Chapter 86
"Mereka tewas," Seta mengeluh panjang-pendek, dan di antara deru napasnya, dia menangis sesenggukan.
"Kalian memang sembrono. Kepandaian kalian belum cukup untuk melawan Suji Angkara begitu saja," gumam Ginggi penuh sesal.
Dia amat sedih mendengar ketiga orang itu tewas mengenaskan. Bahkan, dia pun melihat dengan mata kepala sendiri betapa ketiga orang itu malang melintang dengan tubuh penuh luka. Ginggi sedih. Apa pun yang pernah mereka lakukan terhadapnya, sejatinya mereka adalah orang-orang baik.
"Kalian sembrono dan membuang nyawa sia-sia," keluh Ginggi.
"Maafkan aku, Ginggi," gumam Seta lemah.
"Memang engkau salah, Seta. Karena sembrono, kau jadi celaka seperti ini," kata Ginggi lagi.
"Bukan itu. Aku minta maaf karena aku berdosa padamu. Selama ini aku selalu menghinamu, selalu merendahkanmu. Padahal diriku tidak seujung kukumu. Aku sombong, aku dungu. Oh, aku benci diriku," Seta kembali menangis sambil menahan rasa sakitnya.
Mendengar ucapan Seta yang disampaikan sepenuh jiwa, Ginggi terkejut. "Tidak! Siapa yang sebenarnya berdosa? Seta, akulah yang banyak dosa. Aku bersalah padamu. Akulah yang harus minta maaf," kata Ginggi akhirnya.
Dia teringat kembali kelakuan penuh aib antara dirinya dan Nyi Santimi, padahal dia tahu Nyi Santimi adalah calon istri Seta. Dia berdosa besar, padahal Seta adalah laki-laki baik. Setidaknya pemuda yang dikenal angkuh ini masih punya nilai kesetiaan. Terbukti berkali-kali digoda wanita, Seta tetap teguh pada pendiriannya karena cintanya hanya untuk Nyi Santimi. Nilai sebaik ini malah dikotori oleh tindakan Ginggi yang berani mengganggu keutuhan Nyi Santimi.
"Seta, jangan minta maaf padaku. Bahkan kaulah yang harus menghukumku," kata Ginggi sambil mengguncang-guncang tubuh Seta.
Seta hanya bisa membalas dengan pegangan tangannya, lemah dan sedikit menggigil menahan sakit.
"Seta, dengarkan aku," kata Ginggi mendekatkan bibirnya ke telinga Seta. Dia ingin membuat pengakuan jujur bahwa dirinya telah berlaku jahat mengganggu kehormatan Nyi Santimi. Suji Angkara juga jahat, ia hendak memperkosa Nyi Santimi, tapi niat jahatnya tak pernah kesampaian. Sebaliknya, meski tidak melakukan perkosaan, peristiwa di hutan kecil setahun lalu adalah suka sama suka. Namun, tetap saja itu kejahatan, sebab Ginggi tak berhak mengganggu gadis yang sudah memiliki calon suami.
"Seta! Dengarlah! Aku akan membuat pengakuan!" Ginggi menempelkan bibirnya di telinga Seta. Dengan kerongkongan tersekat dan lidah sedikit kelu, Ginggi berbicara terpatah-patah. Isinya adalah pengakuan perihal kejadian masa lalu di mana dosa telah diperbuat bersama Nyi Santimi. Selesai membuat pengakuan, dia bertanya pada Seta, apa pun yang ingin dilakukan pemuda itu padanya, dia akan terima.
"Bilanglah apa saja. Kalau kau suruh aku bunuh diri, maka aku akan bunuh diri sekarang juga. Ayo bilang, Seta! Cepat bilang!" Ginggi terus mengguncang tubuh Seta.
Namun, Ginggi baru sadar bahwa sejak tadi mulut Seta sudah tak bicara sepatah kata pun, tidak juga mengeluhkan rasa sakitnya. Ginggi pun baru menyadari bahwa sejak tadi, jauh sebelum dirinya membuat pengakuan, tubuh Seta sudah tak bergerak lagi. Seta sepertinya sudah pasrah terhadap keadaan. Apa yang sudah ditentukan bagi dirinya sudah dia terima dengan penuh kesadaran. Seta, pemuda angkuh tapi setia ini, kini sudah diam. Dia telah mati.
Ginggi menangis di dekat mayat pemuda itu. Menangis karena sedih, menangis karena dosa. Namun, Ginggi tak terus-terusan larut dalam kesedihannya. Dia harus segera pergi dari tempat itu agar tidak diketahui oleh Tugur, yang tentu akan menyulitkan dirinya. Namun, sebelum pergi, dia tidak boleh membiarkan jasad Seta tergolek begitu saja. Ginggi harus menyempurnakannya sebagai penghormatan terakhir.
Dulu, Ki Darma pernah bercerita tentang kebiasaan nenek moyang orang Pajajaran dalam menyempurnakan tubuh orang mati. Masyarakat di wilayah Galuh dan Pakuan mempunyai tradisi yang berbeda. Galuh disebut sebagai wilayah air, maka kebiasaan menyempurnakan jasad adalah dengan cara dilarung atau dihanyutkan ke sungai. Di sungai-sungai besar terdapat tempat bernama *panereban*, yaitu tempat untuk *nerebkeun* atau melabuhkan jasad orang mati. Sebaliknya, tradisi di Pakuan karena wilayah pegunungan adalah dengan cara *dikurebkeun* atau dikubur di dalam tanah.
Di tengah malam yang gelap gulita seorang diri, tak mungkin bagi Ginggi mengubur jasad Seta. Maka, dia memilih cara tradisi orang Galuh, yaitu dengan jalan dilarung ke sungai. Sungai yang paling dekat dari Tajur Agung adalah Cihaliwung, dan wilayah aliran sungai yang paling dalam adalah Leuwi Kamala Wijaya atau dikenal juga sebagai Leuwi Sipatahunan.
Ginggi segera memondong tubuh yang sudah mulai dingin itu ke arah timur, ke tepi Sungai Cihaliwung. Jaraknya tidak begitu jauh. Ginggi mencari akar-akaran dan sebongkah batu. Batu itu dia ikatkan pada jasad Seta menggunakan akar-akaran. Ginggi menunduk memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangannya. Tubuh dingin itu dia angkat dan dilemparkan ke permukaan leuwi. Karena dibebani batu, perlahan tubuh itu mulai tenggelam.
Untuk kesekian kalinya, Ginggi menghormat pada tubuh Seta yang mulai hilang ditelan air Leuwi Sipatahunan. Bayangan wajah Nyi Santimi muncul di depan matanya. Gadis itu pernah mengaku tidak mencintai Seta dan hanya memilih Ginggi saja. Tapi, Ginggi tahu betul Seta begitu mencintai Nyi Santimi. Cintanya yang tulus dibuktikan dengan kesetiaan. Seta, sepengetahuan Ginggi, tidak pernah tergoda oleh gadis lain. Dia mengikuti Suji Angkara karena ingin mendapatkan pekerjaan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Nyi Santimi.
Selesai *nerebkeun* jasad Seta, Ginggi segera memakai bajunya kembali dan membelitkan ikat kepalanya. Sesudah itu, dia meninggalkan tempat itu untuk kembali "pulang" ke puri Bagus Seta tempat dia "bekerja".
Namun, di tengah jalan, hampir dekat ke lorong menuju benteng puri Bangsawan Bagus Seta, dia berpapasan dengan serombongan jagabaya yang membawa obor dan senjata tajam. Di belakangnya ada dua orang penunggang kuda, yaitu Suji Angkara dan ayah tirinya, Bangsawan Bagus Seta. Rombongan berhenti ketika berpapasan dengan Ginggi.
"Engkau dari mana saja, anak dungu?" teriak Bangsawan Bagus Seta setengah geram.
"Bukankah saya disuruh mengantarkan surat untuk Juragan Yogascitra, Juragan?" kata Ginggi gagap.
"Ya, aku tahu. Tapi itu kan tadi. Seharusnya kau pulang sejak tadi," kata Bangsawan Bagus Seta menyelidik.
"Di puri Bangsawan Yogascitra banyak tamu, sehingga surat baru saya serahkan sesudah tamu selesai dengan urusannya," kata Ginggi mencari alasan.
"Tapi surat itu bisa kau titipkan saja pada jagabaya, tak perlu kau tunggui berlama-lama seperti itu, tolol!" teriak Bangsawan Bagus Seta lagi.
"Saya takut surat itu tidak sampai," kata Ginggi sambil menundukkan kepala. Bangsawan Bagus Seta hanya mendengus.
"Maafkan saya merepotkan kalian sehingga jagabaya dikerahkan mencari saya," gumam Ginggi.
Terdengar tawa kecil di sana-sini. Suji Angkara yang sejak tadi diam pun ikut tertawa. "Orang sedungu kau, untuk apa susah-susah dicari?" kata Suji Angkara dengan tawa penuh ejekan.
"Mari!" kata Bangsawan Bagus Seta mengajak rombongan berjalan lagi.
"Kita bagi dua lagi, Ayahanda. Saya akan balik lagi ke arah barat sampai tepi Cipakancilan," kata Suji Angkara menahan gerakan kudanya. Bangsawan Bagus Seta menyetujui, sehingga rombongan jagabaya dibagi dua. Tujuh orang jagabaya mengikuti Suji Angkara.
"Kalian jalan duluan, aku ada perlu dengan badega bodoh ini!" kata Suji Angkara. Ketujuh jagabaya itu pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Tinggallah kini Suji Angkara dan Ginggi.
"Ada kejadian apakah, Raden?" Ginggi pura-pura tak tahu.
Suji Angkara tidak menjawab, melainkan menyepak punggung Ginggi dengan ujung kaki kanannya yang berterompah lancip. Ginggi terkejut dan langsung pura-pura terjerembab ke depan.
"Eh, ada apakah, Raden?" kata Ginggi. Sebetulnya dia merasa sangat heran dan khawatir kedoknya terbongkar.
"Setan alas kau!" teriak Suji Angkara gemas. Pemuda itu turun dari kudanya dan menjambak pakaian Ginggi.
"Ada... ada apakah, Raden?" Ginggi sudah siap dengan pengerahan tenaga di sepasang tangannya kalau-kalau pemuda itu melakukan tindakan berbahaya. Namun, Suji Angkara hanya mengguncang-guncang tubuh Ginggi. Selintas Ginggi melihat, pemuda itu tengah terguncang jiwanya. Jidatnya yang bengkak karena tonjokan tadi nampak membiru.
"Sudah sebulan kau kukirim ke puri ayah tiriku, tapi kutunggu-tunggu kau malah enak-enakan di sana. Apakah kau sudah lupa tugasmu, bangsat cilik?" kata Suji Angkara geram.