Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 34

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 34

Dan belum habis keheranan Wong Pamungkas serta kedua perempuan yang ditolongnya, Jaka Pratama dengan gerakan kilat dan hampir tidak tertangkap indra manusia, menyusul jungkitan kakinya yang barusan untuk melemparkan selembar daun sirih ungu yang kebetulan tumbuh di dekat ia berdiri, atau memang barangkali ia sengaja memilih tempat itu.

Anehnya, ketika menimpa bagian luka tersebut, daun sirih itu sudah teremas-remas, sehingga karena lukanya ringan, maka dapat menghentikan kucuran darahnya beberapa saat kemudian.

"Hahaha, engkau memang hebat, Kulup," ucap Wong Pamungkas berusaha menutupi kekagumannya.

"Jadi, kau mau minta tolong apa kepadaku?" ia bertanya dengan harapan ada peluang untuk menghindari bentrokan melawan santri kudisan ini.

"Saya mohon Tuan menengok ayah saya sekarang juga," jawab Jaka Pratama sambil melancarkan serangannya yang pertama.

Jangan disebut Si Tangan Besi jika serangan itu tidak dahsyat akibatnya.

Sampai beberapa dahan yang menghijau mendadak jadi kering, padahal tidak tersentuh sedikit pun.

Namun, jangan disebut Wong Pamungkas apabila ia tidak dapat memungkasi serangan lawan dengan cara yang lebih dahsyat.

Hanya dengan berdiri kaku seolah tanpa bergerak, serangan Jaka bagaikan berbenturan dengan benteng baja yang lentur.

Wong Pamungkas memutarkan tubuhnya, persis mainan gasing yang berpusing menimbulkan bunyi dengung.

Jaka Pratama terpaksa menarik kembali tenaga dalamnya, sekaligus menyedot kekuatan yang terpancar dari daya bertahan musuh yang aneh itu.

Wong Pamungkas terkesima.

Ilmu apa ini yang dipergunakan oleh si santri buduk terkutuk itu?

Sungguh mati ia tidak menyangka bakal menemui perlawanan semacam itu.

Tetapi ia tidak mati kutu.

Secara ajaib ia menyorongkan tubuhnya ke depan, lantas, seperti balok kayu ditebang, ia merobohkan tubuhnya.

Dan lebih ajaib lagi tatkala ia memutar tubuhnya persis jarum jam diputar seribu kali lebih cepat.

Oh, benar-benar pertarungan kelas tinggi yang tidak mungkin dapat diikuti oleh pesilat-pesilat biasa.

Karena yang tampak, apalagi di tengah malam yang cukup kelam, hanya bayangan-bayangan kabur yang berkelebatan ke sana kemari, ke atas ke bawah, dan sesekali melompat-lompat.

Tanpa terasa pertempuran telah berkecamuk lebih dari tiga puluh jurus.

Walaupun arena tempat bertarung itu masih berada di kawasan bandar Jepara, namun karena letaknya di tengah sawah dekat sungai besar yang membelah bandar itu menjadi dua bagian, kota dan kampung, sementara di tengah-tengah antara rumah Mbah Buyut dengan lokasi persawahan itu terdapat gerombolan pohon-pohon besar membentuk hutan kecil, maka suasana kota yang sepi tetap sepi, tidak terusik oleh ketegangan yang merayap naik dari detik ke detik.

Nyi Ageng Panataran begitu terpukau, hingga tidak sempat, atau boleh jadi tidak teringat, untuk memberi peringatan kepada Jaka tentang letak kelemahan Wong Pamungkas di pusarnya.

Demikian juga Lisoh.

Ia bahkan tidak paham apa sebenarnya yang sedang berlangsung di muka hidungnya.

Hanya si Thole yang memperhatikan dengan saksama.

Dan sembari kadang-kadang mengusap ingusnya apabila bagian lukanya berdenyut-denyut nyeri, ia mengumpat Jaka Pratama sambil mendoakan agar bapaknya yang berjaya.

Kelihatannya memang akan terkabul doa si Thole.

Melalui pendalamannya selama bertahun-tahun, Jaka Pratama belum mampu menebak sudut-sudut kelemahan musuhnya.

Dengan ilmu Pamupus Aji, juga dengan ilmu Manunggaling Kawulo Gusti, serta Aji Pangrungu dan Panyirepnya, Jaka belum menemukan inti kesaktian Wong Pamungkas.

Wong Pamungkas mulai tersenyum.

Ia tahu takkan ada gunanya jika menghadapi jago yang satu ini dengan Aji Awu Geni.

Sebab Jaka Pratama telah merasakannya, dan pasti dapat menebak di mana letak kekurangannya.

Maka ia sekarang menggunakan ilmu simpanan yang belum pernah dilancarkan kepada musuh lain.

Ilmu tersebut diperoleh dari pamannya, Lokawana, dan disebut ilmu Branjangan Wanapati.

Kekuatannya bertumpu pada gerak-gerik tipu yang membingungkan, didasarkan atas kebalikan dari hukum alam.

Misalnya, jika api seharusnya membakar, dalam ilmu Branjangan Wanapati justru membuat korbannya menggigil kedinginan.

Itulah yang sedang dialami oleh Jaka Pratama saat ini.

Ia mendadak merasa ketakutan yang sangat hebat, padahal ia yakin dapat menundukkan serangan Wong Pamungkas pada jurus keempat puluh.

Nyatanya memang begitu.

Pukulan miring dengan telapak tangannya tepat mengenai lambung Wong Pamungkas ketika lawan yang licik itu tengah lengah.

Namun, karena rasa cemas menguasai jiwanya, akibatnya kekuatan pukulan tersebut seolah-olah hanya embun yang menguap di gurun pasir.

Jaka menggeram keheranan.

Ia bahkan sekarang diliputi kegembiraan berlebihan pada saat Wong Pamungkas menampakkan kelemahan pertahanannya.

Justru ia tertawa tatkala tendangan Wong Pamungkas mengenai betis kirinya.

"Krak!" Terdengar tulang kering Jaka berkeretak tertimpa serangan bawah lawan.

Tanpa ampun Jaka terjerembap ke samping laksana meja yang patah kakinya.

Wong Pamungkas melompat dan berniat menginjak remuk batok kepala Jaka Pratama.

Untung ketika itu Wong Pamungkas lupa akan inti dasar ilmu tersebut, yakni melawan hukum yang wajar.

Ia sangat gembira saat yakin bahwa sergapan dari atas itu pasti berhasil.

Karena itu buyarlah keajaiban ilmu aneh Branjangan Wanapati.

Jaka sekonyong-konyong sadar akan bahaya yang sebentar lagi bakal menimpa.

Sambil bergerak mengelak ia masih sempat menelan obat penyembuh luka tulang sebelum berguling-guling ke kanan pada saat kaki Wong Pamungkas menjejak di kirinya.

Dengan tangkas Jaka bangkit secepat kilat, dan segera memperbaiki letak kuda-kudanya.

Dengan menyebut nama Allah ia berusaha memusatkan kembali daya manunggalnya kepada pusat segala kekuatan, yaitu Yang Maha Tunggal.

Ia berusaha menjuruskan semua karsa dan niatnya karena Allah semata-mata.

Ia tidak ingin mengalahkan Wong Pamungkas untuk membela nama baik mendiang ayahnya.

Ia hanya ingin membebaskan masyarakat dari aniaya yang sudah dan akan banyak timbul apabila Wong Pamungkas dibiarkan melanjutkan kemaharajalelaannya.

Dan semua itu tidak untuk mencari nama, melainkan lantaran mengejar rida Allah belaka.

Sungguh di luar dugaannya ketika setapak demi setapak batinnya menggumpal mengisi bagian-bagian yang lowong dari celah-celah badannya.

Jaka sudah menemukan lagi kepribadian sejati, yaitu ikhlas dan pasrah.

Dan pada kepribadian sejati itulah terletak inti kekuatan manusia.

Maka ketika Wong Pamungkas menginsafi kekeliruannya, Jaka Pratama telah siap melancarkan pembalasan.

Sehingga betapapun Wong Pamungkas segera bertahan dengan jurus pokok ilmu Branjangan Wanapatinya, namun tak ayal gempuran Jaka sempat merobohkan kuda-kudanya dan membuat Wong Pamungkas terpental dua langkah ke belakang.

Darah hitam menggelegak keluar dari mulut dan hidung Wong Pamungkas, tak ubahnya seperti suara tukang cangkul menenggak air putih dari kendi di tengah sawah, pada saat ia sedang dahaga karena bekerja dari pagi sampai siang hari.

Sayang sekali setelah itu Jaka Pratama membatalkan serangan berikutnya, sebab hatinya dihinggapi rasa kasihan melihat lawan sedang menderita kesakitan.

Apalagi setelah mengetahui dari ucapan-ucapan si Thole bahwa si kecil tidak berdosa itu adalah anak Wong Pamungkas.

Ia membayangkan terlalu jauh.

Andaikata Wong Pamungkas tewas, bagaimana pula nasib anak kecil itu, padahal sebagai anak pasti dia juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah?

Jaka tidak punya waktu untuk berpikir tentang betapa akan hitamnya masa depan anak kecil itu apabila berada dalam asuhan seorang manusia jahat seperti Wong Pamungkas.

Tempo beberapa detik sepanjang Jaka diliputi pertimbangan-pertimbangan perikemanusiaan itu telah digunakan sebaik-baiknya oleh Wong Pamungkas untuk mengumpulkan kembali inti kekuatannya, lalu dengan sisa tenaga yang masih lebih besar dibandingkan yang telah dikeluarkan, ia menerjang ke muka dan melancarkan pukulan ke arah selangkangan dengan gerakan bawah pada jurus Branjangan Ngurek Siti.

Untung Jaka masih sempat sadar akibat rasa sakit di tulang keringnya belum hilang sama sekali.

Maka serangan lawan yang mematikan itu dapat ditumpulkannya dengan lompatan menyilang sembari melakukan tendangan salto ke arah pundak dan kepala Wong Pamungkas.

Si Thole memekik, "Romo! Bunuh orang jahat itu!"

Jaka tercekat.

Anak sekecil itu telah terpengaruh oleh keadaan menjadi calon pembunuh?

Jika ucapan tadi keluar dari hatinya, bukankah berarti situasi kelak masih akan dipenuhi pula dengan kebuasan, kekejaman, dan pertumpahan darah?

Oh, Tuhan, bilakah dunia ini hanya berisi cinta murni dan perdamaian?

Yang jelas, menghadapi Wong Pamungkas tidak layak untuk terlalu bermurah hati.

Sebab senapati yang sakti ini tidak pernah memberi hati kepada siapa pun selama memberi hati bermakna mempersulit tercapainya angan-angan yang melambung untuk menjadi yang paling besar di negeri ini.

Karena itu, sesudah tendangan saltonya dengan susah payah baru dapat dielakkan oleh Wong Pamungkas, Jaka menyusulinya dengan pukulan ganda mempergunakan tangan kiri dan kanannya enam kali berturut-turut.

Ilmu edan dari mana ini?

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment