Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 02

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 02

Juga meskipun telah diterangkan betapa ajaran tersebut mengakibatkan banyak rakyat yang menolak patuh kepada pimpinan, karena mereka beranggapan memiliki hak mutlak atas diri masing-masing.

Mereka menganggap dirinya sebagai insan kamil, manusia sempurna yang harus menolak kewibawaan orang lain, meskipun terhadap Sultan, guru, atau pemimpin.

Dapatkah Demak menggerakkan kekuatan jika wibawanya tidak ditaati oleh rakyatnya sendiri?

Syekh Lemah Abang memilih mati daripada menghentikan kegiatannya.

Ia mengerti akan pengaruh jelek yang ditimbulkan oleh pahamnya.

Ia mengakui bahwa ajarannya telah menyebabkan banyak akibat buruk yang merongrong semangat perjuangan rakyat.

Tetapi ia berpendapat, kewajiban menyampaikan terus paham itu tidak boleh dihentikannya.

Ia akan berjalan tetap pada pendiriannya.

Adapun akibat buruk yang timbul bukanlah menjadi tanggung jawabnya.

Hal itu semata-mata lantaran kebodohan mereka yang menerima salah ajarannya, dan merupakan tanggung jawab kebodohan mereka belaka.

Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang dapat diambil, maka Sunan Kudus memutuskan hukuman mati atas diri Syekh Lemah Abang.

Bukan didasari benci atau memusuhi ajarannya, tetapi lantaran itulah alternatifnya, yakni menghindari madarat yang ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya, seandainya bukan eksekusi yang dijalankan.

Dan ketika hukuman itu dilaksanakan, pada hakikatnya yang dibunuh bukan Syekh Siti Jenar atau ajarannya, melainkan pengaruh buruk dari ajarannya.

Dengan ikhlas Syekh Lemah Abang menerima keputusan tersebut, sebab ia yakin melalui jalan itulah ia bakal bertemu dengan Tuhannya.

Demikian pula Sunan Kudus.

Setelah kepala Syekh Lemah Abang terpisah dari badannya, ia berkata dengan penuh kepercayaan, "Syekh Siti Jenar adalah kafir di hadapan manusia, namun ia mukmin sempurna di hadapan Tuhan." Ucapan ini sebetulnya menirukan dan membenarkan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Giri pada saat menjelang eksekusi dijalankan.

Peristiwa hakiki dari penghukuman terhadap Syekh Siti Jenar itu tidak dimengerti oleh kaum awam dan para pengikutnya, sehingga timbullah dendam di kalangan mereka kepada para wali.

Dan inilah yang dirisaukan oleh Ki Wiryoprakoso serta Jaka Pratama.

Bertanyalah Siti Darwati pada suatu malam, mewakili kedua istri Jaka Pratama yang lain, "Ada apa, Kangmas, kok tampak murung saja?" "Kurir Demak yang datang kemarin memberitakan keadaan yang kurang menyenangkan di Demak," ucap Jaka Pratama di tepi tempat tidur seraya menunduk dan memegangi kepalanya.

"Jadi? Bagaimana rencana Kangmas?" tanya Siti Darwati cemas, diperhatikan dengan sikap yang sama oleh Puspa Sari dan Dewi Sekar Arum.

"Terpaksa saya harus meninggalkan kalian, Diajeng," ucap Jaka seraya menatap mereka satu per satu.

"Apa tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan kami?" tanya sang istri dengan wajah berubah murung.

"Ada," jawab Jaka spontan.

Ketiga perempuan itu sangat gembira.

Mereka bertanya serempak, "Bagaimana?" "Kerajaan Demak harus kita boyong ke sini," sahut Jaka tersenyum.

"Ih, Kangmas nakal," ujar para wanita seraya tertawa kecut.

Dan Jaka jadi kelabakan karena mereka mencubitinya bergantian, melebihi kewalahannya ketika tengah malam ia harus melayani mereka bergantian.

Esoknya, diliputi suasana keharuan, ia dilepas oleh para punggawa Blambangan atas perintah sang Raja di daerah perbatasan.

Kuda putihnya yang tersohor, Karbala, masih tetap menemaninya dengan setia.

Ia meninggalkan Blambangan dengan sedih, namun lebih sedih lagi jika membayangkan apa yang kini tengah berlangsung di wilayah Demak.

Berdasarkan pengamatan Ki Wiryoprakoso atas kuasa dari Senapati Sunan Kalijaga, yang sangat mengancam stabilitas keamanan Demak bukanlah para pengikut Syekh Lemah Abang atau Bupati Ki Ageng Pengging yang nama aslinya Ki Kebo Kenongo.

Melainkan orang-orang yang menunggangi dendam mereka dengan cara mengipas-ngipas serta membakar-bakar, agar dendam itu berkobar menjadi benih pemberontakan.

Adapun para pengikut Syekh Lemah Abang sendiri, sesuai dengan ajaran tasawuf, telah pasrah terhadap segala kejadian yang menimpa pemimpin mereka.

Lantaran mereka beranggapan, kematian Syekh Lemah Abang adalah takdir, yakni jalan untuk moksa supaya menyatu kepada Sang Murbeng Dumadi, Allah Yang Maha Agung.

Hari itu Sultan Demak baru saja memperoleh laporan Panglima Syarif Hidayatullah melalui seorang kurir dari Banten, bahwa negeri dan rakyat Banten menyambut baik kehadiran bendera Demak dan bersedia tunduk di bawah kekuasaannya, terutama dalam menghadapi Portugis yang konon mengancam akan menduduki Ujung Kulon, apabila Malaka telah mutlak berada di bawah wewenangnya.

Sultan sedang berpikir akan mengirimkan sebuah armada di bawah pimpinan putranya, Laksamana Dipati Unus, untuk menghadang dan menghancurkan angkatan laut Portugis yang kini tengah mengincar Samudra.

Untuk itu ketahanan dalam negeri harus ditingkatkan.

Kepada para wali Sultan meminta agar pasukan Santri Pitulas yang sudah berhasil menunjukkan keampuhannya dalam menyelesaikan semua tugas, segera dilipatgandakan jumlah maupun mutunya.

Karena itulah Jaka Pratama dipanggil untuk kembali bertugas.

Dari kemampuan dan pengalamannya ia diharapkan akan dapat memberikan sumbangan yang berharga dalam menata dan memimpin kembali pasukan Santri Pitulas.

Sudah dua hari Jaka meninggalkan perbatasan Blambangan.

Pada waktu kudanya dengan sigap mulai memasuki kawasan Kerajaan Demak, ia mencium suasana yang berbeda di sepanjang perjalanan.

Rasanya daerah yang dilaluinya penuh dengan kabut kesedihan.

Bahkan beberapa orang penduduk yang dijumpainya untuk menanyakan ke mana jalan yang lebih pendek ke kampung berikutnya, tampak begitu ketakutan, seolah-olah ada bayangan ngeri yang mengancam keselamatan mereka dari detik ke detik.

Jaka Pratama sangat heran.

Ada apakah gerangan di daerah ini?

"Selamat sore, Kisanak," ucap Jaka petang itu kepada seorang lelaki yang sedang duduk di depan rumahnya.

"Apa di desa ini ada penginapan tempat saya dapat melepaskan lelah untuk semalam?" "Pak, masuk!" tiba-tiba seorang perempuan muncul dari dalam, menyuruh suaminya segera masuk.

Tidak sepotong pun jawaban yang diterima Jaka Pratama.

Bahkan sambutan yang agak ramah juga tidak.

Jaka Pratama masih berdiri di depan pagar ketika pintu digebrak rapat dari dalam.

Dengan langkah gontai Jaka menuruni tangga lalu menuntun Karbala, melewati rumah demi rumah dengan sikap penghuninya yang sama saja.

Ngeri dan seperti tidak peduli.

Ia merasa belum tua benar, sebab usianya kini baru menginjak dua puluh empat tahun.

Ia yakin ingatannya masih tajam, jauh daripada pikun.

Dan dengan ingatannya itu, ia bisa memastikan daerah yang kini dilaluinya jelas berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.

Tetapi mengapa bendera yang berkibar di puncak tiang di tengah alun-alun itu bergambar tengkorak dengan dua keris bersilang di bawahnya?

Ksatria yang pernah malang melintang dengan julukan Santri Putih Bertangan Besi itu makin kebingungan tatkala anak-anak kecil pun lari serabutan menghindari pertemuan dengannya.

Apakah ia disangka bakal menyebarkan wabah campak atau cacar?

Untunglah masih ada seorang tua bijaksana yang mau bertegur sapa dengannya, yaitu ketika ia sudah hampir putus asa menjelang malam turun.

Orang tua itu tinggal di sebuah gubuk reyot paling ujung.

Tadinya kakek tersebut tidak tampak, masih berada di dalam rumahnya.

Begitu Jaka berjalan terseok-seok bersama kudanya, orang tua itu keluar dan memanggilnya.

"Anak muda, mari singgah di rumah saya," teriak lelaki tua itu dengan suara parau.

Jaka menoleh dan mengangguk.

"Terima kasih, Aki, terima kasih," jawab Jaka seraya menambatkan kudanya di pekarangan si kakek.

"Maaf, barangkali saya mengganggu ketenangan Aki," ucap Jaka tatkala berhadap-hadapan dengan kakek tersebut.

"Ah, tidak mengapa. Silakan masuk," sahut kakek sambil membawa Jaka memasuki gubuknya.

Wajah orang tua itu memang penuh keriput.

Rambut dan janggutnya yang panjang juga sudah memutih seluruhnya.

Namun sungguh aneh, kulit di lehernya yang kekar sama sekali tidak ada kerut merutnya.

Demikian pula matanya, tampak bersih, bahkan agak liar.

Sedianya Jaka akan menaruh curiga.

Tetapi di dinding ia melihat gantungan pigura bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad.

Berarti kakek itu seorang pemeluk agama Islam, sehingga ia merasakan tenteram dan aman.

"Jauh juga rupanya perjalanan yang telah Raden tempuh?" tanya si kakek sesudah Jaka dipersilakan duduk.

Jaka makin heran.

Dari mana kakek ini tahu untuk memanggilnya dengan sebutan Raden?

Biasanya penduduk desa yang berusia lebih tua hanya memanggil polos, seperti 'engkau', dan tidak membahasakan Raden kecuali bila yang dipanggil memang berdarah bangsawan.

Sebutan Raden masih mahal sekali waktu itu.

Seseorang bisa dihukum penjara kalau membahasakan Raden kepada orang yang tidak mempunyai hak, atau menyebut dirinya Raden padahal ia bukan keturunan ningrat.

Jaka berpikir, apakah orang tua ini mengenal siapa dia sebenarnya?

"Betul juga dugaan Aki. Saya datang dari Blambangan," jawab Jaka seadanya.

Ia tidak berburuk sangka, sehingga menceritakan sejujurnya.

Rasanya tidak sampai hati mencurigai seorang kakek yang mau beramah tamah, sementara semua orang seperti bermusuhan dengannya.

Berkilat pandangan di mata si kakek.

"Hem, betul-betul jauh. Kalau begitu kami tidak keliru." "Kami?" tercuat rasa heran pada Jaka, lantaran si kakek membahasakan dirinya dengan kami, padahal sepanjang pengamatan Jaka di situ hanya ada dia sendirian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment