Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 85

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 85

Ginggi belum tahu apa penyebab pengeroyokan itu. Yang jelas, Seta dalam bahaya dan harus ditolong. Ginggi hanya punya kesempatan sedikit saja untuk menolong Seta. Oleh sebab itu, dia harus segera turun tangan.

Pemuda itu membuka bajunya dan membiarkan tubuh bagian atas telanjang begitu saja. Tubuh telanjang akan lebih mengaburkan identitas ketimbang berpakaian. Ginggi pun segera menutup wajahnya dari hidung ke bawah menggunakan ikat kepala berwarna hitam. Setelah semuanya siap, dia segera meloncat dari atas benteng, lalu bergerak lincah mendekati arena pertempuran.

Bentakan keras bagaikan suara geledek keluar dari mulut Ginggi. Suara yang dikerahkan melalui tenaga himpunan di seputar dadanya itu mengakibatkan semua orang terkejut setengah mati. Untuk sejenak, konsentrasi para jagabaya terganggu dan serangan mereka terhadap Seta terhenti. Kesempatan ini ia pergunakan untuk menyerang para pengeroyok Seta.

Tubuh Ginggi berputar seperti gasing dengan kedua tangan mengembang lebar. Setiap tangan jagabaya yang terkena pukulan atau sabetan telapak tangan Ginggi meringis kesakitan, dan senjata yang mereka pegang terlepas. Para jagabaya hiruk-pikuk karena kaget dan heran melihat penyerbu gelap ini. Namun, teriakan Suji Angkara agar segera mengepung penyerang baru ini menyadarkan para jagabaya untuk segera bergerak melakukan pengepungan.

Kini Ginggi berada di tengah-tengah bersama Seta yang tubuhnya sudah mulai limbung. Sebelum tubuh pemuda itu jatuh ke tanah, Ginggi segera memeluknya dan mengusung Seta di pundaknya. Dengan tubuh Seta di pundak, gerakan Ginggi tidak selincah saat ia bergerak sendirian. Bahkan, kini hanya tangan kanannya saja yang bebas, padahal para pengeroyok mulai mendekat dan menyerang dari segala penjuru. Akan sangat berbahaya bila Ginggi membiarkan dirinya berada di tengah pengepungan. Serangan dari depan atau samping masih bisa ia tepis, tetapi serangan beruntun dari belakang akan sangat sulit dihindarkan karena beban tubuh Seta menghalangi gerakannya.

Untuk menghindari serangan dari belakang, Ginggi harus meloncat ke tepi dinding puri. Dengan menempelkan tubuh di tepi benteng, musuh hanya akan menyerang dari depan. Benteng puri berada di depannya, mungkin berjarak empat atau lima depa saja. Untuk mencapai tempat itu, Ginggi harus melakukan serangan mendahului lawan. Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Ginggi meloncat ke depan sambil tangan kirinya mengempit tubuh Seta. Para pengepung di bagian depan tampak sangat kaget. Barangkali mereka tidak berpikir bahwa Ginggi akan senekat itu. Akibat rasa terkejut, persiapan mereka kurang matang dalam menyambut serangan. Sehingga, ketika Ginggi melakukan gerakan dengan tangan kanannya, tangkisan para jagabaya menjadi tidak beraturan. Apalagi serangan Ginggi disertai teriakan membahana yang membuat jantung mereka bergetar dan konsentrasi terganggu.

Serangan Ginggi ternyata membuahkan hasil. Para jagabaya tidak bisa menyerang dengan baik. Ketika seorang jagabaya menyodokkan ujung tombaknya ke arah wajah Ginggi, sodokan itu kurang jitu karena tidak disertai tenaga yang kuat. Dengan mudah, Ginggi menangkap batang tombak itu dan menariknya dengan kekuatan penuh. Tubuh jagabaya pemegang tombak tersuruk ke depan. Kalau Ginggi mau bertindak kejam, ujung kakinya bisa menendang dahi jagabaya itu sampai bocor, atau bahkan batok kepalanya hancur, tergantung sejauh mana tenaga yang ia kerahkan. Namun, kepala lawan ia biarkan tersuruk jatuh di depan kakinya. Ia sendiri malah meloncat mendekati tepi benteng puri.

Sekarang dia sudah berada di tepi benteng dengan punggung membelakangi benteng tersebut. Dengan demikian, ia bisa membebaskan diri dari serangan musuh yang mungkin dilakukan dari belakang. Dengan bersenjatakan tombak di tangan kanan, Ginggi begitu mudah menangkis serangan lawan. Setiap serangan yang berhasil ia patahkan, ujung tombak ia arahkan seolah-olah hendak menusuk tubuh lawan. Gerakan-gerakan ini membuat lawan berkelit karena menyangka tusukan itu akan berlanjut, padahal Ginggi tidak sedikit pun bermaksud melukai, apalagi membunuh mereka.

Sementara itu, Suji Angkara dari pinggir paseban terus berteriak agar para jagabaya segera membunuh penyerang baru ini, tanpa sedikit pun ikut bergerak. Ginggi sudah cukup membuat para penyerang kalang-kabut dan takut untuk melanjutkan serangan. Nyali mereka dipastikan sudah jatuh sehingga serangan mereka tampak ragu-ragu. Kesempatan ini digunakan Ginggi untuk melarikan diri. Ginggi menghimpun inti tenaga lagi, menotolkan sepasang kakinya ke tanah, dan badannya melayang naik ke atas benteng tempat ia tadi meloncat turun. Pakaiannya yang ia kaitkan di ranting pohon segera diambil dan dibelitkan ke lehernya.

"Serbu!" teriak Suji Angkara berkali-kali.

Teriakan ini dibalas Ginggi dengan melontarkan tombak yang tadi dibawanya. Senjata itu meluncur mengarah ke dahi Suji Angkara sehingga pemuda itu punya waktu untuk menghindar dengan menjatuhkan tubuhnya ke samping. Mata tombak hanya menempel seujung kuku di tiang kayu, sebentar kemudian jatuh ke bawah dan ujungnya menimpa dahi pemuda itu. Terdengar teriakan kesakitan dari Suji Angkara. Bukan lantaran ujung tombak jatuh terlalu keras, melainkan karena dahinya sudah luka memar akibat pukulan Ginggi di lorong gelap tadi.

Ginggi berlari menyusuri atas benteng, meloncat di kelokan yang gelap, dan melanjutkan larinya secepat mungkin. Ginggi tidak tahu ke mana harus membawa Seta yang terluka. Seta perlu pengobatan segera, tetapi Ginggi tidak punya cara penanggulangannya. Bila Seta dibawa ke puri Yogascitra, hal itu hanya akan menjerumuskan penghuni puri ke dalam kancah keributan. Akhirnya, Ginggi mencoba membawa tubuh Seta menuju Tajur Agung yang jaraknya cukup jauh, yakni di arah timur tembok benteng dalam. Di Tajur Agung, Ginggi pernah melihat banyak jenis tanaman rambat, dan salah satunya bisa digunakan untuk membebat luka.

Namun, baru saja tiba di Leuwi Kamala Wijaya, terdengar suara rintihan Seta. Dengan terputus-putus, pemuda itu meminta agar tubuhnya diturunkan. Ginggi menoleh ke kiri, kanan, serta belakang untuk meneliti apakah ada pihak pengejar. Setelah yakin tempat itu sunyi sepi, Ginggi segera membawa tubuh tak berdaya itu ke bawah pohon rindang yang suasananya gelap.

Ginggi menurunkan beban pundaknya. Terdengar erang kesakitan ketika tubuh itu diletakkan di atas tanah berumput.

"Engkau... engkau Ginggi, bukan?" Seta bicara terputus-putus dan terengah-engah.

"Ya, aku Ginggi."

"Sudah aku duga. Kau pasti datang menolongku," kata Seta menahan sakit.

"Tapi aku tak sengaja menolongmu. Aku hanya berpikir kau dan Madi akan melaporkan tentangku kepada Suji Angkara. Karena sangkaanku begitu, maka aku menuju puri Suji Angkara," kata Ginggi sambil memeriksa bagian-bagian luka pemuda itu.

Kendati dalam gelap, Ginggi bisa menduga luka Seta sangat parah. Ada beberapa tusukan yang melukai bagian-bagian amat lemah dan sulit mendapatkan pertolongan. Luka-luka itu banyak mengeluarkan darah dan barangkali sudah sejak tadi terjadi, sebab ada beberapa luka yang darahnya sudah agak mengering.

"Aku tidak memberitahu siapa kau sebenarnya. Suji Angkara sampai saat ini masih tetap menyangka kau sebagai badega bodoh dan tolol. Sengaja aku tak bilang agar kau tetap leluasa melakukan penyelidikan," kata Seta di tengah erang kesakitan.

"Engkau amat setia pada Suji Angkara, tetapi mengapa kau akan dibunuh mereka?" tanya Ginggi heran.

Dengan susah payah karena menahan rasa sakit, Seta menjelaskan bahwa setelah mendapatkan penjelasan dari Ginggi di lorong benteng, Seta mulai sadar bahwa ia telah salah memilih majikan. Penjelasan Ginggi perihal tindak-tanduk Suji Angkara yang buruk sebenarnya merupakan berita yang kesekian kalinya didengar Seta. Jauh sebelumnya, ketika bertugas mengirim seba, Ki Banen pun sudah mensinyalir bahwa Suji Angkara amat misterius. Ketika tiba di Pakuan, Ki Banen bahkan mengajak semua orang agar meninggalkan Pakuan dan tidak mengabdi pada Suji Angkara. Namun, Seta dan Madi tidak mau percaya dengan ucapan orang tua itu karena Suji Angkara dianggap berjasa telah memberikan pekerjaan yang dianggap Seta cukup terhormat.

Kemarahan Seta memuncak ketika Ginggi mengabarkan bahwa yang menculik Nyi Santimi, calon istrinya, adalah Suji Angkara. Seta juga marah ketika diberitahu bahwa obat untuk Ki Banen dari Suji Angkara yang diserahkan melalui dirinya adalah ramuan berbahaya. Seta juga marah setelah tahu yang melukai Ki Banen hingga terluka parah adalah Suji Angkara. Atas berbagai bukti kejahatan Suji Angkara yang sebelumnya ia kagumi, Seta berbalik menjadi benci. Dendam karena Suji Angkara pernah menculik Nyi Santimi dan mendengar berbagai kejahatan pemuda itu membuat amarahnya meluap.

Untuk melampiaskan kemarahannya, Seta mengajak Madi ke rumah Ki Banen dan Ki Ogel. Ketika dikabarkan peristiwa ini, semua orang tergerak hatinya dan sama-sama membenci Suji Angkara. Kemarahan tidak bisa dibendung sehingga akhirnya mereka berempat mencoba menyerang puri dengan niat membunuh Suji Angkara.

"Tapi... ya, kami sembrono. Suji Angkara orang pandai. Begitu pun anak buahnya. Kami jadi bulan-bulanan... semua temanku tewas!" kata Seta mengeluh menahan tangis.

"Kau maksudkan tiga orang yang bergeletakan itu adalah Madi, Ki Banen, dan Ki Ogel?" Ginggi bertanya setengah ragu.

"Ya... mereka tewas... mereka tewas."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment