Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 82

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 82

Dia menyembah takzim lagi, undur ke belakang, dan duduk dengan kepala tunduk. Bangsawan Yogascitra termangu-mangu mendengar keputusan putra laki-lakinya itu. Ginggi menyaksikan betapa bingungnya bangsawan berperangai sabar ini. Barangkali di hatinya penuh dengan kemelut.

Bangsawan Yogascitra tentu bimbang dengan banyak pertimbangan. Dia pasti mengerti ada masalah besar di depannya dan segalanya bergantung padanya. Dia harus pandai memilih, apakah harus menyelamatkan negara ataukah hanya berjuang sebatas harga diri keluarga. Sunyi terus mencekam ruangan paseban. Tak ada yang berani berkata-kata lagi.

Sehingga pada suatu saat, Purohita Ragasuci mohon diri untuk kembali ke mandala (tempat para wiku berkumpul). "Sudah aku sampaikan isi hatiku. Tapi perjalanan hidup memang sudah ada yang mengatur. Aku hanya berusaha, dan mungkin kalian pun begitu. Mari kita serahkan pada Sang Rumuhun agar keputusan-keputusannya tidak berupa petaka buat kita dan bumi Pajajaran," kata Purohita Ragasuci berkomat-kamit, menengadahkan kedua belah tangan, dan kemudian mengucapkan salam karena hendak segera berlalu dari tempat itu.

Semua orang menundukkan kepala tanda hormat terhadap Purohita istana yang hendak meninggalkan paseban puri Yogascitra. Sepeninggal Purohita, semua orang masih tidak sanggup melakukan pembicaraan. Banyak Angga dan Purbajaya duduk tegak berpangku tangan, sedangkan Nyimas Banyak Inten duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Ketika Ginggi menatap wajahnya, betapa mata gadis itu merah lebam dan di pipinya basah bersimbah air mata.

"Saya akan mohon diri, Juragan?" kata Ginggi memecah kesunyian.

Semua orang menengok ke arahnya dan seperti baru sadar bahwa utusan Ki Bagus Seta masih berada di sana.

"Mengapa kau tak kembali ke puri majikanmu?" tanya Banyak Angga.

"Percakapan kalian tadi begitu penting dan saya tak berani mengganggu," tutur Ginggi hormat.

"Raden, badega ini lancang benar mendengarkan percakapan kita. Dia orang puri Bagus Seta, barangkali obrolan kita akan disampaikan kepada majikannya!" kata Purbajaya bicara pada Banyak Angga.

"Biarkanlah percakapan di ruangan ini disampaikan badega itu pada majikannya. Dengan demikian, Ki Bagus Seta akan tahu kemelut yang ditimbulkannya," kata Banyak Angga seraya menatap tajam pada Ginggi yang masih duduk agak jauh di belakang.

"Bolehkah saya meninggalkan tempat ini, Juragan?" tanya Ginggi.

"Pergilah," kata Bangsawan Yogascitra. "Jangan kau terpengaruh oleh sikap-sikap kami, anak muda. Kau tidak salah dan kami tidak membencimu," kata Bangsawan Yogascitra sebelum Ginggi meninggalkan paseban.

Ginggi mengangguk hormat dan hatinya senang. Bangsawan ini benar-benar berperangai baik, termasuk sopan terhadap orang kebanyakan. Untuk kedua kalinya, Ginggi mohon diri dan menyembah takzim. Sekilas dia pandang lagi wajah Nyimas Banyak Inten yang masih tetap menunduk dan tidak mengacuhkan kepergian Ginggi.

"Purbajaya, antarkan pemuda itu ke luar benteng, kalau-kalau dia mengalami kesulitan untuk pulang," kata Bangsawan Yogascitra.

"Akan saya antarkan dia, Paman," kata Purbajaya.

Ginggi akan menolaknya, tapi kata Purbajaya, hari sudah malam. Ginggi akan dicurigai jagabaya yang bertugas malam bila tiba-tiba dia keluar benteng puri sendirian. Mendengar penjelasan ini, Ginggi baru mengikuti pemuda itu untuk diantar keluar benteng puri.

"Maafkan, aku tadi agak kasar padamu, Ginggi," kata Purbajaya di tengah jalan.

"Kemarahanmu wajar, Raden, sebab aku orang dari puri Bagus Seta," kata Ginggi memaklumi.

"Aneh, orang sepertimu bisa bekerja di sana," kata pemuda itu di tengah keheningan malam.

"Saya seperti apa, Raden?" Ginggi menatapnya.

"Tidak seperti apa-apa. Tapi kebanyakan pekerja puri itu angkuh dan sedikit kasar."

"Ah, saya kan hanya seorang badega. Kalau Juragan Bagus Seta terkenal angkuh, masa badeganya harus meniru-niru. Bisa marah dia," kata Ginggi. Purbajaya terkekeh merasa lucu.

Ginggi menatap lagi. Ingin sebetulnya dia bertanya pada pemuda itu, terutama hubungannya dengan peristiwa bunuh diri tunangannya yang ditinggalkan di Tanjungpura sana. Tapi bagaimana mesti mulai? Kalau secara tiba-tiba bertanya tentang itu, hanya akan membuat pemuda itu bingung atau marah karena tak percaya. Dan lebih ruwet dari itu, Purbajaya pasti menyelidik siapa dia, padahal selama ini Ginggi harus tetap menyamar agar aman dalam melakukan berbagai penyelidikan.

"Sudah sampai di pintu keluar, Raden. Terima kasih atas bantuannya," kata Ginggi.

"Tidak, kita akan sama-sama pergi keluar benteng. Aku akan pergi ke benteng luar, menuju tepi Sungai Cipakancilan," kata pemuda itu.

"Mau apa malam-malam ke sana, Raden?"

"Ah, sekadar jalan-jalan saja. Ada seseorang yang harus aku temui di sana," gumam pemuda itu.

Ginggi tak berpanjang-panjang mengajukan pertanyaan, sebab nampaknya pemuda itu pun enggan membicarakannya lebih lanjut. Hanya saja mendengar nama Cipakancilan, serasa diingatkan kembali kepada Ki Ogel dan Ki Banen. Sebulan lalu, Ginggi sengaja berkunjung ke rumah tua di tepi Kali Cipakancilan untuk melihat kesehatan Ki Banen. Bulan lalu, orang tua itu sudah berangsur sembuh setelah dia membantunya dengan beberapa ramuan obat. Ginggi sudah meneliti, sakitnya Ki Banen karena ada orang yang sengaja membuatnya sakit dengan cara memberikan obat yang salah. Ketika Ginggi tanya siapa yang memberi obat, Ki Banen mengaku sebagai pemberian Seta dan Madi.

Ginggi menyelidik lagi mengapa kedua pemuda anak buah Suji Angkara itu memberikan jenis obat seperti itu. Dan dari penjelasan kedua orang itu, terkorek rahasia bahwa segalanya bermula dari Suji Angkara. Pemuda itulah yang menyuruh memberikan obat kepada Ki Banen. Dengan begitu, terbukti sudah kejahatan Suji Angkara. Dia akan mencelakakan Ki Banen, orang yang selama ini menjadi anak buahnya juga. Mengapa Suji Angkara hendak mencelakakan Ki Banen? Dugaan Ginggi, ini karena Suji Angkara sudah mensinyalir bahwa Ki Banen mencurigai kejahatannya selama ini. Untuk menutupinya, Ki Banen harus dienyahkan!

"Kita bisa jalan bersama sampai jalan bercabang ke arah benteng luar," kata Purbajaya melangkah di lorong yang diapit dua benteng puri. Jalanan demikian sepi dan gelap sebab di sana tak ada penerangan.

"Baik, Raden. Tapi di depan kita ada orang yang berjalan mendatangi," bisik Ginggi.

Purbajaya rupanya sudah pula melihat, tapi dia tidak merasa curiga. Lain lagi dengan Ginggi. Kendati suasana gelap, tapi matanya sudah demikian terlatih. Yang datang adalah tiga orang. Satu melangkah di depan dan dua mengikuti di belakang. Yang membuat darah Ginggi berdesir, karena dia hafal betul, ketiga orang di depan adalah Suji Angkara, Seta, dan Madi.

Ginggi khawatir dirinya diketahui mereka. Itulah sebabnya pemuda itu segera membuka ikat kepalanya dan digunakannya untuk menutupi hidung dan mulutnya dengan jalan kedua ujung ikat kepala diikatkan di belakang tengkuknya. Ginggi dan Purbajaya di lain pihak sudah hampir berpapasan dengan rombongan Suji Angkara. Dan mereka tampak menghentikan langkah ketika tahu siapa yang dihadapi.

"Purbajaya?"

"Benar," jawab Purbajaya tidak curiga.

"Serbu!" teriak Suji Angkara.

Madi dan Seta menerjang ke depan menyerbu Purbajaya. Suji Angkara pun serentak menghambur ke depan. Purbajaya dikurung mereka bertiga.

Perkelahian satu lawan tiga berlangsung seru di kegelapan malam. Tapi dalam sebentar saja, Ginggi mendapatkan bahwa Purbajaya tidak akan menang menghadapinya. Bukan saja karena mendapat pengeroyokan tak seimbang, tapi pun kepandaian Purbajaya tidak begitu tinggi bila dibandingkan dengan Suji Angkara. Jadi, jangankan dikeroyok, sedang hanya dilayani satu orang Suji Angkara saja, pemuda ini pasti akan kalah. Yang jadi pertanyaan, mengapa Suji Angkara musti melakukan pengeroyokan, padahal dengan kepandaiannya sendiri saja bisa melumpuhkan lawan? Barangkali hanya satu hal bisa diduga, mereka bertiga sudah berniat hendak mencelakakan Purbajaya tidak kepalang tanggung.

Nampak sekali Purbajaya kepayahan menghadapi pengeroyokan ini. Mungkin serangan-serangan kedua pemuda Seta dan Madi bisa dia tanggulangi sebab mereka hanya memiliki kepandaian biasa saja. Tapi kemampuan Suji Angkara jauh di atas kemampuannya dan Purbajaya amat keteter dibuatnya.

Ginggi sudah menyaksikan, begitu ganasnya serangan-serangan Suji Angkara. Jurus-jurus yang dikeluarkan semua ditujukan untuk mengarah langsung kepada nyawa lawan. Nampak nyata oleh Ginggi, Suji Angkara bermaksud membunuh Purbajaya. Suatu saat kedudukan Purbajaya ada dalam bahaya. Pemuda ini baru saja menangkis sodokan pukulan tangan Seta yang mengarah ke ulu hatinya. Serbuan ini bisa ditangkis Purbajaya dengan cara menepiskan tangan kanannya ke bawah sambil badannya sedikit membungkuk. Namun dari arah belakang, Madi memukul pundak pemuda itu. Begitu telaknya pukulan Madi. Kendati tidak menimbulkan luka berarti karena pukulannya tidak memiliki tenaga dalam, tapi membuat tubuh Purbajaya terhuyung.

Terdengar kekeh Suji Angkara. Barangkali dia puas melihat lawannya jatuh. Di saat tubuh Purbajaya tersuruk di tanah, Suji Angkara melompat ke udara. Maksudnya pasti, dia ingin menyerang kepala Purbajaya dengan sepasang kakinya. Purbajaya sepertinya sudah tak bisa berkelit. Kalau dia berguling, tentu kedudukan tubuhnya akan terbalik, yaitu wajah tengadah. Dan ini akan berbahaya lagi, sebab serangan kaki lawan akan mengarah ke wajahnya.

Ginggi harus mencegah penganiayaan ini. Untuk itulah dia segera melayang tinggi. Tangan kanannya dia bentang lebar dan telapak tangannya dibuka berbareng dengan serangan pukulannya. Pemuda ini tersenyum di balik cadar ikat kepalanya, sebab membayangkan telapak tangannya yang terbuka lebar akan dengan telak mengarah ke jidat Suji. Dan benar dugaannya. Tubuh pemuda itu yang lagi melayang di udara mendadak terlontar kembali ke belakang diiringi teriakan kesakitan.

Buk! Tubuhnya membentur benteng. Seta dan Madi yang juga sama akan melakukan serangan berbareng dari kiri dan kanan ke arah tubuh telentang Purbajaya juga sama menjerit kesakitan karena dengan sapuan kaki Ginggi, membuat kedua pemuda itu terjajar membentur tembok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment