Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 04

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 04

Suara lenguhan itu keluar dari mulut seorang lelaki jangkung yang badannya kurus ceking, tetapi wibawanya berada di atas sejumlah laki-laki lain yang tampaknya semua bertampang beringas dan dingin.

"Paman, kita telah mendapatkan daftar nama-nama yang harus disingkirkan," ucap lelaki tadi kepada seseorang yang lebih tua dan sedang mengunyah sirih di depannya.

"Maksudmu?" tanya si pemakan sirih seakan kurang peduli.

"Dari surat ini, ternyata Jaka Pratama diperintahkan oleh panglima perang Demak untuk menghubungi beberapa agen Santri Pitulas yang telah menyelusup ke beberapa tempat dan kelompok," kata si jangkung sembari meneliti kertas yang telah dirampas oleh pemimpin gerombolan Keris Bersilang.

"Hem, bagus. Berarti pekerjaan kita sudah hampir berbuah."

"Jangan menganggap enteng, Paman. Kita harus menyelidiki dulu secara teliti sebelum bertindak."

"Aku tidak begitu paham."

"Maksud saya, apakah nama-nama yang tercantum di sini betul-betul orang-orang Demak yang harus dihubungi Jaka Pratama atau bahkan sebaliknya, yang harus dicurigai atau dihabisi karena mereka adalah musuh-musuh Demak? Sebab kertas ini hanya berisi nama-nama, dan tidak mencantumkan sikap apa yang harus diambil oleh Jaka Pratama. Ah, memang lihai senapati Demak yang wali itu."

"Kalijaga?" tanya pria tua itu sebal.

"Betul," jawab si jangkung, rupanya merupakan pemimpin besar dari suatu gerakan bawah tanah yang hendak menumbangkan pemerintahan Demak.

"Padahal dulu dia sering berteman denganku kalau merampok. Aku adalah sahabat karibnya dalam kejahatan, semasa dia belum tergoda oleh Sunan Bonang. Namanya kemudian diubah menjadi Lokajaya. Tidakkah engkau pernah mendengar, di mana ada Lokajaya di situ pasti ada Lokawana, namaku sendiri? Kami tidak pernah bertengkar, barangkali hingga kini ia masih tetap menganggapku sahabat, seandainya jalan kami tidak berbeda."

"Siapa tahu Sunan Kalijaga masih beranggapan demikian?"

"Terangkan saja, jangan bikin aku pusing. Kau kan tahu, yang paling kubenci hanya satu, berpikir," tegur sang paman berubah sewot.

"Hahaha...," si jangkung tertawa melihat ulah pamannya, yang sudah tua tetapi masih suka uring-uringan dan ugal-ugalan.

"Maksud saya begini, Paman punya kesempatan untuk menemui Sunan Kalijaga sebagai seorang sahabat. Siapa tahu Paman akan dipercaya untuk bekerja di istana?"

"Hem, betul juga pendapatmu. Engkau memang pantas jadi raja, Pamungkas. Otakmu encer, tanganmu kejam, hatimu batu. Itulah yang patut dimiliki oleh seorang penguasa kerajaan."

"Hahaha," kembali Wong Pamungkas tertawa melengking. Ternyata setelah lama tidak muncul di dunia luar, kini Wong Pamungkas menjalin kerja sama dengan paman iparnya, seorang pemimpin rampok yang kaya raya dan memiliki istana di suatu tempat yang dirahasiakan dengan anak buah berjumlah puluhan orang.

Bukan itu saja. Untuk itu ia telah mengadakan hubungan. Gerombolan tersebut diketuai oleh seorang penjahat muda bernama Raka Jinangkar, yang dahulu adalah ajudan bupati Pengging, Ki Ageng Kebo Kenongo. Semenjak majikannya dibunuh oleh para wali, ia menghimpun anak buahnya untuk mengumpulkan kekuatan guna melawan pemerintah Demak. Kebetulan ia bertemu dengan Wong Pamungkas. Dan saat itulah ia makin mengembangkan kekuatannya dengan cara merekrut anggota sebanyak-banyaknya.

"Paman, mari kita berbagi tugas. Paman Lokawana berangkat ke Demak atau Glagah Wangi. Usahakan agar dapat bertemu muka langsung dengan Sunan Kalijaga. Saya akan mendatangi desa Bagus Kuning untuk mengusut nama-nama yang tertulis dalam surat ini. Setuju?" ujar Wong Pamungkas kepada pamannya.

Sebagaimana diakui sendiri oleh Lokawana, ia paling malas untuk berpikir. Karena itu ia tentu saja menjawab bahwa ia sanggup melakukannya, tanpa mempertimbangkan baik-buruk atau bahaya yang mungkin mengancamnya. Sebab pamannya itu tidak saja kejam, lihai, tetapi yang terpokok, dia adalah orang bodoh yang gampang diperalat bagi kepentingan ambisinya.

Kesepakatan antara keponakan yang jahat dengan paman ipar yang buruk barangkali akan merupakan malapetaka seandainya tidak ada yang mampu menghalang-halanginya. Apalagi kini mereka telah mempunyai kawasan kekuasaan dan pengaruh melalui persekongkolan mereka dengan gerombolan Keris Bersilang yang dipenuhi dendam untuk menghancurkan semua yang berbau Demak atau kewalian.

Majapahit masih belum hancur sama sekali. Bahkan Prabu Udara Brawijaya VII yang kini memegang tampuk pemerintahan meneruskan kekuasaan Prabu Brawijaya VI atau Raja Girindrawardhana yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu, kelihatannya cukup punya nyali untuk memperhebat tekanan kepada Demak.

Sementara itu, kesehatan Sultan Demak, Raden Patah, akhir-akhir ini justru makin menurun dan ia sering jatuh sakit. Namun demikian, dalam situasi rawan semacam itu, Raden Patah masih mampu mengambil keputusan yang gagah berani.

Dalam keadaan sakit ia memanggil putranya, Raden Surya, yang juga dikenal dengan nama Dipati Unus.

"Angger putraku," ucap Sultan terpatah-patah. "Rencana kita untuk memberi pelajaran telak kepada bangsa Peringgi harus segera dilaksanakan. Mereka telah menduduki Malaka. Umat Islam di sana telah datang berkali-kali meminta bantuan angkatan laut Demak. Malah saat ini, mereka mulai mengancam Kerajaan Samudera Pasai di Pulau Sumatra. Siapkan armadamu, dan dalam sepuluh hari ini engkau harus sudah berlayar ke utara. Untuk itu engkau kunobatkan sebagai Pangeran Sabrang Lor."

"Hamba menurut apa kata Rama," sahut sang putra mahkota dengan patuh.

Itulah saat yang ditunggu-tunggu, membuktikan kepada orang-orang kafir, bahwa armada Demak tidak boleh dianggap remeh.

Seketika itu pangkalan angkatan laut Demak, Jepara, mulai diliputi kesibukan guna mempersiapkan keberangkatan armada pimpinan Laksamana Pangeran Sabrang Lor menuju Malaka.

Justru pada saat itu Jaka sedang dilanda kebingungan mengamati keadaan dirinya. Ia tergolek hingga matahari menyengat tubuhnya. Sewaktu ia telah mendapatkan kesadarannya kembali, ia malah jadi panik tatkala surat yang diamanatkan kepadanya untuk dilaksanakan telah lenyap dari kantung bajunya.

Ia amat khawatir, apabila surat itu jatuh ke tangan musuh, hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.

Musuh akan salah paham dalam mempelajari isi surat itu, sampai mereka dengan gegabah melakukan tindakan yang di luar perhitungan. Meskipun hal ini tidak akan membuat jatuhnya korban di pihaknya, namun bakal merusak strategi yang sudah diatur dengan cermat oleh Sunan Kalijaga.

Kemungkinan lain musuh dapat menangkap maksud surat itu dengan tepat. Jelas jika hal ini yang terjadi, kerugian di pihak Demak akan berlipat kali lebih besar.

Jaka sempat menyesali kebodohannya sendiri. Mengapa dalam zaman serba gila begini ia masih bersikap selalu baik dan tidak pernah menyangka buruk terhadap kebaikan orang? Oh, andai kata ia tidak mengikuti bisikan ketulusan hatinya, pasti ia takkan terjebak oleh racun yang disediakan kakek jahat itu.

Tapi sesal berkepanjangan tidak akan ada gunanya, bahkan bisa memperparah kondisi selanjutnya. Karena itu ia segera membersihkan badan, lantas memakai kembali pakaian yang kotor oleh lumpur itu setelah dicuci dan dikeringkan.

Untuk beberapa lama ia duduk bersila di suatu gundukan tebing sungai yang agak tinggi. Dengan pemusatan pikiran dan segenap rasa kepada suatu fokus, Allah, ia mulai berhasil menghimpun kekuatan dalamnya lagi.

Darah panas bergolak-golak dari jantungnya, menggelegak ke atas, membobol semua sekatan berupa kesedihan, kelemahan, dan kelesuan. Tatkala hawa panas seolah-olah membuat ubun-ubunnya mengepulkan asap, Jaka sangat bersyukur menyadari bahwa ternyata kemampuannya mengendalikan tenaga inti batin masih berada pada puncak kesanggupannya.

Pandangan matanya kian tajam karena didukung oleh ketajaman tatapan batinnya. Pendengarannya makin peka lantaran dikuatkan oleh daya tangkap tenaga dalamnya.

Pada saat itulah ia mendengar bunyi meringkik sayup-sayup sampai dari puncak tebing di dekat batu cadas beberapa kilometer di mukanya. Ia sangat mengenali suara itu. Maka tanpa ayal ia melompat-lompat seperti kijang berahi menuju ke tempat itu.

Tepat sekali dugaannya. Di sana si Karbala masih terus mengendus-enduskan hidung ke atas dan ke bawah, hampir putus asa melacak tuannya. Begitu Jaka datang menghampiri bagaikan bayangan malaikat yang turun dari langit, si Karbala langsung mengangkat kedua kaki depannya, menandakan kegembiraannya bertemu kembali dengan majikan yang dicintainya.

"Karbala, engkau memang sahabatku yang setia," ujar Jaka seraya mengelus-elus surai kudanya yang berjumbai di lehernya. Kuda ranggi berbulu putih mulus itu segera menyedekap ke tanah, seakan-akan menyatakan kesiapannya untuk segera terbang mengantarkan sang majikan ke mana pun di muka bumi ini.

"Engkau sudah merumput, Karbala?" bisik Jaka penuh kasih sayang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment