Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 03

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 03

Agaknya si kakek juga menyadari ketelanjuran omongnya.

Mukanya berubah sebentar sebelum ia menjawab, "Maksud saya, Aki dan Nyai." "Oh," gumam Jaka.

"Kok Nyai tidak kelihatan?" Agak gelagapan kakek itu menerangkan, "Nyai saya sedang ke rumah cucu di seberang kali.

Baru saja, belum lama." Sayang, Jaka tidak mengusut lebih jauh.

Andaikata ia mau bertanya sedikit lagi, pasti si kakek akan kehabisan dalih.

Sebab tidak ada tanda-tanda bahwa sebentar tadi di rumah tersebut pernah ada seorang perempuan tua.

Sepatutnya Jaka menaruh curiga, ketika beberapa saat kemudian di meja telah terhidang sejumlah makanan yang masih hangat.

Tapi waktu itu Jaka tengah khusyuk mengerjakan sembahyang Magrib, dijamak dengan Isya.

Dan wiridnya begitu lama, sehingga tatkala ia duduk di muka hidangan tersebut, semua masakan yang tersedia sudah menjadi dingin.

Namun begitu, sebetulnya Jaka sudah sangat keheranan, melihat makanan yang dihidangkan terlalu mewah dibandingkan dengan keadaan gubuk tempat kakek itu tinggal.

"Wah, macam-macam sekali makanannya," ucap Jaka tidak enak, merasa terlalu disambut berlebihan oleh seorang kakek yang tua dan miskin.

Dalam hatinya ia berjanji, besok, kalau ia akan meninggalkan rumah itu, akan diserahkannya sekeping uang emas untuk si kakek.

Dengan uang itu, ia yakin kakek bakal dapat memperbaiki gubuknya lebih bagus daripada seluruh rumah yang terdapat di desa itu.

Sesudah sepotong daging ayam ditelannya, dan separo cangkir teh manis diteguknya, mendadak matanya berkunang-kunang.

Kepalanya jadi berat, dipenuhi warna-warni yang berputar bagaikan gasing dalam ingatannya.

Ia sempat menggerakkan tangannya untuk mencabut keris Naga Wulung yang terselip di pinggangnya.

Namun ia lupa menelan racikan penawar racun sebelum menyantap hidangan yang disediakan seseorang yang belum dikenalnya.

Atau tepatnya, ia tidak menganggap perlu untuk berjaga-jaga, jangan-jangan ia bakal diperdaya dengan makanan beracun oleh seorang kakek yang dikiranya sangat ikhlas menyambut kedatangannya.

Karena itu tangannya terkulai lemas dan tubuhnya yang tegap menggelosor jatuh ke bawah tanpa sadar sama sekali.

Jaka Pratama telah terjebak dalam perangkap busuk akibat terlalu percaya kepada orang lain, didasari keyakinannya untuk hanya berprasangka baik kepada sesama manusia.

Ia lupa bahwa akhir-akhir ini dunia makin kotor oleh keserakahan dan kerakusan nafsu iblis yang mengeram di hati manusia.

Untung musuh yang bermuka buruk itu tidak membubuhi racun maut, dengan perhitungan bahwa jika racun maut yang dicampurkan ke dalam makanan tersebut, pasti Jaka akan mampu mencium keanehan baunya.

Dengan racun yang cuma membuat pingsan, makanan tadi terbukti hampir tidak berubah baunya sedikit pun.

Adapun untuk pekerjaan selanjutnya, membunuh Jaka, bisa dilakukan dengan cara lain.

Siasat lawan telah berhasil dengan gemilang.

Beberapa sosok tubuh berkelebat masuk tidak lama sesudah itu, dan menggotong Jaka, entah hendak dibawa ke mana.

Kakek yang tampaknya jujur itu menggeledah seluruh pakaian Jaka.

Ia tertawa gembira dan mengangguk kepada anak buahnya setelah menemukan apa yang dicarinya.

Secarik kertas berisi catatan tertentu, yang komplotannya — berlambang tengkorak dengan dua keris bersilang di bawahnya — dijanjikan hadiah besar oleh seseorang jika berhasil mendapatkannya.

Orang yang misterius itu akan menunggu di puncak suatu bukit tengah malam nanti, yakni bukit yang oleh penduduk dinamakan Gundukan Alit, kurang lebih tiga jam perjalanan ke arah barat, melewati sebuah hutan kecil dan dua sungai besar.

Kakek tersebut harus menyerahkan kertas catatan itu di sana, sekalian menerima hadiahnya.

Gerombolan itu segera berangkat menuju ke tempat yang telah ditentukan.

Mereka berjumlah tujuh orang, termasuk si kakek, yang kini telah melepaskan penyamarannya sehingga kembali kepada wujud aslinya, seorang pria berumur 39 tahun dengan badan tegap dan tatapan mata yang beringas.

Kuda Jaka Pratama digebah sesudah dilepas ikatannya.

Mereka tidak mengambil kuda itu, karena jika tertangkap pihak berwenang bahwa kuda yang mereka miliki adalah hasil kejahatan, pasti akibatnya akan lebih buruk bila dibandingkan dengan keuntungan untuk menguasainya.

Barangkali inilah satu-satunya kekeliruan mereka, di samping pekerjaan yang nyaris sempurna.

Di tengah perjalanan, tatkala mereka menyusuri sungai pertama yang lebih besar dan deras daripada kali berikutnya, tubuh Jaka dilemparkan dari atas tebing, persis melontarkan gedebog pisang, tanpa perasaan sama sekali.

Mereka menyangka telah melakukan perbuatan yang paling kejam, dan mereka bangga, sebab konon, hidup di dunia yang kejam, hanya sikap yang paling kejam sajalah yang dapat mengantarkan mereka kepada tujuan yang hendak dicapai.

Belas kasihan adalah kebodohan yang amat dungu.

Mereka tidak tahu bahwa Jaka Pratama telah menguasai ilmu Selo Kumambang, warisan dari mertuanya, Sang Prabu Minak Sembuju, raja Blambangan.

Ilmu itu adalah suatu kesaktian yang membuat dirinya dapat mengapung di air dalam keadaan bagaimanapun.

Tidak itu saja.

Pada waktu ia pingsan, air justru merupakan obat yang akan membuatnya sadar dalam sekejap mata.

Jadi, melemparkan Jaka Pratama ke dalam sungai adalah kekeliruan mereka yang kedua, kekeliruan yang lebih besar dari yang pertama.

Di Gundukan Alit tepat tengah malam, sosok manusia bertopeng dengan tubuh tinggi kurus telah menunggu kedatangan mereka.

"Engkau membawa yang kupesan?" Sosok itu bertanya.

Suaranya sengau tapi melengking tajam, pertanda ilmu batin yang dimilikinya telah mencapai titik tertinggi.

"Apa kami pernah gagal?" jawab pemimpin rombongan dengan angkuh.

"Bagus," sambut si topeng seraya menyerahkan pundi-pundi berisi hadiah yang dijanjikan, sesudah dengan matanya yang bagaikan burung elang memeriksa isi tulisan dalam kertas yang diberikan kepadanya, di bawah sinar purnama tanggal empat belas.

"Apa tugas kami selanjutnya?" tanya pemimpin. "Melipatgandakan anggota dan menguasai seluruh desa perbatasan, sehingga Kerajaan Demak terkepung dalam jaring lingkar Keris Bersilang."

"Sudah tujuh desa kami kuasai, termasuk desa saya. Keenam orang yang mengiringkan saya kemari adalah tokoh-tokoh pendekar dari keenam desa yang telah kami taklukkan."

"Bagus," jawab si topeng kian puas.

"Petunjuk dan bantuan yang kalian perlukan akan kuberikan pada kesempatan lain. Ingat, tidak usah mencari aku atau menanyakan siapa aku. Sebab akulah yang akan mencari kalian."

Setelah itu si topeng melayang turun dengan gerakan kilat yang membuat ketujuh orang itu mendesah kagum.

Dalam beberapa detik sosok tadi tidak kelihatan lagi, meninggalkan bau amis yang menusuk hidung di tengah angin malam yang semilir dingin.

Rasa dingin itu pula yang mula-mula dialami Jaka Pratama ketika ia siuman bahwa dirinya berada di dalam sungai yang arusnya sangat kencang.

Ia tidak perlu berpikir dulu apa sebabnya ia berada di dalam air.

Yang paling perlu dilakukannya ialah berusaha melawan arus dan berenang ke pinggir.

Meskipun harus bergerak dengan susah payah, toh akhirnya Jaka berhasil mencapai tepian kali, lantas berpegangan kepada sebatang akar untuk memanjat ke atas.

Ia hampir kehabisan tenaga ketika kemudian dapat menghempaskan tubuhnya ke lumpur.

Di situ ia beristirahat dengan menelentangkan badannya di tanah becek, sambil menghimpun napas dan kekuatannya sedikit demi sedikit.

Bulan bergeser melewati awan-gemawan dalam bias cahaya yang kian terang.

Jaka memejamkan mata, tanpa peduli terhadap keindahan malam yang terpeta di sekujur kaki langit.

Yang indah buat Jaka sekarang ini adalah tidur hingga tenaganya terkumpul kembali.

Siapa tahu, besok pagi.

Ia tidak mau berpikir macam-macam, sebab dengan berpikir macam-macam dalam keadaannya seperti sekarang, ia khawatir akan teringat kepada keluarganya dan menjadi berduka karenanya.

Pada waktu seorang ksatria tengah berjuang, kesedihan akibat mengenang keluarga bukan saja merupakan aib, melainkan juga kelemahan yang dapat berakibat fatal.

Lantaran urusan adalah masalah pribadi, sedangkan perjuangan ialah mengorbankan kepentingan pribadi bagi tujuan yang sangat mulia, yakni keselamatan negara dan bangsa.

Tidak berarti bahwa seorang pejuang tidak punya hak untuk memikirkan keluarga.

Sekali-kali tidak.

Tetapi dalam saat sedang melaksanakan tugas, seharusnya pikiran lain disingkirkan lebih dulu, agar seluruh konsentrasi dapat dipusatkan pada keberhasilan kewajibannya.

Dengan tekad sekeras itulah Jaka Pratama baru bisa menaklukkan rasa sakit yang meruyak sekujur tubuhnya, sampai akhirnya dapat terpulas dengan lelap.

Kalau tidak, ia bakal tersiksa oleh rasa sakit itu sehingga tidak mungkin dalam tempo singkat dapat memperoleh tenaganya yang hampir lenyap seluruhnya akibat keampuhan racun yang dibubuhkan ke dalam makanan dan minuman yang masuk ke badannya.

Pada saat yang sama, ketika pagi-pagi Jaka masih tergolek di atas lempung, seekor kuda yang tangkas tengah mengais-ngais tanah dan menciumi tetumbuhan atau rumput, untuk mencari majikannya.

Kuda itu adalah Karbala yang kehilangan jejak di tebing, tempat Jaka dilemparkan ke dalam sungai.

Kuda itu kebingungan di tebing tersebut.

Ia berulang kali mendenguskan moncongnya ke atas dan ke bawah, seraya meringkik dengan panik, seolah-olah sedang memanggil-manggil Jaka Pratama dengan kekhawatiran yang menanjak.

Pada waktu siangnya Jaka Pratama terjaga, dan tiba-tiba mendengar suara Karbala lamat-lamat.

Di suatu tempat yang jauh dari situ terdengar pula suara lain, lenguhan napas penuh kepuasan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment