Chapter 08
Yang lebih aneh dan mengerikan lagi, Raka Jinangkar seperti tidak mengambil peduli sama sekali, bahkan tenang-tenang main domino sambil menikmati tuak hingga mabuk.
Rakyat gemetar namun masih bisa merasa lega karena tidak ada yang kehilangan suami, anak, atau keluarga.
Jadi, mayat siapakah yang digeletakkan tiap malam tanpa kepala?
Orang dari mana mereka?
Siapakah yang melakukannya?
Malam yang keenam masalah itu baru diperbincangkan oleh Raka Jinangkar yang sampai hari itu belum mendapat kontak dari si topeng, si jubah hitam, Syekh Lemah Kobar, atau siapa saja namanya.
Sudah lima mayat yang dionggokkan di depan hidung kita.
"Dan kita belum mampu melacak mayat-mayat siapa itu, dan orang mana yang berani mencabuti kumis kita," ucap Raka Jinangkar dengan marah.
Salah satu tangan kanannya, pendekar dari Desa Janur Kemukus, menjawab, "Saya sudah memerintahkan untuk berjaga-jaga tiap malam.
Dan saya ikut terjun langsung.
Namun aneh, mayat-mayat itu seperti tiba-tiba saja terlempar dari langit.
Pada waktu kami mengejar ke arah yang kami perkirakan si penunggang mengambil posisi, di sana hanya tertinggal bau wangi yang menyengat hidung." "Goblok!
Apa urusan begini saja aku harus bertindak sendiri?" damprat Raka Jinangkar memperlihatkan sifat aslinya yang temberang.
"Tidakkah kita lebih baik pura-pura tidak tahu?
Toh kelihatannya mayat-mayat itu tidak ada hubungannya dengan Keris Bersilang?" sahut seorang pendekar lain, Raja Bagaspati dari Desa Ambarsari.
"Yang jelas, bukan tidak ada maksud apa-apa mayat-mayat itu diletakkan di desa ini," bantah Raka Jinangkar.
"Kalau kita tinggal diam, siapa tahu ada malapetaka besar yang bakal mengancam kita?" "Apa barangkali sebagai siasat adu domba, atau semacam lempar batu sembunyi tangan?" sambut pendekar berikutnya.
"Itu maksudku.
Kita harus menyelidikinya hingga tuntas," ujar ketua gerombolan Keris Bersilang tersebut.
Tepat pada malam itu pula tatkala para tokoh gerombolan pembangkang itu sedang berunding dengan sengit, sesosok tubuh yang halus pembawaannya tengah berbisik kepada kuda tunggang yang bagus.
"Karbala, kau kutinggalkan di sini, ya.
Jangan ke mana-mana sampai aku datang lagi atau kuberi isyarat supaya kamu mencari aku.
Mengerti?" Aneh bin ajaib.
Kuda itu seolah-olah memahami perkataan majikannya.
Ia mengangguk-angguk dan meringkik.
"Bagus, engkau memang sahabatku yang setia, Karbala." Sudah tentu siapa pun dapat menebak siapa orang yang tengah mengendap-endap itu.
Ia memang Jaka Pratama yang baru tadi petang berhasil mencapai desa Bagus Kuning.
Ia masih teringat akan sejumlah nama yang tercatat di kertas yang dicuri penjahat, selain tiga agen Demak yang harus dihubungi.
Dengan membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh lebat dan mengecatnya dengan getah akar kembang wedi yang dicampur minyak sereh sehingga berubah coklat keputih-putihan, orang muda itu kelihatan lebih tua lima belas tahun.
Menurut petunjuk lisan, ketiga agen Demak itu bisa dihubungi kalau pagi di pasar desa yang hari pasarannya tiap Selasa.
Salah satu di antaranya berjualan cendol, dengan kain kuning di ujung pikulannya.
Sesudah waktu Zuhur ia harus mencari penjual jagung bakar, yang di tempat dagangannya selalu tersedia lima jagung yang hangus.
Sedangkan lepas Asar sampai Isya, ia dapat berhubungan dengan penjaja bajigur yang kakinya pincang sebelah. Mereka adalah penduduk asli Desa Bagus Kuning.
Niatnya Jaka akan memasuki desa itu petang tadi.
Tetapi ada perubahan situasi yang tadinya tidak diperhitungkan sehingga ia mengurungkan rencana tersebut.
Sebab ternyata desa Bagus Kuning telah dikuasai gerombolan yang telah menjebaknya beberapa hari yang lalu dengan bendera yang bergambar tengkorak dan Keris Bersilang.
Ia harus mencari tahu, apakah orang-orangnya sama dengan penjahat yang mencuri kertas catatannya?
Atas alasan itulah ia memoles wajahnya dengan kumis dan jenggot agar tidak tampak wajah aslinya.
Pakaiannya juga ditukarnya dengan yang berwarna hitam.
Ia sedang berlindung di balik serumpun semak duri untuk mengawasi sebuah rumah yang lampunya terang di dalam.
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, dan beberapa lampu dipasang sekeliling halaman.
Untung Jaka telah mendekam lebih ke bawah sehingga kemungkinan besar takkan kepergok oleh sinar itu.
Kemudian beberapa bayangan yang kebetulan berpakaian sama dengannya, serba hitam, menyebar ke segenap sudut seperti menunggu sesuatu yang akan mereka jebak di dalam jebakan.
Gerakan mereka sangat ringan.
Berarti orang-orang itu memiliki kepandaian yang bisa diandalkan.
Pekerjaan apa yang sedang mereka rencanakan?
Jaka memang sempat menyadap selentingan bahwa Desa Bagus Kuning sedang digegerkan oleh munculnya mayat-mayat tanpa kepala saban malam.
Mungkinkah mereka sedang menunggu hendak menangkap si pembuang mayat?
Sungguh peristiwa yang bakal menarik dan terang.
Ia akan melihat saja.
Namun jika perlu ia akan bertindak secara sembunyi-sembunyi seandainya ia harus turun tangan.
Bukankah yang jelas gerombolan Keris Bersilang adalah lawan yang mengincar dirinya?
Berarti mereka yang bermusuhan dengan gerombolan itu, kalaupun bukan kawan, adalah orang-orang yang menentang gerombolan tersebut.
Pasti tidak keliru jika ia membantu orang-orang itu.
Sebelum para penjebak tadi menyadari, kerisikan bunyi tertangkap oleh aji Wasis Rungu yang dikuasai Jaka sehingga ia tahu beberapa tombak di sebelah kanannya ada seseorang sedang mengendap-endap dengan gesitnya, dan sekonyong-konyong sebuah bungkusan besar terlempar dari puncak pohon dan jatuh di bagian yang paling terang di tengah-tengah tempat jebakan.
Hebat.
Para anggota gerombolan begitu terperanjat karena mereka kebobolan lagi.
Namun mereka cukup sigap.
Dengan serempak mereka melayang ke arah pohon itu.
Ia tidak bergerak sedikit pun.
Ia memepetkan tubuhnya yang langsing ke tengah-tengah cekungan antara dua ranting besar.
Dan berbarengan dengan itu, seorang lainnya melompat ke atas dari arah yang berlawanan, yaitu dari tempat yang tadi tertangkap oleh pendengaran Jaka yang peka.
Mereka terperdaya.
Serentak mereka berlompatan mengejar bayangan yang melompat tadi, yang jelas sekali ilmu ringan tubuhnya sangat hebat.
Tetapi si pelempar mayat yang berada di pohon kali ini belum tentu dapat meloloskan diri.
Sebab pada waktu ia melayang turun, tiba-tiba masih ada sosok hitam lain yang menghadangnya di bawah.
Agaknya sosok yang satu ini sengaja menyembunyikan diri tanpa sepengetahuan si pelempar mayat.
Pasti ia telah mendekam di tempat itu sejak sebelum halaman luas tersebut diterangi dengan lampu-lampu.
Buktinya para pengejar bayangan yang lain itu jumlahnya persis sama dengan yang menyebar ketika pintu terbuka dan lampu-lampu mulai dipasang di sekitar halaman.
Jaka Pratama ikut berdebar-debar ketika si penghadang membentak: "Berhenti!" Sosok langsing itu akan lari tanpa mau meladeni bentakan tersebut.
Namun langkahnya terhenti tatkala sebuah pisau kecil melayang, disusul dengan dua pisau lainnya.
Sosok itu melompat-lompat dengan cekatan, berkelit dan menangkis.
Tapi tak urung salah satu dari tiga pisau itu menyambar ke kepalanya.
"Sret!" bunyi logam itu sangat nyaring ketika membabat ikat kepala sosok langsing tersebut.
Seketika itu juga segumpal rambut tebal terurai dari kaitannya.
"Sundal!
Ternyata engkau seorang perempuan.
Siapa kamu?" bentak si penghadang, yaitu kepala gerombolan Keris Bersilang sendiri.
Kini jelas tidak ada kesempatan lagi untuk melarikan diri.
Perempuan itu lalu membalikkan badan dan berdiri dengan kedua kaki membentuk kuda-kuda yang tangguh.
"Jangan tanya siapa aku.
Tanyakan siapa mayat yang kulemparkan itu!" ucap si perempuan, bukannya menjawab malah mengajari.
Kocak juga wanita pemberani tersebut.
"Baik.
Kuturuti nasihatmu, sebab sebentar lagi aku akan tahu siapa engkau sebenarnya melalui mayatmu.
Mayat siapa itu?" "Apa engkau tidak tertarik untuk mengetahui siapa lima mayat sebelumnya?
Sayang.
Engkau memang berhati dingin sehingga tidak merasa perlu untuk menengok mayat-mayat itu sebelum kauperintahkan anak buahmu mengubur mereka." "Diam!
Jangan mengulur-ulur saat kematianmu.
Katakan!
Siapa mereka?" bentak ketua Keris Bersilang tersebut makin berang.
"Baik.
Aku juga tidak sudi berlama-lama denganmu," dengus si perempuan tanpa gentar.
"Tolong jawab dulu, ada berapa orang saudaramu?" "Ha?
Apa maksudmu?" teriak ketua Keris Bersilang dengan cemas.
"Raka Jinangkar.
Ketahuilah, manusia ini terikat oleh hukum karma.
Kalau alam tidak langsung melaksanakan keadilannya, maka tangan manusia sendiri yang harus menjalankan hukum itu.
Raka Jinangkar, aku adalah putri kepala Desa Janur Kemukus, yang waktu kaubunuh ayahku beserta ketiga orang adikku yang masih di bawah umur kebetulan aku sedang menuntut ilmu di padepokan.
Kawanku tadi adalah putra lurah Desa Ambarsari.
Ayah dan ibunya kaubantai dengan keji, demikian pula kedua orang adiknya.
Sayang engkau hanya mempunyai tujuh orang saudara, dan ketujuh-tujuhnya kaududukkan sebagai kepala desa pada daerah-daerah yang telah kautumpas para lurahnya." "Jadi?" tanya Raka Jinangkar gemetar.
"Betul dugaanmu.
Termasuk mayat yang keenam tadi semuanya adalah saudara-saudaramu.
Sayang malam ini aku kepergok.
Padahal tinggal satu lagi saudaramu, yang sama bengis denganmu, yang harus kuhabisi.
Sayang." "Perempuan busuk.
Terimalah pembalasanku!" jerit Raka Jinangkar seraya menyerbu dengan ganas.