Chapter 83
Untuk sementara, keduanya meloso dan tak sanggup bangun lagi. Namun, Suji Angkara yang tubuhnya lebih kuat sudah sanggup berdiri kendati tampak sempoyongan sambil tangan kirinya memegangi dahi.
"Kau... kau! Siapa kau?" Suara Suji Angkara terdengar lebih heran ketimbang marah.
Ginggi, yang wajahnya masih tertutup cadar, mencoba menakut-nakuti pemuda itu dengan berpura-pura hendak mengejarnya. Melihat hal itu, rasa takut pemuda tersebut tampak jelas. Dengan tubuh limbung, Suji Angkara berlari menjauhi lorong gelap, meninggalkan kedua anak buahnya begitu saja.
"Engkau?" Purbajaya yang sudah berdiri di sisi Ginggi amat terkejut karena mungkin ia tak menyangka kemampuan Ginggi sehebat itu. Namun, sebelum Purbajaya banyak bicara, Ginggi segera menempelkan telunjuk di depan bibirnya. Purbajaya tampak mengerti, apalagi ketika melihat Ginggi menutupi wajahnya sendiri.
Ginggi menunjuk ke arah kedua anak buah Suji Angkara. Keduanya tampak mencoba bangun dengan susah payah sambil memegangi dahi masing-masing. Purbajaya mendekati kedua pemuda itu dan menanyai mereka. Namun, yang ditanya hanya memijat-mijat dahi sambil sesekali menggoyangkan kepala, mencoba mengusir rasa pening.
"Ini penyerangan kedua kalinya terhadapku. Coba jelaskan, mengapa kalian melakukannya?" tanya Purbajaya sambil menarik baju kedua orang itu.
"Cepat bicara!" Purbajaya menyentak-nyentak ujung baju Seta dan Madi.
"Kami... kami disuruh Raden Suji!" kata Seta meringis menahan sakit.
"Ya, aku tahu kalian pasti disuruh majikan kalian yang jahat itu. Tapi coba jelaskan, mengapa majikan kalian selalu mencoba mencelakaiku? Apa dosaku? Jawab cepat!" teriak Purbajaya kesal.
"Karena kau jahat!" teriak Madi parau.
Plak! Tangan kiri Purbajaya menampar pipi pemuda itu. Madi mengeluh karena tamparan tersebut mengenai pipi kanannya.
"Coba sebutkan kejahatanku! Kapan aku merugikan kalian?" Purbajaya kembali mengguncang-guncang tubuh kedua orang itu karena kesal, marah, sekaligus heran.
"Engkau menjadi penyebab matinya Nden Wulansari!" kata Seta.
"Apa? Wulansari tunanganku, tolol! Siapa bilang dia mati?" teriak Purbajaya berang.
"Kami ingin membela Juragan Ilun Rosa karena kematian putrinya. Karena kau penyebabnya, maka kami berniat menghukummu, sebab itu juga yang diinginkan Juragan Ilun Rosa!" kata Seta.
Plak! Purbajaya menampar pemuda Seta.
"Bunuhlah aku, agar kejahatanmu tidak tanggung-tanggung!" kata Seta sambil menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Aku tidak pernah menyombongkan diri sebagai orang baik. Tapi omongan kalian ngaco jika menuduhku melakukan kejahatan, apalagi pembunuhan. Dan kalian katakan, tunanganku sendiri yang aku bunuh? Betulkah Dinda Wulan mati?" Purbajaya terdengar lebih heran daripada marah.
"Memang kau tak membunuh langsung Nden Wulan. Tapi kau meninggalkannya begitu saja dan surat yang kau berikan padanya amat menyakitkan hatinya, sehingga Nden Wulan patah hati dan nekat bunuh diri," kata Seta.
Purbajaya tampak akan kembali memukul pemuda itu, namun tangan kuat Ginggi segera menahannya.
"Aku tak mengerti omongan ngaco kalian. Aku tak pernah menyakiti kekasihku!" teriak Purbajaya.
"Bagaimana dengan surat daun nipah yang kau tinggalkan?" tanya Seta.
"Aku tak pernah meninggalkan surat apa pun karena ketika aku akan ke Pakuan, aku bicara langsung pada Dinda Wulan. Siapa yang mengatakan aku meninggalkan surat dan apa isi surat itu?" tanya Purbajaya.
Giliran Seta dan Madi yang bingung. "Kau tidak pernah meninggalkan surat?"
"Ya, coba terangkan, apa isi surat itu?" desak Purbajaya.
"Kata Raden Suji, surat itu menyebutkan engkau akan bekerja di Pakuan dan akan melangsungkan perkawinan dengan anak bangsawan Pakuan! Akibatnya Nden Wulan sakit hati dan bunuh diri," kata Seta lagi.
Purbajaya kembali hendak memukul Seta dengan tenaga yang sangat kuat karena kemarahan yang memuncak. Namun, untuk kesekian kalinya, tangan Ginggi menahannya dari belakang.
"Biarkan tanganku, Ginggi!" teriak Purbajaya menahan marah.
Mendengar nama itu disebut, Seta dan Madi berseru kaget. "Ginggi?!"
Ginggi menghela napas, menyesalkan ucapan Purbajaya yang tak sengaja membuka identitasnya. "Ya, aku pemuda itu, Seta," gumamnya pelan.
"Kaukah yang barusan melumpuhkan kami dalam satu gebrakan saja?" tanya Seta tak percaya.
"Maafkan aku, Seta. Aku pula yang tiga kali membuat dahi majikanmu bengkak sebesar telur ayam. Sampaikan pada Raden Suji, dia tak akan bisa mengelak," kata Ginggi pelan, namun membuat Seta dan Madi semakin ketakutan.
"Seta, Madi, aku peringatkan, jauhi Raden Suji. Dia orang berbahaya dan kalian memilih majikan yang salah. Majikanmu berusaha melenyapkan Ki Banen karena ia menduga Ki Banen mengetahui kejahatannya. Selama kalian ikut Raden Suji, banyak terjadi wanita bunuh diri. Tidakkah Nyi Santimi dulu melapor bahwa dia diculik ke sebuah gua? Semua yang menyangkut wanita selalu terjadi di sekitar Raden Suji."
Ginggi menoleh pada Purbajaya. "Dan engkau, Raden Purbajaya, nyawamu diancam karena pemuda jahat itu ingin menutup jejaknya. Aku yakin, Wulansari dibunuh oleh pemuda itu setelah kehormatan gadis itu diganggu. Bulan lalu, untuk kedua kalinya Suji Angkara mencoba mengganggu kehormatan Nyimas Banyak Inten, dan aku yang menggagalkannya," papar Ginggi.
Ketiga orang itu terpana mendengar penjelasan yang amat mengejutkan tersebut.
"Sudahlah Raden, kita lepaskan kedua orang ini. Mereka hanya terbawa-bawa," kata Ginggi.
Seta dan Madi menatap Purbajaya. Karena pemuda itu tidak menahan mereka, keduanya segera menyembah hormat dan undur diri. Kini, Purbajaya termangu-mangu dalam kegelapan malam, masih terpengaruh oleh kejadian yang baru saja ia alami.
"Mari Raden, kita lanjutkan perjalanan. Bukankah engkau akan menuju tepi Sungai Cipakancilan?" kata Ginggi.
"Tidak perlu ke sana, sebab barusan engkau sudah menjelaskannya," gumam Purbajaya dengan nada pahit.
"Kalau boleh aku bertanya, apa rencanamu menuju Sungai Cipakancilan?" tanya Ginggi.
"Aku akan menuju rumah Ki Ogel dan Ki Banen karena aku curiga Suji Angkara pernah masuk ke sana. Aku mencurigainya sejak setahun lalu. Suatu malam, aku diserang bayangan hitam, namun melihat gerak-geriknya, aku tahu itu Suji Angkara. Aku hampir terbunuh kalau saja tidak ada pertolongan jagabaya Puri Yogascitra. Sekarang aku baru paham penyebabnya. Oh, benarkah Dinda Wulansari sudah mati?" keluh pemuda itu.
Ginggi mengangguk. "Hanya yang saya heran, mengapa berita kematian kekasihmu tidak pernah diketahui selama ini?"
"Itulah mungkin penyebabnya. Aku bercinta dengan Dinda Wulan secara diam-diam karena hubungan kami takut tak direstui. Ayahanda mungkin merasa tidak berkepentingan memberitahukannya padaku," kata Purbajaya sedih. Ia menatap Ginggi, "Aku lihat sikapmu aneh. Aku bingung, di pihak mana sebetulnya engkau?"
Ginggi hanya tersenyum. "Saya ingin memihak kebenaran. Tapi kebenaran yang mana, sampai hari ini saya tak tahu."
"Mengabdi dan berpihaklah pada kekuatan yang membela kebenaran. Kurasa tak baik menutup-nutupi kemampuan sendiri. Orang tidak pernah menghargai kebodohan."