Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 84

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 84

"Karena kau dianggap bodoh, maka pekerjaanmu hanya sebatas badega saja. Padahal, kepandaianmu hebat sekali. Kau bisa menjadi perwira kerajaan. Pakuan amat membutuhkan orang-orang pandai," kata Purbajaya.

"Saya belum berpikir untuk mengabdi kepada siapa pun. Itulah sebabnya saya sembunyikan kepandaian yang ada. Dengan demikian, saya tidak diperhatikan orang dan bebas melakukan berbagai penyelidikan."

"Penyelidikan? Apa yang tengah kau selidiki?"

"Perbuatan Suji Angkara, bukankah itu yang sedang saya selidiki?" kata Ginggi.

Purbajaya mengangguk-angguk maklum. "Penyelidikanmu telah menolongku, mungkin akan menolong banyak orang. Malam ini juga aku harus melaporkan kejadian ini pada Paman Yogascitra," kata pemuda itu.

"Jangan dulu," Ginggi mencegahnya.

"Mengapa? Keluarga Yogascitra dalam bahaya. Bukankah kau tahu Bangsawan Bagus Seta melamar Nyimas Banyak Inten untuk kepentingan Suji Angkara?" tanya Purbajaya.

"Betul dalam bahaya, tapi kalian sudah sepakat untuk tidak memberikan Nyimas Banyak Inten kepada pemuda bejat itu, seperti yang kalian rundingkan tadi sore. Yang ingin saya cegah adalah berita kebejatan pemuda itu. Harap Raden tidak mengabarkannya dulu pada keluarga Yogascitra," kata Ginggi.

"Mengapa?"

"Aib Suji Angkara sulit dibuktikan sebab semuanya baru bersumber pada ucapan saya semata. Kalau keluarga Yogascitra ikut menuding sementara dasarnya baru dari keterangan seorang badega, keluarga Bagus Seta akan balik menuntut dan itu merugikan nama baik Bangsawan Yogascitra. Sang Prabu tengah memercayai Bangsawan Yogascitra, dan beliau akan diangkat jadi penasihat raja. Itulah sebabnya Ki Bagus Seta mencabut pertunangan Raden Banyak Angga dan Nyimas Layang Kingkin. Sebetulnya bukan Sang Prabu yang minta, tapi Ki Bagus Seta yang sengaja menawarkan dengan harapan dia punya kekerabatan dengan raja. Bila sudah begitu, diharapkan kedudukan penasihat raja tidak jatuh ke tangan Bangsawan Yogascitra!" kata Ginggi secara rinci, membuat mulut Purbajaya menganga saking heran mendengar penjelasan tersebut.

"Engkau hebat, begitu tahu banyak kejadian penting yang menyangkut kalangan istana. Dari mana kau tahu, sedangkan aku sendiri yang beberapa kali diundang oleh raja tidak pernah mendengar berita ini?" tanya Purbajaya heran.

"Itulah perlunya menjadi orang rendahan, Raden. Seorang badega bodoh tak akan diperhatikan. Dan karena tak diperhatikan, dia bebas melakukan penyelidikan penting," kata Ginggi bangga, tapi teringat dirinya babak belur dihajar orang-orang Ki Bagus Seta.

Purbajaya termangu-mangu. "Kalau Raden mau membantu perjuangan saya, tolong rahasiakan keberadaan saya. Malam ini juga saya akan kembali ke puri Bagus Seta. Raden juga di sana harus berjuang menjaga Nyimas Banyak Inten," kata Ginggi.

"Aku siap menjaga keamanannya, Ginggi."

"Terima kasih," jawab Ginggi entah apa maksudnya.

Keduanya berpisah di lorong gelap itu. Ginggi berniat kembali ke puri Ki Bagus Seta dan Purbajaya ke puri Bangsawan Yogascitra. Namun, sebelum berpisah, Ginggi beberapa kali menasihati pemuda itu agar tidak sembarangan bertindak.

