Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 87

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 87

"Saya tidak lupa dengan tugas yang diberikan olehmu, Raden. Selama ini saya tetap memata-matai puri itu," kata Ginggi sambil mencoba melepaskan jambakan pemuda itu.

"Ya, tapi kau tidak pernah melapor padaku, tolol!"

"Bukankah Raden pernah katakan, saya boleh melapor kalau ada hal-hal penting saja?" tanya Ginggi.

"Memang begitu! Tapi kenapa kau tak melapor?" tanya Suji Angkara dengan nada menyebalkan.

"Habis, selama ini saya tak menemukan hal-hal penting di sana," ujar Ginggi menghela napas, seolah merasa kecewa.

"Sedikit pun?"

"Sedikit pun!"

"Kau tidak pernah lihat Ki Banaspati memasuki puri Ayahandaku dan mengobrolkan sesuatu di sana?"

"Tidak!"

"Tidak ada berita apa pun?"

"Ada!"

"Soal apa?"

"Bahwa Nyimas Layang Kingkin harus dinikahkan dengan Sang Prabu dan engkau harus meminang Nyimas Banyak Inten!" jawab Ginggi.

"Kalau itu aku sudah tahu, tolol, sebab ayah tiriku pasti bilang padaku!" potong Suji Angkara dengan gemas.

"Kalau begitu tak ada lagi," kata Ginggi seperti menyesal atas ketidakberhasilan tugasnya.

"Dasar kau tolol!"

"Bukan saya tolol, tapi kalau sesuatu yang harus saya intip tak ada, ya mau apa lagi?" kata Ginggi mengajukan alasan.

Plak!

Pipi Ginggi dihadiahi tamparan. Ingin Ginggi balik menampar kalau saja dia tidak ingat dirinya hanyalah seorang badega, bawahan pemuda jahat itu.

"Lantas bagaimana selanjutnya, Raden?"

"Kau kembali saja ke puri ayahku dan lanjutkan tugas-tugas yang aku bebankan padamu. Tapi awas, kalau kau berani mengkhianatiku, nyawamu lepas dari badanmu. Tak ada orang yang bisa hidup setelah mengkhianatiku, mengerti?"

"Mengerti, Raden."

"Ya, cepat pergi!"

Ginggi meninggalkan tempat itu dengan perasaan gemas sekaligus sedih. Sedih karena dia bisa menduga ketiga orang yang tergeletak di puri Suji Angkara, yaitu Madi, Ki Ogel, dan Ki Banen, sudah dipastikan tewas. Bila menuruti hawa nafsu, ingin ia pukul roboh Suji Angkara di tempat sunyi tadi karena tak akan ada orang yang tahu. Namun, membunuh pemuda itu hanya tindakan potong kompas dan tidak akan menguak kejahatannya.

Ginggi hanya ingin membuktikan bahwa semua orang tahu Suji Angkara adalah orang jahat. Soal siapa kelak yang akan menghukumnya, di Pakuan pasti ada lembaga untuk mengurus urusan seperti itu.

Ginggi pulang ke puri Bangsawan Bagus Seta dengan perasaan tidak menentu. Dia tidak bisa mengurus dan merawat tiga jasad yang dia anggap teman-temannya, sebab jika memaksa, hanya akan mengundang kecurigaan. Para penyerang puri Suji Angkara dengan begitu mudahnya dituduh sebagai penjahat sehingga segenap jagabaya dikerahkan untuk membunuh mereka.

Ginggi segera memasuki gerbang puri yang dijaga empat orang jagabaya, dan mereka tidak banyak memeriksa saat Ginggi masuk. Dia tidak banyak bertanya perihal kegiatan Bangsawan Bagus Seta dan Suji Angkara, sebab ia bisa menduga mereka tengah memburu dirinya yang tadi melarikan tubuh luka pemuda Seta.

Keesokan siangnya, Ginggi merasa heran karena peristiwa semalam tidak menimbulkan hal-hal yang membuat orang tergerak untuk membicarakannya. Bahkan, Ginggi cenderung menduga bahwa tidak banyak orang yang tahu akan peristiwa semalam. Banyak jagabaya berseliweran di sekitar puri. Apakah benar banyak orang tidak tahu ada kejadian yang dianggap amat besar itu, atau semua orang tidak berani mempercakapkannya? Ginggi tidak bisa menduga dengan pasti.

Hanya saja menjelang tengah hari, Suji Angkara tampak dipanggil menghadap ke puri ayah tirinya. Ginggi yang melihat dari ruangan belakang memperhatikan wajah pemuda itu yang tampak muram dengan mata merah seperti kurang tidur. Ginggi ingin sekali mencuri dengar percakapan kedua orang itu. Maka, ia segera membawa baki berisi berbagai penganan. Ginggi akan mengantarkan penganan ke ruangan tengah tanpa diperintah tuannya.

Di ruangan tengah tampak Suji Angkara dan Ki Bagus Seta sedang bersila saling berhadapan. Keduanya tampak tegang, seolah ada sesuatu yang dirisaukan atau dipermasalahkan.

"Kau bacalah surat tadi pagi yang dikirimkan oleh Bangsawan Yogascitra!" kata Ki Bagus Seta sambil menyodorkan sebuah kotak berukir yang berisi satu susun daun nipah.

Dahi Suji Angkara yang bengkak itu agak berkerut ketika matanya meneliti tulisan palawa di atas daun nipah tersebut.

"Kurang ajar!" desis pemuda itu sambil menggigit bibir. Sesudah itu, ia memandang Ki Bagus Seta.

"Apa artinya ini, Ayahanda? Keluarga Bangsawan Yogascitra menolak lamaran kita?" tanya Suji Angkara dengan suara menggigil. "Mengapa bisa begini? Bukankah tempo hari Ayahanda yakin mereka akan menerima pinangan kita?"

"Entah, aku juga tidak mengerti," gumam Ki Bagus Seta sambil mengerutkan dahi.

"Barangkali ini kesalahan Ayahanda juga, mengapa membatalkan pertunangan Dinda Kingkin dengan Banyak Angga? Dan mengapa malah Ayahanda tawarkan adikku pada Sang Prabu?" tanya pemuda itu penuh sesal.

"Jangan salahkan aku. Ini semua aku lakukan untukmu. Kau akan tahu, Sang Prabu mencintai Nyimas Banyak Inten. Karena aku sayang engkau, maka kutawarkan adikmu pada Sang Prabu dengan harapan beliau melepaskan kekasihmu," kata Ki Bagus Seta setengah melamun.

"Tapi nyatanya gadis itu tidak diberikan padaku. Mereka tolak mentah-mentah lamaran kita. Padahal mereka tahu, Nyimas Banyak Inten menyukaiku dan aku menyukai dirinya. Mereka sengaja menolakku karena ingin membalas sakit hati atas perlakuan Ayahanda!" kata Suji Angkara setengah berteriak kesal.

Brak!

Ki Bagus Seta menggebrak meja pendek yang ada di sampingnya sehingga kayu-kayu meja berantakan menjadi puing. Ginggi yang melihat kejadian itu dari belakang terkesiap melihat demonstrasi tenaga yang diperlihatkan Ki Bagus Seta. Ginggi maklum, orang ini termasuk murid pandai dari Ki Darma.

"Bisamu hanya menyalahkan orang lain saja. Dan kini kau salahkan aku, hah!" Ki Bagus Seta meninggikan suaranya.

"Ya, karena ambisimu, kau hancurkan anakmu, Ayahanda!" kata Suji Angkara. "Kau atur agar Sang Prabu melepaskan Nyimas Banyak Inten dan mengambil adikku agar hubungan kekerabatan dengan Raja semakin dekat, kemudian kau semakin mudah menanamkan pengaruhmu di istana. Dan aku, mana keuntungan yang bisa kudapat?"

"Kau berkacalah dulu agar kau tahu sejauh mana dirimu berharga untuk orang lain!" kata Ki Bagus Seta yang membuat Suji Angkara pucat pasi.

"Apa maksudmu, Ayahanda?"

"Sudah banyak bisik-bisik tentangmu. Kau dicurigai bermental bejat. Aku tak percaya sebelumnya, tapi kejadian tadi malam membuatku berpikir lain. Penyerang-penyerang itu semua anak buahmu. Semua menudingmu banyak berbuat serong. Untung mereka cepat mati dan untung sekali mayat mereka cepat kalian buang sehingga kaum bangsawan lain tidak banyak tahu peristiwa tadi malam. Hei, siapa itu?" Ki Bagus Seta menoleh ke belakang ketika melihat Ginggi tergopoh-gopoh datang membawa baki berisi penganan.

"Mau apa kau ke sini?" tanya Ki Bagus Seta mendelik.

"Penganan untuk tamu. Bukankah sudah biasa saya harus menyiapkannya?" tanya Ginggi pura-pura baru datang ke ruangan itu.

"Jangan sembarangan masuk tanpa dipanggil. Cepat simpan penganan itu kembali ke ruangan belakang!" bentak Ki Bagus Seta.

Ginggi cepat-cepat meninggalkan tempat itu, tapi di lorong pintu ia segera menyelinap di balik gorden tinggi. Ginggi bersembunyi di sana dan membungkus tubuhnya dengan lembaran kain lebar tersebut.

"Coba katakan, benarkah engkau selama ini selalu berbuat tidak senonoh terhadap kaum perempuan?" tanya Ki Bagus Seta penuh selidik.

Suji Angkara sepertinya tidak bisa menjawab. Ki Bagus Seta nampaknya ingin sekali mendapatkan jawaban gamblang sehingga untuk kedua kalinya ia mengajukan pertanyaan yang sama.

"Ayahanda, semua orang punya kekurangannya. Aku... dan mungkin juga engkau!" Suji Angkara malah berkata begitu.

"Maksudmu apa?" suara Ki Bagus Seta terdengar penuh selidik.

"Aku ingin tahu, apa hubunganmu dengan Ki Banaspati, Ayah!" kata Suji Angkara dengan nada suara penuh selidik pula.

Terdiam sejenak, sehingga Ginggi tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan.

"Jangan macam-macam. Aku dengan dia tidak punya hubungan selain melakukan pungutan pajak negara di wilayah timur!" kata Ki Bagus Seta.

"Aku berpikir, hubungan Ayahanda dengan pejabat misterius itu sudah lebih jauh lagi dari sekadar hubungan atasan dan bawahan," tuding Suji Angkara.

"Mengapa kau berkata begitu?" tanya Ki Bagus Seta dengan suara sedikit bergetar.

"Ketika aku mengawal seba dari wilayah Karatuan Talaga, banyak peristiwa ganjil yang aku dapatkan. Ketika tiba di wilayah Kandagalante Sagaraherang, aku bahkan akan mereka bunuh. Semua telah aku laporkan padamu, Ayah, tapi mana tindakanmu atas kejadian aneh itu? Biarpun sekadar anak tiri, tapi aku anakmu. Bahkan lebih dari itu, aku kau tugasi untuk mengawasi kelancaran tugas Ki Banaspati. Ketika aku lapor bahwa aku akan dibunuhnya, kau tidak melakukan tindakan apa-apa. Dari situ aku berpikir bahwa Ayahanda punya suatu hubungan dengan Ki Banaspati, entah itu hubungan apa. Yang jelas, Ayahanda tak berniat melakukan sesuatu terhadapnya, kendati tahu Ki Banaspati hendak melenyapkan nyawaku!" kata Suji Angkara dengan suara cukup bergetar juga.

Sunyi beberapa saat. Ginggi yang bersembunyi di balik gorden ingin sekali segera mendengar kelanjutan pembicaraan antara ayah dan anak tiri itu.

"Ki Banaspati sebelumnya tak tahu bahwa kau anakku?" terdengar jawaban Ki Bagus Seta.

"Itu bukan sebuah alasan," kata Suji Angkara tidak puas. "Ayahanda belum menjawab perihal sikap-sikap aneh yang dilakukan Ayahanda. Mengapa laporan dan penemuanku tidak Ayah bahas secara sungguh-sungguh? Mengapa laporanku mengenai kecurigaan Ki Banaspati menghimpun kekuatan gelap, termasuk membentuk pasukan yang bertugas merampok hasil kiriman seba dari negara-negara kecil, tidak Ayahanda tangani dengan serius, bahkan seperti tak berniat melaporkannya pada Sang Prabu? Mengapa pula semakin tinggi Ayahanda membuat kebijakan penarikan pajak, tetapi semakin berkurang juga pajak yang masuk? Itu semua tidak masuk akal."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment