Chapter 99
Banyak Angga menoleh pada Ginggi, tetapi Ginggi diam saja. Setibanya di Puri Yogascitra, Ginggi disambut secara terhormat.
"Sebetulnya sudah jauh hari aku ragu, seorang *badega* sepertimu tindak-tanduknya lain," ujar Pangeran Yogascitra.
"Saya tidak biasa memperlihatkan diri, Juragan," kata Ginggi menyembah hormat.
Pangeran Yogascitra mengangkat bahu Ginggi agar tak memberi hormat berlebihan. "Tinggallah di sini. Engkau kuangkat sebagai ksatria di Puri Yogascitra," kata Pangeran Yogascitra.
Ginggi hanya menunduk lesu, tidak tergambar kegembiraan barang sedikit pun. Namun, wajah muram Ginggi tidak diperhatikan orang lain sebab semuanya tengah dipenuhi rasa syukur bahwa nasib Nyimas Banyak Inten lolos dari aib yang menghinakan.
Keesokan harinya, Pakuan geger sebab Pangeran Yogascitra melaporkan kejadian semalam kepada Raja. Ki Bagus Seta dipanggil ke istana untuk diminta penjelasan mengenai tindak-tanduk putranya yang dianggap merendahkan derajat kaum bangsawan.
"Tapi Ki Bagus Seta berkelit dari tanggung jawabnya. Dia mengatakan tindakan anak tirinya tak ada kaitannya dengan dirinya dan dia tidak tahu-menahu tentang semua ini," kata Banyak Angga yang ikut menghadiri pemanggilan Ki Bagus Seta di paseban istana.
Ginggi menilai, kemungkinan pandangan Raja terhadap Ki Bagus Seta akan mulai berubah setelah kejadian yang menyangkut putranya ini. Bila benar begitu, kedudukannya akan semakin terdesak, paling tidak pengaruh-pengaruhnya yang selama ini demikian besar di kalangan istana.
Tidak berlebihan kalau akhir-akhir ini Raja mulai menaruh kepercayaan terhadap Pangeran Yogascitra. Menurut beberapa kalangan di Puri Yogascitra, bangsawan ini punya kekerabatan yang erat dengan Raja terdahulu, yaitu Sang Prabu Dewatabuwana atau lebih dikenal dengan julukan Prabu Ratu Dewata, ayahanda Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan yang berkuasa sekarang.
Pangeran Yogascitra adalah pengabdi setia dan pejabat *puhawang* (ahli kelautan) yang baik, seperti ayahandanya yang menjadi pejabat yang sama sejak kepemimpinan Sang Ratu Jaya Dewata, atau Sri Baduga Maharaja yang lebih populer dengan julukan Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi). *Puhawang* adalah petugas yang ahli dalam ilmu teluk dan kelautan. Semasa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja, pejabat *puhawang* amat berperan sehingga Pajajaran jaya di lautan dan menguasai banyak pelabuhan serta muara.
Sekarang, sesudah Pajajaran didesak mundur ke pedalaman oleh kekuatan negara agama baru, peranan *puhawang* sepertinya kurang berarti sebab negeri pedalaman ini sudah tak memiliki kekuatan di pesisir. Kendati begitu, Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan tetap mempertahankan lembaga *puhawang* karena Raja yang penuh ambisi ini tetap bercita-cita mengembalikan kejayaan Pajajaran seperti zaman kakek buyutnya, yaitu Sri Baduga Maharaja.
Namun, belakangan terbetik keputusan bahwa Sang Prabu akan menghapus lembaga *puhawang* dan berniat mengangkat Pangeran Yogascitra sebagai penasihat. Hal itu membuktikan bahwa Raja sudah mulai putus asa dalam mempertahankan cita-citanya menguasai wilayah pesisir dan lautan. Diangkatnya seorang penasihat juga memperlihatkan bahwa Raja sudah mulai bimbang dalam menentukan berbagai keputusan.
Hari-hari sebelumnya, tidak terpikirkan bagi Raja untuk memilih seorang penasihat khusus karena selama ini para pembantu dekatnyalah yang ia gunakan sebagai masukan dalam mencari gagasan mengendalikan kerajaan. Namun, sesudah ada beberapa kegagalan dalam memimpin, sepertinya Raja mulai berpikir bahwa tak semua masukan yang diberikan pembantu dekatnya benar-benar bermanfaat. Itulah sebabnya, Raja memikirkan satu orang penasihat dan merencanakan memilih Pangeran Yogascitra sebagai pejabat paling senior yang kesetiaannya tak diragukan lagi.
Pada suatu hari di paseban Puri Yogascitra diadakan pertemuan. Hari itu, Purohita Ragasuci datang ke puri. Seperti yang sudah Ginggi ketahui, hubungan Purohita dengan Pangeran Yogascitra demikian eratnya bagaikan kakak dengan adik. Ini seperti pertemuan yang amat penting karena para pejabat lain pun—kecuali Bangsawan Soka, Bangsawan Bagus Seta, dan Ki Banaspati—hadir dalam pertemuan itu.
Ginggi diberitahu oleh Banyak Angga bahwa dirinya pun diundang hadir. Tentu saja pemuda itu heran, mengapa pertemuan penting mesti dihadiri olehnya pula.
"Kau jangan selalu merendahkan diri, Ginggi," kata Banyak Angga. "Kedudukanmu di puri ini bukan *badega*, melainkan seorang calon ksatria. Kepandaianmu sudah tak diragukan dan kau pantas menjadi ksatria Puri Yogascitra," kata pemuda tampan itu sungguh-sungguh.
"Pantaskah saya diangkat ksatria padahal saya seorang *badega* puri Bangsawan Bagus Seta?" tanya Ginggi mengerutkan dahi.
"Engkau bukan *badega* sesungguhnya, sebab menurut keterangan Purbajaya, engkau tinggal di sana karena melakukan penyelidikan semata. Karena ini pula kami sepakat untuk mengangkatmu sebagai ksatria, sebab kami tahu persis engkau bukanlah benar-benar orang puri Bagus Seta," kata Banyak Angga. "Tapi selama dua hari kau berada di sini, wajahmu nampak murung, ada apakah sebenarnya, Ginggi?" tanya pemuda itu menatap wajahnya.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Ginggi hanya tersenyum tipis. "Malah saya yang merasa heran, sebab wajahmulah yang nampak murung, Raden," Ginggi balik menatap dan menghindari pertanyaan pemuda itu.
Giliran Banyak Angga yang tersenyum tipis, bahkan terlihat pahit. "Aku tak bisa berbohong padamu sebab kaulah yang paling tahu apa penyebabnya," gumam pemuda itu datar.
"Nyimas Layang Kingkinkah?" tanya Ginggi. Banyak Angga tidak mengiyakan, namun pandangannya menerawang jauh, hampa, dan lesu. Ginggi menghela napas karenanya.
"Aku sebenarnya pasrah dengan keadaan. Melawan keinginan Raja berarti mencari kesulitan hidup. Hanya yang aku ingin tahu, bagaimana perasaan Dinda Kingkin menghadapi masalah ini?" gumam pemuda itu.
Ginggi merasa bahwa Banyak Angga memerlukan sebuah penjelasan darinya. "Surat yang aku kirimkan padanya tak pernah dia jawab. Barangkali engkau tahu penyebabnya?" tanya pemuda itu menoleh.
Ginggi kembali menghela napas. Banyak yang ia ketahui sebenarnya, tapi bagaimana cara menjelaskannya? "Ketika surat datang darimu, Nyimas Layang Kingkin sudah berniat membalasnya," kata Ginggi menghibur. Namun, berita yang disampaikannya sebenarnya memang begitu. Ketika menerima surat yang diserahkan Ginggi, gadis itu sudah akan memberikan jawaban, hanya entah mengapa dibatalkan.
"Ya, pasti Dinda Kingkin akan menulis balasan. Tapi dia tak memiliki kesempatan sebab kalau ayahandanya tahu, dia pasti ditegur. Memang amat berbahaya bagi calon istri Raja diketahui masih suka berkirim surat dengan lelaki lain," kata Banyak Angga.
Ginggi tak mengiyakan, tapi juga tak membantahnya.
"Kasihan dia. Nyimas tak bisa melawan keinginan Raja?" keluh pemuda itu.
Ginggi menunduk, sebab sebetulnya Banyak Anggalah yang mesti dikasihani. Namun, Ginggi tak berniat membeberkan perasaan hati gadis itu yang sebenarnya. Kalau disampaikan, ia khawatir pemuda itu sakit hati dan mengurangi penghargaan akan cintanya. Biarkanlah orang memiliki kenangan tentang cinta dan bukan kebencian. Ginggi tak mau mengatakan bahwa Nyimas Layang Kingkin sepertinya lebih menghargai ambisi ketimbang rasa cinta. Kalau hal ini disampaikan pada Banyak Angga, hanya akan membuat hati pemuda itu hancur luluh.
Begitu pun yang Ginggi usahakan pada Purbajaya. Ginggi memberi pesan agar sifat-sifat jahat Suji Angkara jangan disampaikan secara utuh kepada Nyimas Banyak Inten. Ginggi menilai, gadis itu sebenarnya terperangkap oleh cinta Suji Angkara. Pemuda itu tampan, licin, dan pandai merayu. Gadis polos dan jujur seperti Nyimas Banyak Inten akan mudah percaya. Barangkali cintanya pada Suji Angkara adalah yang pertama. Ginggi tak tega menghinakan perasaan gadis itu bila harus membeberkan rahasia pemuda yang dianggapnya "pahlawan" itu.
"Nyimas Banyak Inten mungkin merasa hancur melihat Suji Angkara tewas di hadapannya. Mungkin dia menganggap kesalahan pemuda itu hanya melakukan kenekadan menculik dirinya. Tapi kalau kita katakan hal yang sebenarnya tentang pemuda itu, maka akan lebih hancur lagi hatinya," kata Ginggi pada Purbajaya waktu itu.
"Sebetulnya aku tak setuju pendapatmu," kata Purbajaya. "Seharusnya semua keburukan Suji Angkara disampaikan saja. Tapi aku ingin menghargai usaha-usahamu dalam menyelamatkan gadis itu, maka aku turuti keinginanmu," tutur Purbajaya tersenyum tipis.
Ginggi juga tersenyum karena ia tahu Purbajaya tak puas dengan keinginannya. "Saya tak rela Nyimas Banyak Inten memendam kebencian. Masih mendingan kecewa karena cinta ketimbang kebencian karena hal yang sama," kata Ginggi menyebutkan alasannya. Purbajaya merenung sejenak, kemudian bergumam pendek, "Kalau hal itu dianggap lebih baik, ya, terserah kau."
Dalam pertemuan di paseban Puri Yogascitra, Ginggi duduk sejajar dengan para ksatria lainnya. Sebetulnya pemuda itu merasa tak enak hati duduk sama tinggi dengan sesama ksatria Pakuan, tapi Pangeran Yogascitra memaksanya agar ia duduk di deretan para pemuda gagah. Banyak orang memang di paseban itu; semuanya para bangsawan dan pejabat penting. Ginggi pernah mendapatkan penjelasan dari Purbajaya bahwa para bangsawan dan pejabat sebanyak ini biasanya hanya berkumpul di paseban istana kerajaan bila menghadapi urusan-urusan mahapenting.
Jadi bila kini mereka berkumpul, hanya menandakan bahwa pertemuan ini benar-benar akan membahas sesuatu yang amat penting. Tapi mengapa pertemuan tidak dilakukan di balai penghadapan Raja saja? Adakah pertemuan para pejabat ini tak ingin diketahui Raja? Sebagai tuan rumah, Pangeran Yogascitra duduk di depan di sebuah kursi jati berukir indah. Di sampingnya ada Purohita Ragasuci, sama-sama duduk di sebuah kursi berukir.