Chapter 07
Ia harus bertempur untuk membalaskan kematian anaknya, tetapi ia juga harus memperhatikan istrinya yang pasti akan sangat terpukul bila melihat keadaan mayat anak semata wayangnya.
Namun, sebelum kebingungannya berkembang makin besar, sebuah penyelesaian telah diambil lebih dulu oleh Syekh Lemah Kobar.
"Jangan membuat suamimu bimbang. Terbang sana, mengikuti anakmu yang sudah mampus." Maka, sekonyong-konyong Nyi Lurah tertegak kaku oleh sambaran halus berbau amis yang dilakukan oleh Syekh Lemah Kobar.
Aji Awu Geni. Dan sudah dapat dibayangkan bagaimana akibatnya terhadap diri Nyi Lurah yang lemah itu.
Tubuhnya luruh seperti jemuran terputus talinya. Dagingnya melepuh, kulit di sekujur badannya berubah hitam lebam.
"Mbok! Oh, Mbok!" jerit Ki Lurah sambil menubruk istrinya yang telah terjerembap menjadi mayat. Tidak, bukan mayat lagi. Nyi Lurah telah menjadi setumpuk daging yang dipanggang dari dalam.
Semua orang sampai menutup hidung dengan wajah ngeri dan hati amat mual ingin muntah, menyaksikan pemandangan yang jauh melampaui batas-batas perikemanusiaan.
"Ibliskah engkau? Atau serigala?" jerit Ki Lurah hingga serak suaranya lantaran begitu terhempas melihat nasib perempuan yang tidak berdosa itu, istrinya demikian menyedihkan.
"Hahaha...," ringkik si jubah persis kuda edan. "Pendekar apa bisanya hanya menangis? Hai, para kawula Bagus Kuning! Lihat pemimpinmu. Ia tidak malu meratapi istrinya di depan rakyatnya. Apa pantas pemimpin macam dia kalian pertahankan sebagai lurah?"
"Sudah pasti tidak. Seujung kuku pun tidak pantas," mendadak terdengar suara nyaring menjawab dari tempat gelap.
Semua orang menoleh dengan gemas. Siapakah di antara rakyat Bagus Kuning yang sampai hati berkata sekeji itu? Sisa-sisa pasukan berkuda Ki Lurah hampir mengambil tindakan. Tetapi, seperti sebelumnya, Ki Lurah telah memberi isyarat agar mereka jangan ikut campur dulu. Ini masalah dendam dan kehormatan.
"Siapa engkau yang berani berbicara sembarangan di tempat gelap?" bentak Ki Lurah seraya bangkit. Di matanya kini bergolak nyala merah.
Dengan gerakan yang indah dan cekatan, sesosok tubuh berperawakan tinggi tegap melayang dari kegelapan, dan hinggap di tengah lapangan.
"Ha? Engkau? Raka Jinangkar?" teriak Ki Lurah keheranan. "Apa engkau berkomplot dengan bajingan berjubah ini?" Setitik pun Ki Lurah tidak menyangka bahwa Raka Jinangkar akan bergabung dengan orang yang menyebut dirinya Syekh Lemah Kobar, meskipun ia tahu Raka menyimpan permusuhan kepadanya sejak dulu.
Selaku ajudan Ki Ageng Kebo Kenongo, bupati Pengging, Raka Jinangkar merasa tersinggung oleh sikap Ki Lurah yang terlalu mendekat kepada Syekh Lemah Abang.
Mereka satu kubu, tetapi persaingan memperebutkan kedudukan sebagai orang kepercayaan Syekh Lemah Abang, yang berarti kekuasaan, pengaruh, dan harta kekayaan, telah membutakan kedua-duanya untuk saling bermusuhan secara terpendam.
Rupanya kini, semenjak karisma dan wibawa yang mereka segani sudah sirna dengan kematian Syekh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo, permusuhan tersebut mulai muncul ke permukaan. Apalagi, Raka Jinangkar sedang membina kekuatan melalui kekuasaan atas desa-desa pinggiran. Satu-satunya lawan yang boleh jadi merupakan batu sandungnya adalah Ki Lurah Brajanala.
"Mestinya aku yang berhak menuntut tanggung jawabmu," bentak Raka Jinangkar sengit. "Aku tahu engkau telah melakukan kasak-kusuk dengan menghubungi agen-agen Demak. Menyerahlah di bawah bendera Keris Bersilang bila engkau ingin selamat."
"Bojleng, bojleng! Sejak kapan di perutmu tumbuh pusar, hai wong Pengging?" sahut Ki Lurah marah sekali.
"Sejak di rambutmu tumbuh uban," jawab yang digertak sama berangnya. Lantas ia menoleh ke arah Syekh Lemah Kobar: "Maaf, Tuan, biar saya yang mengambil alih urusan ini," kata Raka Jinangkar kepada si jubah yang dikenalnya sebagai Si Topeng.
"Bagus," gumam si jubah yang merasa amat puas melihat kemampuan Raka Jinangkar dan kecermatannya dalam melaksanakan semua instruksinya. Sebab ia sudah memperhitungkan, apabila mengalami kesulitan dalam menanamkan pengaruh di desa itu, sebaiknya orang dalam yang mengenal seluk-beluk aliran Manunggaling Kawulo Lawan Gusti yang menyelesaikan persoalan selanjutnya. Karena tujuannya hanya satu, menggerogoti kekuatan Demak dengan menumbuhkan kekuasaan lain di seputar kawasan perbatasan.
"Bagaimana, Ki Lurah. Kauterima tawaranku?" tanya Raka Jinangkar acuh tak acuh.
"Bocah kemarin sore, tangkaplah hadiahku," hardik Ki Lurah seraya melancarkan serangan pertama. Jurus itu kelihatan biasa-biasa saja. Tapi tak kurang Syekh Lemah Kobar sendiri mengetahui bahwa gerakan yang tampak remeh tersebut mengandung simpanan tenaga dalam yang berpusar-pusar bagaikan kawah Gunung Bromo. Patutlah namanya juga Ngisor Kawah Ono Geni.
Rakyat Bagus Kuning amat kagum menyaksikan kelihaian lurahnya. Tetapi kemudian, mereka terpaksa memindahkan kekaguman kepada lawan pemimpin mereka itu. Raka Jinangkar hanya berkelit sedikit dengan menggeser kaki kiri. Tanpa memutar badan, ia menendang ke samping. Seperti tersambar ular koros, jurus ampuh Ki Lurah tertahan dengan ganas.
Jago tua yang tangguh itu sadar bahwa musuh tidak dapat dianggap ringan. Tendangan sampingnya yang mampu menabrak pukulan mautnya jelas menjadi pertanda betapa ajudan Ki Kebo Kenongo memang patut memperoleh kedudukannya.
Namun, ia belum berada di bawah angin. Sambil seakan-akan hendak berguling, ia justru membalikkan badan, lalu menghantam dari belakang. Kali ini jurus yang dipakai disebut Sawer Bromo Ora Lilo.
Tetapi ia bukan pendekar yang hanya besar nama. Kecepatan geraknya tatkala mengelak, lantas menghantam dari atas, membuktikan bahwa dia memang memiliki kecekatan dan ketepatan perhitungan.
Keras lawan keras, halus lawan halus. Begitulah pertarungan antarpenganut aliran yang sama telah berlangsung 23 jurus. Ketika jurus yang ke-24 belum berhasil menentukan siapa berada di atas angin, tiba-tiba sentilan batu kerikil yang tidak kelihatan lantaran cepat dan lembutnya menghantam jidat Ki Lurah dari sentakan jari kaki Syekh Lemah Kobar, persis pada saat Raka Jinangkar memukul ke arah yang sama.
"Kratak!" terdengar suara tulang pecah ketika ubun-ubun Ki Lurah tersambar kepalan tangan Raka Jinangkar yang kebetulan menggunakan jurus Driji Mlengkung Balung Remuk. Ki Lurah menggelepar jatuh dengan otak berhamburan. Ia tidak sempat mengaduh, kecuali air matanya menetes dua butir dan tangannya menggapai ke arah mayat istri dan anaknya.
Syekh Lemah Kobar bertepuk-tepuk kegirangan seraya memuji, "Hebat, hebat! Betul-betul seorang kesatria sejati," teriak Syekh Lemah Kobar. Raka Jinangkar membungkuk-bungkuk dengan bangga tanpa memedulikan tangis terpendam yang membuat seluruh penduduk Bagus Kuning diam membisu.
Para penunggang kuda anak buah Ki Lurah terpaksa ikut tidak bersuara, karena mereka harus mematuhi perintah mendiang atasannya, agar jangan ikut campur kecuali jika terpaksa.
"Para kadang Bagus Kuning sekalian," ucap Syekh Lemah Kobar kepada seluruh masyarakat yang hadir. "Selaras dengan hukum para ksatria, siapa yang menang dalam pertarungan yang adil dan jujur, dalam adu laga satu lawan satu, dia berhak mengambil segala yang dimiliki pecundangnya.
Karena itu, semenjak detik ini, aku, mewakili pepunden kalian, Syekh Lemah Abang, berkenan dengan bangga menobatkan Raka Jinangkar sebagai pemimpin Desa Bagus Kuning. Serta kunyatakan pula bahwa pemerintahan atas desa ini berada di bawah bendera Keris Bersilang."
Apalagi yang dapat dilakukan oleh orang-orang kecil itu selain pasrah terhadap kenyataan? Karena itu, mereka sepatah pun tidak membantah atau protes. Sejarah telah menyodorkan bukti-bukti yang pahit, namun begitulah adanya, bahwa nasib rakyat berada dalam permainan mereka yang lebih kuat, lebih kaya, lebih kuasa. Menetapkan hijau atau merah bukanlah hak kaum awam. Mereka hanya berhak mengais sisa-sisa keserakahan orang-orang besar. Mereka hanya berhak memanfaatkan yang paling baik dari yang paling buruk.
Demikianlah sejak malam itu, yang berkibar di tengah angkasa adalah bendera hitam dengan gambar tengkorak berwarna putih dan dua keris menyilang di bawahnya.
Kemudian, penjagaan pos-pos penting di seluruh Desa Bagus Kuning langsung diambil alih oleh anak buah Keris Bersilang. Tanpa kabar atau berita, Syekh Lemah Kobar lenyap begitu saja, tidak seorang pun yang tahu ke mana lolosnya.
Namun, ada sedikit kelegaan di hati penduduk, yakni upacara berkabung dengan mengamalkan suluk-suluk sambil meratap semalam suntuk akan dilanjutkan terus hingga empat puluh hari semenjak kematian Syekh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo.
Itu pun, jika janji Raka Jinangkar ditepati, atau mudah-mudahan, Raka Jinangkar tidak mengingkari janji.
Tetapi sungguh ngeri. Dari malam kedua setelah Desa Bagus Kuning diperintah oleh Raka Jinangkar, setiap jam dua terdengar salak anjing meraung-raung dan sesosok mayat tanpa kepala tercampak di teratak rumah Ki Lurah Brajanala yang kini ditempati Raka Jinangkar. Begitulah terjadi setiap malam sampai hari kelima.