Chapter 30
Sebetulnya ia telah menghitung-hitung bahwa saat ini pasti kekuatan penjagaan para punggawa Kerajaan Demak yang bertugas di Jepara sedang dikerahkan untuk mengamankan pelabuhan. Berarti pusat kota Jepara sedang sepi, sedangkan rumah Nyi Ageng terletak di lingkungan pusat kota. Ia adalah seorang nenek yang sudah rapuh, kurang dengar barangkali, dan sendirian. Wadi buaya putihnya berada di tangan Nyi Ageng. Bukankah ini kesempatan yang paling baik untuk merebutnya, dan tentu saja dengan membunuh Nyi Ageng sekalian, perempuan pikun yang amat membencinya dan sangat dibencinya itu?
Wong Pamungkas begitu percaya akan keberhasilannya. Sebab salah satu jago muda yang mungkin dapat mengimbangi kepandaiannya lebih dari dua puluh jurus hanyalah Jaka Pratama. Dan Jaka Pratama nampaknya tidak berani mempertaruhkan nama harumnya untuk bertempur melawan dia, sebab jika kalah akan hancurlah ketenarannya yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Apalagi Jaka Pratama telah jadi menantu seorang raja, telah jadi bangsawan yang berkedudukan sederajat dengan para pangeran. Tentu saja dengan dikelilingi istri-istri cantik, dengan anak yang lucu dan sehat, Jaka Pratama pasti lebih memilih hidup tenang dan berkecukupan daripada berlumuran darah untuk terperosok ke dalam kehinaan sepanjang sejarah.
"Hahaha...!" Wong Pamungkas tertawa gelak-gelak memikirkan kepandaian, kesaktian, dan kecerdasannya. Ia sangat kagum akan dirinya. Dari seorang anak jadah yang digebah dan compang-camping, kini ia telah mencapai kehormatan sebagai salah satu senapati terpercaya Kerajaan Majapahit. Dan sebentar lagi, apabila saatnya sudah matang, ia akan melangkah menjadi mahamenteri, tangan kanan Prabu Brawijaya VII. Untuk selanjutnya, dalam sekali tebas ia akan menduduki takhta raja gung binathra, penguasa tunggal Kerajaan Majapahit.
Ken Arok buktinya. Raden Wijaya buktinya. Dan masih segudang dalam catatannya, betapa banyak raja besar yang dahulunya adalah orang kecil yang tidak dipandang sebelah mata. Karena itu ia tidak keberatan untuk memutar dulu ke arah selatan, sebelum beberapa waktu kemudian, sesudah ia yakin tidak ada seorang pun yang memperhatikan tindak-tanduknya, Wong Pamungkas lalu berbalik langkah melalui jalan pintas menuju ke bandar Jepara. Ia tidak mengeluh meskipun malam itu tenaganya telah terkuras melebihi takaran. Toh yang akan disergapnya cuma seorang nenek pikun, agak budek barangkali, setengah rabun barangkali, yang kini berada sendirian di rumahnya.
Ia tahu Ki Ageng Panataran sudah lama berpisah dari istrinya walaupun mereka belum atau tidak berniat untuk bercerai. Hampir melampaui sepertiga terakhir malam yang lengang itu, Nyi Ageng sudah bersiap hendak mengambil air sembahyang. Ia ingin melakukan salat tahajud. Ia ingin bermunajat yang panjang hingga Subuh, untuk menangisi dosanya selama ini. Ia amat menyesal telah melawan keputusan suaminya menjadi pertapa. Ia telah dibutakan oleh dendam kepada Wong Pamungkas. Ia ingin mencari padepokan suaminya dengan meminta tolong kepada cucunya, Putih Wewangi.
Umurnya sudah sangat lanjut. Kalaupun takdir menjemputnya kapan saja, ia ingin telah memperoleh maaf dari Ki Ageng. Maka dengan badan reotnya yang digerogoti oleh encok dan rematik hampir sepuluh tahun, ia pun bangkit dari pembaringannya. Bunyi derit balai-balai bambu di kamarnya menghilangkan bunyi dent pintu belakang yang dibuka pelan-pelan. Nyi Ageng tanpa curiga melangkah terseok-seok melewati kamar tengah. Ia membuka pintu yang menuju ke dapur.
Dulu, ketika pendengarannya belum terganggu oleh usia tuanya, suara cicak melompat pun ia mampu melacaknya. Padahal firasat tidak bisa datang setiap saat yang tertentu. Apalagi matanya sudah setengah rabun, sedangkan dulu pun ia lebih bergantung kepada daya dengarnya yang cukup peka. Tidak heran kalau ia tidak terusik oleh dengus napas yang terengah-engah dari seseorang yang bersembunyi di balik pintu.
Tiba-tiba Nyi Ageng terhenti. Ia menjerit: "Siapa?" Pertanyaannya tidak terjawab. Ruang dapur gelap pekat bagi matanya, walaupun di situ ada lampu sentir yang sinarnya mulai melemah karena sudah disundut sejak sore.
"Ada orang?" kembali ia bertanya, karena firasatnya menangkap sesosok bau manusia di ruangan itu. Tatkala ia sedang ragu-ragu dan menyiapkan sisa-sisa kepandaiannya guna berjaga-jaga, seekor kucing melompat sambil memekik: "Ngeong!"
"Huh," gumam Nyi Ageng. "Rupanya engkau, jantan si Manis. Manis, Manis, pasanganmu banyak betul. Malam ini kucing dari mana lagi, baunya kok berbeda dari yang kemarin?" Sambil tertawa mengikik, Nyi Ageng melanjutkan langkahnya. Ia menggeleng-geleng. Si Manis, sih, tidak ada larangan berganti-ganti pasangan, sebab si Manis hanya seekor kucing, tidak berakal dan tidak mengenal aturan moral. Tidak demikian manusia. Walaupun dalam masalah berahi mungkin sama saja, tetapi dalam pelepasan berahi harus dipatuhi cara-cara dan norma-normanya.
Nyi Ageng agak menekur merenungkan hal itu, lantaran akhir-akhir ini makin sering terjadi perkosaan dan perzinaan sewenang-wenang yang dilakukan tidak hanya oleh orang-orang terbuang, melainkan juga oleh mereka yang konon terhormat dan dihormati. Nyi Ageng sudah mendekati pintu belakang. Ia memegang gerendel hendak membukanya. Betapa terkejut dia, gerendel sudah terlepas dari cantelannya. Pintu agak menganga selebar jari kelingking. Kembali Nyi Ageng menghentikan langkahnya. Kembali ia menyiapkan bekas-bekas kesaktiannya. Dan kembali ia bertanya kepada ruangan yang remang-remang itu.
"Siapa? Ada orang?" Namun, sesudah ditunggu beberapa lama tidak ada apa-apa, cuma bunyi angin kencang yang bertiup dari halaman belakang, bahaya pun tidak muncul juga. Maka Nyi Ageng menarik kesimpulan yang melegakan. Pasti kesembronoan Putih Wewangi.
"Dasar si centil cucuku. Rupanya ia lupa mengunci pintu tadi, sehabis buang air kecil di empang. Sudah dewasa tapi masih seperti anak ingusan." Atau barangkali si Lisoh? Tidak mungkin. Perempuan malang itu masih tidur melingkar di balai-balai sebelahnya, memeluk si Thole dengan lelap.
Maka Nyi Ageng pun kembali tertawa sendirian: "Dasar bocah manja, si Putih Wewangi. Teledornya bukan main. Apa dia anggap Jepara sekarang masih seperti Jepara dulu, aman dari pencuri?" Gumam sendirian ini membuat hati Nyi Ageng jadi lega. Ia tidak takut kehilangan barang-barang berharga. Ia takut kehilangan benda paling berharga yang sempat membikin perpecahan dengan suaminya: wadi buaya putih milik Wong Pamungkas yang sekarang disimpan dalam kotak berbikin dari porselen Cina. Kotak itu terletak di samping tempat tidurnya, dilekatkan pada sebuah lengkungan batang jati besar, terkunci rapat, dan hanya bisa dibuka oleh dia sendiri atau suaminya. Kecuali kalau ada orang yang mempunyai ilmu sihir dari negeri antah-berantah sehingga dapat membongkarnya.
Dengan hati-hati agar tidak tergelincir, Nyi Ageng menuruni tangga menuju ke pancuran. Halaman belakang cukup gelap, tetapi belum cukup untuk membuat Nyi Ageng tidak bisa melihat apa-apa. Ia hafal betul di mana tempat pancuran berdiri, dihubungkan dengan pipa buluh dari sumber air yang terdapat di ujung sungai. Kebun milik Nyi Ageng sangat luas. Dan di sebelah kebun itu terbentang sawah yang terhalang pemandangannya oleh sekerumun pokok-pokok besar membentuk hutan anakan.
Suara air yang mengucur sejuk selama Nyi Ageng berwudu memberi kesempatan kepada sosok bayangan yang tadi menyelinap di balik pintu guna mengendap-endap dengan cekatan memasuki kamar Nyi Ageng yang sudah terbuka lebar. Sosok itu bertubuh jangkung dengan punggung agak membungkuk. Seperti yang sudah mengerti lika-liku rumah itu, sosok tersebut mendekati balai-balai Nyi Ageng. Ia menampak seorang perempuan tergolek pulas memeluk anak kecil berusia lima tahun. Sosok itu berhenti sebentar untuk mengawasi kedua tubuh yang membujur di atas dipan bersebelahan dengan balai-balai Nyi Ageng.
Ia menghela napas, sebelum dengan cepat mengeluarkan sebilah benda runcing dari balik bajunya. Benda itu berkilat-kilat hanya oleh sinar redup dari sebatang lilin yang tersisa sepertiga, menandakan bahwa baja yang dipergunakan untuk membuat benda tersebut termasuk kelas pilihan. Beberapa saat ia ragu-ragu, seakan-akan terpojok kepada dua keputusan: meneruskan rencana semula atau mengurungkannya. Tapi akhirnya, setelah menghela napas dua-tiga kali lagi, nampaknya ia menjadi tidak peduli dengan apa yang bakal terjadi. Siapa pun perempuan itu, siapa pun anak kecil itu, tugas ini harus dilaksanakan sesegera mungkin.
Apalagi tatkala telinganya menangkap batuk Nyi Ageng sesudah selesai mengambil air sembahyang, dan kini tengah menaiki tangga belakang. Ia tidak boleh terlambat sedetik pun. Dengan kesigapan seorang ahli, bayangan serba hitam itu mengangkat benda runcingnya, lalu memasukkannya dengan tepat ke dalam sebuah celah di samping kotak porselen milik Nyi Ageng. Dengan membolak-balikkan benda itu ke atas dan ke bawah, ajaib bukan main, kotak yang kelihatannya tidak berlubang itu terbuka serentak dibarengi bunyi "ting" yang sangat halus. Ia menjulurkan tangannya ke dalam lubang kotak yang sudah terbuka. Lantas secekatan seperti masuknya, ia keluar melalui pintu depan setelah menutup lagi kotak itu sebagaimana tadinya. Di tangannya kini tergenggam selembar kulit buaya putih yang berbentuk bundar lonjong.