Chapter 13
"Apakah benda ini yang ingin Tuan tanyakan?" Jaka agak malu, merasa kebimbangannya dengan telak telah ditebak anak muda itu.
Sungguh, seorang pemuda yang peka dan cepat tanggap.
Memang, benda kecil tipis itu yang menjadi tanda apakah orang bersangkutan betul-betul agen Demak atau bukan, selain beberapa kata sandi yang tadi telah dijawab dengan tepat oleh si anak muda pada waktu mereka sedang berlompatan menuju ke gubuk ini.
"Tidak, bukan mengelak. Itu yang paling penting," ujar Jaka.
"Jadi, masalah apa?"
"Bukankah saya sudah menceritakan semuanya?"
"Belum."
"Maksud Tuan?"
"Siapa namamu? Sungguh tidak adil jika engkau telah mengetahui siapa aku, tetapi aku belum tahu siapa engkau," sahut Jaka mencoba mencairkan ketegangan dengan agak berseloroh.
"Riwayat saya, kan, sudah Tuan ketahui," bantah anak muda itu.
"Namun apa gunanya kalau namamu tidak kausebutkan?"
"Oh iya. Nama saya Pandu Nayarana."
"Apa barangkali ayahmu adalah..."
"Betul. Ayah saya adalah almarhum Raden Pandu Dewabrata, abang angkat Raden Mas Jaka Pratama," potong anak muda itu sambil menunduk, menyembunyikan air matanya.
"Oh, anak muda," teriak Jaka terharu seraya bangkit, lalu memeluk Pandu Nayarana dengan berkata, "Ngger, jadi engkau putra Kangmas Pandu!" Jaka Pratama masih sempat teringat sebentar akan hubungannya yang sangat akrab dan tulus dengan Pandu Dewabrata.
Baru hari ini ia mengerti kenapa Kangmas Pandu dulu sering termenung sendirian tiap kali berada di luar penglihatannya.
Rupanya saat itu ia sedang mengenangkan anak satu-satunya yang hilang tanpa ketahuan rimbanya.
Namun, kesempatan itu tidak berlangsung cukup panjang untuk melantur di dalam rasa sedih, karena tiba-tiba terdengar gerubak-gerubuk langkah kaki kuda yang dipacu buru-buru.
Jaka cepat keluar.
Hampir tidak tertangkap mata telanjang, ia melayang ke wuwungan rumah Ki Lurah sambil berbisik sebelumnya, "Tenanglah engkau di situ, aku akan melindungimu dari atas."
Pandu Nayarana menjawab dalam nada amat kagum, "Terima kasih, Paman."
Ternyata yang datang adalah anggota Santri Pitulas yang dua hari lewat berhasil meloloskan diri dari kepungan para bajingan Keris Bersilang.
Ia menuntun seekor kuda di samping yang ditungganginya. Tanpa turun dari punggung kudanya, ia berteriak, "Pandu. Larilah engkau dengan Jaka. Di kuda ini ada peta. Pelajarilah. Jejakmu tercium oleh Raka Jinangkar. Pergilah kalian ke bulatan hijau dalam peta itu. Dua hari lagi, pukul sembilan malam kalian harus tiba di sana." Tanpa menunggu sepatah jawaban pun, ia secepat mungkin menerbangkan tunggangannya ke dalam bayangan malam.
Jaka segera turun, disambut oleh Pandu dengan mempersilakannya naik kuda bersama-sama.
Jaka menggeleng. Ia memberi isyarat singkat agar Pandu mengikutinya dengan naik kuda. Mula-mula Pandu heran, mengira Jaka bercanda. Masak kaki manusia dapat berpacu dengan lari seekor kuda. Terbukti, keheranannya berubah menjadi setengah tidak percaya tatkala kudanya tidak mampu mengejar kecepatan ilmu ringan tubuh paman angkatnya, Jaka Pratama.
Betapapun, situasi mungkin telah begitu gawat, terbukti dari suara gelegar serombongan pengendara kuda yang tertangkap oleh pendengaran tajam Jaka Pratama yang menggunakan aji Wasis Rungu. Agaknya mereka tengah berpacu menuju rumah Ki Lurah.
Namun Jaka yakin, buat sementara waktu mereka belum akan dapat mengejarnya. Karena itu, meskipun terpaksa harus bergegas-gegas, Jaka menuntun Pandu Nayarana menuju ke tempat persembunyiannya di dalam gua sebelah atas hutan Setan Gundul. Ia harus menjemput Karbala, baru melenyapkan diri dari tempat itu.
Untunglah gelap kian hitam dan tiba-tiba hujan tercurah dengan lebat tanpa tanda mendung dari siangnya, sehingga Jaka Pratama dan Pandu Nayarana bisa dengan leluasa meninggalkan wilayah Desa Bagus Kuning.
"Kurang ajar! Cecurut itu sudah menyingkir!" ungkap Raka Jinangkar yang kebetulan belum sampai kebasahan.
"Hujan keparat! Akan sulit kalian menapaki jejak mereka. Sudahlah. Kita bersenang-senang saja malam ini. Panggil tayuban meskipun bumi tenggelam dalam hujan. Cepat!" Hanya suara air yang mencuat di tengah malam buta yang dingin dan kuyup itu, mengisyaratkan keputusasaan atas kegagalan dan rintangan yang kian membengkak.
"Besok kalian gerebek sekujur desa. Siapa pun yang kedapatan mencurigakan, seret ke tengah hutan, dan habisi di sana. Kita tidak boleh memberi hati lagi kepada lawan. Cara sopan tidak bakal mematangkan buah. Dengar!" Raka Jinangkar masih terus mencak-mencak sampai akhirnya, sekitar pukul tiga, rombongan tayuban datang, dilengkapi dengan dua orang ronggeng muda yang cantik-cantik.
Karena terguyur hujan, gadis-gadis tayuban dan kedua ronggeng yang kebasahan itu disuruh membuka pakaian dan menggantinya di depan mata Raka Jinangkar sendirian, sementara para lelakinya serta seluruh anak buahnya diperintahkan menyingkir.
Memang, jika manusia telah bergelimang dengan lumpur, ia pasti tidak akan mampu keluar dari kubangan itu tanpa berlumurkan lumpur, kecuali sesudah diguyur air pencuci. Begitu pula bila manusia telah bergaul dengan dosa. Karena itu, mereka yang bijak tentu takkan berani mencoba-coba berkenalan dengan dosa, betapapun kecilnya, kalau tidak ingin terjerumus ke dalam lembah nista. Para wali telah mengajarkan kepada Jaka Pratama bahwa perbuatan yang paling mulia untuk menjadi orang suci adalah jangan mendekatkan diri dengan dosa. Melakukan kebaikan boleh ditunda, tetapi menghindari dosa harus seketika itu dilaksanakan. Tidak ada "nanti" buat menolak maksiat. Yang ada "sekarang" juga. Itulah sebabnya dalam menyampaikan larangan-Nya melalui Kitab Suci Al-Qur'an, Tuhan berfirman, "Jangan kamu mendekati perzinaan," lantaran semua keburukan bermula dari dekat-dekat atau coba-coba.
Sungguh bersyukur Jaka Pratama, sepanjang perjalanan hidupnya ia selalu berusaha untuk menjadi orang baik, walaupun barangkali belum jadi orang baik. Niat inilah yang membebaskan Jaka dari siksaan batin berupa buruk sangka, dengki, atau iri hati. Tetapi niat ini pulalah yang sering kali membuatnya dengan mudah terjebak ke dalam perangkap musuh, karena ia sama sekali menolak untuk berburuk sangka kepada niat orang, betapapun kemungkinan busuk telah dibayangkan sebelumnya.
Namun, sikap polos begitu bukan selalu merugikan. Kadang-kadang dengan kejujuran dan kebersihan hatinya itulah ia dapat menaklukkan kekasaran lawan. Bahkan tidak jarang, dari sifat itu ia dengan cepat memperoleh sahabat yang tulus dan akrab. Seperti yang kini dialaminya dengan Pandu Nayarana, putra Pandu Dewabrata almarhum. Kepada ayahnya, Jaka begitu erat dan sejiwa, malah melebihi hubungan persaudaraan biasa, andaikata Jaka mempunyai kakak atau abang kandung. Sudah tentu, anggapan ini melahirkan anggapan yang sama pada Jaka. Ia berjanji dengan sepenuh hati akan mendidik dan menggembleng Pandu Nayarana sebagai kemenakan sendiri. Bahkan akan diperlakukannya sejajar dengan anak kandung, walaupun jika benar anak kandung, berarti ketika Pandu Nayarana dilahirkan, ia adalah seorang ayah yang berumur tujuh tahun.
Selepas melewati malam kemarin yang tegang, Jaka dan Pandu melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk peta menuju ke utara. Menjelang malam, pukul sembilan, mereka akan ditemui oleh rekan Santri Pitulas yang telah menolong mereka di suatu desa kecil, Wonorejo, kurang lebih enam hari berkuda sebelum bandar pelabuhan Jepara.
Yang sebenarnya, Pandu pun belum jelas, seperti apa orang yang menolongnya itu. Menurut keterangan dari peta yang dibawa Pandu, mereka harus menunggu di langgar Kiai Dolah Pekih, satu-satunya ulama yang tidak terpengaruh oleh ajaran klenik Syekh Lemah Abang di wilayah itu.
Dalam salat Isya, Jaka dan Pandu sempat menjalankan jemaah bersama lima orang makmum lainnya. Tiga orang putra kiai sendiri, yang dua orang adalah pendatang yang baru tiba menjelang waktu Asar tadi siang. Selesai mengerjakan sembahyang bersama, seperti hari-hari sebelumnya, Kiai Dolah Pekih, meskipun kadang-kadang hanya didengarkan oleh ketiga putranya, selalu memberikan wejangan-wejangan tentang agama.
Dalam santapan rohaninya kali ini, kiai tua yang jalannya sudah harus ditopang tongkat itu menyampaikan keprihatinannya terhadap segala kekejaman yang kian meningkat.
"Manusia telah buta. Bukan matanya, melainkan hatinya. Oleh sebab itu, hati mereka hanya tersisa sebagai gumpalan darah atau daging semata, seperti hati babi atau anjing. Dosalah yang mematikan hati. Telinga pun jadi budek, tidak mampu mendengarkan ratap tangis dan jerit pilu janda-janda beranak banyak yang suaminya dibantai demi kekuasaan, demi pangkat, demi kekayaan. Telinga mereka tidak lagi mempunyai kepekaan untuk meneruskan suara-suara lolongan ketakutan kepada hati, karena telinga tidak sedikit pun bisa mendengar, sementara pintu hati telah tertutup rapat-rapat."
Jaka dan Pandu menunduk, membenarkan wejangan yang singkat namun berkesan itu. Begitu pula ketiga putra Kiai, mereka bahkan menangis pelan, dengan mata basah dan wajah merah.
Yang aneh, kedua pendatang baru itu. Mereka tampak sangat gelisah. Barangkali merasa tersentuh oleh ucapan Kiai yang bersumber dari salah satu ayat Surat Al-Hajj.