Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 06

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 06

Kalau-kalau nasib semacam itu akan menimpa pula diri mereka.

"Masih ada lagi yang berani meragukan kebenaran penjelasanku?" hardik Syekh Lemah Kobar dengan hentakan suara yang melumat nyali seluruh hadirin.

Malam dalam sekejap telah berubah menjadi tabir hitam yang menutupi sinar bulan, meskipun purnama belum seluruhnya menggelincir ke persembunyiannya.

Sebab yang tertutup bukan cahaya di mata, melainkan cahaya di hati manusia.

Betapapun benderangnya alam raya, apabila hati digumpal kesedihan dan kepekatan, mampukah mata jasmani menembus kepekatan?

Syekh Lemah Kobar tengah berada pada puncak kenekatannya karena telah melakukan tindakan keliru sejak mula-mula.

Ia seperti pencuri yang tertangkap basah ketika sedang melaksanakan kejahatannya.

Apa ia akan menyerah, jika menyerah atau melawan kesudahannya sama juga?

Pasti sang pencuri akan mengambil pilihan yang kedua, membabi buta apa pun akibatnya.

Terbukti, sikap yang makin keras itu berhasil mengungkung masyarakat di dalam cengkeramannya.

Mereka tidak berani bergeser sedikit pun, seolah takut membangunkan macan buas.

Mereka terpaku kaku dengan badan menggeletar, bukan lantaran angin malam yang menderu seram, melainkan oleh bayangan maut yang memancar dari mata Syekh Lemah Kobar.

"Para kadang Bagus Kuning, murid-murid abangku Syekh Lemah Abang," ucap si jubah hitam sambil berdiri mengangkang di belakang kelima jenazah yang berserakan di tanah bagaikan tumpukan sampah terbakar.

"Sudah lima orang pengkhianat yang menjadi korban.

Karena itu, taatilah aku seperti kalian menaati abangku, Syekh Lemah Abang." Suara si jubah hitam, meskipun kecil melengking, namun berkumandang memenuhi semua penjuru, menancap langsung ke dalam jantung semua yang mendengarnya.

Sampai mereka kian terpaku kaku, persis pokok-pokok kayu tanpa daun.

Suasana berubah, namun untuk beberapa lamanya, hingga tiba-tiba serombongan penunggang kuda muncul dari kegelapan.

Orang-orang mulai berani berbisik-bisik, walaupun rasa takut jauh lebih mencengkam hati mereka.

"Ki Lurah datang.

Kasihan ya, orang tua itu, sudah kehilangan anaknya sekarang." Bisikan tersebut, andaikata dapat didengar oleh Pak Lurah, sungguh merupakan kata sambutan untuk mengelu-elukan kehadiran kepala desa yang amat dicintai dan dipatuhi rakyatnya itu.

"Saudara-saudaraku.

Ada kejadian apa di sini?" ujar Ki Lurah, ditujukan kepada para warganya.

Tiba di tempat terang, Ki Lurah menghentikan kudanya, diikuti sepuluh orang penunggang kuda, anak buahnya.

Ki Lurah belum sempat memperhatikan onggokan mayat di mukanya karena terlindung oleh bayangan hitam, tatkala seorang kakek berjubah hitam maju ke depan dan bertanya, "Siapa engkau?" hardik Syekh Lemah Kobar.

"Siapa aku?" ulang Ki Lurah kaget.

Lalu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Siapa kau?

Hahaha....

Apa tidak terbalik, Tuan?

Bukankah aku yang punya hak untuk bertanya, "Siapa kamu?""

"Jangan umbar bacot di mukaku.

Jawab!

Siapa kamu?" sahut si jubah hitam, kehabisan sifat sabar.

Masyarakat diam-diam menggelengkan kepala.

Alangkah kasarnya orang yang mengaku saudara Syekh Lemah Abang ini.

Sungguh, seperti bumi dengan langit perbedaan wataknya dengan Syekh Lemah Abang.

Anak buah Ki Lurah Brajanala sudah gatal hendak mencabut senjata.

Namun Ki Lurah masih melayani dengan tenang.

"Sebetulnya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu karena sikapmu jauh bertentangan dengan pakaianmu.

Aku adalah Lurah Desa Bagus Kuning."

"Ho, jadi engkau bapak dari anak yang sudah mampus itu," sahut Syekh Lemah Kobar melanjutkan kenekatannya, setelah memergoki kenyataan pahit yang tidak bisa dihindarinya lagi.

"Apa?

Anakku tewas?" teriak Ki Lurah seraya melayang dari punggung kudanya, menuju jenazah yang dituding oleh si jubah.

"Oh, Ngger, putraku.

Dosa apa yang kulakukan, sampai anakku harus jadi korban?" ratap Ki Lurah ketika ternyata betul apa yang dikatakan si jubah.

Ia menangis amat sedih karena Wuku Panyilang merupakan satu-satunya biji mata.

Lalu, sesudah ia sadar bahwa yang mati takkan mungkin hidup lagi betapapun air mata darah dicurahkannya, Ki Lurah berdiri kembali, menghadapi si jubah hitam.

"Siapa yang bertanggung jawab atas semua kekejaman ini?"

"Maksudmu apa, Kisanak?" sambut si jubah hitam, enak saja.

"Kurang ajar!

Siapa yang telah membunuh anakku?" hardik Ki Lurah menyala-nyala.

"Pengkhianatannya."

"Apa?" damprat Ki Lurah makin berkobar.

"Ia kubunuh bersama keempat sahabatnya karena mereka bersekongkol dengan orang-orang Demak," sahut Syekh Lemah Kobar tetap tenang.

"Samber Bledek!

Tidak masuk akal!

Fitnah keji!" bentak Ki Lurah yang untungnya masih mampu mengendalikan diri dalam kemurkaannya yang menyalak.

"Ki Lurah Brajanala, bertobatlah engkau, kembalilah manunggal dengan Gusti dalam wujud menyatukan diri bersama suluk Syekh Lemah Abang," ucap si jubah hitam, seolah-olah ia orang suci.

"Aku bernama Syekh Lemah Kobar, yang datang kemari atas panggilan roh abangku, Syekh Lemah Abang, untuk meluruskan jalan kalian menuju kejayaan.

Karena itu, mereka yang berkomplot dengan para wali Glagahwangi harus dilenyapkan.

Ikhlaskan kematian anakmu dan anak-anak kalian semua.

Anggaplah kepergian mereka ke alam kelanggengan sebagai sesaji bagi Hyang Mahagusti."

"Setan Ireng!

Engkau masih bisa berlagak suci sesudah melakukan keganasan atas anak-anak yang tidak berdosa?

Engkau pasti seorang penipu.

Syekh Lemah Abang takkan mempunyai saudara macam kamu!" bantah Ki Lurah sembari menghunus goloknya.

"Sabar, Ki Lurah, sabar, sebelum terlambat.

Bertobatlah engkau, sujudlah kepadaku, saudara guru pepundenmu, Syekh Lemah Abang," ucap si jubah.

Nyala sorot matanya yang licik menampar-nampar semua yang berani menatapnya, dan mereka akhirnya menundukkan kepala atau memalingkan mata ke arah yang lain.

Ki Lurah sudah tidak mau mendengarkan lagi.

Sedianya ia hendak menyerang ganas dengan goloknya, namun tiga sosok bayangan melayang mendahuluinya dengan mencecarkan sabetan kelewang dan keris-keris panjang.

Mereka adalah anak buah Ki Lurah yang paling tangguh.

Orang pertama menyerimpung dari bawah, yang kedua menyambar ke arah perut, sedang yang ketiga membabat bagian atas.

Serangan ketiga lawan ini jelas sangat sulit untuk dihindari.

Sepanjang pengalaman mereka dalam beberapa puluh kali pertempuran, hanya empat orang yang mampu bertahan lebih dari sepuluh jurus.

Lain-lainnya rata-rata sebelum tujuh jurus pasti telah binasa dalam keadaan yang mengerikan.

Orang-orang yang menyaksikan serangan itu juga berpendapat sama seperti yang terpikir oleh Ki Brajanala.

Betapapun lihainya si jubah hitam, kalau sudah diserang dengan jurus simpanan ketiga anak buahnya tersebut, jurus Tri Naga Laksa Hasta atau tiga naga bertangan sejuta, pasti takkan mampu bertahan dalam lima jurus.

Sebab, walaupun tampaknya jurus itu hanya satu, namun kembangannya berubah-ubah bagaikan mempunyai seribu cabang, menyambar-nyambar silih berganti.

Tapi alangkah bengongnya Ki Lurah.

Ia melihat si jubah hitam hanya berdiri tegak, sedikit pun tidak bergerak sama sekali.

Beberapa saat kemudian barulah Ki Lurah terjaga dari mimpinya.

Si jubah hitam tidak berdiri diam, melainkan tubuhnya tengah berputar melebihi kencangnya putaran gasing.

Itulah yang disebut ilmu Panggalan Setan.

Uh, tokoh dari mana orang berjubah hitam itu?

pikir Ki Lurah mulai waswas.

Ia belum menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri tatkala berturut-turut terdengar suara mengeluh tiga kali.

Dengan kaget Ki Lurah memandangi arena pertempuran.

Sebelum mereka sempat mendapat pertolongan, nyawa ketiganya telah melayang lebih cepat.

"Siapa lagi yang ingin musnah menjadi awang-uwung?" tantang Syekh Lemah Kobar dengan pongahnya.

"Jangan menyombong dulu, Kisanak," hardik Ki Lurah tiba-tiba, tercuat dari kedongkolannya.

"Belum tentu engkau tidak berlawan."

"Hem," geram si jubah.

"Maksudmu, engkau akan turun tangan?"

"Barangkali tidak perlu," elak Ki Lurah.

"Jangan putar-putar.

Apa maksudmu?"

"Asal engkau mau bunuh diri, aku tidak perlu turun tangan," sahut Ki Lurah.

"Hahaha....", si jubah tertawa mengikik.

"Mimpi apa engkau, Kisanak, berani menggonggong begitu."

"Jadi engkau tidak mau menyerah?" bentak Ki Lurah.

"Ha?

Menyerah?

Kalimat apa itu, menyerah?

Di lidahku tidak ada istilah menyerah.

Sejak kecil aku hanya diajari: menang, menang."

"Baik, terimalah hukumanmu!" Seraya berteriak demikian, Ki Lurah mulai bersiap hendak menyerbu.

Pada hawa dingin yang mengepul dari kuda-kudanya saja, sudah bisa ditebak betapa ampuhnya ilmu Ki Lurah.

Syekh Lemah Kobar sempat dibikin kagum.

Ia tidak menyangka, di desa yang kecil dan terpencil ini, ada pendekar tidak ternama yang memiliki ilmu cukup tinggi.

"Pantas engkau punya nyali, Kisanak.

Rupanya engkau punya andalan juga.

Silakan pertontonkan kelebihanmu sebelum kuhentikan separuh jalan," ujar si jubah, diawali memuji tetapi penghabisannya menjatuhkan.

"Kurang ajar!" teriak Ki Lurah kehilangan watak tenangnya.

"Ada apa, Pakne, ada apa?" tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang perempuan berlari-lari mendekat.

Belum apa-apa, air matanya telah membanjir.

Agaknya seseorang telah memberi tahu kepadanya tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

Perempuan itu adalah Nyi Lurah, ibu dari Wuku Panyilang.

"Anak kita kenapa, Pakne?

Kenapa?" ratap perempuan itu kian dekat.

Ki Lurah jadi serba salah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment