Chapter 31
Sebelum lolos menyelusupi kehitaman di luar, ia masih sempat memperhatikan lembaran kecil itu, lalu berkata pelan: "Maaf, Nyi Ageng. Bukan saya kurang ajar. Terpaksa mengambil kulit ini supaya tidak tersebar malapetaka." Tanpa curiga, Nyi Ageng lambat-lambat masuk ke dalam tempat sembahyang yang dibangun Ki Ageng berdampingan dengan bilik tidur.
Tidak ada yang berubah letak benda-benda di dapur ataupun di musala. Nyi Ageng pun dengan hati lega dan tenang memasang telekungnya dan mengangkat kedua tangan sambil berbisik lembut: "Allahu Akbar!" Kemudian ia hanyut di tengah kesyanduan yang kenikmatannya terasa kian memuncak. Ia membaca surat Al Fatihah seperti sedang berbincang-bincang dengan Tuhan. Alam terbentang lapang, dan jiwa tersingkap terang.
Sampai ketika seusai salam pada dua rakaat yang ketiga, terdengar suara melengking nyaring di belakangnya, merusak suasana damai tatkala ia tengah memohon ampun ke hadirat Yang Mahakuasa. "Nenek pikun! Jangan lama-lama duduk di situ. Serahkan wadi buaya putih kepunyaanku!" Suara menyakitkan telinga itu keluar dari seorang laki-laki tinggi kurus dengan badan agak membungkuk. Keringatnya menebarkan bau asam yang tajam, padahal angin malam yang bertiup melewati liang-liang dinding begitu semerbak dan sejuk.
Mendengar suara mirip lengkingan iblis itu, Nyi Ageng seperti terjaga dari mimpi. Dan bagaimanapun ia telah mengekang perasaannya, namun toh tidak sanggup menahan kekagetannya. Suara itu kalau tidak salah adalah "Masih ingat bukan, kepadaku? Wong Pamungkas?" lanjut suara itu bernada angkuh. Dari lagunya sudah kedengaran betapa orang itu menganggap dirinya tidak berharga untuk disopan-santuni.
Nyi Ageng menjadi tidak terkejut lagi setelah dapat memastikan dengan yakin bahwa orang itu adalah Wong Pamungkas. Sekarang ia lebih dari terkejut. Ia kuatir kalau-kalau Wong Pamungkas tahu di mana ia menyimpan wadi maut miliknya, lalu dapat merampasnya. Bila demikian, dunia bakal sepuluh kali lebih kalau dari keadaannya saat ini.
Tetapi Nyi Ageng masih bisa dengan tenang membuka telekungnya, lantas bangkit dan menghadapi tamu yang tidak diharapkan itu. Dengan tabah, dalam suara reotnya, ia berkata: "Aku dengar kabar engkau telah menjadi lebih besar daripada ketika engkau mengemis-ngemis kepada suamiku tempo hari?" "Hahaha...," Wong Pamungkas mengganda tertawa. "Selangkah lagi aku sudah jadi mahapatih Kerajaan Majapahit yang perkasa. Hahaha.."
"Berarti engkau orang yang punya kedudukan terhormat?" tanya Mbah Buyut, nenek dari putri lurah Janur Kemukus itu, menusuk. "Jelas," sahut Wong Pamungkas bangga, tanpa mempedulikan niat apa yang terkandung dalam pertanyaan si nenek. "Hartaku bergudang-gudang, istanaku tidak kalah dibandingkan dengan keprabuan mana pun di muka bumi ini."
"Maka seharusnya engkau juga bersikap sebagai orang besar. Tidak seperti maling kelas kecoa yang mengendap-endap ke dalam rumah orang tanpa mengetuk pintu, jauh larut malam lagi. Apa memang begitukah tata krama para punggawa tinggi Kerajaan Majapahit sekarang?" Wong Pamungkas menyempitkan keningnya yang seperti alun-alun pasir di depan keraton Majapahit. Dengan mendengus ia menghentak keras: "Puih!" ludahnya meledak ke lantai. "Kalau aku memasuki rumah orang baik-baik, tentu saja aku akan minta permisi lebih dulu. Tapi yang kumasuki malam ini adalah tempat tinggal seorang pencuri yang lebih keji daripada maling jemuran."
Nyi Ageng mulai tersinggung. "Engkau tak kan berani selancang itu kalau kau tahu suamiku berada di sini." "Hahaha... Aku tidak perlu mendatangi suamimu, sebab yang kuperlukan adalah istri-nya, nenek tua yang hampir masuk Jiang landak," jawab Wong Pamungkas telak. "Kalau aku laki-laki, aku tak kan lama-lama berada di depan seorang perempuan pikun," sahut nenek lebih telak. "Aku juga tak kan lama-lama di sini, asal kau kembalikan wadi buaya putihku," jawab Wong Pamungkas seraya mendesak ke muka.
Nenek sudah menduga apa yang dicari Wong Pamungkas. Dengan tegas ia menjawab: "Wadimu memang aku yang menyimpan. Tapi jangan harap engkau akan memperolehnya tanpa mendapatkan izin suamiku." "Yang kuperlukan benda kecil itu, bukan izin suamimu," bantah Wong Pamungkas. Wajah pucatnya mulai memerah. "Bila aku menolak?" "Nenek tahu, bukan, bagaimana kebiasaan Wong Pamungkas pantang permintaannya ditolak?" ucap Pamungkas.
Ia lebih banyak keluyuran daripada menetap di Trowulan memimpin strategi perang. Karena itu watak kasarnya makin binal. "Apa engkau tidak tahu bahwa umurku sudah di ujung tanduk?" jawab Nyi Ageng Panataran. Ia dahulunya seorang pendekar cukup tangguh walaupun tidak mencapai tingkatan petarung kelas wahid. Namun sisa-sisa keberaniannya masih lebih besar daripada sisa-sisa kepandaian-nya. "Jadi?" tanya Wong Pamungkas pendek. Ia mulai geregetan, terdengar dari gemeretak gigi-giginya yang bagaikan taring-taring macan kumbang.
"Hem," nenek tabah itu cuma menggumam. "Katakan terus terang, apa maumu? Kalau perlu kubayar dengan meluluskan semua keinginanmu. Mau harta? Mau kubangun rumahmu agar lebih megah dan indah dari istana si Jimbun, sultan Demak yang melarat serta tengah sekarat itu?" ucap Wong Pamungkas makin naik pitam. "Jelasnya, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, termasuk umur yang lebih panjang. Pengabdianku sudah tuntas. Pengorbananku sudah ikhlas. Hanya satu yang kuhendaki, ampunan dari suamiku karena kelancanganku mengambil tanpa seizinnya wadi buaya putihmu. Maka, apapun yang diperintahkan suamiku tentang benda itu, pasti akan kukabulkan. Sekalipun seandainya ia menyuruhku untuk mengembalikannya kepadamu, walaupun aku lebih suka melihat engkau musnah menjadi debu," jawab nenek sekaligus menumpahkan pendaman rasa bersalahnya.
Mendengar jawaban yang nekat ini Wong Pamungkas malah kehabisan akal. Ia berpendapat, semua yang disampaikan si nenek memang benar. Usia selanjut itu apa perlu dipertahankan lebih lama, toh setahun dua tahun lagi juga bakal runtuh sendirinya? Jadi, kalau nenek itu dibunuh, tentu yang dibutuhkannya tak kan terlaksana, mengambil kembali wadi buaya putih yang merupakan penentu hari naasnya. Ia harus mencari cara lain agar nenek itu merasa tersakiti atau ketakutan sehingga bersedia meluluskan permintaannya. Apa kira-kira?
Sudah lama ia mendengar, Nyi Ageng mempunyai cucu yang sangat dikasihi. Kalau tidak salah, namanya Putih Wewangi, yang bapaknya telah tewas di tangannya. Oh, andaikata waktu itu aku tahu bahwa wadi itu ada pada si nenek, pasti gadis itu kuculik dan kujadikan sandera untuk ditukar dengan wadiku. Tetapi gadis itu sekarang, sesuai dengan rencana jebakannya, tengah berada di Desa Cuplak, atau barangkali sudah tewas dihabisi oleh anak buahnya yang ditugaskan menyergap rumah Mbah Bungkuk.
Akibat kehabisan akal, maka Wong Pamungkas berbuat asal-asalan. Dengan kekejiannya yang melebihi ukuran, Wong Pamungkas segera menggerakkan tangan berbareng menggeser kaki kirinya ke kanan. Dalam sedetik kuduk nenek itu telah berada dalam cengkeramannya, biarpun si nenek tadi sempat melakukan perlawanan sambil menghindar. Seraya tertawa melengking tanda kesal, ia mendorong nenek menuju ke kamar, presis se-ekor kucing menggondol anaknya.
"Tunjukkan di mana kausimpan wadiku. Kalau tidak, kululuhlantakkan tubuh peotmu," hardiknya menggelegar. Begitu berada di dalam bilik, mata kucing Wong Pamungkas menangkap dua sosok tubuh yang sedang tertidur lelap. Tanpa membutuhkan waktu lebih lama, ia sudah dapat mengenali mereka, Thole, anak jadahnya, dan Lisoh, ibu si Thole.
Mendadak ia memperoleh jalan sehingga membuat bibir yang tadinya melengkung ke atas berubah tersenyum gembira. "Hahaha...," ia tertawa dulu sebelum melontarkan nenek ke balai-balai dengan ganas. Lalu ia tertawa lagi lebih berkakakan, seolah-olah melepas fitrah kemanusiawiannya untuk membiarkan naluri kebinatangan yang mengeram pada nafsu setiap manusia untuk naik ke permukaan.
Secara di luar jangkauan perkiraan yang waras, Wong Pamungkas merenggut Thole dari dekapan ibunya, yang sebenarnya telah terjaga tatkala nenek terjerembab di tempat tidur barusan. Cuma ia tidak punya waktu untuk menjerit, apalagi mempertahankan anaknya karena sangat terkejut dan tak terpikirkan betapa laki-laki buas itu ternyata adalah ayah anaknya sendiri.
"Ha?" itu saja yang terucap, terpotong oleh bentakan Wong Pamungkas yang menggeledek bagaikan seribu Gunung Merbabu runtuh jadi pecahan-pecahan batu dan abu. "Kaulihat anak kecil ini, perempuan tua? Konon ia adalah darah dagingku. Tapi di depan matamu ia akan kubeset jadi dua potong daging busuk dengan membelahnya dari kedua kaki-nya," ucap Wong Pamungkas tanpa perubahan warna mukanya.
"Jangan! Jangan!" jerit Lisoh sesudah menyadari apa yang terjadi. "Hahaha.... Siapa yang sanggup melarang aku untuk melakukan apa yang ingin kulakukan?" sahut Wong Pamungkas. Dari sikapnya kentara sekali bahwa ia tidak tergerak oleh lolongan seorang perempuan yang dahulunya adalah perawan cantik yang sangat menarik hatinya sehingga dengan paksa ia melalap kegadisannya.
"Kasihanilah anakku, darah dagingmu sendiri," tangis Lisoh mengiba-iba. Ia buru-buru bangun, lantas bersujud di kaki bapak anaknya itu. "Nasib anak ini tidak tergantung pada belas kasihanku, tahu? Aku tidak punya wewenang untuk membiarkannya hidup, kecuali apabila nenek ini menginginkan dia terus hidup. Mohonlah belas kasihan kepadanya, jangan kepadaku," jawab Wong Pamungkas enak saja.