Chapter 17
Masing-masing dipimpin oleh seorang Kembar. "Bagaimana pikiran Dimas sekalian?" Kembar Ula yang segera menjawab, mewakili kedua saudaranya: "Barangkali begitulah yang diinginkan romo kami. Sebab jalan yang biasa ditempuh orang umum memakan waktu lama, hingga siang besok baru tiba di tempat tujuan."
Sedangkan sebetulnya ada tiga jurusan jalan pintas yang mungkin hanya kami sekeluarga yang mengetahuinya. Sungguh aneh dan menakjubkan firasat yang dipunyai Jaka Pratama, seolah-olah ia sudah tahu bahwa perjalanan ke Desa Tirto Waringin dapat ditempuh dengan empat macam jalan, yang satu jalan biasa, sedangkan ketiga lainnya merupakan jalan pintas.
Boleh jadi keputusan yang diambil Jaka ini adalah yang dimaksudkan sebagai batu ujian oleh Kiai Dolah Pekih. Andaikata masih banyak lagi ujian berikutnya, berarti Jaka telah lulus melewati ujian permulaan. Oleh Jaka, rombongan itu diatur menjadi kelompok pertama, dipimpin oleh Kembar yang bernama Ula, terdiri atas Harjo dan Atma Sanjaya.
Rombongan kedua beranggotakan Kembar yang bernama Wusta, Harno, dan Praja Karana. Sedangkan yang ketiga adalah Kembar termuda, Sugra, bersama Hargo dan Pandu Nayarana. Adapun Jaka sendiri, dengan berpedoman gambaran selintas mengenai ketiga jalan pintas tersebut, akan bertindak selaku pengawas, yang akan diusahakannya agar ia dapat mondar-mandir menemui ketiga rombongan itu, sampai mereka tiba dengan selamat di Tirto Waringin.
Untuk giliran pertama Jaka akan mengikuti rombongan Kembar Ula, yang segera bertolak menempuh jurusan jalan yang dituntun oleh putra tertua Kiai Dolah Pekih tersebut. Demikian pula kedua kelompok lainnya. Selama setengah jam Jaka mengiringkan kelompok ini. Memang mereka harus melewati perjalanan yang cukup sulit, namun terkesan oleh Jaka bahwa arah yang dilalui betul-betul potong kompas.
Maka dengan lega hati Jaka melepisahkan diri dari rombongan itu, dan beralih menuju rombongan ketiga yang dipimpin oleh putra bungsu Kiai Kembar Sugra. Untuk perjalanan bolak-balik tersebut ternyata Karbala mampu membuktikan kelincahan dan kecerdasannya. Si gagah itu benar-benar merupakan kuda andalan yang tidak rugi jika dipertahankan keselamatannya dengan segala daya upaya.
Memang nampaknya sudah menjadi hukum alam bahwa perjuangan mencapai cita-cita kebaikan tidak akan pernah sepi dari halangan dan godaan. Tepat sekali apa yang pernah diucapkan oleh Nabi saw., bahwa jalan menuju surga selalu dipenuhi dengan kesulitan dan ancaman, sementara jalan menuju ke neraka dihiasi dengan keindahan dan kenikmatan.
Buktinya, tatkala Jaka dan kelompoknya tengah berusaha mati-matian untuk mengamankan berlangsungnya pekerjaan di Jepara dalam rangka mempersiapkan armada yang tangguh guna memerangi angkatan laut Peringgi, yang menurut berita terakhir sudah mulai mengepung dan menggempur Samudera Pasai, sekelompok bajingan yang diperkuat dengan beberapa pendekar hitam yang licik dan tinggi ilmunya sedang merencanakan usaha sabotase dan penghancuran terhadap armada Demak yang akan dipimpin oleh putra Sultan, Pangeran Sabrang Lor.
"Bagaimana usulmu, Saudara Liem?" tanya seorang laki-laki jangkung yang memimpin pertemuan di sebuah rumah yang terletak di Pecinan bandar Jepara itu. Yang ditanya, bermata sipit dengan rambut berkuncir di kepalanya, menjelaskan, "Oweh sudah kasih tahu, beberapa peralatan yang diperlukan untuk memperbaiki kapal-kapal itu dipesan kepada misanan oweh, Liem Goan Phok."
"Maksudmu, yang akan dikirimkan nanti alat-alat yang rapuh dan sudah tua-tua?" tanya anggota rapat yang lain, seorang pria kekar dengan sepasang mata burung gagak. "Sudah. Tidak mungkin. Sebab tukang-tukang yang ditugaskan mengerjakan perbaikan kapal-kapal itu tidak hanya ahli dalam bidang mereka, tetapi juga sangat setia kepada Sultan," jawab Liem, yang julukannya dikenal di kalangan para jagoan sebagai Liong Hitam dari Hainan.
"Mereka tidak bisa ditipu, apalagi disuap. Mereka amat teliti." "Jadi apa rencanamu, Saudara Liem?" tanya pemimpin rapat. "Kuli-kuli yang membawa barang-barang pesanan itu saja yang kita ganti," jawab Babah Liem. "Bagus. Aku setuju," sambut pemimpin rapat, si jangkung yang mukanya selalu bertopeng.
"Bagaimana pendapat Saudara-Saudara yang lain?" Ia mengarahkan pertanyaan itu kepada para peserta rapat yang terdiri atas berbagai golongan, sejumlah dua belas orang. Dengan serempak mereka menjawab: "Setuju!"
"Tapi bagaimana pendapat misanmu itu? Apa ia bersedia menukar kuli-kulinya dengan menyerahkannya kepada kita?" tanya si jangkung. "Itulah kesulitan oweh. Misanan oweh itu orangnya jujur dan beragama Islam. Susah diajak kerja yang katanya kotor-kotor," sahut Babah Liem murung.
"Hahaha... Babah gampang. Yang pengirimannya ke mana!" tiba-tiba pemimpin rapat tertawa. Liem tidak perlu bingung. Soal itu penting kita tahu kapan saat-saat kawasan pelabuhan, dan melalui jalan "Apa maksudmu hendak menghabisi nyawa Liem Goan Phok?" tanya Babah Liem cemas.
Betapapun jahatnya si Liong Hitam dari Hainan, tetapi rasa bersaudara masih dijunjung tinggi olehnya. Apalagi Liem Goan Phoklah yang mula-mula menolongnya ketika ia dikejar-kejar serdadu Demak akibat perbuatan cabulnya hendak memperkosa seorang gadis kampung. Untung perkosaan itu belum terjadi, hingga usaha Liem Goan Phok menyelamatkan nyawanya tidak begitu mengalami hambatan.
"Goblok kalau aku membunuh saudara misanmu itu. Dia malah harus kita pelihara dan kita baik-baiki. Yang kita garap kuli-kulinya," jawab si jangkung. "Syukurlah," ucap Babah Liem lega.
"Seperti kemarin malam, setelah selesai rapat ini, semua harus kembali ke pos masing-masing. Besok kita berkumpul pada jam yang sama, di pos dua belas. Tugas Babah Liem yang harus dilaporkan besok malam adalah menyelidiki rencana pengiriman perlengkapan berikutnya, ucapan dan melalui jalan mana. Dalam rapat besok supaya sudah bisa kita tentukan rencana yang matang untuk memulai gerakan ke dalam kawasan pelabuhan Jepara," ujar si jangkung menutup pertemuan malam itu.
Lalu, dengan gerakan yang cepat dan ahli mereka menyelinap keluar dari rumah itu, yakni rumah kosong di daerah Pecinan kepunyaan saudagar Liem Goan Phok, yang buat sementara waktu ditempati oleh saudara misannya, Liong Hitam dari Hainan, atau nama sehari-harinya Liem Hoat Nyan.
Paginya, kota Jepara telah hidup semenjak matahari mulai berangkat naik. Pasar Jepara yang sibuk menandakan kehidupan masyarakatnya yang serba tercukupi kebutuhannya. Mereka tidak cuma mampu menjual, tetapi juga mampu membeli. Kesanggupan untuk berjual-beli itulah yang meramaikan kegiatan pasar.
Yang termasyhur dari kota Jepara adalah barang-barang ukiran hasil keterampilan para ahli ukir setempat. Tidak dapat dimungkiri, keahlian penduduk pribumi dalam pekerjaan ukir-mengukir berasal dari negeri Cina yang diwariskan oleh Kiai Telingsing kepada para santrinya. Dan Kiai Telingsing yang bijaksana serta taat beribadah itu adalah seorang babah muslim yang nama aslinya The Sun Ging.
Jadi tidak terlalu mengherankan ialah di kota Jepara suasana kehidupan yang harmonis dan membaur antara penduduk asli dengan para pendatang dari negeri Cina sudah berlangsung demikian akrab dan alamiah. Di Pecinan, misalnya, bisa ditemukan dalam berbagai kegiatan, betapa orang-orang bermata sipit dengan kulit tubuh yang berwarna pucat bekerja bahu-membahu dengan penduduk bermata bundar yang berkulit seperti buah sawo menjelang masak.
Jarak dari pasar ke pelabuhan sebetulnya tidak berapa jauh. Tetapi tidak seperti biasanya, hari-hari terakhir ini penjagaan untuk memasuki daerah pelabuhan diperketat hingga beberapa kali lipat. Tidak ada yang lebih sibuk hari itu kecuali taoke kaya Liem Goam Phok. Ia harus menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan perbaikan sepuluh kapal yang akan segera berlayar menuju Malaka dan Samudera Pasai.
Untuk itu ia mengangkat beberapa tangan kanan, dipimpin oleh saudara misannya yang pandai dan cekatan, Liem Hoat Nyan. Laki-laki setengah umur yang bahasa Jawanya masih berantakan ini tampaknya memang biasa-biasa saja. Namun dari matanya yang tajam dan pundaknya yang tegap, orang dapat mengukur kecerdasan dan kekuatannya.
Itulah yang membuat Babah Liem Goan Phok sangat percaya kepadanya dalam segala urusan. Pagi itu ia dipanggil babah taoke di tengah kesibukannya melayani para langganan yang sedang menaksir barang-barang kelontongnya. "Hoat Nyan, untuk mengantarkan papan-papan nanti malam, engkau harus pilih betul kuli-kuli yang dapat dipercaya. Jangan sampai ada orang jahat masuk. Kalau tidak, kita semua bakal celaka," ujar Babah Liem dengan keras.
"Koh Goan Phok tidak usah kuatir. Selama ini oweh kan tidak pernah salah?" sahut Hoat Nyan atau yang diam-diam di kalangan gerakan rahasia dikenal dengan julukan Liong Hitam dari Hainan. "Kamu tahu, apa taruhannya jika kita kebobolan orang-orang jahat?" Hoat Nyan segera menggeserkan jari telunjuknya ke leher, "Mati."
"Bukan hanya kita, tetapi seluruh keluarga kita. Sebab yang akan diperbaiki adalah kapal-kapal perang dan menyangkut nasib Kerajaan Demak," lanjut Liem Goan Phok. "Kita harus memahami, kalau sampai ada usaha busuk menjegal pekerjaan itu, jelas wibawa Kerajaan Demak akan hancur." "Oweh paham, Koh. Jangan kuatir," sahut Hoat Nyan.