Chapter 97
"Cinta pulakah Nyimas Banyak Inten terhadap Suji Angkara?" gumamnya sendirian di gelap malam sudut benteng puri.
Ginggi menghela napas dalam-dalam. Bila teringat Nyimas Banyak Inten, hatinya terasa sedih. Kemelut cinta di antara mereka sebenarnya adalah kemelut besar, dan Ginggi merasa terlalu kecil untuk ikut terjun ke dalamnya. Namun, entah mengapa, perasaan hatinya tak bisa dibendung. Setiap malam tiba, ia selalu susah tidur karena wajah anggun putri bangsawan itu selalu menghiasi pelupuk matanya.
Beberapa kali ia bertemu wanita, bahkan merasakan hangatnya tubuh seorang wanita seperti Nyi Santimi, tetapi perasaan yang ada di jiwanya kali ini terasa lain. Ginggi boleh bertemu dengan macam-macam pengalaman yang menyedihkan, menjengkelkan, bahkan membuat dirinya marah, tetapi tak ada yang membuatnya merasa nestapa selain harus berpikir perihal keberadaan Nyimas Banyak Inten.
Nyimas Banyak Inten adalah gadis bangsawan terhormat. Ayahnya berkedudukan tinggi di Pakuan, bahkan sekarang dipercaya Raja untuk diangkat menjadi penasihat. Nyimas Banyak Inten demikian molek, anggun, dan cantik laksana bidadari. Ia diperebutkan banyak ksatria dan dicintai Raja. Maka, bila diukur dengan kedudukannya, dirinya seperti burung gagak merindukan bulan; seperti setetes air yang ingin menyamai lautan, atau seperti asap tungku yang ingin disejajarkan dengan awan berarak di angkasa. Dirinya hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan posisi gadis itu.
Seharusnya Ginggi tahu diri. Seharusnya ia menghukum dirinya dengan cara membuang jalan pikirannya dan pergi jauh dari Pakuan. Tapi mengapa ia tak mampu bertindak begitu? Ginggi bertahan dengan banyak kesengsaraan di Pakuan, bukan karena terlalu setia dengan penyelidikannya, melainkan juga karena selalu ingin membayangkan Nyimas Banyak Inten.
"Ah, sialan aku ini!" keluhnya seorang diri.
Sekarang bulan sudah mulai timbul lagi, hanya berupa sabit tipis, setipis kesempatannya dalam menjangkau impian muluk. Bulan sabit banyak ditemani bintang-gemintang, ribuan banyaknya. Tapi apakah bulan sabit bisa percaya diri bakal menerangi jagat raya ini? Tidak. Seharusnya bulan sabit tahu diri; ia tak sanggup menggapai bumi, ia tak sanggup menerangi alam raya dalam keadaan begitu. Ribuan bintang yang menemaninya hanyalah mengolok-olok dirinya, sebab para gemintang pun tidak akan sanggup membantu dirinya untuk menerangi alam.
Ginggi terus bergelut dalam pikirannya, sampai-sampai ia hampir melupakan tujuannya mengamati Suji Angkara. Hanya setelah kesadarannya pulih, ia ingat lagi Suji Angkara. Maka dengan heran ia mengamati, mengapa pemuda itu terus mengurung diri selama ini? Pemuda itu amat pesolek, tukang pesta, dan gemar foya-foya. Kalau malam baik seperti ini, ia sering mengundang pemantun atau para penembang cantik untuk menghibur dirinya. Di cuaca malam yang baik ini, biasanya pemuda itu mengundang teman-teman sesama putra bangsawan untuk menikmati hiburan sambil minum tuak.
Suasana pesta mungkin ia lupakan mengingat hatinya tengah gundah-gulana. Tapi setidaknya pemuda itu harus terlihat biar barang sebentar. Ginggi curiga. Itulah sebabnya, sesudah suasana dianggap aman dari penjagaan, Ginggi segera meloncat ke atas benteng puri dan menyelinap masuk ke sebuah bangunan utama di mana biasanya Suji Angkara berada.
Puri itu sunyi saja. Lentera di beberapa sudut kamar pemuda itu tidak dipasang sehingga kegelapan ruangan amat mencekam. Ginggi mencoba meloncat dan naik ke atas atap sirap hitam. Lapisan sirap ia buka sedikit sehingga bisa mengawasi ruangan tempat tidur Suji Angkara. Tapi di tempat tidur tak ada siapa-siapa. Suji Angkara tidak ada di sana dan berarti sedang berada di luar, tapi di mana?
Ginggi meloncat turun lagi. Kini ia menuju ruangan belakang di mana biasanya terdapat beberapa pekerja puri. Kebetulan Ginggi masuk ke ruangan dapur dan mendapatkan seorang wanita setengah baya. Wanita itu sejenak kaget melihat ada orang masuk secara tiba-tiba. Namun, sesudah diketahuinya bahwa yang masuk adalah Ginggi, ia hanya tersenyum kecil.
"Dasar anak kurang sopan, masuk ke tempat orang tidak mengucap salam. Mau apa bocah gendeng masuk ke sini?" tanyanya.
"Aku mencari Tuan Muda Suji Angkara, di mana dia?"
Yang ditanya termenung sejenak seolah-olah mengingat-ingat sesuatu. "Oh, ya... di mana ya si Kasep itu? Tadi senja bibi lihat di taman belakang, tapi sudah lama tak lihat masuk puri. Coba engkau cari di taman belakang," jawab wanita setengah baya itu.
Tidak membuang waktu, Ginggi segera meninggalkan tempat itu dan memburu taman belakang. Namun di sana pun suasana sepi. Pemuda itu terus berkeliling taman kalau-kalau Suji Angkara memang berada di sana. Tapi hingga ke tepi benteng ujung paling belakang, tak ditemukan pemuda itu, kecuali sebuah pintu kayu di sudut benteng. Pintu kayu itu seperti jalan darurat untuk menuju luar benteng. Ginggi memeriksanya dan ternyata pintu itu tidak terkunci, sepertinya baru saja ditinggalkan orang.
Ginggi termenung dan segera saja timbul perkiraan-perkiraan buruk. Tidakkah Suji Angkara meninggalkan puri secara diam-diam lewat pintu darurat ini? Pergi ke mana? Darah Ginggi serasa berdesir. Ya, barangkali Suji Angkara sudah keluar puri lewat pintu belakang dan menuju Puri Yogascitra!
Ini hanya perkiraan saja. Tapi kendati begitu, Ginggi harus cepat-cepat berjaga-jaga kalau-kalau perkiraannya benar. Itulah sebabnya ia segera meninggalkan puri Suji Angkara, sengaja lewat pintu darurat itu.
Ginggi berjalan menyusuri tepian benteng. Benteng itu amat panjang dan berakhir di ujung persimpangan lorong. Lorong itu kelak akan berakhir di sebuah jalan simpangan lagi. Ke kiri akan menuju jalan utama berbalai batu, dan ke kanan akan menuju Puri Yogascitra!
Kecurigaan semakin menebal. Kalau benar Suji Angkara keluar lewat pintu darurat, ia pun pasti akan tiba di sini. Lantas kalau sudah tiba di sini mau ke mana? Jalan besar berbalai kelak akan menuju Jalan Durian, terus ke Tajur Agung, atau bisa juga ke tepi Sungai Cihaliwung, baik menuju Leuwi Kamala Wijaya ataupun ke Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu sebuah delta kecil di tengah Sungai Cihaliwung di mana di sana terdapat pesanggrahan tempat kaum bangsawan dan kerabat Raja bercengkerama.
Ginggi mengerutkan dahi tanda berpikir. Ia tengah menebak-nebak, ke arah mana kira-kira Suji Angkara menuju. Bila menuju kiri, amat mustahil pemuda itu pergi ke Tajur Agung malam-malam. Kalau pergi ke kanan pasti ke Puri Yogascitra. Dan inilah yang dikhawatirkan Ginggi. Maka untuk membuktikan bahwa kekhawatirannya tak beralasan, pemuda itu segera meloncat pergi ke arah kanan menuju Puri Yogascitra.
Ginggi berlari cepat, secepat anak panah dilepas dari busurnya. Ia berlari cepat karena terbiasa latihan lari cepat mendaki Puncak Cakrabuana, juga karena terdorong rasa khawatirnya. Apa yang ia khawatirkan? Khawatir karena Suji Angkara berencana membunuh Pangeran Yogascitra, ataukah khawatir pemuda jahat itu akan menculik Nyimas Banyak Inten? "Dua-duanya," aku hatinya.
Ginggi berlari cepat dan tidak terlalu lama ia sudah tiba di tepi benteng Puri Yogascitra. Untuk mempersingkat waktu, Ginggi tidak masuk lewat gerbang, tapi meloncat naik ke atas benteng dan sebentar kemudian sudah meloncat turun masuk di dalam kompleks puri.
Ginggi tidak menuju ke mana-mana, sebab tujuan utamanya adalah puri di mana Nyimas Banyak Inten berada. Hati pemuda itu berdebar keras ketika didengarnya banyak orang berteriak-teriak di sekitar puri. Ginggi datang ke tempat itu dengan cepat dan didapatnya di sana banyak prajurit serta jagabaya. Ketika mereka melihat ada orang datang sambil berlari, beberapa jagabaya sambil berteriak-teriak menyuruh Ginggi berhenti.
"Siapa kau?"
"Pasti dia penjahatnya!"
"Serbu! Tangkap!"
Dalam suasana kacau dan sedikit gelap karena hanya beberapa obor yang dibawa jagabaya, kemarahan prajurit mudah tersulut sehingga semuanya menghambur karena terpengaruh suara dan teriakan orang yang memberi aba-aba. Semua prajurit dan jagabaya mengepung dan menyerang Ginggi dengan berbagai senjata di tangan. Ada juga yang melepas anak-anak panah, namun semuanya bisa ditepis, bahkan beberapa buah bisa ditangkapnya.
Serangan dari belasan bahkan puluhan prajurit bersenjata pedang dan tombak hanya dihindarkan dan dikelitkan saja. Dan bila ada tombak yang terlanjur menyodok tubuhnya, terpaksa ia tangkap dan tarik ke depan sehingga pemegangnya terjerembab. Sementara para pengepung semakin banyak. Dan di antara yang datang, terdapat juga Banyak Angga dan Purbajaya. Dari belakang mereka seorang tua setengah baya juga nampak berlari mendatangi tempat itu, dialah Pangeran Yogascitra.
"Ada apa ini?" teriak Banyak Angga dan pertempuran segera berhenti. Namun ketika pemuda itu melihat siapa yang dikeroyok, wajahnya nampak terkejut, demikian pun Purbajaya.
"Hei, bukankah engkau badega Puri Bagus Seta? Mengapa mengacau tempat ini?" tanya Banyak Angga.
"Dia penjahat, pasti menculik Nyimas Banyak Inten!" teriak seorang jagabaya menudingkan ujung pedangnya ke arah hidung Ginggi.
"Apa? Nyimas Banyak Inten ada yang menculik?" teriakan kaget ini berbareng diucapkan oleh ketiga orang pemuda, yaitu Banyak Angga, Purbajaya, dan Ginggi sendiri.
"Celaka!" teriak lagi Ginggi sambil menatap Purbajaya.
"Ginggi, kau pasti tahu siapa yang melakukan penculikan ini!" kata Purbajaya menatap Ginggi dengan wajah khawatir sekali.
"Aku sudah bisa menduganya. Mari ikut aku!" teriak Ginggi.
Namun ketika pemuda itu hendak meninggalkan tempat itu, beberapa senjata pedang menyabet tubuhnya dari segala arah. Pemuda itu menggerak-gerakkan sepasang tangannya dan seluruh senjata beterbangan ke segala arah. Beberapa di antaranya menancap hampir setengahnya di batang-batang pohon dan para pemiliknya menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya masing-masing.
"Purbajaya, mari kejar dia!" teriak Ginggi meloncat dari lingkaran kepungan.