Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 05

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 05

Kuda itu mengangguk-angguk, menandakan bahwa perutnya telah cukup kenyang.

Ia tidak sabar untuk membawa Jaka di punggungnya.

"Aku malah belum makan," ucap Jaka menggumam. Bersamaan dengan itu, ia melompat ke ujung batu cadas, lalu bertolak dari batu itu, ia melayang ke atas di sebelah kiri untuk merenggut dua butir buah mangga masak dari pohonnya.

Berbekal kedua butir buah liar yang langsung dilahapnya itu, Jaka segera menempatkan tubuhnya di punggung Karbala.

Dan kuda itu langsung berdiri, kemudian melangkah gesit, melompati semak demi semak menuju arah yang ditunjukkan oleh majikannya.

"Kita terus ke barat, mengunjungi desa Bagus Kuning," bisik Jaka kepada Karbala.

Dengan patuh, kuda yang setia itu melaju, melewati tepian kali, mengerahkan seluruh kelincahannya.

Berdasarkan peta yang tidak terampas dari pelana Karbala, ia harus menyeberangi sungai tersebut sebelum tiba di hutan kecil yang dikenal penduduk dengan sebutan Alas Setan Gundul, karena konon, menurut legenda, di hutan itu bermukim keluarga setan yang kepalanya gundul semua.

Adapun desa Bagus Kuning yang dimaksud terletak dalam wilayah Kabupaten Pengging, dalam lingkungan daerah Pajang, masih termasuk ke dalam kekuasaan Demak.

Penduduknya rata-rata menganut aliran Syekh Lemah Abang, dan sangat fanatik serta amat sakit hati terhadap penghukuman mati atas pemimpin mereka, Ki Kebo Kenongo dan gurunya.

Malam itu sedang dilakukan upacara berkabung semalam suntuk pada hari yang ketujuh belas semenjak kematian Syekh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging.

Sebagian penduduk, terutama kaum wanita, malah sudah berada dalam keadaan setengah pingsan dan histeris.

Mereka mencakar badan sendiri, merobek-robek pakaian dan menyayat daging hingga mengucur darah di berbagai tempat.

Dupa dan setanggi mengepulkan asap kepedihan yang mengerikan.

"Wahai para kadang Bagus Kuning," tiba-tiba seorang laki-laki jangkung berjubah hitam muncul di tengah-tengah mereka begitu saja, seperti keluar dari perut bumi.

"Aku datang kemari diutus oleh arwah Syekh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging untuk memimpin kalian melampiaskan dendam kepada para wali yang lalim." Mendadak suasana berubah seketika.

Mereka yang terlibat dalam upacara maut tersebut membelalakkan mata ke arah tokoh berjubah hitam yang baru muncul itu.

Yang menangis menghentikan tangisnya, yang menyiksa diri menunda perbuatannya, dan sebagian lagi berdiri terpaku di tempatnya.

"Aku bernama Syekh Lemah Kobar, yang bertugas membakar bumi menjadi bara api untuk menghancurkan keganasan para wali.

Aku membawa mandat dari neraka untuk menyeret para wali ke dalam api dendam Syekh Lemah Abang."

Kini semua pandangan tertuju penuh kepada lelaki jangkung yang berjubah hitam tersebut.

Mereka belum percaya, tetapi juga belum tidak percaya.

Mereka masih menunggu.

"Aku tahu kalian belum mengenal nama Syekh Lemah Kobar, karena aku tidak akan muncul kalau tidak dipanggil oleh arwah saudaraku, Syekh Lemah Abang.

Siapa yang percaya kepadaku, akan selamat dan akan menyatu dengan Gusti Allah, dan kelak akan berkumpul bersama Syekh Lemah Abang di alam keabadian.

Siapa yang ingkar terhadapku akan disiksa, tidak saja di akhirat, namun juga di alam kasunyatan sekarang ini."

Semua yang berada di tempat itu kian terdiam.

Mereka tidak berani berbisik-bisik, sebab jika benar Syekh Lemah Kobar adalah saudara Syekh Lemah Abang, pasti ia memiliki keramat atau kesaktian yang berimbang.

"Kupinta, siapa yang percaya kepadaku berkumpul di sebelah kanan, dan yang membangkang di sebelah kiri," ucap Syekh Lemah Kobar makin lantang, menyaksikan pengaruh ucapannya telah mulai termakan oleh mereka.

Ia mempunyai maksud, dengan siasat memilah-milah tersebut pasti orang-orang Demak atau para agen Santri Pitulas yang diselundupkan ke kalangan murid Syekh Lemah Abang akan minggir ke sebelah kiri, mengingat pendalaman keislaman mereka yang telah kukuh.

Ternyata siasatnya gagal total.

Tidak seorang pun di antara mereka yang berani melangkah ke kiri, termasuk tiga orang yang dicurigainya sebagai golongan Islam Putih jika dilihat dari penampilan mereka yang tenang dan penuh percaya diri.

"Syukur, syukur.

Sesuai dengan nama desa ini, kalian memang orang-orang yang berhati kuning dan bagus-bagus.

Tapi aku masih belum puas, sebab di antara kalian ada beberapa penyelusup dari Demak," ucap Syekh Lemah Kobar sesudah kehabisan siasat.

Ia membuka kertas catatan yang diperoleh dari Raka Jinangkar, pemimpin gerombolan Keris Bersilang.

Ia lalu membacakan salah satu nama yang menempati urutan paling atas.

Ketika orang-orang tengah terpana dalam tanda tanya dan ketakutan, ia menyebutkan nama itu.

"Yang merasa punya nama Wuku Panyilang silakan maju ke depan."

Orang-orang pun menjadi ribut.

Mereka sudah mengenal betul siapa Wuku Panyilang.

Ia adalah putra lurah Bagus Kuning yang sangat murka mendengar kematian Syekh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo.

Bahkan ayahnya sekarang sedang mengumpulkan kekuatan, dan sejak kemarin malam meluruk ke desa-desa lain dalam kawasan Kabupaten Pengging untuk merencanakan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak.

Anak muda yang disebut itu sama sekali tidak menaruh waswas ketika ia menyibakkan kerumunan penduduk Bagus Kuning untuk maju ke depan.

Begitu pula para warganya.

Mereka tahu Syekh Lemah Abang sangat dekat dengan Ki Lurah dan putranya, sehingga pasti Syekh Lemah Kobar juga sudah mendengar namanya.

Maka dengan bangga Wuku Panyilang berdiri tegap di hadapan Syekh Lemah Kobar yang tatapan matanya terasa menusuk hingga ke jantungnya.

Ia menggigil, tapi tidak sampai ketakutan karena tiba-tiba rasa takut yang hampir menyerbu dirinya tadi mendadak terpupus oleh hawa panas yang kian lama semakin menghebat.

Ia tidak keburu menjerit tatkala tubuhnya mengejang dan berubah hitam, menyebarkan bau daging hangus.

Wuku Panyilang telah tewas oleh aji Awu Geni yang dilancarkan oleh Syekh Lemah Kobar dalam kekuatan yang berlipat ganda dibandingkan dengan sebelumnya karena telah diperdalam keampuhannya melalui tapa brata berbulan-bulan.

Masyarakat ribut dan menjerit-jerit tatkala Syekh Lemah Kobar berkata, "Para kadang semuanya.

Anak muda ini adalah pengkhianat yang licik, karena itu kuhukum seperti kelak mereka yang ingkar akan dihukum di neraka."

Kini para hadirin betul-betul dilanda kebingungan, selain ketakutan.

Dari cara hukuman yang dijatuhkan atas Wuku Panyilang, jelas Syekh Lemah Kobar amat sakti.

Ia penyelundup dari Demak?

Ia pengkhianat yang sangat licik?

Tidak mungkin.

Namun tidak seorang pun berani bersuara.

Mereka terbenam dalam keterkejutan yang sekonyong-konyong dan kengerian yang memuncak menyaksikan jenazah Wuku Panyilang tergolek begitu memilukan.

Badannya melepuh seperti dibakar api unggun.

Tangan-tangan dan kedua kakinya mengerut, kulitnya berubah warna, dari putih menjadi hitam lebam.

Akan tetapi ketakutan ada batasnya.

Dan tatkala ketakutan telah tiba di pucuk yang terjauh, yang akan tumbuh justru kenekatan tanpa mempedulikan lagi keselamatan sendiri.

Demikian pula yang terjadi atas para sahabat Wuku Panyilang.

Mereka berpendapat telah berlaku ketidakadilan yang curang.

Karena itu seorang pemuda maju ke depan, lalu berteriak gemas, "Kami tidak yakin bahwa Tuan adalah saudara sang Guru Agung Syekh Lemah Abang.

Siapakah Tuan yang sebenarnya?" Sebagian penduduk yang masih punya nyali ikut mengangguk-angguk, sementara yang penakut menyingkirkan diri ke tempat yang paling gelap.

"Namamu siapa, hai anak muda?" bentak Syekh Lemah Kobar berang.

"Apa engkau tidak menyesal telah berkata tidak sopan kepadaku?" "Saya adalah sahabat karib Wuku Panyilang.

Ia seorang putra setia yang tidak hanya patuh kepada ramonya, Ki Lurah Brajanala, melainkan juga seorang murid yang taat berbakti kepada Syekh Lemah Abang.

Mengapa Tuan tanpa suatu sebab telah membunuhnya?" "Hem," geram si jubah hitam.

Ia tergetar jangan-jangan sudah salah mengambil tindakan.

Tapi kini telah telanjur.

Ia tidak boleh surut.

Sebab jika ia mundur dan mengakui kekeliruannya, itu berarti membuka kelemahan diri di hadapan masyarakat luas.

Akibatnya, mereka bisa tidak menghargainya lagi.

Dan kelanjutannya dapat menghancurkan wibawanya untuk menguasai masyarakat dalam genggamannya.

Maka dari itu ia bersikeras menjawab, "Engkau mau membela seorang sahabat yang telah berkhianat?" "Tidak.

Saya membela seorang sahabat yang tidak bersalah," sahut pemuda itu dengan berani.

"Ada lagi yang berpihak kepada pengkhianat itu? Ayo maju!" Tiga orang pemuda lain kemudian melangkah pula ke depan.

"Siapa nama kalian?" tanya si jubah hitam dengan suara kian keras.

Keempat pemuda itu menyebutkan nama mereka satu per satu.

Syekh Lemah Kobar membuka kembali kertas catatannya.

Cocok.

Nama mereka tercantum dalam urutan berikutnya.

Si jubah makin ragu-ragu.

Namun sudah terlanjur.

Apa boleh buat.

Mengorbankan empat pemuda lagi yang tidak bersalah tidak menjadi soal baginya, daripada cita-cita yang telah disematkannya akan berantakan.

Dengan gerakan tangan yang tidak tertangkap oleh mata biasa, Syekh Lemah Kobar menghantamkan aji Awu Geni terhadap mereka.

Dalam tempo hanya beberapa detik, keempatnya terjerembab ke tanah, langsung tewas dalam keadaan yang sama mengerikannya seperti yang dialami Wuku Panyilang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment