Chapter 16
Karena untuk selanjutnya semua wewenang itu akan kulimpahkan kepada yang lebih muda sesuai dengan petunjuk dari pusat, yaitu kepada Ananda Jaka Pratama alias Santri Putih Bertangan Besi. Demi mendengar ucapan tersebut, Jaka mengangkat kepalanya, sementara yang lain kelihatan berwajah cerah menandakan bahwa mereka puas bakal dipimpin oleh tenaga muda yang berpengalaman, apalagi pernah menjabat ketua pasukan Santri Pitulas pada masa bujangannya dulu.
Kiai berkata, "Kepada Jaka Pratama aku menitipkan ketiga anakku yang lahir kembar ini, karena mereka juga termasuk anggota yang harus kaumanfaatkan tenaganya. Sedangkan aku akan mengawasi dari jauh, dan pasti akan membantumu sewaktu-waktu. Yang jelas, tempat ini mesti segera kita tinggalkan, sebab kurasa sudah tidak aman lagi. Bukan kita takut, melainkan demi menjaga kerahasiaan dan keberhasilan tugas kita."
"Boleh saya bertanya, Kiai?" tanya Jaka memotong. "Silakan," jawab Kiai. "Sebenarnya tugas apa yang harus saya laksanakan?" Kiai tidak menjawab. Ia mengambil secarik kertas dari kantung bajunya. "Tugas itu tercantum jelas dalam kertas ini," katanya seraya menyerahkannya kepada Jaka.
"Ingat, Jaka," ujar Kiai seterusnya. "Masih ada beberapa orang lagi anak buahmu yang akan bergabung belakangan. Semua tercantum namanya di kertas itu, dan anggaplah catatan pada kertas yang berhasil dirampas oleh para penjahat dari tanganmu beberapa waktu yang lalu sebagai tidak ada lagi, karena memang rencana telah kita rombak kembali sehubungan dengan terjadinya musibah itu. Pada catatan yang baru ini, selain kaudapati sejumlah nama para anggota dan calon-calon anak buahmu lengkap dengan perincian tugas masing-masing sepanjang keadaan memungkinkan, juga bisa kaujumpai ciri-ciri khusus pada mereka untuk kamu cocokkan kebenarannya."
"Terima kasih, Kiai," sahut Jaka terharu. Ia tidak hanya bangga diserahi kepercayaan memimpin tugas suci ini, namun juga sangat berterima kasih terhadap para wali yang masih menganggapnya sebagai orang sendiri. "Nah, berangkatlah malam ini juga. Sekitar dua jam berjalan dari sini, ada belokan sungai pertama yang kalian jumpai, telah kusediakan enam ekor kuda untuk Harjo, Harno, dan Hargo, serta buat ketiga anakku, Kembar Ula, Kembar Wusta, dan Kembar Sugra. Jalanlah berpencar, paling banyak bertiga atau berdua-dua. Besok subuh aku masih akan menemuimu di sebuah surau terbengkalai yang terletak satu jam berkuda sebelum memasuki Desa Tirto Waringin. Aku menunggu kalian disana sebagai batu ujian terakhir, apakah kalian dapat mengemban tugas berat ini atau tidak."
Sesudah menyampaikan pesan-pesan tersebut, Kiai Dolah Pekih segera berpamitan untuk berangkat lebih dulu. Dengan ketiga putra kembarnya ia berpelukan lama, karena baru malam inilah ayah dan anak saling berpisah. Mata ketiga kembar masih merah dan basah tatkala Kiai Dolah Pekih sudah tidak nampak lagi bayangannya.
Jaka kemudian mengambil alih pimpinan dan berkata, "Yang jalan kaki bertolak di depan. Saya rasa Paman Harjo, Harno, dan Hargo lebih baik berangkat bertiga, disusul oleh Dinda Kembar, juga bertiga dengan selang waktu lima menit, agar dapat saling melindungi dan berhubungan setiap saat. Diperkirakan dalam satu jam dapat menyusul yang telah berangkat lebih dulu dengan jalan kaki, sehingga setengah jam kemudian sudah tiba di belokan sungai yang kita tuju sebelum para pejalan kaki sampai di sana. Insya Allah akan saya usahakan agar kami tiba di belokan sungai itu tepat pada waktunya."
Semua yang mendengarkan petunjuk ini mengangguk-angguk kagum terhadap kerapian dan kecermatan Jaka Pratama dalam mengatur rencana keberangkatan mereka. Apabila tidak ada halangan berarti, pasti ketepatan waktunya terjaga dan keselamatan mereka terjamin. Karena itu, ketika kemudian berturut-turut mereka melaksanakan giliran masing-masing, tersembul keyakinan yang kukuh akan keberhasilan gerakan mereka, yaitu melindungi keamanan bandar Jepara dari rongrongan kaum separatis yang hendak menggagalkan misi angkatan laut Demak untuk menghadapi armada Peringgi, di samping melacak dan menghancurkan biang keladi penyebar pembangkangan.
Setelah semuanya berangkat seperti yang direncanakan, Jaka segera menggamit tangan Pandu muda, dan mengajaknya menaiki kuda mereka sebelum saat yang ditetapkan tiba. Ketika Pandu memandang heran, seolah mempertanyakan mengapa Jaka melakukan hal yang seperti itu, padahal ia sendiri yang telah mengatur pembagian isyarat waktunya, ksatria itu menjawab dengan "Ssst, ada yang akan kuperlihatkan kepadamu." Tanpa banyak bertanya lagi Pandu lalu melompat ke punggung kudanya setelah Jaka duduk di atas Karbala.
Yang aneh, Jaka bukannya memacu Karbala dengan cepat, melainkan membawanya berputar-putar mengitari danau kecil di ujung jalan. Sekali putaran, Jaka tiba-tiba menghentikan kudanya sampai Pandu terkejut dan hampir menerjang kuda Jaka. Sebelum Pandu mengerti apa tujuannya, Jaka sekonyong-konyong menggebah Karbala dan memacunya dengan kencang selama beberapa menit. Setelah itu ia berhenti mendadak. Pandu, walaupun masih tetap kebingungan, namun dengan patuh dan cekatan menuruti apa yang dikerjakan pemimpinnya itu.
Sampai ia tak tahan lagi dan bertanya bingung, "Sedang apa-apaan Paman Jaka ini?" ucap Pandu mendongkol. "Ssst, tenang saja. Sebentar lagi engkau juga akan tahu sendiri," sahut Jaka masih dengan gayanya yang kalem. "Apa kita tidak harus menyusul buru-buru?" bantah Pandu tidak puas. "Masih tersedia waktu untuk melihat tontonan yang bagus," jawab Jaka seenaknya. "Tontonan apa?" "Kita akan menonton orang yang sedang menonton kita. Ada dua orang," sahut Jaka dengan suara rendah namun bernada nyaring, maksudnya supaya bagi yang dekat terdengar biasa, tetapi buat orang jauh tertangkap nyata.
Mendadak Pandu terperanjat tatkala ia hendak menanyakan masalah itu lebih lanjut kepada Jaka, karena terdengar suara ketus menyahut dari suatu tempat yang cukup jauh, "Tidak perlu kalian tonton. Kami bukan barang tontonan." Suara itu membuat Jaka pucat pasi, padahal tadinya ia kelihatan berseri-seri, malah hendak tertawa terbahak-bahak. Mengapa begitu ganjil sikap Jaka? "Kurang ajar," gumam Jaka dalam hati. Ternyata putri lurah Janur Kemukus.
Gumam Jaka tersebut kian mengeras pada saat penciumannya mengendus bau wangi kembang melati yang menusuk hidung. Pandu baru sadar dan bertanya, "Bau hunga melati? Sedap betul. Kembang dari mana yang begini harum?" "Jangan omong semaumu, bocah cilik. Kukemplang nanti kepalamu," bukan Jaka yang menjawab pertanyaan Pandu, melainkan suara tadi yang naik pitam, suara seorang gadis.
Pandu masih muda. Jadi ia cepat marah, "Sayang, kedengarannya engkau seorang gadis." "Kalau aku lelaki mau apa? Aku lebih suka perempuan, tahu?" suara itu menjawab lagi. "Sudahlah, kita sudah kepergok, lebih baik pergi saja," seseorang lainnya kedengaran mencegah. Kini suara seorang pemuda, yang begitu pelannya sehingga Pandu tidak mendengarnya. Hanya dengan kepekaan aji Wasis Rungu saja Jaka dapat menangkap suara yang lembut dan sabar itu.
Namun, sebelum berlalu dari tempat itu, ia berteriak nyaring, "Hai, anak muda, jangan merasa diri tampan, ya. Aku kemari bukan tertarik kepadamu. Aku hanya mau membantu pekerjaan Santri Putih Bertangan Besi, dan bukan membantu kamu." Lalu sesaat berikutnya, kedengaran suara dua ekor kuda yang dilarikan menjauh dengan meninggalkan dentaman kaki-kaki di hati Jaka sampai ksatria muda itu berdebar-debar memikirkan sepak terjang gadis itu, yang pernah ditolongnya di Bagus Kuning, namun ia belum tahu apa tujuan gadis itu yang sebenarnya.
"Siapa mereka, Paman?" tanya Pandu kian heran. Jaka juga sama tidak mengertinya. Ia cuma menyahut, "Yang jelas belum berbuat buruk kepada kita." "Jika mereka merencanakan jebakan?" "Kita sanggup menghadapinya," jawab Jaka tenang. "Kalau mereka banyak teman?" tanya Pandu mendesak. Ia betul-betul kuatir, jangan-jangan kedua orang itu mempunyai beberapa kawan yang jahat. Bila benar, bukankah tugas mereka bakal menghadapi hambatan yang amat berbahaya?
Kembali Jaka memperlihatkan ketenangannya. Ia malah bertanya pelan, "Pandu memperhatikan langit yang makin terang?" "Ya. Udara cerah, sehingga langit tambah bersih," jawab Pandu. "Apa ada margasatwa beterbangan terkejut?" "Saya lihat tidak ada, dari tadi," jawab Pandu masih belum paham. "Artinya tidak ada yang membuat mereka ketakutan. Dan itu bisa diterjemahkan bahwa mereka memang hanya berkuda, berdua saja, tidak disertai sejumlah anak buah atau orang-orangnya," sahut Jaka menjelaskan keterangannya.
Pandu kini tahu maksud paman angkatnya itu. Dan ia berterima kasih telah memperoleh pengetahuan baru. Terbukti kemudian perhitungan Jaka tidak meleset. Tepat pada waktunya, Jaka dan Pandu telah berkumpul dengan para anggota yang lain di belokan sungai yang dijanjikan. Kedelapan orang yang sudah tiba lebih dahulu telah menunggu kedatangan Jaka dan Pandu dengan hati berdebar-debar.
Mereka tidak sempat bertanya-tanya tentang perjalanan masing-masing, karena Jaka langsung membagi tugas, "Kita ditunggu Kiai di Desa Tirto Waringin pada waktu Shubuh besok. Berarti kesempatan untuk berleha-leha tidak ada sama sekali. Kita harus bergerak buru-buru.