Chapter 98
Purbajaya mengejar Ginggi, begitu pun Banyak Angga. Bahkan, belasan prajurit ikut pula berlari mengejar ke mana arah Ginggi pergi. Ginggi berlari amat cepat dan sangat menyulitkan mereka yang mengikutinya. Beberapa kali dia mencoba menunggu mereka, dan sesudah jaraknya tak begitu jauh lagi, baru Ginggi berlari kembali.
Ginggi sebetulnya tidak tahu ke mana harus mencari penculik gadis itu. Namun, karena dia sudah menduga bahwa pelakunya adalah Suji Angkara, dia berspekulasi dengan mengejar ke suatu tempat. Ginggi ingat kejadian setahun lalu; dengan amat mesranya Suji Angkara selalu mencoba berdekatan dengan Nyimas Banyak Inten ketika mereka memasak ikan. Tempat indah yang membawa kenangan itu tak lain adalah Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu delta kecil atau gugusan tanah di tengah aliran Sungai Cihaliwung. Gugusan tanah itu bila siang hari amat permai dan indah dipandang mata, tetapi kalau malam hari, pulau itu merupakan tempat terasing yang sunyi dan jauh dari perhatian orang. Kalau Suji Angkara membawa Nyimas Banyak Inten ke sana untuk melakukan hal tak senonoh, tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
Karena perkiraan-perkiraan inilah, Ginggi mencoba menuju ke tempat itu. Untuk kesekian kalinya, Ginggi menunggu orang-orang yang mengikutinya. Karena mereka terasa lamban sedangkan Ginggi merasa perlu mengejar waktu, maka dia berteriak agar mereka menyusul saja.
"Aku akan menuju Pulo Parakan Baranangsiang, sebab penculik pasti lari ke sana! Susul aku ke tempat itu!" teriak Ginggi sambil kembali berlari cepat.
Ginggi berlari menuju ke arah timur. Dia menyeberangi saluran Cipakancilan, terus bergerak ke arah timur menuju tepi Sungai Cihaliwung. Menyusuri tepian Cihaliwung ke arah utara, dia tiba di Leuwi Kamala Wijaya atau yang dikenal pula sebagai Leuwi Sipatahunan. Di sana suasana terasa sepi tanda tak ada orang. Ginggi segera melanjutkan perjalanannya menyusuri tepi sungai ke arah utara. Hanya sepemakan sirih saja, dia tiba di tepi sungai. Dia melihat ke arah seberang, ke arah timur. Gugusan delta itu demikian kelam dan hanya berupa bayangan hitam, tapi di tepi gugusan ada perahu tertambat.
Ginggi berdebar hatinya. Perahu yang tertambat di seberang hanya menandakan bahwa ada orang menyeberang ke gugusan pulau kecil di tengah sungai itu. Dugaannya cepat mengarah ke kecurigaannya semula; Suji Angkara sudah berada di sana!
Ginggi berkeliling tepi mencari perahu. Di situ hanya ada satu perahu. Kalau dia gunakan, maka tak ada perahu lain untuk mengangkut rombongan yang datang belakangan. Alhasil, pemuda itu harus menyeberangi sungai dengan cara lain. Ginggi beruntung diberi ilmu napak sancang, yaitu ilmu untuk berjalan di atas permukaan air. Kata Ki Rangga Guna yang memberikan ilmu aneh itu, napak sancang adalah ilmu meringankan tubuh. Namun, berjalan di atas air tidak melulu mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja, melainkan juga harus bisa berlari cepat sambil telapak kaki sejajar dengan permukaan air. Kalau tak bisa begitu, seringan apa pun tubuh, tetap saja akan tercebur ke dalam air.
"Ibaratkanlah sepotong papan yang permukaannya rata. Bila bagian rata kita lemparkan sejajar dengan permukaan air, maka papan akan meloncat-loncat di atas permukaan air seperti hampir-hampir tak menyentuh air. Bisa terjadi begitu karena saking cepatnya papan kayu itu bergerak. Tapi kalau papan itu diam, benda itu akan sedikit tenggelam. Kalau bebannya lebih berat, maka akan tenggelam sama sekali," kata Ki Rangga Guna di tepi Sungai Citarum hampir setahun lalu.
Sekarang Ginggi akan melakukan napak sancang; bukan sekadar latihan, tapi benar-benar dilakukan untuk satu keperluan dan tak boleh gagal. Ginggi menahan napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan berat kakinya. Dia meloncat cepat, tetapi loncatannya hampir sejajar dengan permukaan air. Dia gerakkan sepasang kakinya secepat mungkin. Dia "injak" permukaan air, tapi hanya sejenak untuk kemudian telapak kaki ia angkat untuk melangkah cepat. Begitu seterusnya berulang-ulang. Terdengar suara *plak-plok* telapak kaki yang menginjak permukaan air, halus seperti cipratan gerakan ikan. Ginggi tiba di tepi gugusan pulau dengan selamat!
Ginggi perlu bersembunyi dulu di rimbunan semak untuk meneliti keadaan. Suasana pesanggrahan begitu sunyi dan gelap. Namun, suasana sunyi ini amat mencurigakan dirinya. Maka, dengan berindap-indap, Ginggi mencoba mendekati bangunan pesanggrahan yang beratap ijuk dan terbuat dari kayu jati hitam. Semakin dekat Ginggi ke arah bangunan itu, semakin berdebar hatinya. Bagaimana tidak, sebab sayup-sayup dia mendengar keluhan-keluhan kecil, dan jelas keluhan itu keluar dari mulut seorang wanita.
Berdesir darah di urat-urat tubuh Ginggi. Apalagi ketika dia meloncat ke dalam pesanggrahan, tubuh Ginggi menggigil karena menahan rasa marah. Tubuh Nyimas Banyak Inten tergolek di lantai dengan pakaian hampir terbuka seluruhnya, sedangkan di atas tubuh gadis itu Suji Angkara berusaha menghimpitnya. Panas hati Ginggi melihat adegan ini. Didorong oleh kemarahan yang memuncak, Ginggi menerjang dari arah depan secepat harimau yang hendak menerkam mangsa. Gerakan terkaman Ginggi rupanya diketahui dengan persis oleh Suji Angkara. Nampak rasa terkejut pemuda itu, sehingga secara serentak dia berdiri. Tapi gerakan Ginggi demikian cepatnya. Sebelum Suji Angkara meloncat untuk berkelit, tubuh Ginggi sudah melayang dan tiba di hadapannya.
*Dukk!*
Suji Angkara berteriak ngeri ketika tubuhnya terlontar ke belakang dan punggungnya menabrak tiang kayu. Saking kerasnya tubuh itu menubruk kayu, dia terpental kembali ke depan dan jatuh tersuruk mencium lantai. Tertatih-tatih pemuda itu mencoba bangkit sambil tangan kanannya memegangi jidat yang berusaha dipukul Ginggi.
"Kau, siapa kau?"
"Aku Ginggi!"
"Kau... Si Duruwiksa?"
"Ya, bagimu aku Duruwiksa. Aku jin, aku setan, dan aku iblis pembunuh bagi tubuh dan otak manusia yang selalu dipenuhi kebejatan!" desis Ginggi sambil giginya berkerot saking marahnya.
Suji Angkara berdiri tapi terhuyung. Dia mencoba mundur beberapa tindak. Ketika Ginggi mendekat, tangannya digoyang-goyangkan seperti melarang Ginggi mendekat.
"Kau... kau memukul jidatku?" tanyanya gugup sambil kembali memegangi jidatnya.
"Ya, sudah keempat kali ini aku menjotos jidatmu. Kau pasti ingat betul, di mana dan ketika kau sedang apa aku menjotos jidatmu!" kata Ginggi mengingatkan.
Suji Angkara nampak terkejut sekali. Dia melangkah mundur, terhuyung, dan tubuhnya menggigil seperti kedinginan.
"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku. Masa lalu aku berdosa, tapi beri aku kesempatan. Hidupku sengsara. Aku inginkan kedamaian dan semuanya ada pada kekasihku, Nyimas Banyak Inten... Oh!" Suji Angkara terjatuh karena kakinya tersandung.
Suji Angkara mengeluh ketika Ginggi melangkah beberapa tindak lagi.
"Jangan bunuh dia!" ada teriakan kecil setengah mengeluh dari belakangnya.
Ginggi terkesiap. Nyimas Banyak Inten yang barusan melarangnya. Betul-betulkah gadis itu melarangnya?
"Nyimas?" gumam Ginggi sambil menoleh ke belakang. Dia tak percaya gadis itu bilang begitu. Tapi gadis itu memang memohon kepadanya. Nyimas Banyak Inten segera membenahi pakaiannya yang awut-awutan dan duduk bersimpuh di bawah kaki Ginggi. Gadis itu menangis sesenggukan sambil mencoba memeluk kaki Ginggi.
"Jangan bunuh dia, jangan bunuh dia!" keluh gadis itu di antara sela-sela tangisnya.
Serasa sesak dada Ginggi melihat kenyataan ini. Serasa sesak dadanya ketika sepasang tangan gadis itu memeluk kakinya untuk memohon ampun. Nyimas Banyak Inten mohon pengampunan bagi Suji Angkara, pemuda laknat itu. Ginggi menggigil tubuhnya melihat kenyataan ini.
"Mari Nyimas kita pergi. Kita pergi jauh entah ke mana. Kita tinggalkan tempat ini!" kata Suji Angkara masih terhuyung lemah.
Ketika hendak berdiri tegak, dia jatuh lagi dan segera dipapah Nyimas Banyak Inten. Sungguh meremukkan hati Ginggi yang menyaksikannya. Namun sementara itu, dari tepi sungai berlarian banyak orang dengan obor di tangan. Suasana gugusan pulau mendadak menjadi terang benderang. Semuanya mendatangi pesanggrahan.
"Itu dia penjahat Suji Angkara!" teriak Purbajaya.
Serentak belasan prajurit mengepung tempat itu dan Suji Angkara menjadi sasaran penyerbuan pasukan bersenjata lengkap. Suji meloncat keluar tapi sambil jatuh terhuyung. Sementara itu, pihak penyerbu dengan beringas mencecarnya dengan berbagai senjata tajam. Pemuda itu berkelit dan bergulingan ke sana kemari. Beberapa serangan senjata tajam bisa dia hindari, tapi beberapa lainnya mengenai tubuhnya secara bertubi-tubi. Pemuda itu mengeluh setiap kali ada tusukan pedang yang melukai tubuhnya. Yang membikin hati Ginggi kian memelas adalah ketika setiap Suji Angkara mengeluh, setiap itu pula terdengar jerit dan tangis Nyimas Banyak Inten. Suara tangisan baru berhenti ketika gadis itu pingsan sambil sepasang tangannya kembali memeluk kaki Ginggi yang berdiri kaku di sana.
Ginggi pulang dari Pulo Parakan Baranangsiang bersama rombongan yang dipimpin Purbajaya dan Banyak Angga. Rombongan itu mengusung dua tubuh; satu tubuh Nyimas Banyak Inten yang pingsan karena sedih, dan kedua adalah tubuh Suji Angkara yang sudah tak bernyawa karena cecaran pedang para prajurit. Di tengah jalan, Purbajaya baru membeberkan siapa Suji Angkara dan apa saja tindakan-tindakannya selama ini. Secara rinci, pemuda itu membeberkan keburukan-keburukan Suji Angkara dari sejak peristiwa di Tanjungpura hingga peristiwa hari ini.
"Perusuh yang mengacau puri kita beberapa waktu lalu adalah Suji Angkara. Tapi celakanya kita semua tak menduga, bahkan menganggap pemuda itu sebagai pahlawan," kata Purbajaya.
"Sayang kita baru tahu kejahatannya sesudah terlambat," gumam Banyak Angga.
"Sebetulnya Ginggi tahu sejak awal," jawab Purbajaya.