Chapter 88
Bukan aku saja yang curiga, tetapi juga beberapa bangsawan istana lainnya. Kalau Ayah memang memiliki kegiatan bersama Ki Banaspati, aku tak akan banyak ikut campur. Tapi, karena aku punya rahasia yang bisa melemahkan kedudukanmu, agar kelemahan itu tidak terbongkar, Ayahanda pun harus menutupi kesalahanku pula. Kita berdua sama-sama saling menutupi kelemahan masing-masing," kata Suji Angkara.
Ruangan tempat mereka berada kembali sunyi mencekam, dan Ginggi tidak bisa menduga apa yang sedang mereka lakukan. Ia hanya menduga bahwa karena mendapat serangan gencar dari Suji Angkara, Ki Bagus Seta rupanya agak terdesak. Barangkali otaknya sedang berputar untuk menyusun kata-kata yang harus disampaikan kepada anak tirinya yang tampak mulai melakukan penekanan ini.
"Apa yang kau inginkan dariku, Suji?" tanya Ki Bagus Seta setelah lama berdiam diri.
"Tidak banyak. Tutupi kelakuanku di masa lampau dan usahakan agar lamaran untuk mendapatkan Nyimas Banyak Inten terlaksana," kata Suji Angkara.
Hening sejenak.
"Saya bisa menduga, Ayahanda bersama Ki Banaspati melakukan persekongkolan untuk memperkaya diri sendiri dengan menggelapkan hasil seba. Silakan lanjutkan sebab saya pun ikut menikmati hasilnya dan hidup makmur selama berada di Pakuan. Namun, Ayahanda tetap harus menolongku, sebab kalau kegiatan Ayahanda saya sampaikan pada Raja, Ayahanda akan mendapat marabahaya besar," kata Suji Angkara setengah mengancam.
Ki Bagus Seta belum menjawab ketika tiba-tiba seorang jagabaya mengabarkan ada tamu yang datang.
"Siapa?" tanya Ki Bagus Seta.
"Yang akan bertamu adalah Ki Banaspati, Juragan!" kata jagabaya.
Darah Ginggi berdesir mendengarnya. Hening sejenak. Sepertinya Ki Bagus Seta belum bisa memutuskan apakah tamu itu harus ditolak atau diterima.
"Mengapa Ayahanda ragu-ragu? Persilakan dia datang. Biar kita sama-sama mengobrol agar pengetahuanku lebih luas tentang dirinya," kata Suji Angkara.
"Persilakan dia masuk," gumam Ki Bagus Seta.
Jagabaya kembali keluar ruangan dan hampir saja tubuhnya menyinggung tubuh Ginggi yang bersembunyi di balik gorden. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah ringan memasuki lorong yang mengarah ke ruangan tengah puri. Ginggi menahan napas ketika Ki Banaspati melewati gorden.
"Selamat datang, Ki Banaspati," kata Ki Bagus Seta dengan suara sedikit kaku.
"Selamat bertemu. Siapa ini? Oh?" jawab Ki Banaspati agak kaget. Ginggi menduga rasa kaget Ki Banaspati karena melihat Suji Angkara ada di ruangan itu.
"Ada kepentingan apa?" suara Ki Bagus Seta memecah keheningan.
"Ya," jawab Ki Banaspati.
"Tentang apa?"
"Tapi aku tak mau ada pemuda ini di sini!"
"Suji, keluarlah!"
"Baik. Tapi Ayahanda harus ingat," suara Suji Angkara.
"Ya, aku ingat!"
Ginggi dari balik gorden mendengar suara langkah kaki menjauh dari ruangan itu hingga akhirnya lenyap.
"Ya, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan," kata Ki Bagus Seta.
"Masih ada satu orang lagi yang mendengar pembicaraan kita, aku tak suka!"
"Siapa?" Bersamaan dengan pertanyaan Ki Bagus Seta, ke arah gorden tempat persembunyian Ginggi berhembus angin pukulan yang menimbulkan hawa panas.
Ginggi teringat, pukulan panas seperti ini pernah ia rasakan ketika diserang oleh Ki Rangga Wisesa di sebuah gua kapur wilayah Tanjungpura enam bulan lalu. Ginggi tak heran jika Ki Banaspati pun pandai memainkan ilmu ini karena Ki Rangga Wisesa dan Ki Banaspati berasal dari perguruan yang sama. Hanya Ginggi saja yang tidak pernah mendapatkan gemblengan ilmu seperti itu, bukan karena Ki Darma tidak mau memberinya, melainkan karena ia sendiri yang menolaknya.
Meskipun tidak mempelajari ilmu tenaga dalam seperti itu, bukan berarti Ginggi tidak bisa memusnahkan serangan tersebut, apalagi setelah ilmunya kian dimatangkan oleh berbagai latihan selama tiga bulan dari Ki Rangga Guna. Ginggi tahu betul bagaimana cara menghadapi angin pukulan tersebut. Menurut Ki Rangga Guna, ada dua macam tenaga dalam: tenaga yang melahirkan angin pukulan berhawa panas dan tenaga yang berhawa dingin.
Kasar bisa dilawan dengan kasar, dan halus dilawan dengan halus. Namun, jika dua kekuatan yang sama saling diadukan, akan mengakibatkan dampak yang dahsyat; pihak yang tenaganya kurang sempurna akan kalah, yang mengakibatkan luka atau tewas. Ginggi tidak ingin mengambil risiko itu. Ia tidak mau membunuh orang, apalagi dibunuh. Maka, untuk mencari jalan tengah, serbuan pukulan hawa panas yang dilontarkan Ki Banaspati ia sambut dengan pengerahan hawa dingin.
Pukulan hawa panas Ki Banaspati bagaikan besi panas yang menerobos kolam air; panasnya hilang tak berbekas. Bahkan, udara yang tadinya terasa panas mendadak berubah.
"Yang namanya orang pandai tak baik bersembunyi seperti itu. Kami harap engkau berani memperlihatkan diri," kata Ki Banaspati dengan nada suara yang terdengar heran.
Ginggi terpaksa keluar menampakkan diri. Ia menerobos kain gorden yang segera melepuh seperti debu. Ginggi tersenyum tipis saat melihat kedua orang itu menatapnya dengan mata terbelalak. Ki Bagus Seta tampak paling terkejut.
"Engkau?" ucap kedua orang itu secara bersamaan.
Ki Bagus Seta memandang heran kepada Ki Banaspati, barangkali merasa heran bahwa rekannya sudah mengenal pemuda itu pula. "Engkau sudah mengenal badegaku, Banaspati?" tanyanya.
"Dia sudah menjadi pembantuku setahun yang lalu. Tapi pemuda ini brengsek sebab tidak satu kali pun berupaya membantuku," kata Ki Banaspati menatap tajam Ginggi.
"Sebulan lalu dia menjadi badega di sini. Aku sudah curiga dia memiliki kepandaian. Tapi ketika aku uji dengan menyuruh jagabaya memukulinya, dia tak melawan. Siapa engkau sebenarnya, hai pemuda misterius?" tanya Bangsawan Bagus Seta dengan curiga.
"Dia murid paling akhir dari Ki Darma!" gumam Ki Banaspati. Wajah Ki Bagus Seta berubah drastis.
"Dia diutus Ki Guru agar ikut perjuangan kita. Dan dia sebelumnya sudah setuju ikut kita. Tapi pemuda ini memang benar dungu. Tak ada satu pun pekerjaan yang dia lakukan untuk kita," kata Ki Banaspati.
"Tugas apa saja yang harus aku kerjakan dan sesuai dengan amanat Ki Darma?" tanya Ginggi menguji Ki Banaspati. Ginggi yakin orang ini tak akan bisa menjawabnya, sebab tugas pertama yang diberikan kepadanya adalah menguntit Suji Angkara dan membunuhnya. Beranikah dia mengatakan bahwa tugasnya adalah membunuh Suji Angkara, padahal pemuda itu jelas-jelas anak tiri Ki Bagus Seta?
Namun, Ginggi terkejut ketika Ki Banaspati menjawab dengan jawaban yang tak terduga.
"Ya, kau brengsek sebab selama setahun ini kau tidak melaksanakan apa yang kuperintahkan. Buktinya Suji Angkara sampai hari ini masih segar-bugar!" kata Ki Banaspati sedikit mendelik.
Ginggi menatap Ki Bagus Seta, namun ia kembali salah duga. Ginggi berpikir Ki Bagus Seta akan kaget atau marah mendengar Ki Banaspati menyuruhnya membunuh anak tirinya. Namun, saat Ginggi menatap tajam pria paruh baya itu, tidak ada secuil pun perasaan terkejut di wajahnya.
"Aku disuruh membunuh anakmu, bagaimana pendapatmu?" tanya Ginggi melepaskan basa-basi hormat.
Pria paruh baya yang berpakaian gagah itu merasakan perubahan sikap Ginggi. Bibirnya tersenyum pahit. "Engkau pandai bersandiwara, anak muda. Aku tertipu oleh sikapmu yang berpura-pura dungu," gumam Ki Bagus Seta sembari duduk bersila di atas hamparan karpet buatan negeri Persia.
Ki Banaspati ikut duduk, dan mereka saling berhadapan. Ginggi pun ikut duduk, namun agak terpisah jauh.
"Engkau memang misterius, anak muda. Kalau kau benar-benar murid Ki Guru Darma, mengapa harus masuk ke puriku secara sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Ki Bagus Seta.
"Masih banyak yang belum aku mengerti. Jadi, aku ingin melakukan penyelidikan secara sembunyi," kata Ginggi tegas.
"Tentang apa?"
"Tentang hubungan kalian dan sejauh mana perjuangan kalian dalam menjalankan amanat Ki Darma," jawab Ginggi sambil menatap kedua orang itu bergantian.
"Sudah aku terangkan semuanya padamu. Engkau harus percaya semua itu!" kata Ki Banaspati menimpali.
"Segala sesuatunya?"
Ki Banaspati terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ya, segala sesuatunya!"
"Coba ulangi lagi kau beberkan tujuan perjuanganmu, Ki Banaspati!" kata Ginggi.
"Kau jangan bersuara lantang seperti itu padaku, juga pada Ki Bagus Seta, sebab kedudukanmu di sini tidak sama," tegur Ki Banaspati, merasa tidak enak karena Ginggi tidak menjaga sopan santun.
"Kita semua seimbang sebab memiliki tugas yang sama yang diamanatkan Ki Darma. Bahwa kalian di sini menjadi pejabat, tak ada hubungannya denganku!" kata Ginggi sembari bersila tegak dan memandang tajam kepada kedua orang di depannya.
Ki Bagus Seta tersinggung dengan ucapan Ginggi dan hendak berdiri, namun ditahan oleh Ki Banaspati.
"Sudahlah, adat anak ini memang keras. Ki Guru sepertinya tidak memberikan pelajaran moral kepada anak ini," katanya menyabarkan Ki Bagus Seta, padahal ia sendiri yang awalnya tersinggung dengan sikap Ginggi.