Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 23

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 23

Kiai Dolah Pekih segera berbisik, "Sst, dengarkan baik-baik. Sebentar lagi akan ada peristiwa menarik."

"Peristiwa apa, Kiai? Ke mana tiga orang pendatang yang menurut Kiai bukan orang lain itu? Mengapa bunyi tapak-tapak kaki mereka mendadak lenyap?" tanya Putih tidak sabar, hingga lupa terhadap sakit hatinya atas ucapan Pandu barusan.

Kiai Dolah Pekih membiarkan pertanyaan Putih tidak terjawab. Ia malah memanggil ketiga putranya: Kembar Sugra, Kembar Wusta, dan Kembar Ula. Kiai lantas berbisik dengan suara pelan kepada mereka, "Ingat, hati-hati!"

Ketiga anak muda itu pun segera keluar dari rumah melalui pintu belakang. Sesudah tidak terdengar lagi dengusan napas mereka, Kiai berkata kepada Atma Sanjaya, yang usianya paling tua di antara Praja Karana dan Akas Lelaras, "Apa yang kautemukan pada waktu meronda barusan?"

Akas Lelaras memandangi Atma Sanjaya, bertanya-tanya apakah jawabannya akan sama seandainya pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Ternyata sama, sebab Atma Sanjaya menjawab, "Saya menjumpai seorang anak kecil berumur kira-kira lima tahun, sendirian di tengah kebun kurang lebih lima belas depa dari rumah ini. Waktu saya dekati, anak itu berlari menghindar."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kiai.

"Karena dia anak kecil, saya biarkan saja, meskipun hati saya merasa bersalah lantaran tidak mengejar dan membantunya."

Kiai Dolah Pekih mengerutkan kening. "Hem," gumamnya. "Sebagai petugas ronda, seharusnya engkau melacak dan mencari tahu siapa anak kecil itu. Mengapa malam-malam ia berada di dalam kebun yang tidak terlalu jauh dari rumah? Mungkinkah ia hanya sendirian, padahal umurnya baru lima tahun?"

"Kami memang bersalah, Kiai," potong Praja Karana, yang agaknya juga mengalami peristiwa serupa. "Tapi, pada waktu kami hendak menguntitnya, kami mencurigai suara-suara lain yang lebih membuat kami cemas karena bersumber dari bagian belakang rumah ini."

"Kalian memang mempunyai peruntungan yang baik," sahut Kiai. "Kalau kau ikuti anak kecil itu, engkau pasti pulang tinggal nama, Praja."

"Jadi, tindakan kami itu benar?" tanya Akas Lelaras seraya membetulkan leher bajunya karena tiba-tiba badannya menjadi dingin, terbawa oleh suara dingin Kiai saat menceritakan bahaya yang mengancam mereka.

"Tidak," sahut Kiai.

"Hah?" ketiga anak muda tersebut sama-sama terbelalak bingung.

"Sebab kalian memang sengaja dipancing untuk kembali ke rumah atau untuk mengikuti anak kecil itu," sahut Kiai yang masih belum membuat mereka mengerti masalahnya. "Jika kalian mengejar anak kecil itu, kalian pasti binasa. Mereka sudah menyiapkan jebakan yang ampuh. Tetapi, karena kalian kembali ke rumah ini, maka ada kawan kita yang hampir celaka."

"Oh, kami tidak tahu, Kiai," ucap Atma Sanjaya menyesal. "Andaikata kami mengerti persoalannya, lebih baik kami bertiga yang lebur jadi abu."

"Kalau begitu, izinkanlah kami membayar utang sekarang," ujar Akas Lelaras sembari bersiap hendak segera keluar.

Kiai mencegahnya, "Cukup. Kalian lebih baik berjaga-jaga di sini. Kita tunggu saja berita yang akan dibawa oleh ketiga anakku. Dari kabar itu, nasib kita bakal ditentukan: berhasil atau gagal," gumam Kiai dengan wajah yang mendung.

"Ada apa sebenarnya, Kiai?" tanya Putih Wewangi memotong kebisuan Kiai Dolah Pekih yang raut mukanya masih berkabut. Ia sangat penasaran dan hampir berjingkrak-jingkrak karena hanya menjadi pendengar yang tidak paham sejak tadi.

"Putih, engkau ingin berjasa?" tanya Kiai kembali, tidak langsung menjawab.

"Maksud Mbah Kiai?" Putih malah balik bertanya.

"Kalau engkau ingin berjasa, diamlah, jangan banyak bertanya dulu," sahut Kiai dengan nada beku. "Saat ini, tutup mulut lebih baik daripada selalu memamerkan gigimu."

Sebetulnya Putih tidak tersinggung oleh ucapan Kiai yang agak tajam itu, mengingat hubungannya yang sangat dekat dengan Kiai selaku putri sahabat karibnya. Namun, ia merasa murka bukan kepalang ketika melihat Pandu memperhatikannya sambil menyunggingkan senyum. Ia menyangka Pandu menertawakannya dan mengejek kebodohannya. Karena itu, Putih membuang muka dengan dada bergolak oleh dendam.

Sebenarnya Pandu Nayarana tidak bermaksud buruk. Ia hanya memandang Putih untuk menyampaikan simpatinya. Ia ingin mendapatkan tempat yang lebih akrab di hati Putih Wewangi agar di lingkungan sendiri tidak selalu terjadi salah paham. Namun, Pandu tidak menyadari bahwa wajah ketus itu ditujukan kepadanya. Malah ia mengira Putih terlalu kurang ajar terhadap Kiai Dolah Pekih sampai berani bersikap begitu.

Kebetulan ketika ketegangan memuncak di ruangan itu—bukan karena gawatnya situasi di luar, melainkan akibat pertempuran tanpa suara antara dua remaja yang sama-sama keras dan cepat tersinggung—sebuah jeritan panjang terdengar melengking di kejauhan.

"Ada apa pula, Kiai?" tanya Akas Lelaras, kawan karib Putih Wewangi yang kini mulai erat dengan rekan-rekan lainnya.

"Sst," hanya itu yang diucapkan oleh Kiai Dolah Pekih. Betapapun disembunyikan, kelihatannya Kiai menyimpan ketegangan di wajahnya. Hal ini menular kepada semua orang di ruangan itu. Mereka menjadi waswas menyaksikan kecemasan yang terbayang pada kedua bola mata Kiai yang meredup.

Jeritan itu belum seluruhnya berhenti tatkala dari arah yang berlawanan, mungkin pada jarak yang lebih dekat, terdengar sebuah suara bernada tinggi.

"Jahanam!" suara itu mengutuk tajam. Jeritan itu kemudian berubah menjadi tawa kesetanan yang kian hilang terbawa angin.

Segenap orang di ruangan itu makin kebingungan. Apalagi tidak berapa lama kemudian, di dekat pintu depan, terdengar seseorang tengah menangis. Dari suaranya, jelas yang menangis adalah seorang perempuan separuh baya.

"Tidak bersediakah Kiai menghapus ketegangan kami dengan menceritakan gerangan apa yang sedang berlangsung di luar sana?" akhirnya Praja Karana, anggota Santri Pitulas termuda itu, tidak sabar lagi menahan rasa ingin tahunya.

"Kulup, bukankah engkau selalu digembleng dengan puasa mutih dan puasa patigeni dengan hanya berbuka tiga teguk air waktu Magrib? Bukankah engkau sering mengerjakan wirid dan zikir di tengah malam buta dalam curahan air terjun yang deras dan dingin?" jawab Kiai.

"Jadi?" tanya Putih mendesak, mulai bangkit kembali sifat aslinya yang senantiasa tidak pernah puas.

"Jadi kalian harus bersabar sebentar lagi. Sebab semua yang telah kalian lakukan itu sebetulnya bukan untuk menempa kesaktian, tetapi semata-mata melatih dan menggali kekuatan pribadi. Dengan memiliki keyakinan teguh, kepercayaan diri yang kokoh, serta memegang pedoman hidup yang pasti, kesaktian itu bakal datang setiap kali dibutuhkan tanpa diundang. Itulah yang dikenal sebagai keramat atau mukjizat di kalangan orang-orang mulia dan nabi-nabi," sahut Kiai Dolah Pekih.

"Kesabaran adalah sumber keselamatan, jalan terbaik untuk selalu terhindar dari malapetaka. Tunggu dulu sampai ketiga putraku datang kembali," ucap Kiai seterusnya. Meskipun demikian, kecemasan yang tadi menggelantung di ruangan itu mulai mencair bersama kabut tipis yang menghilang dari wajah Kiai Dolah Pekih.

Suara tangis perempuan tadi bertambah dekat. Lalu tiba-tiba pintu depan terkuak sedikit, dan muncullah seorang anak kecil telanjang bulat berusia lima tahun. Mukanya separuh hitam, bukan oleh jelaga, melainkan daki tebal karena beberapa hari tidak mandi. Budak laki-laki itu, dalam bayangan Putih Wewangi, tampak bagaikan setan kecil yang suka mencuri, yang oleh orang kampung disebut tuyul. Gadis itu bahkan terpekik lirih seraya menutupi matanya.

"Hii," gumam si gadis ketakutan, lebih takut daripada seandainya ia menginjak kecoa.

Akas Lelaras tertawa. Kiai tertawa. Semua tertawa. Hanya Pandu yang tidak berani tertawa; ia hanya tersenyum kecil karena takut jika Putih tersinggung dan memarahinya. Namun sebelum sempat Putih marah-marah, anak kecil itu telah membuka mulut dan bertanya dengan iba, "Mana ayah saya? Mana Romo?"

Pada saat semua orang terbengong, kecuali Kiai Dolah Pekih, Kembar Sugra, Kembar Wusta, dan Kembar Ula pun masuk melalui pintu depan. Disusul beberapa lama kemudian oleh munculnya Harjo, Harno, dan Hargo, yakni ketiga orang agen Demak yang dikenal sebagai pedagang bajigur, jagung bakar, dan cendol.

"Kenapa perempuan itu tidak kalian ajak masuk?" tanya Kiai kepada anak tertuanya, Ula.

"Barangkali jika Romo sendiri yang mengajak, ia baru bersedia masuk," jawab yang ditanya. Kentara ia baru saja mengalami peristiwa gawat, terlihat dari wajahnya yang tegang dan napasnya yang masih terengah-engah.

"Semuanya selamat?" tanya Kiai.

"Alhamdulillah," jawab Kembar Ula.

"Bandit itu?" desak Kiai ingin tahu.

"Sayang sekali," ujar Ula menyesal.

"Maksudmu, ia melarikan diri?" tanya Kiai makin ingin tahu.

"Tidak," sahut Ula.

"Jadi?" kembali Kiai bertanya waswas.

"Ia mengejar sesosok bayangan ramping yang melayang dengan cepat."

"Untung bagi kalian," sahut Kiai sangat lega. Hingga di sini, pembicaraan antara ayah dan anak itu sama sekali tidak dipahami maksudnya oleh yang lain. Mereka makin penasaran, tetapi Kiai Dolah Pekih belum juga menjelaskan seluk-beluk peristiwa itu. Malah, dengan langkah terseok-seok, Kiai keluar dari rumah dan menghilang beberapa saat.

Pada waktu masuk kembali, ia mengiringi seorang perempuan yang kedua matanya bengkak akibat tangis dan ratap duka.

"Saya menyesal, Ndoro, saya tidak tahu apa-apa."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment