Chapter 14
Ayat itu memang pendek, tetapi lugas dan dalam pengertiannya. "Oleh sebab itu di dalam surat Al Hujarat kita diperingatkan agar jangan gegabah mempercayai berita yang dibawa oleh orang fasik, yakni orang yang selalu durhaka kepada hukum-hukum Tuhan. Kalau kepada Tuhan mereka berani berdusta, apalagi kepada manusia, bukan? Jika datang kabar-kabar burung atau desas-desus dari kaum fasik, hendaknya diyakini dulu benar-tidaknya, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan atau tindakan. Karena dengan keputusan atau tindakan yang ceroboh engkau bakal mendatangkan kerugian dan bencana kepada orang-orang yang tidak berdosa. Kamu akan menyesal dan sesal itu tak kan ada gunanya."
Jaka dan Pandu tambah menunduk. Ketiga putra Kiai kian terisak. Dan kedua pendatang makin gelisah. "Tidak ingatkah kalian betapa Alquran mengatakan bahwa boleh jadi pada sesuatu yang kamu benci terdapat kebaikan bagi kamu, dan pada sesuatu yang kamu senangi malah terdapat keburukan yang mengancam kamu? Tidak percayakah kalian kepada firman Tuhan ini sehingga terus-menerus mengumbar permusuhan satu sama lain? Apakah kalian sampai hati memakan bangkai saudara sendiri? Tentu saja tidak. Tetapi mengapa kalian masih juga saling membenci dan mencaci-maki? Sungguh, jika tidak bertobat, kalian termasuk golongan yang rugi."
Tatkala Kiai menutup wejangannya dengan kalimat-kalimat di atas, tiba-tiba kedua pendatang baru itu keluar dari langgar dan menghilang tanpa jejak. Kiai tersenyum, Jaka dan Pandu kebingungan. Ada apa sebenarnya? Sesudah bersalam-salaman, Kiai Dolah Pekih mempersilakan Jaka dan Pandu singgah di rumahnya yang sederhana, bersebelahan dengan langgar. Mereka diajak makan bersama oleh Kiai dan ketiga anaknya. Anehnya umur mereka hampir sama satu dengan lainnya.
Dalam berbincang-bincang setelah selesai makan, Jaka bertanya: "Apakah Kiai tidak menerima suatu pesan, tentang seseorang yang akan datang kemari, misalnya?" Kiai meletakkan jari telunjuknya di depan bibir: "Sssst, mengapa kautanyakan orang yang akan datang, dan tidak orang yang sedang datang?" Jaka tersentak. Ia kaget bercampur kagum akan ketinggian ilmu Pangrungu Kiai Dolah Pekih. Ia sudah bisa menangkap suara langkah orang beberapa detik sebelum pendengaran Jaka menangkapnya.
"Ada apa, Paman?" tanya Pandu keheranan. "Seseorang sedang mengendap-endap kemari," jawab Jaka. Pandu jadi mengkerut. Ia merasa seperti bocah kecil yang tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan kelihaian orang-orang kosen itu. Tatkala Jaka mengindera bunyi gemerisik sosok itu melompat ke genteng, Kiai langsung berteriak dengan sopan : "Silakan masuk melalui pintu depan. Kita tidak lucu lagi kalau setua ini main kucing-kucingan?"
Yang berasa di genteng tidak menjawab. Ia malah melompat turun dan suaranya makin jauh ketika orang itu tergesa-gesa menghilang. "Siapakah dia Kiai? Mengapa tiba-tiba melarikan diri?" tanya Jaka makin tidak mengerti, apalagi Pandu. "Engkau menanyakan dia, apa engkau tidak lebih tertarik kepada bunyi tapak kaki tiga orang yang sedang melangkah kemari? Satu orang diantaranya berkaki pincang, yang satu lagi jangkung?" "Apa?" Jaka terbeliak.
Bunyi langkah itu kini baru tertangkap oleh aji Wasis Rungu Jaka. Tentang yang satu pincang, Jaka tidak heran karena suara langkahnya memang berat sebelah. Tetapi bagaimana menebak bahwa yang satu jangkung? "Kau dengar bunyi langkah orang yang jangkung itu?" tanya Kiai seolah mengetahui apa yang dikagumi oleh Jaka. "Selalu terlambat satu atau dua detik dibandingkan dengan yang lain." Jaka mengangguk cerah kepada Kiai Dolah Pakih.
Ia mengucapkan terima kasih melalui anggukannya itu, sebab ia mendapat pengetahuan baru untuk mengetahui apakah orang itu jangkung atau pendek dari langkah kakinya. Memang orang jangkung yang panjang adalah kakinya. Karena itu, pijakan kakinya pasti lebih lama jaraknya daripada yang pendek. Pandu Nayarana dan ketiga putra Kiai cuma diam saja, tidak berusaha melibatkan diri dalam pembicaraan antara Kiai dan Jaka, menyadari bahwa ilmu mereka masih kalah jauh.
Mereka tidak mendengar suara apa-apa kecuali desiran angin malam yang dingin. "Nah, sekarang ada kejadian menarik. Coba jelaskan apa yang menurut pendapatmu, barangkali sama dengan pendapatku, sebagai kejadian yang menarik?" tanya Kiai Dolah Pekih kepada Jaka. Pendekar muda itu mengerti bahwa Kiai sedang menguji kemampuannya. Jaka menegakkan daun kupingnya dan berusaha meningkatkan daya dengarnya.
"Dua orang asing tiba-tiba melompat menghadang perjalanan ketiga orang tadi," jawab Jaka sedikit ragu-ragu. "Betul," ujar Kiai membenarkan. "Lalu...?" "Mungkin mereka sedang sapa-menyapa atau berunding, karena tidak ada bunyi langkah yang ditapakkan, berarti mereka berdiri diam di tempat masing-masing." "Cocok." "Yang dua orang nampaknya lantas pergi menghindar dengan buru-buru. Sedang yang tiga orang melanjutkan perjalanan sambil berpencaran, saling berjauhan satu sama lain." "Bagus," sambut Kiai gembira.
"Engkau memang patut menjadi pendekar sejati." "Mengapa mereka berjauh-jauhan, Kiai?" tanya Jaka mengalihkan diri dari pujian yang membuat wajahnya merah padam tadi. "Sebentar lagi juga engkau akan memperoleh jawabannya," ucap Kiai tanpa mengacuhkan pertanyaan Jaka. "Bagaimana? Sudah bisa mengira-ngira?" "Ya, Ya. Kini saya paham," ujar Jaka riang. "Rupanya barusan mereka diberi tahu ada musuh yang menghadang di tengah jalan. Yang dikuatirkan itu ternyata memang benar."
"Maksudmu?" tanya Kiai. "Musuh itu tersebut." sudah menghalang-halangi ketiga orang "Berapa jumlahnya?" "Yang maju ke depan baru satu orang," sahut Jaka. "Itulah yang tadi hendak mengintip dari genteng. Adapun kedua orang yang kaukatakan berunding dengan mereka, adalah dua pendatang yang beberapa waktu berselang ikut bersembahyang Isya bersama kita." Pandu Nayarana kian kagum kepada paman angkatnya. Demikian pula ketiga orang putra Kiai Dolah Pekih.
Umur ksatria yang sudah mereka kenal julukannya itu, Santri Putih Bertangan Besi, tidak terpaut jauh dari usia mereka, namun kepandaiannya hampir berimbang dengan ayah mereka. Hebat! "Apa lagi yang kaudengar?" tanya Kiai tidak sabar. "Tidakkah kita perlu menolong ketiga orang itu, Kiai?" tanya Jaka dengan cemas. "Mengapa?" "Sebab, di samping seorang musuh yang maju berterangterangan, saya mendengar ada empat orang lainnya yang sekarang mengepung dari segala jurusan."
"Betul dugaanmu. Tapi engkau tak perlu kuatir. Tinggal beberapa detik lagi sudah pukul sembilan, bukan? Nah, pada saat itu mereka bertiga akan memperoleh bantuan dari seorang pendekar yang cukup tangguh." Namun Jaka tidak bisa menghibur diri untuk tidak merasa waswas. Dari bunyi pertempuran yang kini mulai berkecamuk, jelas sekali betapa ketiga orang itu berada di bawah angin. Orang yang pincang rupanya dikepung oleh dua orang, begitu juga yang jangkung.
Agaknya hanya si pendek yang bertempur satu lawan satu dengan penyelusup yang belum lama tadi bermaksud menguping pembicaraan Jaka dan Kiai Dolah Pekih dari genteng. Tetapi persis apa yang diperkirakan oleh Kiai Dolah Pekih, beberapa saat menjelang pukul sembilan tepat, terdengar bunyi telapak kaki kuda menjejak bumi bagaikan sembrani sedang melesat dengan cepatnya. Begitu mendekati arena pertempuran, si pengendara kuda melompat dari tunggangannya, dan langsung terjun ke dalam kancah pertarungan.
Kehadirannya membangkitkan semangat juang ketiga orang yang hampir terdesak hebat itu, sehingga dalam beberapa gebrakan mereka telah lolos dari posisi terjepit. Jaka sangat gembira. Apalagi ketika kemudian ia mendengar dari kacaunya pijakan-pijakan kaki yang tertangkap oleh aji Wasis Rungunya, bahwa kelima orang penghadang tadi tergesa-gesa menyelamatkan diri, Jaka sungguh amat lega. Mereka telah bertempur dengan dahsyat, namun penghabisannya tidak seorang pun yang tewas.
Meskipun Jaka tidak dapat membayangkan, bagaimana seandainya keadaan terjadi kebalikannya, bila kelima penjahat tersebut yang memegang kartu di atas meja. Mungkin, jika kedatangan si penunggang kuda terlambat beberapa menit saja, sudah akan jatuh korban yang gugur di pihak ketiga orang yang dihadang itu. Karena situasi sudah terdengar tenang, Jaka bermaksud menanyakan, siapakah orang-orang itu, baik yang dihadang maupun yang menghadang, dan juga siapakah pengendara kuda yang ilmunya cukup tinggi itu.
"Sebentar lagi kalian akan mengetahui persoalannya. Tunggu saja, mereka mulai berjalan kemari," ujar Kiai memotong rasa ingin tahu Jaka. Mereka tidak perlu lama-lama menunggu. Sebab keempat orang tersebut kini telah berdiri di ambang pintu. "Ayo, masuk, tidak usah segan-segan," ujar Dolah Pekih dari tempatnya duduk. Yang muncul mula-mula adalah si penunggang kuda yang cekatan itu.
Pandu segera menandainya sebagai agen Santri Pitulas yang juga menjadi anggota Keris Bersilang, selain agen yang satu yang telah menolongnya dan sering dihubunginya, tetapi belum cukup jelas dikenalnya. Yaitu yang menjadi anggota Ki Lurah Brajanala. Ketika sesudah itu tiga orang lainnya masuk ke dalam rumah Kiai Dolah Pekih, Pandu dan Jaka terbelalak heran. Bukankah mereka si penjual cendol, si pedagang jagung, dan si penjaja bajigur? Bukankah mereka sudah terbunuh? Pandu sampai mengucak-ngucak matanya, curiga kalau-kalau pandangannya sudah tidak waras. Namun tidak. Mereka memang ketiga agen di Desa Bagus Kuning yang telah dibantainya satu demi satu.