Chapter 27
"Jelas?"
"Oh, di zaman penduduk Tanah Jawa telah berbudaya tinggi dengan agama-agama besar yang sudah membentuk mereka menjadi manusia berkepribadian luhur, yang di dasar jiwa mereka membenih karsa manunggal kepada Sang Murbeng Dumadi melalui perbuatan-perbuatan kebajikan, yang kesucian hati mereka bersumber dari hijaunya alam dan makmurnya bumi Jawa Dwipa semenjak berabad-abad, masih ada orang semacam engkau, Wong Pamungkas, yang tidak merasakan dosa dalam segala tindak dosamu."
"Oh, Gusti Ingkang Mahaagung, mugiya peparing eling dumateng sato arupe menungso puniko saderengipun lebur dados bubur timah ing ngarso Panjenengan," gumam Dewi Sekar Dadu, memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa.
"Hahaha!" Wong Pamungkas terpingkal-pingkal. "Terima kasih atas segala doamu. Supaya Tuhan memberi ingat kepadamu sebelum disiksa jadi bubur timah? Hahaha! Aku akan membalas doa untukmu sebelum engkau menyusul para penghuni kubur lainnya."
"Duh, Gusti Ingkang Mahosuci, mugiya andadosaken priyantun putri ingkang sampun peyot punika supados wangsul moblong-moblong ayunipun kangge sisihan kulo mbenjang ing dalem Swargi. Hahaha!"
"Kanjeng Dewi, kekurangajarannya sudah biadab. Apakah Kanjeng Ibu akan diam saja?" tanya Wulan Suminar.
Dewi Sekar Dadu masih tetap tenang, walaupun dalam doanya tadi Wong Pamungkas sebenarnya hanya mengejek. Murid mana yang tidak akan marah jika gurunya dihina sebagai perempuan tua peot dan didoakan agar kembali cantik hanya untuk menjadi pendamping bajingan itu di surga kelak? Namun, Wulan terpaksa hanya berdiri diam karena gurunya masih belum berbuat apa-apa.
"Hem, jangan salahkan aku kalau terpaksa kubuka pantangan untuk tidak membunuh sesama manusia dalam bulan Suro."
Ucapan itu tercetus begitu saja di tengah kebisuan Dewi Sekar Dadu dan muridnya, ketika Wong Pamungkas sedang mengatur kuda-kuda saat melihat Dewi Sekar Dadu mulai menghimpun tenaga dalam. Wulan Suminar memandangi gurunya dengan heran, lalu menatap ke arah Wong Pamungkas yang juga tidak bersuara sejak beberapa saat tadi.
Siapa yang mengeluarkan suara penuh wibawa itu? Dan siapa pula yang dimaksud akan dibunuhnya? Ajaib bukan main. Suara itu seakan datang dibawa angin, lalu menghilang begitu saja. Anehnya, wajah Wong Pamungkas yang biasanya pucat kini berubah semakin pucat pasi. Kemudian, bandit tengik itu menggenjot badannya dan kabur sipat kuping seperti tikus dikejar kucing.
Wulan Suminar bergerak hendak memburu, namun gurunya mencegah. "Jangan. Kita harus tahu diri."
"Mengapa, Kanjeng Ibu? Bukankah ia amat jahat?" potong muridnya tidak puas.
"Kita berdua tidak akan mampu menghadapi dia seorang diri. Aku mengkhawatirkan nasibmu yang masih muda. Untunglah datang seorang tokoh sakti yang membuat Wong Pamungkas lintang pukang. Terima kasih, Pukulun," ucap Dewi Sekar Dadu seraya membungkuk ke empat penjuru, ditujukan kepada suara gaib tersebut.
Tiba-tiba suara itu menjawab sebelum gaungnya lenyap sama sekali. "Lebih baik kalian membantu para kadang Demak yang akan dijebak di makam Sunan Sebolampar, tapi nanti justru akan berganti mengepung kaum perusuh."
Suara itu terdengar makin jauh, kemudian menghilang tanpa bekas.
"Siapa tokoh sakti itu, Kanjeng Dewi?" tanya Wulan Suminar masih kebingungan.
"Pada waktunya kelak engkau akan tahu. Sekarang belum saatnya, demi menjaga peranan yang dipegangnya dalam gerakan suci para ksatria Bintara Demak."
"Jadi, apa yang akan kita kerjakan sekarang?" tanya Wulan Suminar penasaran.
"Kau dengar saran Pukulun tadi? Kita harus mendatangi makam Sunan Sebolampar, barangkali ada yang dapat kita lakukan," jawab sang guru.
Maka kedua perempuan tersebut segera bergerak menuju tempat yang dimaksud, yang jaraknya tinggal beberapa tombak lagi. Di sana, Jaka Pratama baru saja berkata kepada Mbah Bungkuk di gubuknya, "Mbah, sebentar lagi kita akan mendapat tamu-tamu tidak diundang."
"Jangan waswas, Denmas. Biarpun Mbah tidak bisa bertempur, tapi Mbah bukan penakut," jawab Mbah Bungkuk yang punggungnya sudah membungkuk dimakan usia. Konon Mbah Bungkuk dilahirkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Berarti usianya sudah seratus tahun lebih.
Ketika itu gelap sudah mendekati dua pertiga malam, saat sebuah suara bernada tajam menghardik dari sisi kanan gubuk Mbah Bungkuk. "Hai, orang-orang Glagah Wangi! Keluar kalian dari persembunyian!"
Jaka berbisik kepada Mbah Bungkuk, "Agaknya mereka tidak tahu, Mbah, bahwa di sini hanya ada saya sendirian."
"Ada berapa orang yang datang mengepung kita?" tanya Mbah Bungkuk.
"Dari bunyi tapak kaki yang sempat saya hitung, sekitar dua belas atau tiga belas orang," sahut Jaka sambil mengernyitkan dahi.
"Apa tidak terlalu banyak bagimu?"
"Saya bakal kewalahan, Mbah, kalau tidak mengatur siasat. Mungkin Mbah punya saran?" tanya Jaka. Hatinya mengeluh karena merasa terperosok ke dalam rencananya sendiri, meski tujuannya mulia demi menyelamatkan perjuangan dan keselamatan Mbah Bungkuk.
Kakek tua itu berpikir sejenak, lantas menjawab, "Biarkan aku yang keluar sambil membawa bendera putih."
"Artinya kita menyerah?" sahut Jaka keberatan. Bukan karena ingin menjadi pahlawan, tetapi ia bimbang apakah tindakan itu merupakan kecurangan jika sudah mengibarkan bendera putih namun secara diam-diam melakukan serangan dari belakang.
"Tidak. Yang menyerah bukan kita, tapi aku. Sebab yang ditantang adalah orang-orang Glagah Wangi, padahal aku asli kelahiran Cuplak dan tidak punya ikatan, apalagi menjadi anggota gerakan pejuang Glagah Wangi. Betul, kan?"
"Baiklah, Mbah, meskipun saya tidak terlalu suka melakukannya," sahut Jaka sesudah ragu-ragu sebentar.
Mbah Bungkuk berbisik ke telinga Jaka Pratama. Sesudah itu ia membuka pintu. Di tangan kanannya berkibar bendera putih yang memanfaatkan sorban hajinya.
Para pengepung begitu percaya akan kekuatan sendiri. Mereka mengandalkan jaminan dari Wong Pamungkas bahwa pada saat yang tepat bala bantuan bakal sudah siap di bagian belakang gubuk untuk menjebak musuh yang mencoba melarikan diri. Mereka tidak memperhatikan kemungkinan lolosnya lawan dari belakang dengan alasan yang masuk akal, yaitu bahwa di bagian belakang tidak ada pintu keluar atau jendela sama sekali.
Ketika salah seorang anak buah bertanya tentang hal itu, sang pemimpin yang tidak mau diganggu gugat kebijaksanaannya menjawab dengan keras, "Mau lari dari mana mereka? Lewat lubang semut? Lagipula, Liong Hitam si Babah Liem Hoat Nyan pasti sudah menunggu bersama seluruh bawahannya di tempat itu."
Mbah Bungkuk pun membuka pintu. Jaka Pratama pun membuka genting satu demi satu. Malam pun merayap terus.
Dan, dan, dan... sekumpulan kata "dan" terangkai menjadi satu, menjalin peristiwa demi peristiwa yang mengubah warna sejarah. Begitu pendek dan lugas kata "dan", namun memegang peranan utama dalam memutar lembar demi lembar kisah perjalanan manusia di muka bumi. Kata "dan" itu pula yang kini melibatkan Kiai Dolah Pekih ke dalam jebakan peristiwa tanpa menemukan ujungnya.
Lantaran pada waktu itu, Kiai Dolah memasuki usia yang lebih tua sehari lagi. Manakala bunyi kentongan di gardu pelabuhan dipukul dua belas kali, bertambah pula persoalan yang harus segera diputuskan pemecahannya. Kakek tua itu mendekati Mbah Buyut untuk bertanya, "Bagaimana saran Nyi Ageng terhadap masalah ini?"
Mbah Buyut tidak menjawab. Ia malah bertanya, "Kira-kira apa yang akan Kiai lakukan seandainya Kiai adalah musuh Demak?"
Kali ini Kiai yang berpikiran dalam itu terpojok tidak mengerti. "Maksud Nyi Ageng?"
"Bukankah Liem Hoat Nyan mengumbar berita ke mana-mana bahwa malam ini, jam satu nanti, ia akan mengirimkan perlengkapan penting ke pangkalan laut armada Demak?"
"Tentu saja maksudnya agar kita bergerak menuju tempat yang dikabarkannya itu," sahut Kiai Dolah Pekih dengan roman muka cerah, seperti jendela yang disingkap tirainya.
"Artinya berita itu hanya isapan jempol belaka?"
Mbah Buyut, yang dipanggil Nyi Ageng oleh Kiai Dolah Pekih, merasa tidak perlu menjawab. Sebab memang begitulah yang diinginkan si Liong Hitam dari Hainan, saudara sepupu Babah Liem Goan Phok. Si kuncir itu memang orang yang tidak tahu membalas budi.
"Jadi?" desak Kiai.
"Kalian ingin melihat Wong Pamungkas mampus?" sahut Nyi Ageng yang tiba-tiba wajahnya berubah kelam.
Ketika semua yang berada di ruangan itu saling memandang, Mbah Buyut meluruskan punggungnya di kursi malas dan memanggil cucunya, Putih Wewangi, agar duduk lebih dekat kepadanya.
"Dengarkan baik-baik, terutama engkau, Putih," ucap Mbah Buyut menekan. "Beberapa tahun yang lalu Wong Pamungkas datang merengek-rengek kepada suamiku, Ki Ageng Panataran, yang menjadi penasihat Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Ia mengemis agar bisa diterima sebagai salah seorang pembantunya."