Chapter 95
Kata Ki Rangga Guna, setiap benda, baik benda mati maupun hidup, memiliki daya kekuatan atau energi. Benda tersebut bisa mengeluarkan energi, tetapi bisa pula menahan diri dari kekuatan yang datang menyerang. Jika disadari kekuatan itu ada, maka semakin besar daya dobrak lawan, akan semakin kuat pula daya tahannya. Ibarat sebuah benda yang dijatuhkan ke atas bantalan karet, semakin berat benda itu jatuh, maka akan semakin kuat pula tenaga karet untuk melontarkan kembali benda yang menimpanya.
"Engkau harus percaya akan adanya tenaga dalam yang ada pada diri manusia," kata Ki Rangga Guna tempo hari. "Ada tenaga mahakuat dalam diri kita. Kalau kita sanggup mengendalikannya, selain berguna untuk melakukan serangan terhadap lawan, juga lebih berguna lagi digunakan sebagai perisai. Kala pernapasanmu baik dan jiwamu kuat, maka semakin besar tenaga dalam lawan menyerang kita, maka akan semakin besar pula tenaga tolakan yang ada dalam dirimu."
Sudah berapa kali ilmu yang diberikan Ki Rangga Guna ia praktikkan. Peragaan paling berat terjadi saat menghadapi serangan Ki Bagus Seta beberapa waktu lalu. Benar belaka apa yang dikatakan Ki Rangga Guna; bila seseorang sanggup menghimpun pernapasan serta memiliki ketahanan jiwa yang tangguh, energi yang ada di dalam dirinya sanggup menahan serbuan tenaga dalam dari lawan. Ki Bagus Seta yang pandai menggunakan tenaga dalam pun bisa ia tolak dengan pengerahan batinnya.
Sekarang, peristiwa adu tenaga dalam rupanya akan terulang lagi karena Bangsawan Soka begitu bernafsu untuk menyerang pemuda itu. Ginggi sebetulnya khawatir menerima serangan ini, bukan karena takut kalah, tetapi sekilas pemuda ini melihat bahwa tenaga dalam Bangsawan Soka kurang begitu kuat. Tenaga dalam yang lemah menandakan jiwa yang lemah pula. Ginggi takut bila Bangsawan Soka menyerang dengan sangat bernafsu, hal itu hanya akan mencelakakan dirinya sendiri.
Untuk menolong agar Bangsawan Soka tidak terluka sebetulnya amat mudah, caranya, Ginggi jangan bersifat menolak terhadap serangan tenaga dalam lawan. Namun, kalau begitu, dirinyalah kelak yang akan celaka. Mana mungkin pemuda itu membiarkan dirinya celaka. Jadi, apa pun yang terjadi, Ginggi harus melayani serangan ini.
Bangsawan Soka membentak keras sambil mendorong sepasang telapak tangannya ke depan. Serentak, Ginggi mengumpulkan tenaga batin membuat pertahanan.
Blaarr!
Terdengar suara keras. Tubuh Ginggi hanya bergoyang sebentar, sedangkan kedudukannya tidak pernah berubah; ia tetap duduk bersila. Namun, lain halnya dengan keadaan Bangsawan Soka. Begitu angin pukulannya ditolak oleh dorongan balasan pemuda itu, tubuhnya terpental ke belakang, jatuh berguling-guling, dan hampir menubruk pilar kayu. Untuk sejenak, Bangsawan Soka tidak bisa bangkit dan hanya menggerak-gerakkan tubuhnya dengan susah payah.
Ki Bagus Seta berdiri menolong bangsawan jumawa itu. Tampak lelehan darah di sudut bibir Bangsawan Soka. Ia digandeng karena tidak sanggup melangkah sendiri, lalu duduk dengan susah payah sambil bersandar pada tiang kayu.
"Mengapa kau sembunyikan kepandaian anak muda itu?" tanya Bangsawan Soka terengah-engah sambil menekan dadanya.
Bangsawan Bagus Seta tersenyum tipis mendengar pertanyaan ini. "Hanya menandakan bahwa puri ini memiliki banyak kekuatan tersembunyi," gumamnya sedikit sombong.
Namun, Bangsawan Soka tidak melihat ini sebagai kesombongan. Ia malah mengangguk-angguk seolah puas dengan kenyataan tersebut. "Bagus. Dengan demikian, semakin meyakinkan diriku akan kesuksesan perjuangan kita," kata Bangsawan Soka sambil mengusap-ngusap dadanya karena rasa sakit.
"Itu artinya kau sudah tidak menyangsikan kemampuan pembantu utamaku," kata lagi Ki Bagus Seta sambil melirik Ginggi. "Kemukakanlah apa yang menjadi rencanamu pada pembantuku," lanjutnya.
Ginggi menatap tajam, ingin sekali mendengarkan apa yang akan dikemukakan bangsawan berwajah bundar ini.
"Kegagalan kita membujuk Raja agar mengangkatku sebagai penasihatnya adalah karena kelicikan Pangeran Yogascitra. Dia penjilat. Ucapannya hanya yang manis-manis yang disampaikan kepada Raja. Tapi yang lebih parah dari itu, Yogascitra gemar memburuk-burukkan sesama pejabat. Ya, itu hanya karena ambisinya agar dirinyalah yang dipercaya dan dianggap baik oleh Raja. Dia bahkan menjilat tak kepalang tanggung; anak gadisnya, Nyimas Banyak Inten, ia serahkan pada Sang Prabu, padahal dia tahu Nyimas Banyak Inten dicintai oleh Raden Suji Angkara, putra Ki Bagus Seta," kata Bangsawan Soka menatap tajam pada Ginggi dan menoleh sebentar pada Ki Bagus Seta.
Ginggi masih tetap memandang kepadanya karena bangsawan bermata kecil ini belum mengemukakan rencana seperti yang dikatakan Ki Bagus Seta tadi.
"Gara-gara kegagalan semua ini adalah kehadiran Pangeran Yogascitra. Jadi, bunuhlah orang itu!" kata Bangsawan Soka seperti atasan yang memerintah bawahannya.
Ginggi hanya termenung mendengar ucapan Bangsawan Soka, sehingga semua orang menatap dirinya seolah memaksa meminta jawaban pasti.
"Banyak sekali pesanan membunuh kepadaku?" gumam Ginggi memangku tangan dan menghela napas.
"Itu memang sudah menjadi tugasmu. Ikut dalam perjuangan punya risiko tinggi dalam melakukan pembunuhan," kata Ki Banaspati yang sejak tadi hanya diam.
"Ini perintah dan bukan sekadar pesanan! Kau harus tahu itu!" kata Ki Bagus Seta pasti dan seperti tidak mau ditawar-tawar.
Namun, belum juga Ginggi menjawabnya, dari luar ada suara jagabaya mohon izin untuk menghadap.
"Masuk!" kata Ki Bagus Seta.
Jagabaya masuk dengan kaki beringsut, duduk bersila, dan menyembah takzim.
"Ada apa?"
"Raden Suji Angkara mohon menghadap, Juragan."
"Suji Angkara?" gumam Ki Bagus Seta.
"Biarkan dia masuk," kata Ki Banaspati.
"Ya, suruh dia masuk!"
Jagabaya undur dari ruangan itu dengan penuh hormat.
"Ginggi, kau mundur ke sudut sana. Perlihatkan seolah-olah kau tetap seorang badega!" kata Ki Banaspati.
Tidak banyak bicara, pemuda itu segera ke belakang dan duduk agak jauh di sudut. Tidak begitu lama, Suji Angkara memasuki ruangan. Walaupun datang dengan sikap hormat, tampak sekali wajahnya muram dan pakaiannya kusut, sehingga hilang sudah sikap pesoleknya itu.
"Ayahanda," kata Suji Angkara menyembah takzim kepada ayahnya dan orang-orang di ruangan itu. Ketika giliran memberi hormat kepada Ki Banaspati, terlihat kesan keterpaksaan. Ki Banaspati hanya tersenyum pahit memandang pemuda itu.
"Sepertinya kau punya sesuatu yang amat dirisaukan, Suji?" tanya Ki Bagus Seta memandang tajam pemuda itu.
"Barangkali Ayahanda sudah tahu masalahnya," kata pemuda itu balik menatap.
"Soal Nyimas Banyak Intenkah?" tanya Ki Bagus Seta.
"Ya, siapa lagi?" Suji Angkara tetap memandang Ki Bagus Seta seperti memendam penasaran.
"Yogascitra memang tidak sopan kepadaku," gumam ayahandanya dengan nada pahit dan sepasang matanya menerawang entah ke mana.
"Ayahanda sepertinya tidak begitu memperhatikanku," gumam Suji Angkara memalingkan wajah dan menunduk. Dadanya turun naik dengan cepat, barangkali karena menahan kepedihan hati atau menekan kemarahan.
"Justru karena aku memperhatikanmu, aku punya rasa sakit hati oleh tindakan Pangeran Yogascitra itu. Dia tidak memandangmu, juga tidak memandangku," kata lagi Ki Bagus Seta.
"Ya, mereka amat merendahkan aku," Suji Angkara bergumam pahit.
"Betul, harus dilakukan satu tindakan tegas agar mereka tahu siapa kita!" kata Ki Bagus Seta seperti memanas-manasi hati Suji Angkara.
"Ya, harus ada tindakan tegas... harus ada tindakan tegas," Suji Angkara mengulang-ulang perkataan itu sambil matanya menerawang jauh. Nada suaranya dingin dan wajahnya pucat sekali, sehingga Ginggi bergidik melihatnya.
"Kau bunuhlah Yogascitra, karena orang itulah yang menghalangi cita-citamu!" Bangsawan Soka ikut menyela pembicaraan sehingga mengagetkan semua orang. Ki Bagus Seta, Ki Banaspati, dan Ginggi menoleh pada pejabat berperut buncit ini.
"Membunuh Yogascitra? Hehehe," masih dengan wajah pucat dan nada suara dingin, pemuda itu terkekeh-kekeh.
"Ya, bunuh keparat itu! Bunuhlah, Suji. Sebab dengan membunuh Yogascitra, di samping cita-citamu akan terlaksana, juga kau membantu sebuah perjuangan!" kata Bangsawan Soka dengan nada berapi-api.
"Bunuh Yogascitra, ya... Hehehe, bunuh Yogascitra," gumam lagi Suji Angkara tertawa seperti setan. "Ayahanda, restui aku. Karena kau tidak sanggup memperjuangkan hidupku, maka aku yang akan memperjuangkannya," kata Suji Angkara seraya beranjak dan berlalu dari tempat itu tanpa memberi hormat.
"Soka, kau sembrono mempengaruhi anakku membunuh Yogascitra!" kata Ki Bagus Seta dengan nada teguran.
Yang ditegur hanya tertawa terkekeh-kekeh. "Kita harus berusaha memanfaatkan berbagai peluang. Anakmu berpeluang baik dalam membantu perjuangan kita. Dia tengah digoda kebencian. Orang akan mudah membunuh karena benci," jawab Bangsawan Soka masih dengan senyum menghiasi bibirnya yang tebal.
"Tapi orang yang tengah dipenuhi rasa benci akan melakukan tindakan sembrono. Dia tidak akan hati-hati. Dan kalau dia menyerbu puri Yogascitra dengan terang-terangan, hanya akan merugikan aku saja!" kata Ki Bagus Seta masih tidak setuju.
"Dengan adanya urusan ini, semua orang sudah tahu bahwa terjadi pertentangan antara kau dan Pangeran Yogascitra. Tapi harus kau ingat, urusanmu dengan Yogascitra paling parah adalah persaingan kalian dalam mempersembahkan anak gadis pada Raja. Sedangkan rasa sakit Suji Angkara karena kekasihnya direnggut dari cita-citanya adalah urusan tersendiri. Sekalipun Suji Angkara benar-benar membuat huru-hara di puri Yogascitra, orang tidak akan menuduh bahwa anakmu dikendalikan olehmu!" kata bangsawan berkumis jarang ini.
Ki Bagus Seta termenung. Rupanya ia telah menimbang-nimbang perkataan Bangsawan Soka. Akhirnya, ia pun menoleh pada Ginggi yang masih duduk di sudut.