Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 91

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 91

Beberapa orang mencoba memeriksa tubuh-tubuh yang bergeletakan itu. Namun, setelah tahu teman-temannya tak ada yang bernyawa, mereka berseru kaget bercampur marah.

"Juragan, mengapa mereka mati sedemikian rupa?" tanya seorang jagabaya.

"Tangkap orang itu! Dialah pembunuhnya!" teriak Ki Bagus Seta menuding ke arah Ginggi.

Tanpa menunggu waktu, belasan jagabaya serentak menghambur menyerang Ginggi. Ki Bagus Seta berteriak pula agar yang lain memanggil prajurit-prajurit pilihan guna membantu pengepungan. Ginggi merasakan bahaya mengancam dirinya, maka ia pun segera mendahului lawan. Sepasang tangannya ia gerakkan, berputar-putar seperti baling-baling. Pedang dan tombak beterbangan karena lepas dari pemegangnya. Sedangkan mereka yang merasa tak kuat menahan benturan tangan Ginggi berteriak kesakitan. Langkah mereka pun tertahan dan mundur satu dua tindak.

Ginggi memaklumi, para jagabaya dalam satu gebrakan saja sudah merasa jerih kepadanya. Kesempatan ini Ginggi gunakan untuk meloncat ke luar ruangan melalui lubang jendela yang hancur. Namun, di pekarangan sudah menghalangi belasan prajurit. Melihat seragam jenis rompi terbuat dari beludru hitam, rambut yang digelung rapi ke atas, serta berbekal perisai baja dan pedang, mudah diduga mereka adalah prajurit istana yang sengaja diundang untuk menangkapnya.

Ginggi sudah mendengar kalau kepandaian mereka di atas rata-rata jagabaya. Ginggi pun pernah mendengar bahwa prajurit Pakuan sudah pandai dalam menyusun strategi peperangan, termasuk di antaranya strategi dalam melakukan pengepungan. Itulah sebabnya di ruangan terbuka ini Ginggi perlu bertindak hati-hati. Jangan sampai kedudukannya berada di tengah-tengah sebab hanya akan membuat dirinya terkepung saja. Untuk itulah, pemuda ini segera meloncat-loncat menghindari kepungan.

Tapi para prajurit Pakuan bukan orang sembarangan. Melihat Ginggi meloncat-loncat ke sana kemari, kepungan tidak diusahakan bertambah sempit, melainkan diperluas dan diperlebar sehingga dalam tempat selebar itu, diharapkan Ginggi akan kelelahan sendiri. Ginggi merasa kesal dengan taktik para prajurit ini, sebab dengan demikian dirinya tetap saja berada di tengah kepungan. Kepungan itu bisa melebar bila Ginggi bergerak melebar, dan akan menyempit bila Ginggi tak melakukan gerakan apa pun.

Ginggi bagaikan seekor babi rusa yang dikepung sekelompok anjing pemburu, selalu berada dalam kepungan kendati para pengepung tidak melakukan serangan. Melihat mereka yang berputar bahkan bersorak-sorai gegap gempita, mengingatkan dirinya akan keterangan Ki Darma ketika mereka berkumpul di Puncak Cakrabuana. Prajurit Pakuan pandai melakukan taktik pertempuran. Pakuan memiliki dua belas taktik pertempuran yang masing-masing diberi nama sendiri. Ginggi bisa menduga, taktik yang kini diperagakan para prajurit ini tentulah siasat perang yang bernama Asu-Maliput, meniru gerakan sekelompok anjing yang mengepung buruannya.

Ginggi tidak pernah diberitahu dua belas macam taktik yang dimiliki prajurit Pakuan ini, sebab baik Ki Darma maupun Ki Rangga Guna yang pernah bercerita tentang ini tidak pernah merinci satu per satu. Namun kendati begitu, paling sedikit Ginggi kini telah menyaksikan tiga macam taktik pertempuran kebanggaan Pajajaran ini. Dua taktik pertempuran pernah Ginggi lihat dalam pesta Kuwerabakti, di mana ketika itu di alun-alun benteng luar diselenggarakan peragaan perang-perangan. Kedua taktik pertempuran adalah gerakan Merak-Simpir melawan taktik Bajra-Panjara. Kalau benar ini merupakan gerakan Asu-Maliput, maka untuk ketiga kalinya ia mendapatkan kesempatan menikmati taktik pertempuran yang amat dibanggakan Pajajaran.

Ginggi berdiri tegak dengan sepasang kaki terpentang lebar. Sementara itu, jumlah prajurit semakin bertambah karena anggota yang baru segera datang dan mengisi formasi yang diperlukan. Kini pengepungan semakin utuh dan sempurna. Kepungan itu pun tampak semakin rapat padahal lingkaran masih terasa lebar. Karena Ginggi mencoba untuk berdiri tegak, maka kepungan mulai bergerak. Mereka berputar-putar cepat sekali. Lingkarannya semakin lama semakin kecil.

Ginggi merasa pening melihat puluhan orang membuat lingkaran dan berputar cepat. Kalau keadaan ini berlarut-larut, akan melelahkan matanya dan menurunkan daya konsentrasinya. Maka agar matanya tak lelah melihat orang berlari dan berputar, Ginggi pun segera ikut berputar searah putaran para pengepungnya. Tapi para prajurit sudah siap sedia dengan perkembangan taktiknya. Lingkaran segera dipecah menjadi dua lapis; satu lingkaran kecil di depan dan satu lingkaran besar di lapisan luar. Dua lingkaran saling berputar berbeda arah.

Ginggi kagum sekaligus terkejut dengan perubahan formasi ini. Untuk menghilangkan rasa pening karena kepungan berputar-putar, Ginggi melibatkan diri kembali dalam perputaran. Tapi kini ada dua lingkaran pengepungan dengan dua arah putaran yang berbeda. Ini membingungkan dan sekaligus memusingkan. Ginggi tak bisa memilih, sebab pilih salah satu pun tetap saja akan berhadapan dengan putaran berlainan arah. Karena matanya penat melihat formasi putaran pengepungnya, akhirnya Ginggi memilih diam. Sepasang kaki terpentang lebar dan kedua belah tangan bersilang di dada.

Sementara itu, belasan prajurit segera meloloskan cangkalak (sejenis tambang). Belasan cangkalak mereka putar-putar dan mereka lempar ke arah tubuh Ginggi. Satu dua cangkalak Ginggi tangkap dan Ginggi tarik keras-keras sehingga pemiliknya tersuruk ke depan. Namun, cangkalak-cangkalak yang lain datang bertubi-tubi. Dengan tepat lingkaran cangkalak masuk melingkar di tubuhnya. Ginggi berusaha meloloskan diri dengan mencoba memutuskan cangkalak. Ada beberapa yang bisa ia putuskan, tapi lebih banyak lagi yang tak bisa ia lepaskan. Akhirnya Ginggi seperti seekor lalat yang terperangkap sarang laba-laba, sulit bergerak karena tubuhnya dipenuhi belitan cangkalak.

Kini datang barisan prajurit bersenjata panah dan siap melepas anak panah yang ujung-ujungnya terlihat runcing dan mengilap tajam. Ginggi menghitung pasukan panah, jumlahnya ada sekitar dua puluh orang. Kalau mereka melepaskan panah dalam waktu bersamaan, akan sulit mengelakkannya. Ginggi menghela napas. Barangkali inilah akhir hayatnya. Sebuah kematian yang paling pahit sebab ia akan mati tanpa bisa menunaikan amanat Ki Darma barang sedikit pun. Lebih menyakitkan lagi, kematiannya ini diakibatkan oleh tindakan murid Ki Darma sendiri. Ginggi sudah siap untuk menerima kepahitan ini, mengingat jalan untuk lolos sudah tertutup sama sekali. Namun, pasukan panah tidak juga melepaskan senjatanya. Mereka hanya bersiap mementangnya saja.

Di beranda puri utama banyak orang menonton peristiwa ini, di antaranya terdapat Nyimas Layang Kingkin dan ibundanya. Mereka menyaksikan peristiwa ini dengan heran dan cemas. Ginggi sekilas bertatapan dengan Nyimas Layang Kingkin. Pemuda itu menduga, barangkali Nyimas Layang Kingkin bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa seorang badega sepertinya dikepung banyak orang.

Dari arah lain datang Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati. Mereka melihat dirinya dengan bertolak pinggang. "Tangkap pembunuh itu hidup-hidup dan cangkalak, tapi kalau dia tetap melawan, bunuh saja!" kata Ki Bagus Seta.

Dua tiga orang prajurit datang menjemput dan segera mengikat kedua tangan Ginggi ke belakang, kendati seluruh tubuh pemuda itu masih dipenuhi libatan tali. Ki Bagus Seta berbicara pada komandan agar tidak mengabarkan dulu peristiwa ini ke istana. "Dia hanya pembunuh kecil saja, tak perlu istana turun tangan sendiri. Penjahat ini biar kuurus di sini!" kata Ki Bagus Seta.

Komandan pasukan mengangguk hormat. Sesudah memeriksa Ginggi tak mungkin bisa melepaskan diri, komandan menyerahkan pemuda itu pada jagabaya puri Bagus Seta. Ginggi diseret ke sebuah bangunan di bagian belakang puri. Pemuda itu hafal betul, sebab beberapa waktu lalu pun pernah dibawa ke tempat itu. Ginggi menduga ia akan menerima siksaan lebih hebat ketimbang penyiksaan yang pernah dialaminya tempo hari. Kalau dulu diuji saja sejauh mana ia memiliki kepandaian berkelahi, tapi sekarang lain lagi. Ki Bagus Seta akan benar-benar menyiksanya karena kemarahan pada dirinya.

Ginggi dibawa ke sebuah ruangan di mana di sana sudah disiapkan sebuah kerekan. Akankah dirinya dihukum gantung? Di bawah kerekan juga terdapat sebuah tong besar berisi air. Ginggi belum bisa menduga apa yang sebenarnya akan mereka lakukan terhadap dirinya. "Gantung kakinya di atas!" Ki Bagus Seta memerintahkan jagabaya. Dan serta-merta kaki Ginggi diikat menjadi satu. Sesudah itu tubuhnya dikerek ke atas. Kini Ginggi bergantung-gantung di udara dan di bawahnya siap menanti tong berisi air. Ginggi menduga, tubuhnya akan dibenamkan ke dalam tong yang berisi air tersebut.

"Kalian keluarlah!" Ki Banaspati menyuruh para jagabaya meninggalkan tempat itu. Tinggallah kini Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati, menyaksikan Ginggi yang digantung terbalik.

"Ini saat terakhir kau melakukan pilihan," kata Ki Bagus Seta menatap tajam wajah Ginggi yang terbalik.

Ginggi bersyukur dalam hatinya. Perkataan ini berarti masih memberikan celah kehidupan bagi dirinya. Ki Banaspati berkata, "Apa pun perangaimu, sebetulnya antara kami dan kamu masih ada pertalian saudara karena keterkaitan dengan Ki Guru. Kami masih memberikan kesempatan bagimu untuk memilih. Mati karena mengkhianati Ki Guru atau kau menaati perintahnya!" katanya sungguh-sungguh.

Ginggi masih diam. Ucapan Ki Banaspati ini sepertinya hanya memutarbalikkan fakta saja, menempatkan Ginggi sebagai pengkhianat dan menganggap diri mereka sebagai pengemban amanat.

"Kalau aku kalian sebut pengkhianat, kalian sendiri apa?" tanya Ginggi.

"Tlaaarrr!"

Ki Bagus Seta melayangkan ujung cemeti, tepat mengenai pelipis Ginggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment