Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 26

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 26

Tiba di sana, Dewi Sekar Dadu menangkap sesosok bayangan yang mencurigakan.

Gerakannya sangat gesit ketika bayangan itu seperti sedang merayap di genting.

Setelah jelas dari sikap dan tanda-tandanya bahwa sosok itu adalah Wong Pamungkas, Wulan Suminar memekik, "Jahanam!" Gadis yang kini telah pulih kecantikannya tersebut amat mendendam kepada bajingan yang pernah menculik dan menyekapnya itu.

Ia ingin menghirup darahnya.

Namun, ketika mereka berdua mengejarnya, Wong Pamungkas bukannya datang memapak, malah melarikan diri dengan menggandakan suara tertawanya yang melengking dan menusuk perasaan.

Kedua perempuan itu mengejar.

Akan tetapi, mereka sekonyong-konyong dihadang oleh enam orang pesilat tangguh, anak buah Wong Pamungkas.

Orang-orang itu tadinya bertugas membinasakan siapa pun yang terjebak mengikuti seorang anak kecil berusia lima tahun yang belum lama sebelumnya dilontarkan begitu saja oleh Wong Pamungkas seperti melemparkan kedondong busuk.

Meskipun kedua Srikandi tua dan muda tersebut tidak sampai terdesak, namun untuk menghadapi enam orang petarung andalan, telah menghabiskan waktu mereka lebih dari setengah jam.

Namun, mereka tidak putus asa.

Setelah keenam musuh mereka tertundukkan dengan menderita luka-luka cukup parah, mereka segera bergegas mengejar Wong Pamungkas.

Dalam perjalanan Dewi Sekar Dadu berpesan, "Ingat, Nduk.

Kita tidak menginginkan Wong Pamungkas sebagai mayat.

Sebab, kalau sudah mati, ia takkan ada gunanya bagi anak itu dan ibunya.

Kita hanya akan menuntut tanggung jawabnya selaku bapak." Dengan wajah masam Wulan Suminar mengangguk.

Tidak hanya tangannya saja yang mengepal, bahkan hatinya juga menggumpal dengan rasa marah yang meluap.

"Namun, ia masih sempat berdalih.

"Jangan khawatir.

Kecuali jika ia menolak tanggung jawabnya sebagai laki-laki dan bapak, berarti tidak ada manfaatnya lagi ia terus hidup.

Bahkan kematiannya akan disyukuri oleh orang banyak," sahut Dewi Sekar Dadu dengan bijaksana.

Ucapan ini menggugah kembali kecerahan wajah Wulan Suminar meskipun malam terlalu gelap untuk memberi kesempatan munculnya bayang-bayang.

Karena itu, ketika mereka sadar bahwa perjalanan yang mereka tempuh mendekati sepertiga ke Desa Cuplak, kesadaran itu telah terlambat untuk mengetahui bahwa Wong Pamungkas tiba-tiba melompat di hadapan mereka.

Dewi Sekar Dadu terkejut.

Apalagi Wulan Suminar.

Sebab, tiba-tiba Wong Pamungkas telah berdiri mengangkang seraya berteriak, "Kalian berdua memang lonte-lonte keparat!

Tuanmu ini telah mengampuni kalian tadi dengan sama sekali tidak mau menjatuhkan tangan, sebab aku punya urusan yang tidak boleh diganggu.

Namun rupanya kalian tidak bisa diberi hati." Wulan Suminar sudah begitu murka sampai siap-siap hendak menerjang.

Tetapi, Dewi Sekar Dadu keburu mencegah lewat isyarat, lalu berkata kepada musuh bebuyutan murid kesayangannya itu dengan nada menyindir, "Wong Pamungkas!

Apa engkau tidak punya ucapan yang lebih kasar dari 'lonte keparat' untuk kami?" "Hahaha....," Wong Pamungkas tertawa melengking walaupun tampaknya tidak ingin tertawa.

"Kami datang tidak untuk mengambil nyawamu, melainkan untuk meminta pertanggungjawabanmu.

Kami mewakili Mbok Lisoh dan anak yang dilahirkannya akibat kejalanganmu," sahut Sekar Dadu sesabar mungkin.

"Haha....," lagi-lagi Wong Pamungkas hanya tertawa.

"Engkau manusia atau binatang?

Apa engkau tidak punya perasaan?" "Kalau aku tidak punya perasaan, bagaimana aku mau membuntingi si Lisoh?

Aku punya perasaan, maka aku menginginkan dia pada waktu itu." "Lalu mengapa engkau tidak mau bertanggung jawab?" "Karena aku punya perasaan." "Kurang ajar!" "Lho!

Apanya yang kurang ajar?

Aku meninggalkan Lisoh karena aku punya perasaan.

Yaitu perasaan bosan." "Jahanam!" hardik Wulan Suminar.

Ketika ia hendak melancarkan serangan, Dewi Sekar Dadu kembali mencegahnya.

"Apa engkau tidak punya sedikit rasa kasihan?

Tidak usah kepada Lisoh.

Kasihanilah anaknya, yang juga darah dagingmu." "Hahaha...," menyemburat lagi tawa Wong Pamungkas.

Kali ini terselip suara getir ketika ia menjawab, "Kasihan?

Apakah orang lain pernah memikirkan kata kasihan bagi si kembar kecil yang bernama Gagak Rancang dan Pamungkas?" Dewi Sekar Dadu tertegun membisu.

Ia mematung di tempat berdirinya.

Diam.

Sampai Wulan Suminar kebingungan melihat perubahan sikap gurunya, yang tiba-tiba matanya seperti kebasah-basahan.

Pada masa remajanya, Dewi pernah mendengar kisah tentang salah satu punggawa ayahnya, bersama Barong Anggodo.

Ia mempunyai pelayan cantik dari desa.

Gadis itu hamil.

Barong menuduh bahwa pelayannya telah berbuat serong dengan sesama pelayan.

Gadis itu diusir dari istana Barong dan diusir pula dari kampungnya.

Dalam kesengsaraan di luar batas itulah sepasang anak kembar dilahirkan.

Mula-mula yang diberi nama Pamungkas, menyusul kemudian Gagak Rancang.

Menurut kebiasaan di tanah Jawa, yang lahir belakangan itulah yang dianggap sebagai abang.

Dengan alasan ia membiarkan adiknya lahir duluan.

"Ibuku tanpa dosa telah diusir dari istana oleh laki-laki yang menghamilinya, Barong Anggodo.

Satu-satunya kesalahan ibuku hanyalah bahwa ia orang melarat yang berparas cantik.

Suatu dosa besar bagi si miskin apabila berwajah elok.

Sebab, akhirnya akan menjadi santapan orang-orang terhormat atau menjadi pelacur jalanan.

Untung, yang seharusnya menjadi ayahku itu mati ketika aku masih berumur tujuh tahun.

Kalau tidak, dengan kedua tanganku sendiri akan kuajari laki-laki itu bagaimana caranya menikmati kesakitan dan penderitaan." Sepanjang mengungkapkan kalimat-kalimat itu, wajah Wong Pamungkas tampak makin gelap dalam kegelapan malam.

"Dan kau tahu, bukan, apa yang dilakukan oleh para bangsawan dan orang-orang berada?

Mereka menuding ibuku sebagai penipu, pemfitnah, dan lonte murahan.

Jadi, apa aku tidak berhak menudingmu sebagai lonte keparat?" Dewi Sekar Dadu berusaha mengekang dirinya, sementara Wulan Suminar menggeretakkan gerahamnya.

"Lalu, mengapa engkau justru berbuat serupa itu kepada Lisoh yang miskin dengan anaknya, yang juga anakmu, Thole?" desak Dewi Sekar Dadu, mencoba menusuk hati nurani Wong Pamungkas, barangkali bajingan itu masih memiliki sisa-sisanya.

"Karena aku sekarang sudah menjadi orang besar dan terhormat.

Karena aku sekarang sudah punya istana dan kekayaan yang melimpah," sahut yang ditanya gampang saja.

"Sungguh tunggang balik cara berpikirmu," sahut Dewi Sekar Dadu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Seharusnya, lantaran engkau pernah disengsarakan oleh bapakmu yang orang besar, sehingga ibumu terlunta-lunta dalam penderitaan, wajarlah jika engkau sekarang menolong orang-orang miskin yang teraniaya.

Tapi mengapa malah kebalikannya?

Engkau bahkan berbuat sewenang-wenang atas mereka?" "Hahaha...," Wong Pamungkas tertawa terbahak-bahak.

"Dulu, ketika aku masih melarat, masih belum punya kedudukan, aku juga sering membantu mereka supaya aku mendapat nama.

Malah aku terpaksa menjilat-jilat kepada para bangsawan dan kaum menak.

Kini giliranku berada di atas.

Aku tidak mau menyia-nyiakannya." "Hem, memang otakmu sudah harus dicuci dengan darahmu," gumam Dewi Sekar Dadu sambil menggeram.

Begitu pula Wulan Suminar.

Wajahnya sudah menyala dengan warna api, tidak lagi warna bunga mawar yang sedang mekar.

"Hahaha...," lagi-lagi Wong Pamungkas tertawa melengking.

Kini suaranya kian mengecil tetapi padat mengental, menandakan tenaga yang keluar tidak menyebar percuma, melainkan mengumpul, menjadi simpanan kekuatan dalam.

"Kaulihat bagaimana nasib manusia yang sok pahlawan, sok suci?" tanya Wong Pamungkas, tidak kepada siapa-siapa, namun lebih banyak untuk menunjang keyakinannya sendiri.

Pertanyaan yang tanpa pernah membutuhkan jawaban.

"Contohnya adalah abangku, Rakian Gagak Rancang.

Ia sudah punya nama, tapi konon ia menginginkan nama yang harum, yang tak tercela.

Ia tidak memanfaatkan kesempatan yang telah diperolehnya.

Ia dibantai oleh tentara Girindrawardhana hingga luka parah." "Maaf, boleh aku bertanya?" sela Dewi Sekar Dadu.

"Silakan, sebelum engkau kehilangan kesempatan sebentar lagi," sahut Wong Pamungkas sambil menyeringai sinis.

"Betulkah Rakian Gagak Rancang itu saudaramu?" "Semua orang tahu, ia adalah abang kandungku." "Tapi, mengapa ketika itu engkau tidak menolongnya, bahkan menganiayanya?" "Hahaha...., itulah kelebihanku, mempunyai perasaan yang peka melebihi orang lain.

Andaikata tidak kuaniaya pun ia pasti cacat.

Lebih baik kusempurnakan sekalian supaya yang cacat jangan hanya raganya, melainkan juga otaknya, sehingga ia tidak bisa menyesali lagi atau bersedih terhadap kecacatan fisiknya.

Dan dengan demikian aku pun memperoleh keuntungan, dipercaya oleh golongan Girindrawardhana agar aku dapat mencapai kedudukan tinggi untuk melampiaskan dendam yang tidak dapat dilaksanakan oleh abangku.

Dendam itu ialah memanfaatkan kesempatan menjadi orang besar untuk berlaku sewenang-wenang atas rakyat kecil, sebagaimana kami alami dahulu semasa kecil.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment