Chapter 93
Ya, mereka benar-benar kejam. Namun, bisa jadi kekejaman ini mereka maksudkan untuk menguji sejauh mana kemampuan Ginggi. Bila Ginggi sanggup menarik tali genta, itu hanya berarti dirinya sanggup melepaskan ikatan tangannya. Ki Bagus Seta benar-benar licik, sebab jika Ginggi sanggup membebaskan diri, itu berarti dirinya setuju dengan perintah mereka.
Sementara itu, bagian tubuh yang terbenam di air tong hanya sebatas leher sampai ubun-ubun saja. Ini memungkinkan Ginggi untuk sesekali menekuk lehernya agar kepala dan wajah bisa sedikit terangkat serta bisa menghirup udara langsung. Di sini juga Ginggi mengerti bahwa Ki Bagus Seta tidak berniat membunuhnya secara cepat. Kepala pemuda itu akan benar-benar terbenam selamanya bila dia sudah terlalu payah untuk mendongak dan menekukkan lehernya. Jadi, selama Ginggi masih sanggup mengangkat kepala dari permukaan, selama itu pula kematian tak akan menjemput.
Namun, tentu saja tenaga Ginggi ada batasnya. Kalau seharian dia dalam keadaan begitu, bisa-bisa dia mati pegal. Dengan demikian, sebenarnya Ki Bagus Seta menyodorkan satu pilihan yang sifatnya memaksa. Kalau Ginggi ingin lolos dari kematian, akalnya harus menyetujui keinginan mereka. Bila Ginggi merasa lehernya pegal, dia terpaksa membenamkan kepalanya ke dalam tong. Di dalam tong yang penuh air itu, dia berusaha menahan napasnya. Bila sudah tak tahan, dia kembali mendongakkan kepala untuk menghirup udara baru, begitu seterusnya.
Selama dalam keadaan tergantung, Ginggi terus berpikir. Bukan mencari jalan bagaimana cara melarikan diri, melainkan mencoba menimang-nimang kedudukan mereka. Dia mengulang kembali perjalanan hidupnya mulai dari turun gunung. Oleh Ki Darma, Ginggi disuruh bergabung dengan murid-muridnya: Ki Bagus Seta, Ki Banaspati, Ki Rangga Guna, dan Ki Rangga Wisesa. Ki Rangga Wisesa sudah diketahui menyeleweng dari kebenaran. Dia menjadi penjahat setengah gila dan berkhianat mencelakakan Ki Darma. Ki Rangga Guna memang patut diikuti jejak langkahnya, namun dia kini menjadi buronan pemerintah sehingga tidak memiliki kebebasan bergerak. Ki Rangga Guna bahkan selalu hidup dalam pengasingan sehingga hampir-hampir tak mengikuti perkembangan negara lagi. Mungkin baru belakangan ini, sesudah bertemu dengan Ginggi dan diberitahu kejadian paling akhir, Ki Rangga Guna tergerak lagi untuk mengikuti perkembangan negara.
Tapi jelas, Ginggi tak bisa bergabung terang-terangan dengan Ki Rangga Guna kalau tak mau dituduh. Sedangkan dua orang lagi, Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, sampai sejauh ini belum benar-benar meyakinkan hati pemuda itu. Mendengar berita terakhir yang disampaikan, ternyata kedua orang itu benar-benar akan melawan Raja. Ki Banaspati mempersiapkan kekuatan di luar Pakuan dan Ki Bagus Seta bersiap-siap di dalam istana. Keduanya akan bekerja sama untuk menghancurkan Raja. Tapi sejauh mana mereka akan tetap bekerja sama? Ginggi ingat cita-cita Ki Banaspati yang berniat menggantikan kedudukan Raja. Sedangkan yang juga sama-sama punya cita-cita seperti itu adalah pula Kandagalante Sunda Sembawa. Dia merasa punya hak menjadi Susuhunan di Pakuan dan berupaya untuk merebut kekuasaan.
Lalu bagaimana dengan Ki Bagus Seta? Ginggi kembali teringat obrolan Ki Bagus Seta dengan Bangsawan Soka. Kedua orang ini pun nampaknya memiliki ambisi yang sama untuk menguasai Pakuan, kendati tak pernah bicara ingin duduk sebagai orang pertama di istana. Bangsawan Soka ingin menjadi penasihat Raja. Begitu pun Ki Bagus Seta menginginkan agar yang menjadi penasihat Raja adalah Bangsawan Soka. Sedang di lain pihak, Sang Prabu Sakti sendiri telah merencanakan Bangsawan Yogascitra yang akan memegang jabatan penasihat. Mengapa Ki Bagus Seta tak setuju Bangsawan Yogascitra menjadi penasihat Raja? Kemungkinan dia merasa akan terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi kegiatannya di istana.
Ginggi memang sudah mendengar kabar bahwa Bangsawan Yogascitra seorang negarawan yang baik. Dia setia, jujur, tidak berambisi, dan selalu siap membela negara dengan taruhan nyawa. Barangkali Ki Bagus Seta khawatir bila Bangsawan Yogascitra menjadi penasihat Raja, dia akan menjadi penghalang besar dalam melakukan gerakan rahasia. Lain lagi bila Bangsawan Soka yang menjabat. Orang ini bukan tipe pejabat yang setia kepada Raja dan negara, melainkan hanya setia kepada harta dan kedudukan semata.
Ginggi belum benar-benar percaya akan tindak-tanduk Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati. Mungkin benar kedua orang itu bekerja mengatasnamakan amanat Ki Darma, tapi amanat guru sepertinya mereka manfaatkan untuk meniti jalan merangkul cita-citanya, yaitu menjadi orang berpengaruh di Pakuan. Kalau benar dugaannya ini, akankah Ginggi bergabung dengan mereka? Kalau dia tak bergabung, pasti mati. Tapi bila bergabung, apa untung ruginya? Ginggi berpikir lagi perihal keberadaan Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan. Selama Raja ini memerintah, banyak terjadi gejolak sosial. Beberapa wilayah Kandagalante dan kerajaan kecil berusaha melepaskan diri sehingga banyak terjadi bentrokan antara pasukan kerajaan melawan pasukan wilayah-wilayah di bawah Pakuan. Kehidupan rakyat sangat terganggu. Rakyat tidak tenteram karena banyak terjadi pemberontakan, juga tak tenteram karena beban pajak yang tinggi.
Jadi, bijaksanakah Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati yang bercita-cita meruntuhkan kekuasaan Raja yang tengah berkuasa sekarang? Ginggi jelas harus membantu rakyat dari tekanan Raja. Tapi tepatkah bila menjalankan amanat Ki Darma dibuktikan dengan cara mendukung cita-cita kedua orang itu? Ginggi tetap belum mengerti dengan segala tindakan yang dilakukan mereka. Mereka mengaku tengah menjalankan amanat Ki Darma dalam upaya membela kepentingan rakyat, tapi sambil mengumpankan rakyat itu sendiri. Buktinya, Ki Banaspati bergerak mengumpulkan dana dari pajak rakyat dalam membangun kekuatan pasukan dan Ki Bagus Seta bergerak seolah-olah mendorong Raja agar semakin terjerumus dalam kesalahan. Raja terus didorong agar melaksanakan kebijakan yang sekiranya tidak disenangi rakyat, seperti menaikkan pajak tahunan misalnya. Bahkan belakangan, Raja juga digiring untuk melakukan tindakan yang sekiranya akan dinilai rakyat sebagai tindakan melanggar aturan moral.
Ginggi ingat kekhawatiran Purohita Ragasuci yang cemas kalau-kalau Sang Prabu benar mempersunting putri larangan. Nyimas Layang Kingkin menurut Purohita adalah putri larangan dan tidak boleh dikawin Raja karena gadis itu sudah bertunangan. Kalau perkawinan ini dilaksanakan, dikhawatirkan akan terjadi kegoncangan di kalangan istana. Peristiwa ini sepertinya sengaja diatur Ki Bagus Seta. Di samping ingin memiliki kedudukan tinggi, Ki Bagus Seta juga punya tujuan ganda, yaitu mengharapkan terjadi gejolak di istana karena tindakan Raja yang keliru mengawini putri larangan. Ya, segalanya sepertinya diumpankan oleh mereka berdua agar terjadi berbagai kemelut di istana. Mereka sepertinya akan menangguk di air keruh. Di saat-saat kekacauan terjadi di pusat pemerintahan, Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati akan bertindak mengambil alih kekuasaan. Sungguh pandai dan sekaligus licik mereka.
Tapi apakah berbagai kelicikan ini merupakan bagian yang sah dari perjuangan? Ginggi bingung memikirkannya. Hati kecilnya tidak pernah setuju akan berbagai kebijakan kedua murid Ki Darma ini. Tapi Ginggi pun tak mau mati percuma. Menantang mereka secara membabi buta hanya akan berkorban sia-sia. Tentu, Ginggi tak mau nasib buruk seperti itu menimpanya. Jadi kalau begitu, dia harus mencari akal. Setuju atau tidak dengan cita-cita mereka jangan dulu dipikirkan sekarang. Yang perlu dia lakukan kini adalah bagaimana caranya agar tidak mati sia-sia.
Berpikir sampai di sini, Ginggi segera meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya. Tali itu terbuat dari lintingan kulit binatang. Alot dan kenyal, tidak mungkin diputus begitu saja. Satu-satunya jalan adalah melemaskan otot pergelangan tangan. Bila otot dilemaskan, akan terasa licin dan memudahkan dalam meloloskan ikatan. Tapi kesulitannya, tali kulit ini akan mengerut bila kena air. Kulit yang kena air pun menjadi tidak licin dan sedikit lengket pada kulit tangannya. Ginggi perlu membuat lecet pergelangan tangannya untuk meloloskan tali kulit itu. Dengan susah payah, akhirnya Ginggi bisa juga melepaskan ikatan di tangannya.
Sekarang dia perlu menggerak-gerakkan tubuhnya untuk mencari ancang-ancang agar kedua tangannya bisa menangkap sepasang kakinya yang berada di bagian atas. Ginggi berayun-ayun. Pada ayunan kesekian, dia segera membuat lentingan sambil serentak menangkap kakinya. Sesudah beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya berhasil juga. Sedikit demi sedikit tangannya berpegangan pada betisnya, sudah itu naik memegang telapak kakinya. Kalau Ginggi langsung membuka ikatan di kakinya, maka tali yang menghubungkan genta akan ikut tertarik dan genta akan berbunyi. Tidak! Genta tak boleh berbunyi. Itulah sebabnya, sebelum membuka ikatan di kaki, terlebih dahulu dia harus naik ke atas kerekan. Genta digantung di atas tiang kerekan. Jadi, tujuan Ginggi sekarang adalah meredam genta agar tak terjadi bunyi.
Tubuh pemuda itu terus melenting untuk menggapai genta. Sesudah bisa mendapatkannya, secara perlahan tali genta dia lepas. Perlahan sekali, agar bola genta tak bergoyang. Tali genta sudah berhasil dia lepaskan. Dengan perasaan lega, Ginggi membuka ikatan tali di kakinya. Sesudah bisa lepas, Ginggi segera jumpalitan dan turun dengan sepasang kaki jatuh tepat menginjak tanah. Bertepatan dengan itu, terdengar suara tepukan tangan.
"Bagus! Kau tepat menjadi pembantu utamaku!" seru Ki Bagus Seta yang tanpa diketahui Ginggi sudah berada di ruangan itu.