan segera kepada yang bersangkutan agar hatinya tidak dipenuhi berbagai pertanyaan," katanya kepada Pangeran Yogascitra.
"Bagus Seta membatalkan pertunanganmu dengan Nyimas Layang Kingkin," ucap Pangeran Yogascitra dengan nada pahit.
Wajah Banyak Angga memucat dan bibirnya gemetar. "Apa artinya ini, Ginggi?" tanyanya dingin kepada Ginggi.
"Dia hanyalah seorang badega, tak bisa kau mintai penjelasan," sela Pangeran Yogascitra.
"Kalau begitu, kita berangkat ke puri Bagus Seta untuk minta penjelasan, Ayahanda!" teriak Banyak Angga.
"Penjelasan sudah ada di dalam surat ini. Mereka membatalkan pertunangan karena keinginan Sang Prabu. Beliau berkenan mengangkat Nyimas Layang Kingkin sebagai selir," kata Pangeran Yogascitra lemah.
Ginggi melihat Banyak Angga mengatupkan mulutnya rapat, dengan gigi yang berkerutuk menahan amarah. "Saya malah mendengar bisik-bisik di kalangan para dayang istana bahwa Sang Prabu tengah tergila-gila pada adikku, Banyak Inten."