Chapter 32
"Ndoro Ageng, tolonglah si Thole," ratap Lisoh kepada Nyi Ageng Panataran.
Perempuan tua itu tengah tercabik-cabik jiwanya.
Ia marah.
Ia dendam.
Dan ia sangat terharu melihat nasib Lisoh, perempuan jelata yang suratan takdirnya membuat dia terlunta-lunta dari suatu kesengsaraan ke kesengsaraan lainnya.
Apakah nasib semalang itu harus ditimpakan pula kepada anaknya?
Hati Nyi Ageng makin teriris tatkala tiba-tiba si Thole terjaga, dan sambil menangis memeluk laki-laki yang menggendongnya seraya memanggil: "Romo?" Suara si Thole begitu memelas, sebab ia telah mengenali laki-laki yang mencengkeram badannya hingga sakit itu adalah ayahnya.
Ia tidak pernah lupa terhadap laki-laki yang selama tiga hari tiga malam telah menyekapnya itu.
Namun yang dipanggil romo oleh anak tidak berdosa itu hanya mendengus: "Jangan banyak cingcong. Ajalmu tergantung pada Nyi Ageng."
"Gusti Senapati, punika putro panjenengan," jerit Lisoh dengan wajah kian ngeri melihat api berkobar di mata Wong Pamungkas.
"Kasihanilah dia, walaupun Tuan tidak kasihani saya. Thole sangat merindukan seorang ayah."
"Huh!" damprat Wong Pamungkas seraya menghentakkan kakinya dari pelukan kedua tangan Lisoh sampai perempuan itu terhempas ke dinding.
"Jangan mengharapkan aku percaya akan bualmu. Kaukira aku tidak tahu bahwa perempuan itu seperti pelabuhan, tempat keluar-masuknya kapal-kapal? Hahaha ...."
"Astaghfirullah," seru Nyi Ageng penuh kutukan.
"Hatimu terbikin dari batu apa, hai Wong Pamungkas? Tega kau berbuat sekejam itu kepada anakmu sendiri, menolak kehadirannya sebagai seorang anak akibat kekejianmu? Dan kaulemparkan tanggung jawabmu kepada perempuan malang itu dengan menuduhnya berbuat yang sama kepada laki-laki lain?"
Wong Pamungkas bukannya jadi surut, malah kian meloncat kemarahannya.
"Baik, akan kuhitung sampai sepuluh angka. Jika pada hitungan kesepuluh tidak juga kau serahkan kepadaku wadi buaya putihku, akan kulaksanakan apa yang kujanjikan tadi, membelah anak ini menjadi dua bagian. Sesudah itu akan kucabut kepala ibunya, dan kugelindingkan batok kepala itu ke bawah kakimu. Bila hal itu pun masih kauanggap biasa, aku akan mencoba mengerjakan perbuatan yang selama ini belum pernah kulakukan dan belum pernah juga dilakukan oleh manusia lain, memperkosa seorang nenek tua yang umurnya sudah di atas tujuh puluh tahun. Hahaha ...."
Nenek menggigil jijik mendengar ucapan Wong Pamungkas yang terakhir ini.
Memperkosa dia?
Ia, nenek-nenek, akan diperkosa?
Hiii!
"Hahaha...," gelak Wong Pamungkas penuh kemenangan. "Akan kumulai sekarang menghitung dari permulaan. Satu tidak ada reaksi dari nenek. "Dua ...," belum ada. "Tiga ...," nenek masih berusaha agar tidak nampak ketakutannya. "Empat ..., lima ..., enam tujuh ...."
Pada waktu Wong Pamungkas sampai pada hitungan yang kesembilan dan kelihatannya akan sungguh-sungguh membeset Thole, anaknya sendiri, menjadi dua potong, Mbah Buyut langsung berteriak: "Hentikan! Biarlah kali ini giliranmu yang menang."
"Hahaha begitu kan lebih baik. Memang Nyi Ageng betul-betul perempuan tua yang berhati mulia, suka menolong orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan sendiri. Hahaha ...," Wong Pamungkas terus tertawa, sebab ia berpikir, dengan memiliki kembali wadi pengapesannya, tidak ada lagi yang perlu ditakuti, dari siapa pun.
"Lepaskan dulu anak itu," ucap Pamungkas mengkhianati janjinya.
"Tidak," sahut Nyi Ageng. Wong Pamungkas menolak dan berkata dengan takut, "Kauserahkan dulu wadi nenek itu!"
"Kalau demikian, biarlah kaubunuh dia, aku tidak peduli. Sebab, walaupun seandainya kuserahkan wadimu itu, apa gunanya bila engkau toh akhirnya akan membunuh si Thole?" sanggah Nyi Ageng tegas.
"Jadi engkau tidak percaya kepadaku?" potong Wong Pamungkas marah.
"Tentu. Daripada aku mempercayai janjimu, lebih baik kauyakini janjiku. Bahwa apabila kaulepaskan dia, pasti wadimu akan kukembalikan."
Wong Pamungkas mengangguk. Ia lalu mengerutkan kening.
"Baiklah, kuterima tawaranmu. Tapi awas, jika kau dusta, jangan tanya betapa bakal sangat mengerikan akibatnya," ucap Wong Pamungkas meruncing. Api di matanya bagaikan neraka yang turun ke bumi.
Lisoh, yang memperhatikan kejadian itu berlangsung, tidak kuat untuk tidak menutupi wajahnya. Maka dengan amat berat, Wong Pamungkas menurunkan, atau lebih tepatnya mencampakkan si Thole ke lantai. Lisoh memburu anaknya, dan memeluknya dengan erat, seolah tidak akan mau melepaskannya lagi kepada bapaknya.
Begitu melihat kedua ibu dan anak tersebut sudah aman, nenek lantas berkata kepada Lisoh: "Ajaklah anakmu itu keluar dari sini. Sekarang urusannya antara aku dengan serigala itu," ujarnya tanpa takut membuka kemarahan Wong Pamungkas.
Itulah keberanian nenek, sisa kependekarannya di masa lampau.
"Tidak! Aku keberatan! Mereka harus tetap di sini!" bantah Wong Pamungkas sambil berjingkrakan. Ia melonjak-lonjak sepanjang mendengar ucapan Nyi Ageng. Tangannya sudah tidak sabar hendak meremukkan batok kepalanya. Sayang, di tangan nenek itulah tergantung nasibnya.
Nyi Ageng menimpali kemurkaan Wong Pamungkas dengan bersikap setenang mungkin. Secara keras ia berkata: "Terserah engkau, Wong Pamungkas. Kauterima syaratku, biarkan mereka keluar dari ruangan ini, atau kaubunuh aku, kaubunuh mereka berdua. Masa bodoh!"
"Hem," geram Wong Pamungkas. "Setan bodong!"
"Bagaimana?" tanya nenek mendesak.
"Baiklah," gumam Wong Pamungkas pada akhirnya. "Kuizinkan mereka keluar dari sini. Tapi ingat, jika engkau bohong, Nyi Ageng, aku akan tenteng engkau untuk mencari mereka, dan kemudian akan kulakukan apa yang telah kujanjikan sejak mula pertama."
Maka dari sebuah lemari yang tersimpan di bawah kolong tempat tidur, Nyi Ageng mengambil kunci berbentuk panjang dengan ujung meruncing seperti benda tajam. Wong Pamungkas curiga sehingga ia siap memukul seraya berkata: "Jangan berbuat macam-macam, Nyi Ageng. Apa yang kaupegang itu?"
Nyi Ageng sebetulnya tidak ingin menjawab. Tapi ia sempat mengumpat: "Dasar pengecut berhati busuk. Ini cuma kunci biasa, tahu?" Dengan tangan gemetar karena harus melakukan apa yang dibencinya, menyerahkan wadi penentu ajal si penyebar maut Wong Pamungkas, Nyi Ageng lantas memasukkan kunci itu ke lubang pembuka peti porselen di sebelah bale-bale.
Lebih gemetar lagi Nyi Ageng pada waktu peti itu terbuka. Dan menjadi sangat gemetar berbarengan lega tatkala ia melihat di dalam peti itu tidak ada benda apa-apa selain bangkai seekor cicak yang sudah mengering, mungkin cicak yang tersesat masuk tanpa diketahuinya.
Nyi Ageng gemetar sekali lantaran begitu terkejut melihat petinya kosong. Berarti ada seseorang yang telah membukanya. Ia tidak habis mengerti, siapakah yang dapat membuka peti rahasianya dan mencuri wadi buaya putih milik Wong Pamungkas? Untuk tujuan apa? Mungkinkah suaminya? Ah, mustahil!
Ia bahkan merasa lega, sebab tidak harus melihat Wong Pamungkas menerima kembali wadi maut yang telah memisahkannya dari Ki Ageng sekian lamanya. Ia sudah siap menantang akibat terburuk sekalipun yang boleh jadi akan ditimpakan oleh Wong Pamungkas.
"Ayo, segera berikan kepadaku. Mengapa engkau terbengong lama di situ?" damprat Wong Pamungkas tidak sabar.
"Nasibmu jelek, Wong Pamungkas. Barangkali hari naasmu telah tiba," sahut Nyi Ageng tenang sembari bangkit berdiri.
"Apa maksudmu? Katakan terus terang!" desak Wong Pamungkas naik darah.
"Rupanya sudah ada yang mendahului mencuri benda itu."
"Ha?" pekik Wong Pamungkas sambil matanya terbalik ke belakang.
"Jangan banyak ulah. Serahkan segera kepadaku!"
"Aku tidak berdusta. Wadimu telah dicuri orang lain."
"Kurang ajar! Pengkhianat! Penipu!" meledak dada Wong Pamungkas oleh berbagai perasaan. Terutama ketakutan terhadap nasib dirinya apabila benda itu belum kembali kepadanya.
"Mampus kamu nanti!"
Dalam sedetik bergerak, Wong Pamungkas telah mencengkeram tengkuk Nyi Ageng tanpa Nyi Ageng mampu mengelak atau bertahan sedikit pun. Dengan gampangnya Wong Pamungkas menenteng Nyi Ageng keluar dari rumah seraya berulang-ulang mendengus.
"Kubunuh engkau dengan mematah-matahkan tulangmu, dari jari tangan sampai tulang leher, hingga engkau lebih suka digilas batu gunung daripada menderita kesakitan akibat siksaan. Iblis buduk!"
Melalui pintu belakang, Wong Pamungkas menyeret Nyi Ageng yang sudah tua itu tanpa rasa iba sama sekali. Biarpun Nyi Ageng tidak mengeluh, namun melihat air matanya mengucur di samping bibirnya yang tergigit rapat, tampak betul bagaimana beratnya penderitaan yang dialami olehnya.
"Akan kita susul dulu si Lisoh dan anaknya. Setelah mereka kubereskan dengan cara yang tidak dapat kaubayangkan, baru engkau sendiri akan menerima giliran berikutnya: mati dalam waktu lama, dengan rasa sakit yang menanjak dari menit ke menit. Engkau bakal menyesal mengapa sampai dilahirkan oleh Biung-mu."
Dan ketika bayangan perempuan separo baya beserta anaknya mulai tertangkap oleh mata Wong Pamungkas, Nyi Ageng menutup kedua pelupuknya guna menghindarkan pemandangan ngeri yang akan disaksikannya sebentar lagi.
Wong Pamungkas tertawa terbahak-bahak. Dengan ujung jari telunjuknya ia menotok dua urat di belakang leher dan dekat iga kiri si nenek, membuat Nyi Ageng menegang kaku tidak dapat menggerakkan organ-organ badannya. Lalu seperti sebuah karung kempes, nenek keriput itu dijerembabkan ke tanah.