Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 89

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 89

"Ingin aku tahu, sejauh mana dia memiliki kemampuan?" gumam Ki Bagus Seta menahan kemarahan.

"Mungkin kemampuannya di bawah kita dan bukan masalah berat bila kita ingin menundukkannya. Hanya yang jadi bahan pertimbangan, kita semua jangan berbuat sesuatu yang merugikan kita, merugikan perjuangan kita. Kita sesama murid Ki Darma Tunggara harus seiya sekata dalam memperjuangkan amanat guru," kata Ki Banaspati pada akhirnya.

Ini sedikit melegakan, sekaligus membuat Ginggi harus berpikir. Pendirian Ki Banaspati angin-anginan; sebentar bersikap pemarah, sebentar kemudian seolah bersikap penuh bijaksana. Namun, Ginggi memantapkan diri untuk tidak mudah terpengaruh sikap mereka.

Ki Banaspati balik memandang Ginggi. "Baiklah, aku maklum bila kebiasaan dan perangaimu begitu kepada setiap orang. Tapi yang ingin kau pegang, tetaplah kau bergabung dengan kami!" seru Ki Banaspati. "Banyak cara dalam menolong rakyat. Tapi cara paling sempurna agar menghasilkan sesuatu yang besar dan berarti adalah berupaya mengubah tatanan negara," kata Ki Banaspati pasti. Ia menatap Ginggi dalam-dalam seolah memastikan bahwa tindakannya benar dan harus dijalankan.

"Bagaimana dengan engkau, Bagus Seta?" Ginggi melirik Ki Bagus Seta.

"Aku sejalan dengan Ki Banaspati!" katanya angkuh tanpa mau menatap Ginggi.

"Menaikkan seba secara terus-menerus dan memerangi negara-negara kecil yang ingkar membayar pajak tinggi, itulah upaya melaksanakan amanat guru?" tanya Ginggi penuh selidik.

"Ginggi, dengarkan aku," Ki Banaspati ikut bicara. "Untuk menuju daratan di seberang sungai yang berair deras, kita tidak mungkin memotong arus begitu saja. Mungkin perjalanan harus agak melambung jauh ke hilir. Terkadang kita sulit mengarunginya dengan berenang begitu saja. Kita harus cari pegangan, dan pegangan itu mungkin sesuatu yang tengah dibawa arus. Begitu pun perjuangan kita. Melawan Raja begitu saja tidak akan sanggup mengubah keadaan dengan mudah. Di beberapa wilayah terjadi pemberontakan; bila dilakukan dengan kasar, hanya akan meruntuhkan cita-cita mereka saja. Cobalah mencari celah yang sekiranya bisa kita manfaatkan untuk menyusup. Kau harus bangga kepada Ki Bagus Seta dan aku. Orang-orang yang sesungguhnya dikejar dan dimusuhi karena punya keterkaitan dengan Ki Darma, malah bisa menyusup ke pusat istana dan memiliki pengaruh. Tapi sejauh apa pengaruh kita tanamkan, tetap harus sejalan dulu dengan keinginan penguasa. Kalau kita berbuat kebijaksanaan yang secara serentak bertolak belakang dengan keinginan Raja, bukan pengaruh yang kita dapatkan, tapi kehancuran!" kata Ki Banaspati panjang lebar.

"Tapi kebijaksanaan kalian malah terasa menyengsarakan rakyat," gumam Ginggi berpangku tangan.

"Kita ini tengah berjuang membangun sesuatu yang baru dan membongkar hal-hal lama. Yang namanya membongkar, tentu akan ada yang dirusak. Ibarat kita menanam tanaman baru yang bebas dari hama, tentu harus mencabuti tanaman lama yang penuh hama; terkadang harus kita cabut seluruhnya, seluruh bagian akar juga tanah di sekitarnya. Barangkali akan ada bangunan yang sebetulnya baik tapi terpaksa ikut terbongkar. Barangkali akan ada batang pohon yang masih bersih dari hama tapi terpaksa harus ikut dicabut. Itulah pengorbanan, Ginggi. Untuk memperjuangkan suatu kebenaran, akan ada ranting-ranting kebenaran yang ikut jadi korban. Tak ada sesuatu yang tak wajar dari kesemuanya. Rakyat berkorban, kita berkorban, dan semua berkorban. Kau lihatlah pengorbanan Ki Bagus Seta. Dia berani berkorban membiarkan anak tirinya jadi incaran pembunuhan. Suji Angkara tidak sepaham dengan perjuangan ayahandanya. Dia masih hijau dalam urusan kenegaraan. Satu-satunya yang harus dia junjung di Pajajaran adalah Raja, tanpa memikirkan apakah Raja berharga buat rakyat atau tidak. Itulah sebabnya aku mengutusmu membunuh Suji Angkara agar dia tidak jadi duri dalam perjuangan semesta ini. Dan kau harus sanggup berpikiran besar. Pengorbanan kita yang paling menyakitkan adalah menerima tugas membunuh Ki Guru!" kata Ki Banaspati.

Kalau ada suara halilintar terdengar di siang hari bolong, maka ucapan inilah yang lebih terasa membelah dada. Ginggi tak terasa berdiri dari duduknya saking terkejut mendengar berita yang disampaikan Ki Banaspati. Matanya terbelalak dan tangannya menunjuk ke arah Ki Banaspati. "Benarkah yang kau ucapkan ini?" desisnya pendek namun penuh getaran.

"Betul!" gumam Ki Banaspati.

"Kau... kau pengkhianat! Kau murid murtad!" Ginggi berteriak dan menghambur ke arah Ki Banaspati yang masih duduk bersila.

Ki Banaspati yang tak menyangka dirinya diserang tiba-tiba, serta-merta meloncat ke samping. Tapi Ki Bagus Seta rupanya telah menyangka jauh sebelumnya. Maka, sebelum Ginggi melancarkan pukulan, Ki Bagus Seta sudah lebih dahulu melayangkan serangan dahsyat berupa angin pukulan yang dikerahkan sepenuh tenaga.

Ginggi merasakan serangan tenaga dalam ini sepertinya hendak membunuhnya. Ginggi yakin akan kemarahan Ki Bagus Seta. Dia pejabat tinggi di Pakuan, dihormati semua bangsawan, dan ditakuti para prajurit serta jagabaya. Sekarang dia merasa terhina dengan tindak-tanduk orang yang semula dianggap sebagai badeganya. Memang benar, pertama kali datang, Ginggi berpura-pura menjadi badega, merendah-rendah setengah menjilat. Dan kini, Ginggi begitu terang-terangan menentangnya, bertindak kasar, dan tidak menghormatinya secuil pun, padahal Ki Bagus Seta merasa bahwa dirinya adalah pejabat tinggi. Barangkali ini penghinaan pertama baginya dan menyakitkan rasanya.

Itulah sebabnya Ginggi menduga Ki Bagus Seta akan melakukan tindakan balas dendam atas perasaan terhinanya itu. Namun, Ginggi tidak akan mengalah begitu saja. Dia pun sudah lama menahan kemarahan terhadap Ki Bagus Seta. Ki Bagus Seta memang benar murid Ki Darma dan barangkali pun dia benar telah berjuang melaksanakan amanat Ki Darma, tapi pergerakan Ki Bagus Seta amat melampaui batas amanat. Dia terlalu melambung sehingga melupakan amanat yang paling mendasar dari Ki Darma bahwa semua anak muridnya harus berjuang membela kepentingan rakyat. Sekarang yang disaksikan Ginggi, Ki Bagus Seta malah semena-mena membuat kebijaksanaan. Dalam menarik pajak tinggi pun, sebenarnya Raja hanya mengeluarkan titah saja, sedangkan yang membuat rekaan dan rancangan adalah Ki Bagus Seta. Semua titah Raja yang terasa membebani rakyat, semua keluar dari jalan pikiran Ki Bagus Seta belaka.

Sekarang Ginggi menyadari, baik Ki Banaspati maupun Ki Bagus Seta sama-sama memiliki ambisi untuk mempunyai pengaruh kuat di Pajajaran. Ki Bagus Seta bergerak di dayo (ibukota) dan Ki Banaspati bergerak di wilayah-wilayah kekuasaan Pajajaran. Ginggi tak mau tahu; yang jelas, dia tak setuju dengan gerakan keduanya. Marah, sesal, sedih, dan entah apa lagi, semuanya menggayuti pikiran Ginggi. Begitu serangan pukulan hawa panas terasa begitu kuat menyerang dirinya, Ginggi segera menghimpun tenaga di bagian perutnya. Inti tenaga seperti bergulung-gulung di perut; secara serentak dia salurkan ke tubuh bagian atas. Urat-urat darahnya menegang dan berdenyut, mengalir keras menuju jaringan darah di sepanjang kedua tangannya, membuat otot-ototnya menegang keras.

Begitu sambaran angin pukulan berhawa panas datang menerobos, Ginggi berteriak menggelegar seperti suara petir. Sepasang tangannya yang sudah terisi inti tenaga dia gerakkan, mendorong dan menolak serangan tenaga Ki Bagus Seta. Dua angin pukulan beradu keras. Karena ada dua tekanan udara saling berbenturan, terdengar suara ledakan keras di ruangan disertai kilatan kepulan asap. Ginggi terlempar ke belakang membentur meja dan punggungnya menghantam daun jendela. Kayu-kayu jendela berantakan dan tubuh Ki Bagus Seta menerobos ke luar.

Ginggi segera bangun sambil menyeka darah yang sempat menetes dari mulutnya. Dia harus memapaki lagi satu serangan baru yang datang dari gerakan dorongan Ki Banaspati. Orang ini mengulangi serangannya yang tadi pernah ditepis Ginggi dengan jalan memunahkannya dengan angin pukulan dingin. Kedua orang ini berdiri dengan kaki terpentang lebar dan saling mendorongkan kedua belah tangan dengan telapak tangan terbuka lebar.

Blaaar!

Kembali dengan kilatan sinar disertai kepulan asap tebal. Untuk kedua kalinya tubuh Ginggi terlontar ke belakang. Namun, tubuh Ki Banaspati pun sama terlontar dan punggungnya membentur dinding kayu jati. Dinding bergetar hebat dan ada bagian-bagian kayunya yang pecah-pecah. Tubuh Ki Banaspati menggeliat-geliat sebentar, rupanya merasa kesakitan karena benturan tubuhnya barusan. Namun hanya sebentar, dia sudah berdiri lagi. Kali ini langsung meloncat hendak memukul Ginggi yang masih terlentang.

Ginggi sadar akan adanya serangan ini, tapi matanya masih berkunang-kunang dan dadanya serasa akan pecah. Dengan susah payah dia bergerak untuk berdiri. Namun, serangan pukulan telapak tangan miring dari Ki Banaspati sudah mencoba mencecar pelipis kirinya. Ginggi mencoba memiringkan kepala ke kanan sambil sedikit menunduk. Pukulan telapak tangan miring gagal menerobos sasaran, tapi serangan itu seperti dilanjutkan menyusul ke kanan, dan Ginggi kian memiringkan kepalanya ke kanan. Sementara tangan kirinya mencoba membantu badannya untuk berdiri, tangan kanannya coba dilayangkan ke kiri. Bukan berbentuk kepalan, melainkan dua jari tengah dan telunjuk digabung membentuk capit gunting untuk digunakan menotok kerongkongan Ki Banaspati. Rupanya Ki Banaspati sadar, serangan ini bila mengenai sasaran akan menimbulkan bahaya besar. Kerongkongannya akan kaku tersumbat, atau sama sekali tertusuk dua jari bertenaga kuat itu. Maka, satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan menarik tubuh ke belakang. Namun, layangan tangan kanan ke arah kiri ini bisa terus nyelonong mengikuti gerakan mundur leher Ki Banaspati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment