Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 01

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 01

Bumi masih bertengger di tempatnya. Malam tetap menyongsong hadirnya terang. Namun, matahari kian redup di hati manusia. Sehingga, meski waktu belum lagi parak senja, warna kekuningan yang kian pekat membuat dunia terasa makin senja.

Masyarakat tidak juga mendapatkan ketenteraman. Kehidupan tambah berat menindih rakyat kecil. Mereka tidak mengeluh, karena takut.

Tidak demikian yang terjadi di istana Sang Mahaprabu Minak Sembuyu. Dengan Jaka Pratama menempati wisma keputraan di Blambangan, Sang Raja merasa terlindung oleh tangan-tangan yang kukuh dan bersih.

Pada mulanya, keadaan Jaka pun setenteram suasana di sekelilingnya. Ketiga orang istrinya, Siti Darwati yang anak keduanya telah berusia tujuh bulan, Puspa Sari yang tampaknya tengah mengandung lima bulan, dan Dewi Sekar Arum yang bulan kemarin tidak datang darah kotornya, hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain.

Namun, berita yang terdengar dan kurir Demak membuat dada Jaka jadi bergolak. Ki Wiryoprakoso, melalui utusan tersebut, menceritakan situasi terakhir yang tengah berkembang.

Wali kesepuluh yang datang dari negeri Parsi telah mengajarkan aliran Wihdatul Wujud yang sebetulnya tidak cocok untuk masyarakat Jawa yang masih belum mendalam betul pengertian Islam tersebut. Dengan pelopor ajarannya Imam Al Hallaj, orang awam menyangka bahwa ajaran wali kesepuluh tersebut, Syaikh Sidi Dzunnar, atau dalam lidah Jawa menjadi Syeh Siti Jenar, yang artinya Tuan Terhormat Yang Mempunyai Api, sama saja dengan aliran yang sebelumnya diberantas oleh para wali lainnya, yaitu bahwa Tuhan menyatu dalam diri manusia.

Padahal, Kesultanan Demak belum sempat mengukuhkan tapak-tapak dasarnya hingga mencengkeram ke seluruh wilayah. Masih banyak yang meragukan wewenang dan kekuatan pemerintahan Demak, sementara sang Wali Kesepuluh menyebarkan ajaran yang membuat pengikutnya merasa begitu merdeka tanpa ada suatu kekuasaan pun yang berhak memerintah sesama manusia, termasuk raja atau Sultan.

Sebenarnya, yang diajarkan Syeh Siti Jenar tidak seperti yang diyakini oleh murid-muridnya. Kalaupun ia sering menyatakan: "Aku adalah Allah, Allah adalah Aku," bukanlah sama dengan ilmu Manunggaling Kawula Lawan Gusti. Ia sudah tiba pada pendalaman yang makrifat dan hakikat, sehingga apabila ia menyadari akan dirinya, justru ia menyadari akan Tuhan yang menciptakan kehidupan.

Bila ia memandang dirinya seolah-olah ia tidak menampak jasad kasar, melainkan kuasa dan kehendak Tuhan semata-mata. Tidak akan ada dia jika Tuhan tidak berniat untuk menciptakannya.

Tapi, lantaran secara syariat ajaran tersebut telah menanamkan kegelisahan dan kekacauan akidah, maka para wali memutuskan untuk mengadakan sidang guna membahas masalah itu, dengan menghadapkan Syeh Siti Jenar beserta salah satu muridnya yang paling berpengaruh, Ki Kebo Kenongo.

Sidang tersebut lebih bersifat musyawarah untuk meminta pertanggungjawaban sang Guru dengan muridnya yang kebetulan memiliki kekuasaan selaku bupati Pengging, yang berarti mempunyai wilayah dan rakyat.

Jaka Pratama menyesalkan timbulnya ketegangan tersebut, justru ketika ia telah berhasil membina hubungan yang erat antara Blambangan dengan Demak, walaupun dalam masalah terpokok, agama, kedua kerajaan itu sangat berbeda.

Ia sudah lama mendengar tokoh ulama dari Parsi yang alim dan zuhud itu, Syeh Siti Jenar. Orangnya sudah cukup tua, dengan janggut putih yang lebat dan panjang. Pribadinya amat menarik, tetapi tegar dan tidak kenal kompromi.

Ia suka mengenakan jubah hijau dengan seuntai tasbih besar yang terbuat dari batu-batu kota Najaf, tempat suci orang-orang Syi'ah. Kedatangannya di tanah Jawa disambut gembira oleh para wali, karena dia pejuang yang ikhlas dan tekun.

Kesembilan wali mengangkatnya menjadi saudara, sebab ilmu tasaw

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment