Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 92

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 92

Pemuda itu merasakan cairan hangat meleleh turun ke rambut kepalanya. Ginggi menduga kulit pelipisnya luka dan mengeluarkan darah akibat ujung cemeti.

"Jelas, kaulah pengkhianat sebab kau tak mau bergabung dengan kami. Selama ini kami berjuang menjalankan amanat guru, sedangkan kau tidak. Lebih buruk lagi kelakuanmu setelah menolak, bahkan berani melawan dan mengacau kami. Itulah pengkhianatan!" kata Ki Bagus Seta.

"Tapi kalian membunuh Ki Darma!" sahut Ginggi.

"Engkau hanya meributkan urusan kecil sambil tak menghiraukan urusan yang lebih besar lagi," kata Ki Banaspati. "Dalam perjuangan besar, semua orang hanya merupakan bagian-bagian kecil saja. Kita ibarat anak panah yang setiap kali dilepas tak mungkin kembali lagi. Namun, anak panah yang hilang tak perlu kita jadikan pikiran serta tidak perlu disesali, apalagi kalau anak panah itu mengenai sasaran yang jitu. Begitu pun dengan nasib Ki Darma. Kematiannya tak perlu kita sesali sebab telah berhasil mendorong perjuangan kita."

Ki Banaspati melanjutkan, "Kau harus tahu sekarang, mengapa justru Ki Bagus Seta yang memerintahkan langsung penyerbuan ke Puncak Cakrabuana. Ini karena kekhawatiran dan kecurigaan kita terhadap Ki Rangga Wisesa. Dia orang setengah gila dan banyak memiliki rasa sakit hati kepada Ki Guru serta murid-muridnya yang lain. Sudah aku katakan tadi, Rangga Wisesalah yang telah membocorkan di mana Ki Guru berada. Dialah pengkhianat yang sebenarnya dari perjuangan kita. Ki Bagus Seta khawatir kalau Rangga Wisesa berani melaporkan identitas kami yang sebenarnya. Bila Raja sudah tahu bahwa kami murid-murid Ki Darma, maka kami akan ditangkap juga, sehingga pupuslah perjuangan dan amanat Ki Guru."

"Kami tidak berpikiran picik sepertimu, Ginggi," tambah Ki Banaspati. "Kalau hanya meributkan nyawa seseorang, maka tidak akan berarti bila harus merugikan perjuangan. Itulah sebabnya, untuk menghapus anggapan bahwa kita punya kaitan dengan Ki Guru, Ki Bagus Seta tampil mempelopori rencana penyerbuan ke Cakrabuana. Apa kau anggap kami enteng saja melakukan hal-hal seperti ini? Hati kami menangis, sebab perjuangan ini kian berat dan terasa pahit. Namun, itu harus kami lakukan demi mencapai cita-cita yang lebih besar!"

Ginggi tetap diam membisu. Hal ini rupanya membuat Ki Bagus Seta kesal.

"Sudahlah, kita tak usah merengek-rengek minta dikasihani oleh bocah tak tahu terima kasih ini. Dia memang bocah yang tak punya hati dan perasaan. Dia bocah yang tak acuh dengan pengorbanan Ki Guru. Malu aku memiliki murid sepertimu; menggunakan kepandaian hasil pemberian Ki Guru, tapi secuil pun tidak digunakan untuk melaksanakan amanat si pemberi kepandaian!" kata Ki Bagus Seta mendengus.

"Ginggi, sebetulnya kami tak ingin membunuhmu. Selain kau masih kerabat kami, juga kami menyayangkan kepandaianmu. Kalau kau bergabung, itu akan sangat berarti bagi perjuangan kita. Cepat kau bilang setuju, sebab kalau tidak, kau harus mati!" teriak Ki Banaspati.

Karena Ginggi masih diam membisu, Ki Bagus Seta menurunkan kerekan. Tubuh Ginggi pun turun perlahan hingga kepalanya terbenam ke permukaan air. Dingin terasa menusuk sampai ke tulang kepala. Ginggi menahan napas dan menutup mata. Kedudukan tubuh terbalik bukan masalah berat baginya, sebab di Puncak Cakrabuana, selama empat puluh hari empat puluh malam dia berlatih tapa sungsang—bertapa di dahan pohon dengan kepala di bawah—tanpa mengalami gangguan sedikit pun. Namun, kepala di bawah sambil dibenamkan ke dalam air belum pernah ia coba.

Ginggi terus menahan napas sampai dadanya membusung dan detak jantungnya bertalu cepat. Kedua orang itu seolah benar-benar hendak membunuhnya karena kerekan tak pernah ditarik lagi. Namun, sebelum Ginggi benar-benar tak kuat, dia tak akan menyerah begitu saja. Kematian pasti datang kepada siapa saja dan kapan saja, tapi Ginggi harus berusaha agar kematian tidak datang secepat itu, apalagi saat hidupnya merasa belum berarti. Dia harus melakukan upaya penyelamatan agar tidak mati sia-sia.

Sekarang dada pemuda itu terasa sesak sebab tubuhnya kekurangan udara. Ubun-ubunnya terasa berputar-putar. Berbagai warna melayang-layang di kelopak matanya; mulai dari biru muda, merah membara, hingga cokelat kehitaman. Pada suatu saat, semua warna menghilang dan muncul wajah-wajah orang yang pernah dikenalnya. Mula-mula ada wajah Nyi Santimi yang cantik dan lugu, kemudian wajah anggun Nyimas Banyak Inten yang selalu mempesona bak dewi dari kahyangan. Sesudah itu muncul orang-orang yang sudah mati: Ki Ogel, Ki Banen, Seta, dan Madi. Terakhir yang muncul adalah wajah Ki Darma, wajah tua berkumis tebal dengan janggut panjang namun kulitnya tetap bersinar tanpa keriput.

Ki Darma menatapnya dengan sorot penuh semangat, seolah mengulang pelajaran yang pernah diajarkannya.

"Tidak mengapa tak punya huma asal kita punya beras. Tidak mengapa tak punya beras asal bisa makan. Tidak mengapa tak bisa makan asal kita bisa hidup."

"Bisakah kita hidup tanpa makan, Aki?"

"Mengapa tidak bisa? Hidup kita tidak saja ditemani makanan, tapi juga ditemani empat unsur kehidupan: api, air, udara, dan tanah. Kau lihat orang bertapa, satu tahun tanpa makan dan minum sebab dia dihidupi udara. Suatu waktu kau akan membuktikan bahwa tapa dalam air akan memberimu kehidupan juga!"

Air memberi kehidupan? Ginggi kembali mengingat pelajaran Ki Darma. Bagaimana mungkin air tanpa udara memberi kehidupan? Ki Darma pernah berkata, air dan udara selamanya bersatu, sebab air tanpa udara akan lenyap berubah bentuk menjadi semacam gas. Ginggi menjadi penuh harapan; dirinya bisa bertahan di dalam air bila sanggup menghirup udara yang ada di dalam air itu sendiri.

Dengan teringat kekeliruannya, sedikit demi sedikit dia menelan air tong tersebut. Bersamaan dengan air yang masuk, udara pun masuk mengisi urat-urat darahnya. Namun, udara kotor di dalam tubuhnya harus segera dikeluarkan melalui hidung, lalu memasukkan yang bersih dari air tong yang ditelannya. Ada gelembung dan buih muncul karena upaya tersebut. Ginggi kemudian menggoyangkan kepalanya agar air bergoyang keras. Goyangan air akan menimbulkan celah-celah di sekitarnya dan memungkinkan udara dari luar berpeluang masuk ke wilayah tong.

Rupanya gerakan-gerakan Ginggi ditafsirkan oleh Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati sebagai tanda penyerahan diri karena Ginggi dianggap tidak kuat lagi terbenam. Terdengar tali dikerek ke atas dan kepala Ginggi muncul kembali ke udara. Dia bernapas dalam-dalam menghirup udara segar.

"Bagaimana, kau siap bergabung?" tanya Ki Bagus Seta.

Ginggi hanya menarik napas panjang. "Kalau aku tak bergabung, apakah aku harus mati?"

"Ya, harus mati, sebab kau hanya akan menjadi duri. Perjuangan kita adalah perjuangan besar yang penuh rahasia. Jadi, tidak boleh ada yang tahu rahasia ini kecuali orang-orang yang setuju dengan perjuangan ini," tegas Ki Bagus Seta.

Ginggi diam sejenak. "Sebutkan syarat-syaratnya bila aku ikut bergabung!"

"Syaratnya kau harus taat perintah kami!"

"Apa saja perintah itu?"

"Engkau punya pekerjaan berat tapi mulia!"

"Apa itu?"

"Pertama, bunuh Suji Angkara!"

"Pasti ada perintah yang kedua?"

"Ya, inilah perintah dan tugas paling berat tapi mulia. Kau bunuhlah Sang Prabu Ratu Sakti!"

"Membunuh Raja?"

"Ya, tugasmu membunuh Raja!" kata Ki Bagus Seta pendek.

"Bagaimana?" Ki Banaspati bertanya tak sabar.

Karena Ginggi masih tidak menjawab, Ki Bagus Seta kembali menurunkan kerekan. Tubuh Ginggi turun kembali hingga kepalanya terbenam ke permukaan air tong. Setelah cukup lama, kerekan diangkat kembali untuk menanyakan kesediaannya.

"Selama kau belum memberikan jawaban, kepalamu akan terbenam di dalam tong. Coba kau lihat ke atas kerekan," kata Ki Bagus Seta sambil menjambak kepala Ginggi agar mendongak. "Di atas kerekan ada semacam genta. Bila kau tarik tali genta, akan terdengar nyaring dan suaranya bisa sampai ke puri di mana aku berada. Kalau kau setuju dengan keinginanku, kau tarik tali genta itu!"

Ginggi melirik ke samping kerekan; ada genta baja menggantung dengan tali yang terikat di ujungnya. Tali itu berjarak kurang lebih satu depa dari ujung kakinya yang terikat.

"Nah, sudah kau lihat genta beserta talinya, ya? Jadi aku tunggu suara genta itu terdengar," kata Ki Bagus Seta, lalu menurunkan kembali kerekan dan berlalu bersama Ki Banaspati.

Sialan orang-orang itu, kutuk Ginggi dalam hatinya. Benar-benar hanya ada dua pilihan: memukul genta atau mati. Ki Bagus Seta pandai sekali mengatur siasat. Genta itu berfungsi sebagai alat untuk memberitahu bila Ginggi berniat lari, sebab tali genta hanya akan tertarik bila dia mencoba membuka ikatan di bagian kakinya. Namun, Ki Bagus Seta juga kejam, sebab bila Ginggi berniat menarik tali genta, otomatis dia harus bisa membuka ikatan di kedua tangannya. Selama tangannya yang dipelintir dan diikat ke belakang belum dibuka, mustahil dia bisa menarik tali genta tersebut. Jadi, bila Ginggi setuju dengan keinginan mereka, sebelumnya dia harus berjuang membuka ikatan di kedua pergelangan tangannya terlebih dahulu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment