Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 18

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 18

Ia sebenarnya tengah dilanda kecemasan di hatinya.

Dari pembicaraan singkat itu bisa diketahui betapa hati-hatinya Babah Liem mengurus pesanan angkatan laut Demak tersebut.

Itulah yang membuat pihak penguasa sangat mempercayainya, dan merasa tidak perlu untuk ikut campur memeriksa atau meneliti secara ketat, kecuali sekadar kewaspadaan rutin saja.

Dan hal ini pula yang sedang diperbincangkan oleh Kiai Dolah Pekih dengan Jaka Pratama beserta seluruh anak buahnya, yakni sesudah mereka dengan selamat dapat berkumpul di Desa Tirta Waringin, setelah melalui perjalanan malam yang menegangkan.

"Jadi, apa keberatan Romo Kiai?" tanya Jaka tentang ganjalan perasaan yang membebani hati Kiai Dolah Pekih.

Sambil mengerutkan kening, Kiai menjawab, "Barangkali karena terlalu dikejar oleh waktu dan kurangnya punggawa yang dibutuhkan, Pangeran Sabrang Lor tidak begitu hati-hati dalam menyelesaikan persiapan untuk pemberangkatan armadanya."

"Sembrono?" desak Jaka tidak sabar.

"Bukan, bukan sembrono. Hanya kurang cermat."

"Misalnya?"

"Dalam memilih tenaga pekerja, termasuk kuli-kuli, beliau tidak memerintahkan untuk melakukan penelitian yang saksama, umpamanya asal-usul, latar belakang, dan riwayat masa lalu mereka. Buat pekerjaan sepenting itu mestinya harus ditelusuri hingga kepada yang sekecil-kecilnya." Jawab Kiai Dolah Pekih.

"Benar juga pendapat," ucap Jaka menguatkan. Ia makin hormat terhadap kebijakan orang tua yang cermat itu.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

"Sebetulnya aku khawatir, kalau-kalau rencanaku dianggap terlalu jauh melampaui wewenang tugas yang kita terima. Namun aku berpikir, sepanjang misi kita adalah menyelamatkan keberangkatan armada Demak agar tidak terkendala kelancarannya, maka betapapun kelak Pangeran Sabrang Lor menyalahkan kita, masih ada hak untuk membela diri buat kita."

Tiba-tiba Pandu, anggota termuda, menyela pembicaraan mereka, "Kiai tidak usah ragu-ragu."

"Bagi kejayaan angkatan laut Demak menghadapi tentara kafir Peringgi, berkorban nyawa pun tidak sia-sia. Maksud saya, sampai pun misalnya nanti kita dituduh bersalah oleh Pangeran dan dijatuhi hukuman mati, saya rela, Kiai."

"Hahaha," sambut Kiai dengan tertawa menandakan kegembiraannya.

"Yang kita butuhkan memang tekad semacam itu. Jadi, kalian rela seperti yang diikrarkan oleh Pandu Nayarana?"

Semua serempak menyetujui ikrar itu.

Mereka berpendapat, apalah artinya tetap hidup apabila Kerajaan yang mereka khidmat runtuh kewibawaannya?

Nyawa mereka sebagai pribadi-pribadi kawula Demak tidak akan ada maknanya tanpa didasari kebesaran Kerajaan yang mereka junjung.

"Kalau begitu, dengarkan rencanaku baik-baik, jangan sampai ada yang salah melakukannya. Setiap orang akan mendapat tugas yang cukup berat dan berbahaya. Tantangannya adalah nyawa kalian."

Lalu dengan bisik-bisik Kiai membentangkan siasat yang telah dirancangnya.

Semua mendengarkan dengan teliti dan mencatat yang kira-kira perlu serta tidak mengundang risiko bahaya seandainya catatan itu jatuh ke tangan musuh.

Sesudah mereka memahami tugas masing-masing, Kiai lalu berpesan, "Kalian boleh memacu kuda secepat mungkin untuk tiba di kampung Cuplak sebelum petang. Dari sana, sesudah pertemuan kita yang terakhir, kalian harus masuk ke Jepara dengan jalan kaki."

Berbareng saatnya tatkala mereka menjawab setuju, pada saat itu pula seseorang menyerbu masuk dengan menghamburkan bau wangi, sementara seorang lainnya berjaga-jaga di luar.

Yang tampak tenang hanya Kiai Dolah Pekih.

Hingga orang bisa curiga, bahwa kedatangan kedua penyerbu itu memang sudah diharapkannya, atau setidak-tidaknya telah diketahui sebelumnya.

"Kalian ternyata amat teledor. Andaikata yang masuk bukan saya, tidakkah kalian sudah tewas semuanya?" damprat si penyerbu, seorang gadis cantik berusia sekitar tujuh belas tahun.

"Karena yang masuk engkau, maka engkaulah yang akan habis di sini," tiba-tiba Pandu menjawab, sebelum ada yang bisa mencegahnya.

Ia sudah keburu merentangkan tangannya hendak meringkus gadis itu, sebab suara yang didengar dari gadis itu, bau yang menyebar dari gadis itu, mengingatkannya akan suara centil yang pernah mendampratnya kemarin malam dengan nada kurang ajar.

"Hem, agaknya engkau mau berkenalan dengan majikan cantikmu ini, ya," sahut si gadis seraya menghindar dengan sigap.

"Ayo, kita bertempur di luar."

Tanpa menunggu jawaban lagi, gadis manis yang masih remaja itu segera melompat keluar.

Ia tegak dengan sikap tempur yang kukuh, menandakan kemampuan berkelahinya yang memadai.

Di sebelahnya juga berdiri dalam sikap yang sama seorang anak muda berusia sebaya.

Pandu, sebagai pemuda yang sedang panas-panasnya, tanpa meminta izin lagi, telah bersiap hendak melayang keluar ruangan, tetapi Kiai sudah bergerak mendahuluinya.

Di luar Kiai langsung menghardik, namun dengan suara bernada orang tua terhadap cucunya yang nakal, "Genduk ayu, kelakuanmu kok masih gerabak-gerubuk begitu. Kamu kira aku tidak tahu siapa engkau? Kita tengah dikejar waktu. Jangan memperlambat urusan. Serahkan kepadaku surat itu."

Gadis itu mendadak kelabakan. Ia seperti pencuri tertangkap tangan. Waktu ia hampir kehilangan keseimbangan, Jaka muncul pula dari dalam, menyusulnya.

"Maksud saya hanya ingin..." ucap gadis itu terpotong di tengah. Karena Jaka sekonyong-konyong memutus kalimatnya dengan berkata: "Itulah sebabnya engkau tidak kuringkus tadi malam. Sebab aku tahu engkau tidak bermaksud buruk," ucap Jaka.

Kiai menoleh, memandangi Jaka.

Orang tua itu berkata, "Jadi engkau pun mengetahui apa yang dilakukannya tadi malam?"

Pertanyaan ini lebih menunjukkan kekaguman Kiai akan kecerdasan dan kelihaian Jaka daripada sekadar keheranan.

Gadis itu lebih-lebih lagi.

Ia tidak cuma kagum, melainkan tidak percaya, dan kini bahkan memuja-muja Jaka, seolah-olah malaikat yang tahu segala-galanya.

"Engkau telah mempertaruhkan jiwamu untuk merebut surat itu dari tangan dua orang anak buah Keris Bersilang, tadi malam, ketika burung merpati yang membawa surat itu menuju kemari dipanah oleh kedua orang itu. Engkau berhasil merebutnya setelah membunuh mereka dengan mengorbankan lengan kirimu yang tersabet pedang, dan pinggang kanan kawanmu itu yang terserempet tombak. Betul, bukan?" ucap Jaka selanjutnya.

"Oh, maafkan kebodohan saya yang menganggap Tuan-Tuan sebagai orang-orang teledor yang tidak tahu apa-apa," jawab gadis itu kian gelagapan, dengan wajah makin pucat karena rasa malunya.

Namun toh ia senang, sebab ternyata kegegabahannya dipuji oleh orang yang dipujanya, Jaka Pratama.

"Inilah surat itu," sahut si gadis sembari mengeluarkan secarik kertas tergulung kecil kepada Kiai Dolah Pekih.

"Kau tahu, Genduk manis, surat inilah yang kami tunggu-tunggu," jawab Kiai gembira, membikin si gadis kian bangga dengan perbuatannya.

"Ayo, kita masuk kembali," ujar Kiai seterusnya.

"Dan kau, Genduk, juga kawanmu itu, karena kalian berdua sudah banyak tahu urusan kami, kepalang basah, kalian kuterima jadi anggota kami."

"Kiai!" Pandu memekik kecil, memprotes keputusan Kiai. Ia kurang senang terhadap gadis itu.

"Sudahlah, nanti engkau akan menyetujui keputusanku ini, kalau sudah kuceritakan siapa dia dan kawannya itu, serta mengapa mereka kuangkat jadi anak buah kita," sahut Kiai dengan tegas.

Andaikata gadis itu diam saja, di belakang hari takkan ada persoalan apa-apa dengan Pandu.

Tetapi dasar gadis centil, mendengar ucapan Kiai yang membelanya, ia mencibirkan bibir seraya mengejek Pandu, "He! Tak tahu malu. Huh!"

Akibatnya Pandu jadi tambah geram dan menyimpan dendam kepadanya.

Untunglah pemuda itu bisa mengendalikan diri dan berjanji akan memperhitungkan dendam itu kelak, jika sudah ada kesempatan yang baik.

Sesampai di dalam, di depan seluruh anak buahnya, termasuk Jaka dan kedua pendatang tidak diundang tadi, Kiai berbicara dengan suara pelan namun menekan, menunjukkan betapa pentingnya perkara yang sedang dihadapi.

"Surat ini datang dari Jepara, dari agen kita yang bekerja sebagai mandor pada Babah Liem Goan Phok. Ada gerakan-gerakan mencurigakan dari saudara misan Babah Liem, yang bernama Liem Hoat Nyan."

Kiai diam sebentar, membuat yang lain kian tegang. Agaknya ia sedang berpikir, apakah urusan itu perlu dibentangkan seluruhnya atau tidak.

Sesudah ia yakin akan pendiriannya, barulah ia melanjutkan: "Gerakan macam mana yang tengah direncanakan, belum dapat tercium dengan jelas. Tetapi sejak semalam, banyak orang asing yang mencurigakan berdatangan ke kota Jepara. Padahal nanti malam ada pengiriman bahan-bahan perlengkapan yang amat penting untuk mempersiapkan sepuluh kapal yang tangguh guna mengimbangi kekuatan angkatan laut Peringgi di perairan Malaka dan Samudera Pasai. Jadi, yang harus kita jaga adalah keselamatan pengiriman bahan-bahan perlengkapan tersebut."

"Hem," Jaka menggumam. Ia tidak habis pikir, masih ada saja pengkhianat yang rela mengorbankan nasib bangsa dan negara hanya untuk kepentingan harta dan kedudukan.

"Siapakah kira-kira yang berdiri di belakang semua gerakan busuk ini?" tanya Pandu yang tidak kuat menahan gejolak perasaannya.

"Tidak usah Kiai yang menerangkan. Saya bisa menebak," potong si gadis menimbrung, membikin Pandu mendadak uring-uringan lagi.

Biarpun tidak terucapkan secara lisan, tetapi kentara sekali dari wajahnya yang berubah asam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment