Chapter 28
Suamiku, yang melihat kecerdasan dan kelihaiannya, tanpa curiga menyanggupinya. Semua terbeliak heran.
Ternyata perempuan tua yang mereka hadapi sekarang itu adalah istri punggawa tinggi mendiang Girindrawardhana, musuh mereka dan musuh pepunden mereka.
"Atas nasihat suamiku, sebetulnya Prabu Girindrawardhana sudah akan membatalkan rencana jahatnya menyerang Majapahit.
Tetapi dengan kecerdasan dan kepandaian menjilat dari Wong Pamungkas, mendiang Prabu Girindrawardhana justru menuduh suamiku hendak berkhianat.
Untung kami mengetahuinya lebih awal, sehingga sebelum keputusan hukuman mati dijalankan, kami sempat menyingkir menyelamatkan diri." Semua menggumam lega, tanpa lupa mengutuk kejahatan Wong Pamungkas.
"Lima tahun yang lalu kami berdua dihadang oleh Wong Pamungkas dan anak buahnya, beberapa pendekar Tibet yang lihai, di suatu kelokan antara dua bukit di luar perbatasan Majapahit dengan Demak.
Dalam pertempuran itu kami tersudut.
Tetapi dengan kuasa Tuhan, suamiku dapat merebut wadi, atau rahasia kelemahan Wong Pamungkas, berupa selembar kulit buaya putih untuk menutupi pusarnya.
Di situlah titik kematian Wong Pamungkas, yang hanya dapat dilindungi oleh kulit tersebut apabila ia tidak ingin menemui ajalnya.
Celakanya, sesudah peristiwa itu, suamiku bersumpah hendak menjadi pertapa dengan pantang membunuh sesama manusia.
Kami bertengkar, tidak lagi sejalan, sebab aku masih menginginkan nyawa Wong Pamungkas yang telah menyengsarakan hidup kami.
Untuk itu, pada suatu malam aku berhasil mencuri wadi itu dari suamiku, dan pertengkaran pun berkembang menjadi perpisahan hingga hari ini.
Wong Pamungkas rupanya sudah mengetahui bahwa wadi itu berada padaku, makanya tadi ia mengerahkan kelicikannya untuk menyatroni tempat ini.
Tujuannya tidak lain, pasti ingin merebut wadi buaya putih itu dari tanganku." "Jadi?" tanya Putih Wewangi tidak tahan.
Pertanyaan yang belum diharapkan oleh lain-lainnya.
Mereka cemberut, tapi tidak sampai hati untuk mengomel.
"Wong Pamungkas hanya takut kepada suamiku, yang aku sendiri tidak tahu beritanya hingga hari ini.
Ia paham, aku tidak punya daya apa-apa jika tidak dibantu oleh seseorang yang ilmunya sebanding dengan suamiku." "Karena itu?" lagi-lagi dengan konyol, begitulah anggapan Pandu, Putih Wewangi bertanya penasaran.
"Berangkatlah kalian sekarang juga ke Cuplak.
Aku yakin, melihat sepak terjang dan tabiat Jaka Pratama selama ini, pasti ia sedang berada di sana walaupun cucuku telah memberi surat kepadanya, dan barangkali ia pun sudah membacanya.
Ia pasti tidak rela membiarkan Mbah Bungkuk jadi korban tanpa dibela." Itulah yang telah terjadi atas Jaka Pratama, sebagaimana diperkirakan dengan tepat oleh Mbah Buyut, Nyi Ageng Panataran.
Namun tidak setepat yang berlangsung sesudahnya.
Jaka Pratama telah berhasil membobol genting, dan kini telah melompat keluar.
Bahkan ia melesat bagaikan pengecut yang ketakutan menjauhkan diri dari pertempuran yang seharusnya sebentar kemudian akan berkecamuk.
Tanpa memikirkan nasib apa yang bakal menimpa Mbah Bungkuk, Jaka Pratama dengan langkah tergesa-gesa disertai kehati-hatian melebihi biasanya segera mendatangi tempat Karbala disembunyikan.
Lantas dengan dada lega ia memerintahkan kudanya membawa pergi dirinya selekas mungkin.
Ke mana?
Benarkah Jaka Pratama telah menjadi penakut?
Sungguh sayang jika demikian.
Seorang pahlawan yang dipuja-puja sebagai ksatria teladan, yang disangka tidak pernah mengenal kata undur-jurit, mundur dari pertarungan, telah mengambil keputusan sejelek itu, membiarkan seorang kakek tua renta berhadapan melawan tiga belasan pendekar tangguh yang haus darah?
Sungguh dunia sudah terbalik.
Begitu yang dipikirkan oleh Wulan Suminar, tatkala tiba di tempat itu bersama gurunya, dan menjumpai Mbah Bungkuk tanpa seorang pelindung pun.
"Jadi ia sudah pergi dari sini?" tanya Dewi Sekar Dadu kepada Mbah Bungkuk yang tengah mengibar-ngibarkan bendera putih.
Mbah Bungkuk mengangguk.
Bertepatan dengan dampratan yang tiba-tiba bergema dari kalangan para penyerbu.
"Hai, perempuan.
Kalian berdua jangan ikut campur dalam urusan ini.
Kami hanya akan meringkus orang-orang Glagah Wangi," teriak salah seorang di antara mereka.
Pasti pemimpinnya.
"Di sini tidak ada orang-orang Glagah Wangi," sahut Mbah Bungkuk.
"Bohong!" "Boleh kalian hitung dengan sebelah tangan.
Kami hanya bertiga, dua perempuan dan seorang kakek tua kelahiran Cuplak asli," jawab Mbah Bungkuk lagi.
"Dusta!
Kami tadi melihat si Santri Kinasih masuk ke dalam." "Boleh kauperiksa.
Ia memang tadi kemari.
Tapi sekarang sudah keluar lewat genting." "Dia sudah jadi pengecut," sambung Wulan Suminar yang makin mendongkol terhadap kelakuan Jaka Pratama.
Betapapun sebelumnya ia menghargai jago muda itu, malah pernah jatuh hati, tetapi melihat perubahan sifatnya yang bagaikan langit dengan bumi, tidak punya rasa tanggung jawab, ia marah bukan main.
Sayang Dewi Sekar Dadu dan Mbah Bungkuk tidak mau membuka rahasia mengapa Jaka Pratama pergi demi memelihara rencana rahasia mereka, sehingga perasaan menghina masih tetap bercokol di hati Wulan Suminar, sampai kelak menimbulkan salah paham dengan Jaka Pratama, dan hampir melahirkan tragedi mengenaskan.
"Bila tidak percaya, boleh salah satu di antara kalian memeriksa gubuk saya sekarang," tantang Mbah Bungkuk.
"Jangan harap kami terpikat oleh jebakanmu, orang tua jahat," jawab pemimpin para penyerbu.
"Kami hanya ingin menyelamatkan nyawa kalian," jawab kakek.
"Apa kami takut menghadapi pertarungan?" "Tentu tidak.
Sebab kalian menyangka Wong Pamungkas dan Liem Hoat Nyan bakal kemari, bukan?
Tidak mungkin." Tidak ada suara bantahan.
Boleh jadi mereka dihinggapi kebimbangan lantaran siasat mereka telah tertebak dengan jitu.
"Wong Pamungkas sudah lari lintang pukang sebab diancam oleh tokoh sakti yang ditakutinya, Ki Ageng Panataran," ucap Dewi Sekar Dadu meneruskan penegasan Mbah Bungkuk.
Dan Wulan Suminar juga berbisik kepada gurunya.
"Jadi, tokoh sakti yang barusan membuat ngeri Wong Pamungkas adalah Ki Ageng Panataran?" gadis itu bertanya heran.
Dewi Sekar Dadu mengangguk.
Lalu ia berteriak nyaring kepada kaum pengepung agen-agen Wong Pamungkas itu: "Apa kalian mau membuang jiwa yang berharga untuk seorang pemimpin atau majikan yang tidak ada harganya?" "Apalagi kami sejumlah sembilan orang telah siap menghancurleburkan kalian dari belakang," tiba-tiba sebuah suara tua terdengar memekik dari kegelapan, yakni sesudah belum lama berselang beberapa ekor kuda yang tadinya dipacu kencang terdengar berhenti mendadak, dan para penunggangnya berloncatan dengan sigap.
Mbah Bungkuk pun keheranan dan berkata: "Kiai Dolah Pekih, selamat datang di tempat saya yang buruk ini." "Terima kasih, Mbah.
Saya membawa para pendekar muda yang haus darah," jawab Kiai Dolah Pekih bernada ancaman, membikin kaum penyerbu mulai berpikir-pikir.
Ketahuan dari suasana yang diam mencekam.
Dan dengus-dengus napas yang tidak teratur menandakan keadaan mereka tengah dihinggapi rasa takut makin membesar.
"Boleh kami tambahkan keterangan kami?" ucap Kiai Dolah Pekih.
Tidak ada sepatah suara pun yang membalas.
Tidak berarti bahwa mereka tidak peduli.
Bahkan sebaliknya, mereka mulai memikirkan cara untuk menyingkir dari tempat itu secara diam-diam.
Sembilan orang pendekar tangguh berada di belakang mereka, ditambah dua pejuang tanpa tandingan, Dewi Sekar Dadu dan Wulan Suminar, Srikandi Cantik dari Desa Sirandu, cucu Mbah Kiai Kanapi.
Jelas, tiga belas orang pesilat macam mereka takkan mampu menimpali.
Sebab keberanian mereka adalah karena Wong Pamungkas berjanji akan datang bersama anak buahnya.
Ketika tidak ada seorang pun yang membuka mulut, Kiai Dolah Pekih melanjutkan perkataannya: "Komplotan yang dipimpin oleh Liem Hoat Nyan telah diringkus oleh para punggawa Demak.
Mereka tidak berkutik sama sekali.
Walaupun si Liong Hitam dapat meloloskan diri, tetapi ia sedang dikejar dan dikepung.
Laksamana Pangeran Sabrang Lor pasti akan berhasil membawa armadanya menjadi singa-singa laut yang ditakuti.
Karena itu silakan kalian meninggalkan tempat ini dengan aman, dan jangan berani kembali lagi.
Atau terpaksa kami laksanakan hukum perang atas kalian.
Terserah mana yang akan kalian pilih." Walaupun tidak ada sahutan bahwa mereka memilih pergi dengan aman, namun dari bunyi gemerisik yang sibuk dan beberapa lama kemudian suara kaki-kaki kuda menghentak-hentak dengan kacau dari kejauhan, Kiai Dolah Pekih tahu bahwa anak-anak buah Wong Pamungkas tersebut bukan jago-jago berjiwa besi.
Setelah keadaan di tempat itu tidak seperti pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dan malam di seputar kawasan makam Sunan Sebolampar menjadi begitu sunyi dan dingin, Wulan Suminar segera mengusi: "Apa tidak sebaiknya kita ikut melacak kemana Wong Pamungkas pergi?
Bukankah selama bajingan itu masih berkeliaran, keamanan Demak bakal terus terancam?" "Tidak akan banyak gunanya.
Sudah terlambat," sahut Mbah Bungkuk mencegah.
"Iiih, Mbah Bungkuk kok begitu, kasih contoh tidak baik buat kami, angkatan muda," potong Putih Wewangi ceplas-ceplos tanpa dapat dihalangi oleh sahabatnya, Akas Lelaras.
"Rayi!
Jangan omong semaumu!" hardik pemuda itu, membuat Putih terheran-heran.
Baru sekali ini Akas Lelaras berani berkata agak keras kepadanya.
Biasanya ia hanya menuntut dan membiarkan apa yang ia perbuat atau katakan.