"Saya bisa mengerti kesedihan dan kemarahan Raden karena kematian gadis yang Raden cintai. Tapi bila secara sembrono Raden menyerbu puri Suji Angkara, akan terlalu berbahaya. Bahkan sekarang Raden harus hati-hati bepergian seorang diri. Selama setahun ini Raden bebas dari incaran pemuda itu mungkin karena Raden terbiasa keluar-masuk Puri Bangsawan Yogascitra, bahkan ke istana raja, dan Suji Angkara agak segan bertindak di tempat-tempat itu. Namun, kini terbukti, sedikit saja berada di luar puri, Raden sudah diserang dan diancam bahaya," kata Ginggi panjang lebar.

Ginggi tak bisa menduga apakah pemuda ini bisa mengerti untuk menahan emosinya. Ada perasaan khawatir kalau-kalau pemuda ini bertindak sendiri. Kalau demikian jadinya, suasana akan bertambah runyam. Peristiwa barusan sebenarnya amat tak dikehendaki olehnya. Ginggi sebetulnya masih ingin merahasiakan identitasnya kepada siapa pun. Sekarang sudah ada tiga orang yang sekaligus tahu siapa dirinya. Kalau Seta dan Madi masih menginduk kepada Suji Angkara, barangkali orang keempat yang tahu siapa dirinya adalah Suji Angkara. Karena sudah terlanjur diketahui, Ginggi harus secepat mungkin melakukan tindakan. Namun, tindakan apa, Ginggi pun belum tahu persis.

Ginggi meloncat pergi ketika Purbajaya telah meninggalkan tempat itu. Tujuannya bukan kembali ke puri Bangsawan Bagus Seta, melainkan menyelinap ke puri Suji Angkara. Ginggi berpikir kemungkinan dirinya sudah dikenal oleh Suji Angkara karena Seta dan Madi pasti melaporkannya. Kalau benar demikian, Suji Angkara tentu akan segera melaporkan kepada ayahnya. Bila sudah begitu, terputus pula usaha penyelidikannya. Ginggi harus berpacu. Dia harus mencegah pemuda jahat itu berhubungan dengan ayahnya. Karena jalan pikiran inilah dia memilih pergi menuju puri Suji Angkara.

Ginggi berlari, menyelinap ke kiri dan ke kanan untuk menghindari pertemuan dengan para tugur. Tugur atau ronda setiap malamnya terdiri dari dua rombongan. Satu berjaga di jawi khita dan satu rombongan lagi bertugas di dalem khita. Masing-masing rombongan dipecah dua lagi. Semuanya berkeliling memutari benteng untuk pada suatu saat saling bertemu pada satu titik. Namun, Ginggi tak boleh bertemu dengan tugur. Jadi, kalau sayup-sayup di depan terdengar suara kohkol (kentongan) ditabuh dengan teratur, pertanda tugur tengah berkeliling menyusuri benteng. Pemuda itu harus bersembunyi di balik pepohonan atau bahkan langsung meloncat ke atas dahan.

Ketika Ginggi bersembunyi di dahan pohon, tampak serombongan tugur tengah berjalan menyusuri dalem khita. Jumlahnya ada sekitar dua belas orang yang terdiri dari jagabaya pilihan. Mereka berbekal oncor (obor) tapi kebanyakan membawa tombak, cagak, atau bahkan pedang. Hatinya merasa bersyukur ketika terjadi perkelahian di lorong benteng tadi, tugur belum lewat ke wilayah benteng di mana mereka berkelahi dengan rombongan Suji Angkara.

Ketika rombongan tugur sudah lewat, Ginggi baru berani melayang turun dari atas pohon. Sesudah itu, dia segera berlari lagi menuju Puri Suji Angkara. Namun, pemuda itu amat terkejut sebab beberapa saat sebelum tiba di pintu gerbang Puri Suji Angkara, terdengar banyak kentongan dipukul bersahut-sahutan. Para tugur pun berlarian menuju gerbang puri.

Berdebar hati Ginggi. Di Puri Suji Angkara pasti terjadi huru-hara. Tapi huru-hara perkara apa? Dia belum bisa memastikan. Ada sedikit dugaan, barangkali Purbajaya sudah melapor ke Puri Yogascitra perkara kejahatan Suji Angkara dan malam itu mereka melakukan penyerbuan. Kalau Purbajaya melapor bahwa Suji Angkara pernah mencoba melakukan kejahatan terhadap Nyimas Banyak Inten, kemungkinan akan membangkitkan kemarahan para penghuni puri Bangsawan Yogascitra dan malam itu juga pasti melakukan penyerbuan. Tapi kecurigaan ini segera ditepisnya. Jarak dari Puri Bangsawan Yogascitra ke Puri Suji Angkara cukup jauh. Kalau mereka menyerbu Puri Suji Angkara, sebelumnya tentu harus melewati dirinya, sebab jalan menuju Puri Suji Angkara atau Puri Ki Bagus Seta hanya terdiri dari satu jalan saja. Kalau berkeliling tentu akan sangat melambung dan tak mungkin bisa datang lebih cepat ketimbang dirinya.

Jadi, kalau begitu, apakah ada huru-hara di puri itu?

"Kepung penjahat! Kepung pemberontak!" terdengar teriakan-teriakan di dalam benteng puri.

Ginggi segera menahan napas untuk mengumpulkan tenaga inti. Sesudah terhimpun, tenaga disalurkan ke bagian kaki. Ginggi menggerakkan kedua kakinya dan badannya terlontar ke udara. Badannya kembali turun dan sepasang kakinya tepat menclok di atas benteng setinggi tiga depa.

Ginggi melihat ada pertempuran kecil, atau lebih tepatnya pengeroyokan. Satu orang pemuda bersenjatakan kelewang tengah dikeroyok tujuh atau sembilan orang jagabaya yang bersenjatakan bermacam-macam, mulai dari senjata tajam seperti tombak, pedang, dan cagak, sampai senjata ringan untuk menangkap orang seperti cangkalak.

Namun, yang membuat Ginggi terkejut setengah mati karena orang yang sedang dikepung dan dikeroyok adalah Seta. Seta menyerang membabi buta mengayunkan kelewang ke kiri dan ke kanan. Nampaknya dia sudah tidak memikirkan jiwanya lagi, sebab serangannya tidak menggunakan ilmu berkelahi yang wajar. Dia hanya serampangan membanting senjatanya ke kiri dan ke kanan tanpa berniat menangkis serangan lawan. Yang dia lakukan sepertinya berusaha menyerang para pengeroyoknya saja. Memang ada satu dua pengeroyok yang terkena bacokan atau tusukan Seta, tapi di sebuah lapangan rumput tepi paseban kecil sudah berdiri belasan jagabaya lainnya. Jadi, setiap satu atau dua pengepung mundur dan terluka, segera digantikan oleh tenaga baru.

Melalui penerangan cahaya obor yang dipegang beberapa jagabaya, Ginggi melihat banyak luka diderita pemuda Seta. Sekujur tubuhnya sudah bersimbah darah, begitu pun wajahnya, sehingga hampir-hampir tidak dikenali. Yang membuat darah Ginggi berdesir adalah ketika memandang ke arah bagian lain di sekitar tepi paseban. Suji Angkara tampak berdiri bertolak pinggang dengan angkuhnya, sedang di depannya terdapat tiga tubuh bergeletakan tak bergerak.

Ginggi tak bisa mengenali tubuh-tubuh siapakah itu, sebab ketiganya hampir rebah tertelungkup. Satu tubuh agak gempal, terkujur membelakangi sehingga Ginggi tak bisa mengenali wajahnya. Hanya yang jelas, orang tergeletak itu sudah tak bernyawa sebab dari cahaya remang-remang api obor, banyak luka di punggungnya. Satu mata tombak bahkan masih menempel di tengkuknya. Rupanya orang itu ditusuk dari belakang dan ujung tombak patah tertinggal di tengkuk orang nahas itu.

Kini Ginggi berbalik lagi menyaksikan Seta yang dikepung banyak jagabaya. Sebentar lagi pasti Seta akan bisa dilumpuhkan. Ginggi membayangkan, bila pemuda itu dibiarkan ada di dalam pengeroyokan, maka nasibnya sudah bisa ditebak, apalagi dengan luka-luka di sekujur tubuhnya yang banyak menguras darah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment