Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 90

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 90

Untuk memunahkan serangan ini, Ki Banaspati merebahkan tubuhnya, bersalto ke belakang sambil melakukan tendangan dahsyat. Ginggi pun bersalto ke belakang sehingga tendangan Ki Banaspati bisa dihindarkannya. Sekarang, keduanya sudah berdiri, saling pandang, dan saling berhadapan. Sepasang mata mereka saling menyorot tajam untuk mencoba mengintip kelemahan lawan.

Sambil mata tetap menyorot ke depan, Ginggi memutar otak mencari gerakan-gerakan baru yang tidak dikenal Ki Banaspati. Sebab, percuma saja menggunakan jurus-jurus pemberian Ki Darma dalam melawan Ki Banaspati. Jurus apa pun yang diberikan Ki Darma padanya tidak akan berarti bila digunakan melawan teman seperguruan. Ginggi teringat pelajaran yang diberikan Ki Rangga Guna beberapa bulan lalu. Ki Rangga Guna banyak memberikan ilmu baru. Kata orang tua itu, ilmu tersebut adalah ilmu kedigjayaan yang didapatnya dari perantauan; bukan ilmu Pajajaran dan tidak dikenal di wilayah Pajajaran.

Kalau ilmu-ilmu itu dipraktikkan, apakah Ki Banaspati... Berpikir sampai di situ, Ginggi segera memasang kuda-kuda. Dia mencoba berdiri dengan kaki kiri saja, berjingkat sehingga hanya ujung jempolnya yang menapak di lantai kayu, sedangkan kaki kanan terangkat setinggi lutut kiri. Kedua tangan dikembangkan lebar ke samping seperti burung garuda yang sedang mengepakkan sayap.

Ginggi melihat Ki Banaspati mengerutkan alisnya; sepertinya dia tengah menyelidik gerakan apakah itu, atau barangkali dia tengah menerka bagaimana kelanjutan gerakan asing tersebut. Ginggi tetap berdiri kukuh dengan ujung jempol kaki kirinya, begitu pun sepasang tangannya masih membentuk sayap burung garuda. Ki Banaspati bergerak satu langkah ke depan, tapi Ginggi masih bersikap diam.

Namun, sebelum Ki Banaspati bergerak melakukan penyerangan, dari luar masuk segerombolan jagabaya dengan berbagai senjata di tangan, diikuti oleh Ki Bagus Seta. Para jagabaya berteriak-teriak menyuruh Ginggi menyerah. Tiga orang di antaranya dikenali Ginggi sebagai jagabaya yang melakukan penyiksaan pada dirinya tempo hari. Mereka kini bahkan paling berani menerobos masuk dan secara gegabah melakukan penyerangan dengan tangan kosong.

"Huh! Dasar monyet dungu, dia tidak kapok kita gebuki," kata seorang pria bertubuh kekar dengan cambang bauk yang menakutkan. Dia menghambur melayangkan pukulan.

Namun, Ginggi sudah tidak berpura-pura seperti tempo hari. Begitu Si Cambang Bauk melayangkan pukulan dengan tangan berotot gempal, namun lamban dan lemah, maka dengan amat mudah pergelangan tangannya ditangkap oleh Ginggi. Si Cambang Bauk berteriak kesakitan karena pegangan tangan Ginggi disertai pengerahan tenaga. Dia berusaha melepaskan tangannya, tapi tak bisa. Tangan kiri jagabaya tinggi besar ini segera melayangkan pukulan, tapi ditangkis oleh Ginggi. Akibatnya, orang itu menjerit ngeri karena tangannya beradu dengan tangan Ginggi.

Melihat temannya tak berdaya, tiga orang mencoba membantu. Ginggi ingat bahwa mereka adalah orang yang pernah menyiksa dirinya. Serta-merta, Ginggi memelintir tangan Si Cambang Bauk ke belakang sehingga ia menjerit-jerit ngeri. Begitu badannya berbalik, Ginggi segera mendorong Si Cambang Bauk sekeras mungkin. Tubuh besar itu menubruk dua temannya sehingga jatuh bertubrukan dan saling tindih. Yang lain ikut menyerang, tapi hanya menjadi sasaran tangan Ginggi yang menggunakan pengerahan inti tenaga. Sebentar saja, semuanya sudah terpelanting ke segala arah. Yang seorang bahkan hampir menubruk tubuh Ki Bagus Seta yang mengeluarkan sumpah serapah karena kemarahan yang sangat.

"Berhentilah, tak baik sesama teman seperguruan saling bunuh!" teriak Ki Banaspati memperingatkan.

"Tidak akan saling bunuh, sebab aku yang akan membunuh kalian. Kalian berdosa besar terhadap Ki Darma!" teriak Ginggi sedikit terisak karena kesal dan sedih.

"Rangga Wisesa yang bersalah. Dia melaporkan Ki Darma pada Seribu Perwira Pengawal Raja. Akibatnya, Sang Prabu juga mengetahui di mana Ki Guru bersembunyi. Beliau memerintahkan kami untuk mengejar ke Puncak Cakrabuana. Tapi, pelaksanaan penyerbuan aku tidak ikut. Yang bergerak ke sana adalah sesepuh perwira kerajaan, kendati semua itu adalah perintah Ki Bagus Seta!" kata Ki Banaspati menoleh.

Ginggi juga ikut menoleh pada Ki Bagus Seta. Orang ini tidak menampakkan perubahan mimik wajah. Ginggi marah sekali melihat perilaku mereka. Ingin dia menerjang kedua orang itu bila mengingat pengkhianatan keduanya terhadap Ki Darma. Sementara itu, para jagabaya saling pandang, kemudian menatap Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati bergantian.

"Juragan... Juragan Ki Bagus Seta adalah murid pemberontak Ki Darma?" gumam jagabaya bercambang bauk sambil mulutnya menyeringai kesakitan karena tangannya dipilin Ginggi.

"Juragan Bagus Seta murid pemberontak?" gumaman itu terdengar di sana-sini.

"Ya, benar, aku murid Ki Darma!" desis Ki Bagus Seta.

Belum habis ucapannya, dia meloncat ke sana kemari melakukan pukulan telak terhadap para jagabaya yang jumlahnya mencapai belasan orang. Terdengar teriakan kesakitan, dan dalam waktu singkat para jagabaya yang sebetulnya anak buahnya sendiri terlontar ke sana kemari. Semuanya mendapatkan pukulan telak yang mematikan karena selain dilakukan dengan pengerahan tenaga, juga mengarah pada bagian yang membahayakan nyawa.

Ki Bagus Seta berdiri tegak di tengah ruangan, dikelilingi oleh tubuh-tubuh yang bergeletakan tak berdaya. Ginggi kaget sekali menyaksikan tindakan Ki Bagus Seta yang ganas. "Engkau membunuhi anak buahmu sendiri?" tanya Ginggi dengan suara gemetar saking heran dan terkejutnya.

Ki Bagus Seta tidak menjawab sepatah pun. Sepasang matanya menyorot entah ke mana dan wajahnya tampak pucat.

"Itulah salah satu pengorbanan dalam perjuangan," ujar Ki Banaspati.

"Mengapa pengorbanan perjuangan seganas ini? Mereka adalah orang-orang tak berdosa dan tidak tahu menahu!" kata Ginggi menoleh ke arah Ki Banaspati.

"Ya, betapa pedihnya kita berkorban. Kita harus membunuh orang yang tak berdosa, membunuh orang yang tidak tahu menahu persoalan kita, sebab kalau kita tak melakukan hal seperti tadi, kitalah yang akan menemui bahaya," kata Ki Banaspati lagi.

"Tadi kau saksikan sendiri, sesudah mereka tahu juragannya adalah murid Ki Darma, serentak mereka memandang penuh curiga, padahal jauh sebelumnya mereka hormat dan sopan pada Ki Bagus Seta. Ya, Ki Darma dikejar, diburu, serta dibenci orang Pakuan. Semua orang yang punya kaitan dengan Ki Darma juga harus dibenci dan diburu. Betapa pahitnya nasib kita, dan betapa beratnya pengorbanan kita. Agar perjuangan kita lancar, kita harus menutup rahasia itu rapat-rapat mengenai siapa diri kita. Agar rahasia itu tetap rapat, kita harus berlaku seolah-olah kita berdiri di pihak musuh. Jangan kau salahkan kebijaksanaan Ki Bagus Seta dalam menurunkan perintah agar Ki Darma diburu, sebab bila tidak begitu, Ki Bagus Seta akan dicurigai dan perjuangan akan gagal!" kata Ki Banaspati memberikan penjelasan.

Namun, penjelasan ini tetap tak dimengerti Ginggi. Dalam pikirannya, mengapa itu semua harus terjadi? Mengapa Ki Darma harus diburu dan mengapa yang memerintahkannya harus Ki Bagus Seta? "Perjuangan kalian membabi buta. Ki Darma lah yang memberi perintah agar kalian berjuang. Tetapi mengapa Ki Darma pula yang kalian jadikan tumbal?" tanya Ginggi tak puas.

"Ki Guru bukan butuh keselamatan nyawa, melainkan butuh kebebasan. Ki Guru menginginkan rakyat Pajajaran bebas dari tekanan Raja. Untuk kepentingan rakyat, dia tak akan menyembunyikan nyawanya. Semuanya akan dia abdikan!" kata Ki Banaspati.

"Sebab yang penting," lanjut Ki Banaspati lagi, "bukan keselamatan dirinya yang Ki Guru pertahankan, tapi cita-citanya. Kematian Ki Guru akan berharga bila kita menjalankan dan menyukseskan cita-citanya."

Ginggi termangu sebentar, namun akhirnya dia menggelengkan kepalanya. "Semua tidak aku mengerti, sebab yang namanya keberhasilan perjuangan harus kita rasakan juga. Aku tak mau mati dalam perjuangan. Keberhasilan sebuah perjuangan tapi sambil kehilangan nyawa bukan keberhasilan namanya. Dan ini berlaku juga bagi Ki Darma. Beliau berhak hidup. Jadi, kalau ada orang yang membunuhnya, dia harus bertanggung jawab!" kata Ginggi bertahan dengan pendapatnya.

Hening sejenak. Sementara itu, di pekarangan terdengar orang-orang saling bertanya-tanya tentang peristiwa di ruangan tengah puri Bagus Seta.

"Tidak boleh ada perbedaan pendapat dalam melaksanakan perjuangan. Engkau boleh pilih sendiri, ikut kami atau mati sebagai pemberontak menurut tuduhan orang-orang Pakuan!" kata Ki Bagus Seta setelah mendengar di luar mulai banyak jagabaya.

"Apa maksudmu?" tanya Ginggi menatap tajam.

"Di luar banyak jagabaya dan prajurit pilihan. Kalau kau tak mau bergabung dengan kami, maka dengan amat mudahnya aku tuduh kau penjahat pemberontak yang membunuhi anak buahku. Kau akan dikepung dan para perwira kerajaan akan kuundang untuk meringkusmu!" kata Ki Bagus Seta mengancam.

Rupanya ini bukan ancaman omong kosong belaka, sebab Ginggi berpikir orang ini dengan amat mudahnya akan memutarbalikkan keadaan. Dia bisa dituduh pembunuh dan para prajurit tak akan percaya pada Ginggi kalau dia balik menuding. Semua akan merasa sesuatu yang mustahil bila Ki Bagus Seta membunuhi anak buahnya sendiri. Ginggi mengerti ini, tapi dia tak mau didikte orang lain. Apalagi dia sedikit pun tidak setuju dengan tindak-tanduk kedua orang murid Ki Darma yang sepertinya menghalalkan segala cara dalam melakukan kegiatan dan tujuannya.

Sekali lagi Ginggi tak mau menjawab ketika Ki Bagus Seta menyuruhnya untuk memilih sikap. Dan karena merasa bahwa sikap Ginggi tak bergeming, Ki Bagus Seta segera berteriak agar para jagabaya dan para prajurit memasuki ruangan tengah.

"Ada kejadian apakah, Juragan?" tanya para jagabaya setelah berseru kaget karena di atas lantai bergelimpangan belasan jagabaya lainnya tak berdaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment