Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 81

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 81

"Penghinaan ini harus kita balas. Saya harap, Ayahanda menolak pinangan mereka terhadap Dinda Inten!" Banyak Angga kembali menyembah, undur ke belakang, dan duduk bersila tegak dengan napas turun-naik karena menahan amarah.

Kini giliran Purbajaya yang maju menyembah.

"Ada apakah, Purbajaya?" tanya Bangsawan Yogascitra melirik pemuda yang sejak tadi diam saja di samping Banyak Angga.

"Maafkan kelancangan saya, Paman. Hampir setahun saya mengabdi di puri ini, rasanya saya sudah menjadi keluarga di sini. Karena itu, saya berhak membela nama baik penghuni puri. Saya setuju dengan pendapat adikku, Banyak Angga. Sebaiknya kita tidak menerima pinangan mereka. Benar belaka apa kata Angga, orang-orang Puri Bagus Seta tidak memandang sebelah mata terhadap kita. Secara sepihak mereka memutuskan pertunangan adikku dengan Nyimas Layang Kingkin. Kalau yang dijadikan alasan adalah keinginan Raja mempersunting Nyimas Layang Kingkin, saya merasa curiga ini hanya taktik Ki Bagus Seta belaka. Saya kerap kali mengunjungi istana Sri Bhima Untarayana Madura Suradipati (puri agung tempat Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan tinggal) karena Sang Prabu kerap kali membutuhkan saya untuk mempelajari kemungkinan kita merebut kekuasaan di muara dan di pantai. Beliau memang pria romantis yang menyenangi keindahan wanita, namun satu kali pun tidak pernah memperbincangkan Nyimas Layang Kingkin. Sebaliknya, beberapa kali beliau bertanya perihal keberadaan Nyimas Banyak Inten. Suatu saat, beliau bahkan langsung bertanya kepada saya apakah Nyimas Banyak Inten sudah ada yang punya. Ketika saya jawab bahwa Nyimas Banyak Inten adalah bunga yang baru mulai mekar di mana kumbang-kumbang tak sanggup membukakan kelopaknya, beliau sepertinya berkhayal betapa bahagianya bila bisa berdekatan selalu dengan Nyimas. Itu beliau katakan berulang-ulang pada saya," kata Purbajaya.

"Ini hanya menjelaskan bahwa perhatian Sang Prabu hanya tertuju kepada Nyimas Banyak Inten semata. Entahlah, bagaimana mulanya secara tiba-tiba Sang Prabu diberitakan akan mempersunting putri Ki Bagus Seta. Ini perlu diselidiki, Paman Yogascitra," kata Purbajaya berpanjang lebar, namun perkataannya mengundang perhatian semua orang.

Ginggi yang sejak tadi duduk di belakang setuju dengan perkataan pemuda itu. Menurutnya, benar belaka apa yang barusan dikatakan Purbajaya. Sebetulnya, ingin sekali dia ikut memperkuat keterangan ini, hanya saja bagaimana caranya? Berpayah-payah dia melakukan penyamaran sebagai *badega*, ternyata hanya mengurung dirinya untuk tidak terlalu bebas mengemukakan pendapat. *Badega* adalah orang yang memiliki kedudukan paling rendah, apalagi di kalangan kaum bangsawan seperti ini. Kalau kini dia ikut bicara, selain akan dianggap lancang dan kurang ajar, dia juga tidak akan dipercaya. Akhirnya dia hanya mengangguk-angguk saja karena ucapan pemuda itu sepertinya mewakili pendapatnya.

Mendengar penjelasan Purbajaya, semua orang saling pandang. Purohita Ragasuci berdeham, kemudian meminta izin untuk mengemukakan pendapat.

"Aku sebagai orang tua merasa amat bersyukur bahwa kalian yang muda-muda penuh perhatian dalam memperbincangkan masalah penting ini," katanya berdeham lagi beberapa kali. "Yogascitra adikku, kau harus bangga memiliki orang-orang muda seperti ini. Kalau saja bumi Pajajaran dipenuhi pemuda yang memiliki jiwa seperti mereka, negara akan selalu berada dalam kemegahan. Putrimu adalah seorang gadis berperangai halus, taat kepada orang tua, dan selalu berupaya tidak menyakiti hati orang lain. Bisa kau buktikan sendiri, sekali pun kau suruh dia mengambil sikap, yang dipilihnya adalah keputusan yang sekiranya bisa menyenangkanmu. Dia serahkan seluruh nasibnya kepadamu sebagai orang tua, kendati sebetulnya dia pasti memiliki keinginan," ujar Purohita Ragasuci sambil menatap lembut. Kemudian, orang tua berwajah sabar itu menatap Banyak Angga dan Purbajaya. "Kedua pemuda ini pun begitu tangguh mempertahankan harga diri keluarga. Mereka patut kau banggakan, Yogascitra," kata Purohita lagi.

"Rasanya aku akan malu bila aku sebagai orang kalangan istana yang memiliki banyak pengalaman hidup tidak mengeluarkan pendapat. Yogascitra, kali ini aku harus bicara. Maafkan bila ucapanku tidak berkenan di hati," Purohita Ragasuci merapatkan kedua belah tangannya seperti melakukan penghormatan. Bangsawan Yogascitra mengangguk membalas penghormatan itu.

"Engkau adalah kakakku yang amat aku hormati, dan engkau adalah Purohita, pendeta agung istana. Semua pendapatmu adalah benar belaka dan saya harus menghargainya," tutur Bangsawan Yogascitra penuh hormat.

"Jangan kau besar-besarkan kedudukanku. Aku pendeta agung, tapi aku juga manusia. Kalau aku berbicara benar, barangkali karena aku mengartikan isi kitab suci dengan benar. Tapi, aku juga manusia biasa. Sedangkan kitab suci pun berbicara, tak ada manusia yang sempurna. Artinya, bicaraku pun bisa saja ada kekeliruan. Kalau kau anggap aku keliru, jangan segan menyalahkannya, adikku," kata Purohita Ragasuci dengan nada suara tetap halus. "Tadi kau katakan, menerima atau menolak pinangan keluarga Bagus Seta tidak ada kaitannya dengan kepentinganmu. Barangkali benar begitu, tapi mesti diingat pula bahwa kadang-kadang kita tidak bicara untuk kepentingan pribadi saja. Apalagi kau sekarang hidup sebagai seorang bangsawan, seorang negarawan yang harus memikirkan kepentingan negara. Oleh sebab itu, segala jejak langkah kita kini tidak sekadar berjalan di atas kepentingan pribadi, melainkan harus didasarkan pada kepentingan negara," kata Purohita panjang lebar.

Bangsawan Yogascitra tampak mengerutkan dahi. "Adakah hubungan pribadi ini dengan kepentingan negara, Kakanda?" tanya bangsawan itu menatap tajam Purohita.

Yang ditanya sejenak tersenyum tipis, gigi-giginya kendati sudah tak utuh lagi, namun tampak bersih terawat. "Benar belaka, adikku," katanya mengangguk-angguk. "Urusan ini lambat-laun akan memengaruhi urusan negara. Sudah sejak dulu urusan kekerabatan di kalangan istana akan memengaruhi jalannya pemerintahan. Terkadang kekerabatan ini membawa kerugian bagi negara. Dahulu kala, hampir 800 tahun lalu, kekerabatan hampir menimbulkan perang saudara antara Rakeyan Tamperan dan Sang Manarah. Kemelut negara juga bisa terjadi karena urusan wanita. Wanita adalah makhluk lemah dan laki-laki harus melindungi serta menghargainya. Namun, adakalanya wanita sanggup mengubah keadaan. Bisa menciptakan peperangan seperti peristiwa menyedihkan menimpa Sang Prabu Wangi di Bubat hampir 200 tahun lalu. Wanita juga bisa menurunkan raja dari takhta seperti pernah terjadi kepada Sang Prabu Dewa Niskala 70 tahun lalu. Beliau turun takhta karena melanggar kaidah moral. Adikku Yogascitra, kau harus hati-hati sebab segalanya kini bergantung padamu. Apakah peristiwa pelanggaran kaidah moral akan kembali terulang atau bisa kita hindarkan. Engkaulah kini yang menentukan," kata Purohita.

Mendengar ucapan ini, semakin berkerut dahi Bangsawan Yogascitra. Kebingungan bukan saja melanda Bangsawan Yogascitra, sebab semua yang hadir pun sama-sama mengerutkan dahi, tidak terkecuali Ginggi.

"Mengapa saya harus jadi seseorang yang amat bertanggung jawab kepada situasi negara, Kakanda?" tanya Bangsawan Yogascitra bingung.

"Benar belaka, adikku," jawab Purohita Ragasuci yakin. "Bila benar Sang Prabu memutuskan akan mempersunting Nyimas Layang Kingkin seperti apa kata Bangsawan Bagus Seta, maka akan menimbulkan banyak pertentangan di kalangan istana. Sejak dahulu kala Raja tabu mengawini wanita larangan, sedangkan yang dimaksud wanita larangan menurut keyakinan kita adalah kaum wanita yang sudah terikat pertunangan. Dulu, Sang Prabu Dewa Niskala terpaksa harus turun takhta sebab seluruh pejabat istana dan para pendeta begitu keberatan memiliki Raja yang melanggar tabu. Kalau pelanggaran tabu juga dilakukan Raja sekarang, aku khawatir kemelut istana akan terulang lagi. Segalanya bergantung padamu kini, sebab peristiwa aib ada di sekelilingmu. Engkau harus berjuang agar pertunangan Raden Banyak Angga dengan Nyimas Layang Kingkin tetap berlangsung. Kalau Ki Bagus Seta tak mencabut atau membatalkan pertunangan putrinya, maka Nyimas Layang Kingkin sudah terikat pertunangan dan dia adalah wanita larangan; tak boleh dipersunting Raja!" kata Purohita Ragasuci dengan suara tegas.

Sunyi suasana di ruangan paseban itu. Semua orang nampaknya begitu terpengaruh oleh ucapan Purohita Ragasuci. Ginggi juga ikut berpikir. Kalau tradisi semacam ini benar masih dipegang erat oleh orang Pajajaran, maka kedudukan Raja dalam bahaya, atau lebih luas dari itu, keutuhan negara akan terganggu.

"Apakah aku harus menyetujui seluruh usul Ki Bagus Seta?" gumam Bangsawan Yogascitra.

"Maaf, saya tidak setuju, Ayahanda!" Banyak Angga berkata agak keras.

"Saya juga tak setuju dengan kebijaksanaan ini," Purbajaya bahkan ikut memperkuat.

Bangsawan Yogascitra menatap tajam kepada kedua pemuda itu satu per satu.

"Maafkan saya yang lancang, Ayahanda," kata Banyak Angga menyembah dan menunduk. Namun hanya sebentar wajahnya menatap lantai, sebab pemuda itu segera menatap tajam ayahandanya. "Tidak saya sangsikan, sebenarnya saya amat mencintai Dinda Layang Kingkin. Serasa saya akan mati bila saya tak sanggup hidup bersamanya. Tapi harga diri saya beserta nama baik penghuni puri lebih saya utamakan. Raja boleh aib karena melanggar kaidah moral, tapi tidak bagi kita. Kalau kita datang merengek minta dikasihani agar pertunangan jangan batal, betapa rendahnya kita, betapa kecilnya harga diri penghuni puri Yogascitra di mata mereka. Barangkali mereka akan tertawa penuh kemenangan. Barangkali juga mereka akan mendikte kita dengan mengemukakan berbagai keinginan dan persyaratan. Tidak, Ayahanda, jangan biarkan kita menderita aib seperti itu!" kata Banyak Angga tegas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment