Chapter 94
Ketika Ginggi menoleh, Ki Banaspati pun sudah berada di sana. Pemuda itu amat kesal. Susah payah dia melepaskan diri dari ikatan tali, namun saat sudah bebas, dia justru dipergoki oleh mereka. Atau barangkali mereka memang mengintip sejak tadi, seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus.
"Bagaimana, sudah kaupikirkan dalam-dalam?" tanya Ki Banaspati menatapnya.
"Sudah," jawab Ginggi.
"Ya, bagaimana?"
"Aku tidak membunyikan genta!"
Ki Banaspati tersenyum kecil dan Ki Bagus Seta mendengus. "Kalau begitu, engkau harus mati!" kata Ki Bagus Seta pendek dan dingin.
Ki Bagus Seta hendak bergerak, tetapi segera dicegah oleh Ki Banaspati. "Kaupikirkan baik-baik," katanya. "Kalau kau tak setuju, artinya kau harus dibunuh di sini juga. Bisa jadi kau melawan dan melarikan diri dari puri ini, tapi di luaran kau takkan aman sebab semua prajurit, bahkan perwira Pakuan, akan mengejarmu. Dengan mudah Ki Bagus Seta akan menuduhmu sebagai penjahat dan pembunuh. Pikirlah secara baik-baik. Kalau kau sudah diketahui pihak penguasa bahwa kau jahat, maka tak ada ampun bagimu dan kami sudah tak bisa melindungimu, sama sulitnya seperti kami hendak berusaha melindungi Ki Rangga Guna, saudara seperguruan yang lain," kata Ki Banaspati panjang lebar.
Mendengar ini, Ginggi termenung untuk beberapa saat. "Kalian sudah bertemu Ki Rangga Guna?" tanya Ginggi.
Ki Banaspati malah tertawa. Namun kemudian, wajahnya serentak menjadi kelabu dan keningnya berkerut. "Itulah ruginya bagi yang tak paham dengan taktik perjuangan," kata Ki Banaspati lagi. "Sejak dulu dia dikejar-kejar pemerintah. Celakanya, dia pun tak mau mengerti taktik perjuanganku. Dia datang ke wilayah Kandagalante Sagaraherang dan menantang serta menegurku. Terpaksa aku dan Kandagalante Sunda Sembawa turun tangan. Ki Rangga Guna ditangkap dan ditahan di sana. Aku masih berbaik hati, sebab keinginan Sunda Sembawa, dia harus dibunuh!" kata Ki Banaspati, membuat Ginggi terhenyak.
"Oleh sebab itu, taatilah kami. Kau tak perlu sangsi dengan perjuangan kami, sebab semua tetap berpegang kepada amanat Ki Guru!" kata Ki Banaspati lagi.
Ginggi termenung lama. Hatinya mulai meragu akan kebenaran yang ada pada dirinya. "Aku juga berpegang kepada amanat Ki Darma. Tapi yang aku tak mengerti, mengapa mesti membunuh Raja?" tanya Ginggi mencoba menghabiskan rasa penasarannya.
"Sudah aku katakan, perjuangan ini membangun. Dan membangun juga bisa diartikan merusak, merusakkan sendi-sendi lama yang dianggap tak cocok dan diganti dengan sendi-sendi baru. Yang namanya merusak adalah menghancurkan, menghilangkan, dan membersihkan. Kita ganti dengan yang baru, dengan yang bersih dan berguna bagi siapa saja!" kata Ki Banaspati lagi.
Ginggi termangu-mangu. "Kaupikirkan itu baik-baik," kata Ki Bagus Seta yang sejak tadi tak begitu banyak bicara.
Terus didesak dan ditekan seperti itu membuat Ginggi bingung sendiri. Akhirnya, dia duduk meloso di lantai dan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. "Kalau aku melaksanakan tugas ini, bersediakah kalian melaksanakan permintaanku?" tanya Ginggi pada akhirnya.
"Apa permintaanmu?"
"Lepaskan Ki Rangga Guna dan bebaskan aku!"
Ki Banaspati tersenyum. "Membebaskan Ki Rangga Guna amat bergantung pada kesuksesanmu mengemban perintah, sebab bila Raja telah mati, otomatis semua kebijaksanaannya tak berlaku, termasuk mencap murid-murid Ki Darma sebagai pengkhianat!" kata Ki Banaspati lagi. "Dan sesudah selesai perjuangan kita, bukan sesuatu yang sulit membebaskanmu ke mana kau suka," katanya lagi.
Ginggi termenung sejenak, tapi kemudian berkata, "Baik, kalau begitu."
Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta saling pandang, kemudian mengangguk dan tersenyum. Begitu besarnya pengaruh Ki Bagus Seta seperti yang Ginggi rasakan. Peristiwa terbunuhnya belasan jagabaya di purinya yang dituduhkan pada Ginggi tidak berbekas sama sekali. Para jagabaya di puri tidak menganggap Ginggi sebagai musuh yang harus ditangkap. Dia kembali bisa bebas bergerak. Ini hanya menandakan bahwa kebebasan dirinya terjadi karena pengaruh Ki Bagus Seta, paling tidak di sekitar purinya sendiri.
Ki Bagus Seta demikian berkuasa untuk menentukan kebenaran. Sepertinya di puri itu, hukum berada di lidah dan mulutnya. Baru saja Ginggi dituduh pembunuh dan Ki Bagus Seta mengerahkan prajurit untuk mengepungnya, namun belakangan dengan entengnya dia membatalkan tuduhannya, sehingga Ginggi pun bebas kembali. Lantas, belasan jagabaya yang mati bergeletakan, mau diapakan selanjutnya? Ini amat mengherankan Ginggi.
Bukan saja heran memikirkan situasi di dalam puri Ki Bagus Seta, bahkan situasi keseluruhan Pakuan pun membuat Ginggi merasa heran. Bagaimana sebenarnya hukum yang berlaku di Pakuan ini? Terjadi beberapa peristiwa yang memakan korban jiwa, dan orang-orang yang terlibat dalam peristiwa itu begitu saja sanggup melepaskan diri dari urusan tersebut. Para hamba hukum yang ada di Pakuan sepertinya tidak pernah tahu akan adanya peristiwa di puri Suji Angkara yang memakan korban.
Para pejabat hukum Pakuan sepertinya benar-benar tak mengetahui peristiwa itu karena Suji Angkara pandai menyembunyikannya. Tapi peristiwa di puri Bagus Seta, di mana belasan jagabaya terbunuh dan semua dituduhkan padanya, mengapa bisa tak diketahui oleh para pejabat hukum istana, padahal Ki Bagus Seta sempat memanggil prajurit istana? Timbul dugaan bahwa pengaruh Ki Bagus Seta benar-benar telah merambah ke istana. Dengan kata lain, di istana pun sudah banyak terdapat orang-orang yang bekerja untuk kepentingan Ki Bagus Seta. Bila tidak begitu, tidak mungkin banyak berita perihal istana sampai dengan cepat ke puri Bagus Seta.
Keputusan yang dijatuhkan Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati dalam upaya membunuh Raja pun karena adanya berita-berita yang datang dari istana. Ki Bagus Seta menerima kabar bahwa Sang Prabu Ratu Sakti tidak akan mengubah keputusannya dalam memilih orang yang dianggap cocok sebagai penasihat Raja. Seperti yang sudah disebutkannya semula, Pangeran Yogascitra akan tetap diangkat sebagai penasihat. Ini suatu berita yang amat menyakitkan Ki Bagus Seta. Padahal dia sudah berkorban banyak untuk memperjuangkan Bangsawan Soka sebagai penasihat. Putrinya satu-satunya telah terlanjur dia "tawarkan" pada Sang Prabu untuk dipersunting dan tak mungkin dibatalkan. Dengan demikian, Ki Bagus Seta benar-benar rugi segalanya.
Pada suatu hari, Ginggi dipanggil ke ruangan tengah puri yang berfungsi sebagai paseban, yaitu tempat untuk mengadakan berbagai pertemuan penting. Ginggi masuk ke ruangan itu manakala di sana sudah berkumpul pejabat penting. Selain Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati, juga terdapat Bangsawan Soka. Mereka duduk bersila saling berhadapan dan wajah-wajahnya tampak tegang sekali.
"Masuklah!" kata Ki Bagus Seta pendek.
Bangsawan Soka tampak keheranan melihat Ginggi disuruh duduk. "Bukankah anak muda ini badegamu, Seta?" tanya Bangsawan Soka mengerutkan dahi.
"Sekarang sudah kuangkat menjadi pembantu utamaku," kata Ki Bagus Seta.
Bangsawan Soka hanya mengangguk-angguk pelan sambil matanya menatap penuh selidik pada Ginggi.
"Ada perkembangan penting yang harus segera kita tangani, Ginggi," kata Ki Bagus Seta menoleh pada pemuda itu. Ginggi hanya duduk membisu.
"Sang Prabu yang seharusnya kita hormati dan junjung tinggi telah mengecewakan kita," kata Ki Bagus Seta. "Menurut berita yang sampai ke Bangsawan Soka, Sang Prabu selain akan mempersunting putriku, Nyimas Layang Kingkin, juga tidak akan membatalkan pernikahannya dengan putri Pangeran Yogascitra. Padahal tadinya aku menyerahkan anakku dengan harapan Sang Prabu mengabaikan hubungan dengan Pangeran itu dan berbalik padaku. Kita kecewa sebab Sang Prabu ternyata tak begitu menghargai kita," katanya lagi masih menatap Ginggi.
Pemuda ini belum tahu persis apa sebenarnya maksud penyampaian berita ini. Hanya yang jelas, ada juga rasa tak enak di hatinya. Mengapa begitu, Ginggi sendiri belum mengetahuinya.
"Tapi kita belum mau putus asa, perjuangan harus dilanjutkan," kata Ki Bagus Seta lagi, kini menatap wajah Bangsawan Soka. "Soka, kalau engkau punya rencana, kemukakan pada pembantu utamaku!" katanya masih melihat Bangsawan Soka.
Yang ditatap malah menoleh kepada Ginggi. Matanya menyorot penuh selidik dan ada kesan menyangsikan Ginggi. "Berhargakah seorang badega kuajak bicara?" gumamnya seolah merendahkan Ginggi.
"Boleh kau selidik, serendah apa pembantuku ini," kata Ki Bagus Seta tersenyum kecil.
Begitu selesai ucapan ini, Bangsawan Soka segera mengirim tonjokan tangan kanannya mengarah hidung Ginggi. Dengan gerakan ringan tapi mantap, sambil duduk bersila Ginggi hanya memiringkan kepala sedikit ke kiri, tonjokan tangan kanan Bangsawan Soka meleset memukul angin. Kegagalan ini segera disusul dengan tonjokan tangan kiri, dan Ginggi enteng saja memiringkan kepalanya ke kanan.
Rupanya bangsawan ini belum merasa puas dan masih penasaran untuk mencoba serangan ketiga. Kali ini kedua belah tangannya dia satukan dan sepasang telapak tangan dirangkap seperti akan menyembah. Tapi dengan tenaga penuh dia sodokkan ke depan mengarah wajah Ginggi. Ginggi tak mau wajahnya disodok sepuluh jari tangan yang tampak runcing dan kuat. Dengan gerakan kilat, wajah dan tubuhnya dia doyongkan ke belakang dan serangan ketiga ini masih lolos.
Bangsawan Soka rupanya lupa bahwa tadi dia hanya ingin mencoba saja. Tapi karena tiga serangan begitu entengnya dihindarkan Ginggi, sepertinya dia menjadi merasa terhina dan direndahkan. Apalagi pemuda itu dalam menghindar tak pernah menggerakkan badannya secara berlebihan. Kini Bangsawan Soka segera memutar-mutar sepasang tangannya, membusungkan dada, menahan pernapasan, dan menarik sepasang tangannya ke belakang. Dengan kedua telapak tangan terbuka, dia mendorong angin pukulan ke depan disertai teriakan keras.
Ginggi tak tinggal diam. Sambil membaca doa-doa yang diberikan Ki Rangga Guna, Ginggi mencoba menahan pukulan lawannya.