Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 96

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 96

"Ginggi, kawal Suji Angkara dan awasi dia!" perintahnya kepada Ginggi.

"Jangan lupa, jika dalam huru-hara itu Suji Angkara mengalami kesulitan membunuh Yogascitra, kaulah yang harus menyelesaikannya. Bunuh Yogascitra secara diam-diam!" kata Bangsawan Soka.

Mendengar ucapan pejabat itu, Ki Banaspati yang sejak tadi terlibat pembicaraan tertawa terbahak-bahak hingga yang lainnya melirik heran kepadanya.

"Bangsawan Soka benar-benar calon penasihat yang cerdik. Dia sanggup menyusun taktik dengan jitu," puji Ki Banaspati, yang disambut tawa renyah oleh sang Bangsawan.

"Dan ingat, setelah Ginggi berhasil membunuh Yogascitra secara diam-diam, dia harus ikut mengejar Suji Angkara, bahkan dia pula yang harus menghabisi Suji Angkara. Usahakan agar pembunuhan itu dilakukan secara terang-terangan di hadapan orang-orang Yogascitra!" kata Ki Banaspati.

Yang lain menatap dengan heran. Taktik Ki Banaspati belum dimengerti sepenuhnya oleh siapa pun.

"Mengapa harus dilakukan di depan orang-orang Yogascitra?" tanya Bangsawan Soka.

"Agar Ginggi dianggap berjasa oleh mereka sehingga mendapatkan penghargaan. Akan lebih baik jika akhirnya Ginggi dipercaya untuk mengabdi di lingkungan puri Yogascitra!" Mulanya, ucapan Ki Banaspati ini ditanggapi dengan kerutan dahi oleh kedua pejabat yang duduk di hadapannya. Namun, setelah berpikir sejenak, wajah Bangsawan Soka tampak cerah, bahkan ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Kau pandai, Banaspati! Aku paham akalmu. Kau akan menyusupkan orangmu ke dalam puri Yogascitra sehingga kelak akan lebih mudah menyelesaikan tugas penting, bukan?" tanya Bangsawan Soka.

Ki Banaspati mengangguk dengan senyum dikulum. "Betul. Karena orang-orang Yogascitra mendapatkan kepercayaan yang baik dari kalangan istana, diharapkan Ginggi bisa keluar-masuk istana dengan mudah," jawabnya.

Bangsawan Soka menepuk paha sebagai tanda setuju, begitu pun Ki Bagus Seta yang tampak tersenyum tipis.

"Ini tugas mahapenting bagimu, Ginggi. Jika kau sanggup menjalankan tugas ini dengan baik, kedudukanmu kelak akan mulia," kata Ki Banaspati sambil menoleh kepada Ginggi.

"Berangkatlah sekarang, awasi Suji Angkara. Kalau anakku mulai menyerbu puri Yogascitra, kau harus pandai-pandai menyelinap ke sana," perintah Ki Bagus Seta.

Ginggi mengangguk takzim, lalu undur diri dari ruangan paseban. Tiba di halaman puri, ia bertemu jagabaya dan bertanya ke mana Suji Angkara pergi.

"Saya lihat beliau menuju puri Nyimas Layang Kingkin, Raden," jawab jagabaya itu dengan sangat hormat.

Ginggi tersenyum menyadari betapa mudahnya Ki Bagus Seta mengubah keadaan, termasuk nasib seseorang. Tanpa banyak bicara, ia segera menuju puri tempat tinggal Nyimas Layang Kingkin. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu. Setelah yakin tak ada orang, ia segera meloncat ke atas benteng, melompat lagi, lalu masuk ke ruangan dalam.

Di sana, Ginggi melihat Suji Angkara sedang duduk berhadapan dengan adik tirinya. Melalui celah dinding kayu, Ginggi melihat pemuda itu duduk termenung dengan lelehan air mata di pipinya.

"Aku mencintai Nyimas Banyak Inten. Sungguh mati, aku cinta," ucap Suji Angkara dengan suara memelas.

"Ya, kau harus berjuang sendiri jika memang itu yang kau inginkan. Kita sebenarnya punya keinginan sama, yaitu tidak mengizinkan Nyimas Banyak Inten bersanding dengan Sang Prabu, kendati kepentingan kita berbeda. Aku tidak mau ada saingan. Sang Prabu memang banyak memelihara selir, tapi selir baru pasti mendapatkan perhatian lebih. Aku tidak mau perhatian Sang Prabu terbagi dua. Engkau harus menjauhkan Nyimas Banyak Inten dari puri istana. Jika kau tak berhasil memboyongnya, akulah yang akan menyingkirkan pesaingku, Kakanda Suji," kata Nyimas Layang Kingkin dengan suara mantap.

"Jangan! Jangan engkau yang menggagalkan keinginan Sang Raja. Tanganmu terlalu bersih dan hatimu terlalu halus. Jangan kotori nama baikmu dengan tindakan seperti itu. Biarlah Kanda yang berjuang menjauhkan Nyimas Banyak Inten. Hanya engkau yang akan menjadi selir terkasih Sang Raja, yang menghiasi puri Sri Bima Untarayana Madura Suradipati dan yang sanggup membahagiakan penghuni kedaton Pakuan itu."

"Terima kasih jika Kakanda merasa aku lebih berharga duduk di Taman Mila Kancana atau menjadi penumpang perahu hias di Telaga Rena Maha Wijaya. Aku pun akan berdoa agar cita-citamu bersanding dengan Nyimas Banyak Inten terlaksana," kata Nyimas Layang Kingkin.

Keduanya saling berpegangan tangan. Suji Angkara tampak kembali berurai air mata. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar, namun Ginggi melihat senyum di bibir pucat itu.

Malam harinya, Ginggi harus keluar dari puri Ki Bagus Seta untuk mengawasi gerakan Suji Angkara. Sejak senja, ia mengamati puri pemuda itu. Jagabaya yang sempat ia tanya mengatakan bahwa Suji Angkara tidak pernah keluar sejak siang hari.

"Beliau pergi keluar hanya ketika akan menghadap ayahandanya saja. Ada apakah engkau bertanya tentang majikanku, hey badega?" tanya jagabaya.

Ginggi tersenyum. Di puri Bagus Seta, ia dijuluki Raden. Etika basa-basi di Pakuan sangat kuat memisahkan tahapan hidup manusia. Antara puri Bagus Seta dan puri Suji Angkara letaknya tak begitu jauh, namun penilaian orang pada Ginggi berbeda drastis. Ia dihormati sebagai Raden di puri Bagus Seta, namun dianggap remeh sebagai badega di puri Suji Angkara, padahal wajah dan penampilannya tidak berubah.

Sampai malam tiba, Suji Angkara tidak terlihat keluar puri. Hal ini meresahkan Ginggi. Jika benar pemuda itu mengurung diri, itu menandakan ia tidak melakukan apa-apa. Namun, benarkah demikian? Ginggi teringat perbuatan Bangsawan Soka yang memanasi Suji agar marah kepada Pangeran Yogascitra. Namun, saat berbincang dengan Nyimas Layang Kingkin, sedikit pun tidak ada pembicaraan mengenai kemarahan terhadap Pangeran Yogascitra. Mereka hanya membahas bagaimana caranya agar Nyimas Banyak Inten tidak "masuk" ke puri istana.

Dari sini, Ginggi baru mengetahui ambisi besar Nyimas Layang Kingkin. Gadis itu tidak sekadar ingin menjadi selir, melainkan ingin menjadi satu-satunya selir baru bagi Raja. Ia tidak mau disaingi oleh Nyimas Banyak Inten.

Ginggi merenung, berbahayakah seseorang yang memiliki ambisi? Gadis itu selalu membujuk kakandanya agar mengejar Nyimas Banyak Inten bukan karena rasa sayang, melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak ada hambatan. Nyimas Layang Kingkin bahkan tidak mempedulikan Banyak Angga yang menurut kabar telah bertunangan dengannya.

Kini, Ginggi memikirkan hubungan Suji Angkara dengan Nyimas Banyak Inten. Suji Angkara memang pemuda cabul, namun sepertinya ada rasa cinta yang tulus di hatinya. Sementara itu, Ginggi sulit memahami perasaan Nyimas Banyak Inten. Saat diperebutkan oleh dua lelaki, gadis itu tidak menunjukkan sikap pasti. Namun, ketika purinya diganggu penjahat dan Suji Angkara tampil sebagai pahlawan, gadis itu merawat luka Suji Angkara dengan penuh perhatian, yang justru membuat Ginggi merasa sedih dan cemburu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment