Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 21

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 21

Seraya tetap hernia di punggung untanya, Badui itu menghardik sambil berkacak pinggang, menampilkan sikap paling kurang ajar: "Hai, siapa di antara kalian yang bernama Muhammad?" Tentu saja para sahabat naik darah melihat pemimpin mereka dihina, masjid mereka dikotori kaki-kaki unta.

Ali hendak mencabut pedang, tetapi Nabi mencegah, lalu menjawab ramah: "Sayalah yang bernama Muhammad." "Hem," Badui itu mendengus lebih kurang ajar.

Dan Nabi tersenyum lebih ramah, sementara amarah para sahabat lebih membeludak.

"Engkaukah yang mengajari manusia agar mempersaksikan tidak ada Tuhan kecuali Allah dan engkau adalah Utusan-Nya?" tanya Badui itu seraya mencibirkan bibir.

"Betul, saya," sahut Nabi tetap sabar.

"Engkau juga yang menyuruh manusia untuk sembahyang lima kali sehari?" tanya Badui itu makin kasar.

"Betul, saya," sahut sang Rasul makin sabar.

"Engkau pulakah yang menyuruh manusia supaya berpuasa dalam bulan Ramadan?" "Betul, saya." "Engkau juga yang menyuruh orang-orang kaya membayar zakat bagi fakir-miskin?" tanya si Badui kian tajam.

"Betul, saya," jawab Nabi kian sopan.

"Kalau begitu aku akan kembali kepada kaumku, dan menyuruh mereka supaya beriman dan menjadi pengikutmu." Ucap si Badui sembari mengeprak untanya dan melesat pergi tanpa pamit lagi.

Kesabaran sejenis itulah yang ditanamkan oleh para wali kepada segenap santri mengingat kedatangan Islam adalah untuk menyebarluaskan pesan-pesan perdamaian di antara seluruh umat manusia sehingga, menurut Sunan Bonang, di tengah-tengah Alquran terdapat sebuah kalimat pendek, "wal yatalatthof", yang artinya berlaku lembutlah.

Kalimat itu merupakan inti Alquran, teretak pada suatu tempat yang membagi Alquran menjadi penggal pertama dan penggal kedua bila dihitung dari jumlah ayat-ayatnya.

Itulah yang sekarang disematkan Jaka di dadanya sebagai pegangan perjuangannya.

Ia tidak pernah membenci sesama manusia karena berbeda agama.

Dan ia tidak mau mengangkat senjata karena alasan berbeda agama.

Nabi, menurut para wali, tidak pernah berperang hanya karena masalah perbedaan agama.

Nabi berjihad dengan senjata untuk memerangi kelaliman yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan atau melindungi si lemah dari aniaya kaum durjana.

Nabi juga cuma bersedia mencanangkan seruan perang untuk membela rakyat serta tanah air tercinta dari kesewenang-wenangan musuh yang membahayakan pemerintahan demi tegaknya kedaulatan dan hukum yang telah disepakati bersama.

Demikianlah pula yang dijadikan pedoman oleh Raden Patah atas bimbingan senopatinya, Sunan Kalijaga.

Kalau ia berniat memberangkatkan armada laut untuk memerangi kaum Portugis, bukan lantaran mereka menganut agama yang berbeda, melainkan semata-mata untuk memerangi kekafiran mereka, yakni kafir harbi yang gerak upayanya mengancam keutuhan bangsa dan integritas Nusantara yang suci ini.

Maka dengan pikiran semacam itu, Jaka Pratama lalu membuka bibirnya untuk tersenyum tatkala ia menjawab tulus, "Terima kasih atas keterangan Tuan." Siauw Sian Gin, bahkan dengan lebih tulus menyahut, "Terima kasih atas kepercayaan Tuan." Namun mendadak Jaka terpana di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa, pada waktu tiba-tiba Siauw Sian Giap mencabut pedang tipisnya dan dengan gerakan kilat menusukkannya hingga menembus bagian belakang perutnya.

Tatkala darah menyembur dan Jaka berniat menolong, Siauw Sian Giap, sembari tersenyum puas mencegah: "Jangan, jangan tolong saya.

Percuma," begitu ucapannya terpatah-patah sambil menyeringai menahan nyeri yang kian memuncak.

"Tapi... tapi..., mengapa Tuan melakukan itu?

Untuk apa...?" tanya Jaka malah lebih terpatah-patah dan lebih nyeri, di relung hatinya.

"Biarkan saya menghadap Thian Maha Agung secara ksatria.

Saya... saya bahagia dapat berjasa bagi tuan, namun saya harus mempertanggungjawabkan pengkhianatan saya kepada kawan-kawan.

Sebagai bukti bahwa perbuatan saya itu tidak untuk melindungi nyawa saya, sungguh, semata-mata saya harus melakukannya, oleh panggilan hati saya." Kemudian "hek!" terdengar lenguhan terakhir dan orang Tionghoa itu pun mati setelah meregang sebentar.

Jaka tertunduk dalam tegaknya.

Ia memandangi mayat Siauw Sian Giap tanpa berkedip.

Namanya pun belum ia tahu.

Yang jelas, bagaimanapun membunuh diri sendiri adalah dosa besar melebihi membunuh orang lain.

Namun ia harus menghargai keyakinan orang Tionghoa itu, yang dalam pandangannya, tindakan tersebut adalah jalan keluar bagi sifat keksatriaan.

Ia wajib menghargainya dengan menguburkannya secara terhormat.

Atas dasar itulah Jaka segera mengangkat jenazah yang masih hangat itu, memondongnya ke tengah hutan yang berjajar memagari jalan tiga tapak yang sepi itu.

Sesudah selesai dengan menghabiskan waktu sekitar satu jam, Jaka jadi kebingungan, tindakan apa yang harus diambilnya setelah ia tahu bahwa rencana pertemuan nanti malam telah disadap oleh musuh.

Lalu akan dikemanakan nasib para kawula Demak yang lain, jika ia mencari selamat untuk sendiri dan membiarkan mereka terperangkap ke dalam kebuasan musuh?

Seolah minta pertimbangan Karbala, Jaka menatap kuda itu dengan tajam.

Presisi pada waktu Karbala tengah mendengus-denguskan moncongnya ke arah pelana.

Tiba-tiba Jaka teringat, sudah waktunya mengisi perut, baik buatnya maupun buat Karbala.

Dan tiba-tiba pula perutnya menabuh gamelan, bahkan bunyi kecrek seakan-akan berdebam-debam, bagaikan adegan goro-goro tatkala Ki Dalang tengah memainkan perang Bharata Yudha.

"Engkau lapar, Karbala?" bisik Jaka.

Kuda itu mengangguk-angguk, dan Jaka menjawab, "Kasihan.

Aku juga sudah lapar." Jaka kemudian melepas pelana Karbala serta kantung yang tergantung di bawahnya, untuk membiarkan kudanya lebih bebas merumput dan mencari air.

Kawasan yang masih lebat itu berada di daerah agak tinggi, kurang-lebih sekitar setengah hari perjalanan sebelum tiba di Desa Cuplak.

Udara melembut dalam siliran angin sejuk yang mengalir pelan-pelan.

Jaka merenung, andaikata udara dalam dada manusia selembut tiupan selang, andaikata siliran angin dalam dada manusia sesejuk yang mengalir dalam kedamaian alam, betapa indahnya kehidupan melata di kulit bumi.

Sayang sekali, makhluk yang bernama manusia tidak mau menyatu dengan suasana alam tempat mereka berada di dalamnya, sehingga sering alam pun menunjukkan kemurkaannya dengan meletupkan bencana demi bencana.

Tangan-tangan kotor manusia sendirilah yang membuat bumi bersimbah dengan darah, yang membuat langit menjadi merah oleh angkara murka.

Sebab, pada hakikatnya, apabila manusia banyak dilanda kelaparan, justru kelaparan itu tidak berasal dari tuntutan badaniah, melainkan kelaparan yang berhulu dari keserakahan jiwa.

Sebab, pada hakikatnya, apabila manusia seakan tidak tahu jalan, yang buta bukanlah mata, melainkan hati yang bermukim di dada mereka.

Jaka melenguh kesal.

Tidak oleh ubi bakar yang akan dilahapnya karena telah berubah jadi lebih keras, namun oleh hati manusia yang telah berubah menjadi lebih keras.

Yang membuatnya terus terlunta-lunta dalam ketegangan hampir tanpa akhir.

Bilakah saling pengertian terjalin sampai ketenteraman hidup akan merupakan keseharian yang nikmat dari rangkaian umur manusia yang singkat di muka bumi ini?

Pria muda itu nyaris tanpa rasa mengunyah makanan bekalnya itu.

Dan ketika ia merogoh kantung pelananya untuk mengambil batang yang kedua dari ubi bakarnya, tangannya menyentuh sebuah bungkusan kertas.

Pikiran Jaka dengan sigap mengambil kesimpulan, yakni mengurungkan makannya untuk mencari tahu lebih dulu bungkusan apa itu.

Jangan-jangan racun yang dipasang oleh musuh.

Sebagai seorang pendekar ia harus waspada terhadap sesuatu yang ditemuinya mendadak.

Ia harus dengan cermat mengetahui semua isi kantung pelananya, agar tidak ada yang kurang atau yang lebih.

Kurang berarti ada yang mengambil, dan lebih berarti ada yang menaruh.

Dengan maksud apa?

Jaka membuka bungkusan tersebut.

Ternyata hanya segulung kertas yang berisi pesan-pesan.

Dengan teliti Jaka membaca seluruh isinya, lantas meremas-remas dan menyobeknya sampai menjadi serpihan-serpihan kecil.

Diam-diam ia memuji kecerdasan dan kecergasan Putih Wewangi, putri lurah Janur Kemukus yang centil itu.

Ia yakin gadis mungil yang baru berusia remaja itu kelak akan menjadi Srikandi apabila berada dalam bimbingan seorang tokoh yang pandai dan bijaksana.

Ia bakal mampu memimpin kaumnya supaya tidak hanya merupakan calon-calon janda dari para suami yang tidak bertanggung jawab, atau jadi permainan kaum lelaki yang berkuasa.

Jaka Pratama kemudian bangkit dan memasang pelana, lalu memacu Karbala.

Ia harus berada di Jepara sebelum fajar pagi terbit kembali.

Di tangannya telah tergenggam kekuatan, di dadanya telah tersemat kepercayaan, bahwa anak-anak muda yang kelak akan menggantikan kedudukan orang-orang tua, ternyata sudah siap mengambil alih tugas-tugas itu dari mereka.

Ia telah melihat beberapa di antaranya, Pandu Nayarana, Akas Lelaras, putra lurah Desa Ambarsari, dan Putih Wewangi.

Berarti perjuangan dan pengorbanannya selama ini bagi kejayaan Merah Putih Majapahit melalui pengabdiannya terhadap Sultan Demak tidak akan sia-sia dan tidak pula tanpa kelanjutan.

Itu pula yang tengah direnungkan oleh Kiai Dolah Pekih, pada saat menginjakkan kakinya di sempadan bandar Jepara.

Tertatih-tatih ia berjalan sendirian, sesuai dengan skenario yang telah direncanakan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment