Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 22

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 22

Namun alhamdulillah, tanpa perasaan yang tertatih-tatih ia yakin bahwa masa depan Pertiwi Nusantara tidak akan terbengkalai di tangan kaum pemuda.

Ia sangat tertarik kepada Putih Wewangi dan bermaksud melamarnya untuk menjadi menantu.

Rasanya, putra sulungnya, cocok sekali dengan gadis tersebut.

Apalagi Kembar Ula memang sudah matang untuk mempunyai istri.

Sedangkan ia sendiri sudah lama pantas menimang cucu.

Tetapi apakah mereka mau?

Sebagai seorang ayah, Kiai Dolah Pekih mengetahui apa yang tersimpan di hati anaknya tiap kali Kembar Ula menatap tajam ke arah Putih Wewangi dengan pandangan yang berubah-ubah.

Ia mempunyai firasat bahwa anak sulungnya itu tidak sekadar memandang kagum, melainkan juga menyimpan harapan.

Lirikannya begitu penuh gairah dan selalu kemalu-maluan apabila kepergok oleh kerlingan si gadis.

Artinya, dari pihak Kembar Ula, keinginan Kiai Dolah Pekih telah ditanggapi baik, sebelum ia mengungkapkan maksud sucinya tersebut.

Namun bagaimana pendapat gadis itu sendiri?

Putih Wewangi terlalu terbuka sikapnya sehingga susah ditebak.

Ia hanya bisa dibaca dan tidak dapat ditafsirkan.

Ia seperti cerita bergambar dan tidak menyimpan rahasia seperti kidung karangan para wali, yang sarat dengan ibarat dan perumpamaan.

Atau semacam tembang Pangkur yang tengah dilagukan oleh Putih Wewangi tatkala akhirnya mereka tiba dan berkumpul di rumah Mbah Buyut, nenek si gadis, di tengah bandar Jepara yang sibuk, pada tengah malam yang senyap.

Ternyata suara gadis itu sangat merdu, sampai Kembar Ula, yang mendengarkannya di luar kamar si gadis, terpukau persis monyet kehilangan anaknya.

Kemudian Kembar Ula menjadi kian terbengong ketika seharusnya ia tertawa geli manakala dengan jenakanya gadis centil yang menawan itu menyanyikan dolanan rekaan Sunan Kalijaga.

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Romo menyang Solo

Leh-olehe payung motha

Tak jenthit lolo lomah

Wong mati ora obah

Nek obah edeni bocah

Semua bagaikan tersihir selama mendengarkan suara lembut itu.

Tidak cuma karena yang menembangkannya seorang gadis remaja cantik dengan suara amat renyah, tetapi terutama lantaran di dalam dolanan yang sederhana itu terkandung peringatan dan nasihat berharga tentang hakikat kehidupan di alam maya yang fana ini.

Dolanan itu berisi filsafat yang dalam, yang surasannya sangat menyentuh hati nurani terdalam.

"Hai, manusia, hidup ini sekadar seperti permainan yang remeh, terbuat dari tempurung kelapa. Tempurung itu bergerak oleng tidak menentu. Mengembaralah ayah hingga ke tempat yang jauh, dari Demak ke Solo, namun pulangnya hanya membawa hadiah berupa payung pengantar jenazah. Hidup sesungguhnya bagaikan permainan ciluk-ba, sebentar tampak tetapi sebentar lagi bakal lenyap tanpa bekas. Karena itu berbuatlah jasa dan jangan angkuh, sebab orang, kalau sudah mati, tidak akan bergerak. Andaikata bergerak pun, hanya akan membuat anak-anak kecil mati ketakutan." Pandu Nayarana yang menikmati dengan cermat suara dan isi dolanan itu, serasa diingatkan tentang perjalanan hidupnya yang sengsara semenjak kanak-kanak.

Ia dilahirkan dari rahim seorang ibu dengan bibit mulia dari ayahnya, Pandu Dewabrata.

Akibat pergolakan kehidupan, ia tidak sempat menikmati masa kecil dalam asuhan dan kasih sayang orang tuanya.

Ayahnya yang konon ksatria sejati, telah gugur pada waktu ia membutuhkan gemblengan dan bimbingan sepasang tangan jantan yang berjiwa pahlawan, dari mata keras milik sebuah hati yang pasti dipenuhi keprihatinan kepadanya.

Pandu mencoba menghilangkan kerut dukanya, namun air mata yang ditahan tidak sanggup melenyapkan kesedihan yang menundukkan kepalanya.

Ia memandangi tanah di bawah kakinya, tanah dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali.

Tanah yang telah melebur jasad ibu bapaknya menjadi kenangan panjang di dalam jiwanya.

Sementara itu, Kiai Dolah Pekih mempunyai kesan yang amat jauh sepanjang Putih Wewangi melantunkan dolanan itu di dalam biliknya.

Kakek yang bijak dan ikhlas itu terbawa kepada bunyi firman Tuhan dalam Alquran, tentang hakikat dan makna kehidupan.

"Apalah arti hidup ini, kecuali sekadar kesenangan fatamorgana yang menyesatkan? Karena itu janganlah engkau terlalaikan oleh kehidupan dunia dan jangan pula engkau mau disesatkan oleh penipu-penipu yang membawa-bawa nama Allah." Kiai Dolah Pekih makin tepekur di tikar sembahyangnya tatkala ia membaca pada ayat yang lain, peringatan dari Allah Azza wa Jalla: "Berikan perumpamaan kepada manusia, bahwa kehidupan di dunia ini bagaikan air yang tercurah dari langit. Air itu masuk ke dalam tanah, lalu diisap oleh akar tetumbuhan. Menghijaulah dedaunan, bermekaran bunga-bunga. Nanti yang hijau akan layu, yang kembang akan kering, gugur diterbangkan angin. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Tiba-tiba Kiai Dolah Pekih terkejut melihat Pandu berdiri mendadak berbarengan dengan terkuaknya pintu kamar dan berhentinya kidung dolanan yang tengah disenandungkan oleh Putih Wewangi.

Di ambang pintu, gadis tersebut terpaku kaget ketika matanya bertatapan dengan pandangan sendu Pandu Nayarana.

Sampai ia lupa bahwa keterkejutannya yang membuat ia keluar dari kamar adalah lantaran ia mendengar beberapa pasang kaki melangkah tergesa-gesa menuju ke rumah Mbah Buyutnya.

Demikian pula Pandu.

Ia berdiri serentak karena mencurigai bunyi telapak kaki menjejak tanah dengan terburu-buru.

Namun pada saat matanya berbenturan dengan sepasang bintang kejora yang bening itu, ia lupa akan kecemasannya.

Ia hanya melihat keindahan yang melenyapkan semua ketakutannya, keindahan yang jujur pada wajah yang polos itu, wajah Putih Wewangi.

Begitu juga Kiai Dolah Pekih.

Kakek itu pun terperanjat.

Tidak oleh suara-suara beberapa pasang kaki yang didengarnya pula, melainkan oleh pandang-memandang antara kedua remaja tersebut, yang tampaknya menyimpan kekuatan saling memikat satu sama lain.

Kiai Dolah Pekih mengembuskan napas, sambil hatinya membatin: "Jangan-jangan mereka telah menjalin hubungan rahasia?"

Tidak, tidak dengan maksud buruk andaikata ia akan menghalang-halangi hubungan itu.

Kalaupun ia kelak berusaha memisahkan mereka demi kepentingan anaknya, demi kepentingan keturunannya, dan demi kepentingan perjuangan.

Putih Wewangi harus menjadi menantunya, harus menjadi pendamping anaknya, Kembar Ula.

Apa pun yang mesti dilakukannya.

"Astaghfirullah, mengapa aku melantur begini?" gumam Kiai Dolah Pekih menyadari keburukannya.

Maka cepat-cepat ia menyapa Pandu Nayarana, lantas berkata kepada Pandu serta kepada Putih Wewangi: "Tidak usah cemas, Ngger Pandu dan Genduk Putih. Mereka bukan orang lain. Mereka orang-orang kita sendiri."

"Siapa mereka, Kiai?" tanya si gadis sambil matanya sekali-sekali masih tertuju ke arah Pandu.

Kiai melihat hal itu, namun ia hanya menghela napas: "Masak engkau tidak dapat menebak?"

"Seperti ada tiga orang, Kiai, apa betul?" tanya Pandu mengira-ngira.

"Huh! Orang bodoh juga tahu, mereka terdiri dari tiga orang," potong Putih, menampilkan kembali watak aslinya yang suka usil.

Kali ini Pandu cuma menggoda tersenyum, sementara Kiai mengharap agar peristiwa kecil itu merupakan permulaan dari perpisahan mereka, tidak untuk kejelekan, melainkan supaya Putih Wewangi menjadi akrab dengan Kembar Ula.

Sayang, Pandu tidak berbuat seperti yang sudah-sudah, menanggapinya dengan hati panas yang sama.

Bahkan anak muda yang berwajah setampan Arjuna itu menjawab ramah: "Oh, jadi Rayi Putih pun mempunyai pendapat yang sama, bahwa mereka terdiri dari tiga orang?"

"Tentu, sebab aku punya otak," sahut Putih belum surut tabiat aslinya.

"Kalau begitu kita ada jodoh," ucap Pandu berseloroh.

Putih Wewangi memerah wajahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia merasakan getaran nikmat, tetapi segera tertutup kembali oleh kecentilannya yang lugu. "Iiiih, dasar tidak tahu diuntung. Putrimu tidak marah saja engkau sudah untung. Jodoh? Enak amat. Umur belum setahun jagung, jasa belum ada buat negara, sudah membayang-bayangkan soal-soal perjodohan. Mata keranjang!"

"Lho, lho, kok marah. Maksud saya jodoh dalam perjuangan. Jangan mengharap berlebih-lebihan, ah," bantah Pandu agak penasaran.

Putih Wewangi tiba-tiba seperti tersengat lebah.

Ia sungguh tersinggung oleh ucapan Pandu itu karena memang nyatanya begitu, dan Pandu telah menusuknya langsung tepat di hatinya.

Pemuda itu jadi tidak mengerti.

Ia hanya bermaksud menggoda, tetapi kenapa Putih tampaknya sangat berubah.

Apakah ia marah?

Kiai Dolah Pekih hanya diam memperhatikan kedua anak muda tersebut, yang sejak pertemuan mereka pertama kali sudah sering bertengkar dan bersilang kata.

Untung Akas Lelaras sekonyong-konyong masuk diikuti oleh Atma Sanjaya dan Praja Karana, yang kebetulan usia mereka tidak jauh berbeda.

Sebab mereka berdatangan dari arah yang lain, setelah melakukan perondaan seperlunya.

Tetapi anehnya, begitu mereka berada di dalam rumah, langkah-langkah yang mencurigakan tadi lalu menghilang pula.

Malam yang menjelang larut itu bagaikan tidak menyembunyikan apa-apa selain angin sepoi dan udara yang menggigit.

Seolah di luar telah terbentang suasana damai abadi, tanpa permusuhan dan pecah belah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment