Chapter 80
"Mana yang benar?" gumam pemuda itu dengan nada pedih.
"Dalam surat ini, Bagus Seta malah ingin merundingkan pertunangan putranya, Raden Suji, dengan adikmu," gumam Bangsawan Yogascitra.
Kini giliran tubuh Ginggi yang mendadak panas dingin. Namun, rupanya yang merasa tak enak atas "penawaran" ini bukan saja Ginggi; Banyak Angga pun seperti memiliki perasaan yang sama, kendati alasannya berlainan.
"Ayahanda, begitu mudahnya mereka menukar-nukar pertunangan. Benarkah pemuda anak Ki Bagus Seta itu cinta pada adikku, atau sekadar keinginan orang tuanya untuk mengatur sana-sini?" tanya Banyak Angga.
"Bagus Seta menginginkan, kendati hubungan pertunangan antara kau dan Nyimas Layang Kingkin batal, jangan sampai hubungan kekerabatan putus begitu saja. Itulah sebabnya dia mengajukan pinangan agar adikmu dipersunting putra tertuanya, yaitu Raden Suji Angkara. Memang ada benarnya perkataan Ki Bagus Seta. Tapi entahlah, apakah ucapannya ini terlahir dari maksud baiknya?" kata Bangsawan Yogascitra.
Ginggi ingin sekali ikut bicara, tapi akan lancang bila dia menyela pembicaraan, apalagi suasana sedang diliputi ketidakenakan. Sementara itu, Bangsawan Yogascitra segera menyuruh badeganya untuk menjemput Nyimas Banyak Inten di puri belakang.
Seperti ada suara bertalu-talu di dalam dada Ginggi ketika dari luar datang dua orang. Satu gadis berjalan di depan, dan satu lagi mengiringinya dari belakang. Bukan badega yang tadi disuruh, melainkan seorang pemuda tampan berpakaian santana. Ginggi hapal betul, gadis itu tak lain adalah Nyimas Banyak Inten.
Dia melangkah pelan karena kain sutra warna biru tua membungkus tubuhnya cukup ketat sehingga lekuk tubuhnya terbayang nyata. Selendang warna kuning tua berbahan sutra tipis berkibar-kibar di bahunya. Keindahan itu semakin sempurna manakala matahari senja menyorot tubuh gadis itu, menimbulkan rona cahaya yang khas.
Sedangkan pemuda yang mengiringinya di belakang adalah Purbajaya. Dengan amat santun, dia berjalan sehingga langkahnya terbawa pelan. Ginggi agak tertegun, mengapa Purbajaya bersama Nyimas Banyak Inten? Di dalam hatinya seketika timbul perasaan cemburu, hanya tentu saja pemuda itu segera menekan perasaannya.
Nyimas Banyak Inten menyembah takzim, baik kepada ayahnya maupun kepada Purohita Ragasuci. Sesudah itu, gadis berwajah lembut ini duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk.
"Nampaknya kalian habis berjalan-jalan, ya?" kata Bangsawan Yogascitra menatap kedua muda-mudi itu bergantian.
"Sekadar menghirup udara segar di sore hari, Ayahanda," jawab Nyimas Banyak Inten tersipu.
"Dan saya hanya sekadar mengawalnya, Paman Yogascitra," kata Purbajaya. Perkataannya seperti orang yang takut dicurigai karena berani dekat dengan putri penghuni puri ini. Mendengar jawaban itu, Bangsawan Yogascitra hanya tersenyum tipis.
Sudah sejak dari Tanjungpura, Ginggi sebenarnya sudah tahu tentang Purbajaya. Ginggi merasa bersyukur pemuda ini hingga kini masih dalam keadaan bugar, padahal menurut perkiraannya, pemuda ini tengah dikuntit bahkan diuber Suji Angkara. Ginggi tak bisa menduga mengapa tidak terjadi gangguan dari Suji Angkara, padahal menurut ancamannya, Purbajaya akan "dibereskan". Ginggi menganggap istilah "dibereskan" berarti dibunuh.
Suji Angkara yang kini dinilai jahat oleh Ginggi, memiliki alasan untuk melenyapkan Purbajaya. Dengan dalih akan "menghukum" dosa Purbajaya karena telah menyakiti hati tunangannya hingga putri Juragan Ilun Rosa bunuh diri, pemuda bejat itu berusaha menghapus jejak kejahatannya. Padahal, Ginggi mulai yakin bahwa Suji Angkara di Tanjungpura pasti telah berbuat sesuatu yang amat merugikan harga diri gadis putri Juragan Ilun Rosa, lalu dengan licin melimpahkan kesalahannya kepada Purbajaya.
"Nampaknya Ayahanda berkepentingan memanggil saya. Ada urusan apakah?" tanya Nyimas Banyak Inten dengan suara halus.
"Benar sekali, anakku. Kalau ibundamu masih hidup, seharusnya akulah dan ibundamulah yang duduk berkumpul di sini, sebab yang akan aku bicarakan menyangkut masa depanmu. Namun, hatiku cukup tenang karena ada Mamanda Purohita dan kakakmu di sini. Semuanya bisa kita mintakan pertimbangan," kata Bangsawan Yogascitra.
Ucapan bangsawan ini menimbulkan kebingungan di hati gadis itu. Walaupun Nyimas Banyak Inten tidak bertanya, Bangsawan Yogascitra seolah mengerti isi hati putrinya.
"Aku tidak akan berpanjang-panjang, sebab pokok tujuannya agar engkau mengerti," kata Bangsawan Yogascitra. "Hari ini datang surat dari Bangsawan Bagus Seta. Isinya yang pertama membuat kita sakit hati, yaitu pembatalan pertunangan kakakmu dengan anak gadisnya."
Sejenak Nyimas Banyak Inten menatap wajah ayahandanya, kemudian menoleh ke arah Banyak Angga yang sejak tadi menunduk.
"Tapi isi surat yang kedua berhubungan dengan masa depanmu. Karena Bagus Seta merasa berdosa telah membatalkan pertunangan kakakmu, dia ingin menjalin hubungan keluarga dengan meminangmu untuk Raden Suji Angkara," kata bangsawan itu.
Ginggi melirik ke arah Nyimas Banyak Inten. Dia ingin sekali mengetahui perasaan gadis itu.
"Aku belum akan menolak atau menerimanya, sebab aku ingin mendapatkan pendapatmu," ujar Bangsawan Yogascitra. Namun, yang ditatap hanya menunduk. Wajahnya tampak tenang dan tidak terpengaruh.
"Saya hanya ingin tahu, apakah penyebab batalnya pertunangan Kanda Banyak Angga dengan Ayunda Nyimas Layang Kingkin?" gadis itu malah bertanya balik.
"Pembatalan ini rupanya bukan kesalahan Ki Bagus Seta, melainkan karena Sang Prabu tertarik terhadap kecantikan gadis itu. Beliau ingin mempersuntingnya sebagai selir," jawab Bangsawan Yogascitra.
Semua orang menatap dalam, menunggu pendapat gadis itu. Namun, dia hanya terdiam, sesekali menyeka ujung hidungnya yang mancung dengan punggung tangan.
"Engkau belum menjawab perihal rencana pinangan Ki Bagus Seta," desak Bangsawan Yogascitra.
"Apa yang harus saya kemukakan, padahal saya hanyalah gadis bodoh, Ayahanda?" gumam Nyimas Banyak Inten.
"Seorang anak memang berkewajiban taat kepada orang tua, tapi aku tidak ingin engkau menderita. Aku ingin hidupmu bahagia," kata Bangsawan Yogascitra bijaksana.
Gadis itu masih terdiam, hanya jari-jarinya yang melipat-lipat ujung selendang.
"Harus kau sadari, aku sebenarnya tak punya kepentingan untuk menerima atau menolak. Kalau kutolak, tak merugikan kedudukanku. Sebaliknya pun bila kuterima, kedudukanku tetap sama. Jadi, engkau yang harus menentukan," tegas sang bangsawan.
"Entahlah, Ayahanda," kata Nyimas Banyak Inten akhirnya. "Usia saya serasa belum cukup mampu untuk berpikir urusan cinta. Bila saya yang harus memutuskan, mungkinkah keputusan saya tidak keliru? Kakanda Suji memang sudah saya kenal sejak lama. Dia halus perangainya dan santun. Barangkali Ayahanda ingat peristiwa penyerbuan penjahat ke puri kita," kata gadis itu dengan pipi yang memerah.
Mendengar ucapan tersebut, darah Ginggi berdesir dan ada rasa panas di hatinya.
"Naluri wanita saya mengatakan, Kakanda Suji Angkara memang mengharap sesuatu dari saya," lanjutnya.
"Jadi, perlukah pinangan mereka kita terima?" desak Bangsawan Yogascitra. Namun, Nyimas Banyak Inten hanya membisu.
Melihat kebisuan itu, Banyak Angga menyembah takzim dan bergeser ke depan. "Ada apakah, Angga?" tanya ayahnya.
"Maafkan bila saya lancang, Ayahanda. Saya tak sependapat jika Ayahanda menyerahkan keputusan pada Dinda Inten. Urusan ini menyangkut nama baik dan harga diri kita sendiri," kata Banyak Angga mantap.
"Mengapa, Angga?"
"Apa pun alasannya, memutuskan pertunangan saya dengan Nyimas Layang Kingkin adalah penghinaan. Mereka tidak menghargai keputusan bersama. Mengapa dia mau menjilat kembali ucapannya? Tidak, Ayahanda."