Halo!

Ajal Sang Penyebar Maut - Chapter 35

Memuat...
Ajal Sang Penyebar Maut

Chapter 35

Jaka memang saat itu sedang mencoba ilmu barunya hasil ciptaan sendiri, dan terdiri atas hanya tujuh jurus dengan kembangan tujuh cabang.

Jurus pertama diawali dengan munculnya bulan tatkala langit sedang diliputi mendung tebal.

Faktor tiba-tiba dan mengagetkan inilah yang dijadikan landasan buat merekam gerak cabang, yaitu sirnanya mendung akibat angin kencang yang mendadak terhembus.

Bisa juga dilakukan terbalik.

Dari cabang dahulu, baru jurus utamanya.

Pukulan ganda enam kali beruntun itulah angin kencang yang bertiup mengusir mendung di serata langit, yakni sang musuh Wong Pamungkas.

Dan ketika mendung terperanjat dengan datangnya topan mendadak, Jaka menjadikan dirinya sebagai bulan, yang merayap lambat-lambat menyelusupi awan gemawan.

Wong Pamungkas kebingungan menerima rambatan tenaga yang seolah-olah menutup semua jalan keluarnya.

Ia tidak mampu berkelit, padahal Jaka baru melancarkan jurus pertama.

Beberapa kali gempuran tenaga serangan memperbesar kesakitan di jantungnya, dan membikin darah yang barusan sudah hampir mengering terasa mendesak-desak hendak muncrat laksana seorang perempuan hamil muda ingin muntah dalam masa ngidamnya.

Wong Pamungkas penasaran.

Ia sudah bertarung puluhan tahun.

Ia sudah mempelajari puluhan ilmu dan ratusan jurus dari lawan-lawannya.

Seluruhnya telah diketahui sudut-sudut kelemahannya.

Tetapi ilmu bajingan yang satu ini susah ditelusuri ke mana arahnya.

Ia masih mampu menghindar beberapa kali, tetapi lebih banyak terjebak dalam pusaran tanpa ujung.

Yaitu pada waktu sebutir biji yang terlempar ke tanah mulai tumbuh menjadi tunas.

Akarnya menghunjam makin dalam, menembus lapisan batu karang yang keras.

Daun-daunnya bermekaran, menantang sinar matahari yang panas, menampung hujan dan embun yang dingin, menahan tiupan angin yang deras.

Wong Pamungkas kehilangan akal.

Pukulan hawa panasnya tidak membuat lawan menarik balik serangannya.

Demikian pula pukulan hawa dingin.

Dan yang paling membuatnya cemas adalah tatkala ia melancarkan gempuran tenaga kasar, justru digempur Jaka dengan kelenturan yang lembut, menyebabkan tenaga yang tuntas dikerahkannya berbalik menggempur dirinya sendiri.

Terpaksa ia pasrah.

Sebab tidak ada jalan lain kecuali mengandalkan belas kasihan Jaka Pratama.

Dua gelas darah hitam telah tersembur dari mulut, hidung, dan telinganya.

Ia tidak akan mati selama titik kelemahannya di pusar tidak terkena pukulan.

Dan inilah siasat untuk menyelamatkan diri, pura-pura mati dengan luka parahnya untuk balas dendam lain kali.

Jaka sudah berniat mengampuni sang penyebar maut.

Melihat musuh terhempas tanpa daya, dengan tangan dan kedua kaki terkulai, dengan kepala tertekuk ke belakang seperti tidak berleher, jiwa santrinya tersentuh.

Ia tidak tega membiarkan seorang anak Adam teraniaya, betapapun kejamnya manusia berhati iblis itu.

Ia telah mengurungkan, bahkan menarik kembali pemusatan kekuatan di buku-buku jari-jarinya, yang beberapa saat sebelumnya mengubah jari-jari itu bagaikan taji-taji baja yang tegang dan tajam.

Ia begitu iba melihat musuh tergolek di tanah lembap dalam udara malam yang lembap.

Sebab hati Jaka telah basah oleh siraman kasih sayang dan ampunan, suatu sifat yang selayaknya dimiliki oleh anak manusia.

Tentu saja setelah nanti menolong Mbah Buyut, Mbok Lisoh, dan si kecil sekiranya mereka membutuhkan bantuannya.

Ia hendak mengeluarkan obat penyembuh luka, dan sudah menggerakkan tangan, tatkala tiba-tiba serombongan laki-laki dan perempuan muncul dari kegelapan.

Serangkai suara halus tetapi sangat nyaring bagi telinganya berteriak menggema: "Jangan diperpanjang umurnya. Bunuh jahanam itu." Jaka terperanjat.

Ini adalah suara Wulan Suminar, tidak salah lagi.

Gadis yang pernah dan senantiasa menarik simpatinya.

Namun Jaka tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

Ia tegak terpaku, tersungkur dalam kebimbangan antara iba dan kehausan membunuh.

Sementara di tanah becek di sana, Wong Pamungkas tersengal-sengal putus asa.

Matanya jelas mata tikus ketakutan, sebab di depannya menganga moncong ular sanca, dan di belakang terancam oleh taring-taring kucing hutan.

Ia sudah siap menghimpun Aji Patiraga, untuk membuat jasadnya kaku dan dingin laksana mayat tak bernyawa.

Jaka menganggap tidak perlu menghabisi pembunuh ganas itu.

Kalaupun ia tidak mati setelah diobatinya, yang pasti ia takkan mampu lagi menjadi pembantai berdarah dingin yang patut ditakuti.

Lantaran yang terlukai adalah urat-urat penting.

Dan dengan luka-luka tersebut ia takkan bisa memanfaatkan kesaktiannya sedikit pun.

Tidak sepotong pun bagian dari organ-organ yang mengendalikan gerak tubuhnya dapat berfungsi kembali, selain sekadar memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya belaka.

Namun ketika Jaka berbalik dari Wong Pamungkas dan melangkah mendekati Mbah Buyut, Wulan Suminar telah dipanggil lebih dulu oleh perempuan tua itu.

Serta-merta Wulan Suminar memenuhi permintaan Nyi Ageng.

Dan begitu kupingnya berada di muka bibir Nyi Ageng, gadis tersebut tampak mengangguk-angguk dengan wajah sangat gembira, sementara dalam suasana yang berbeda dan nada amat kecewa, si Thole bertanya kepada ibunya: "Romo kena apa, Ibu? Romo tidak kalah, bukan?"

Mbok Lisoh memandangi anaknya dengan terharu.

Ia menyadari nasib yang pantas diterima bapak anaknya itu.

Ia rela keadaan yang lebih buruk menimpa Wong Pamungkas sesuai dengan kejahatan-kejahatan yang sudah dikerjakannya.

Tapi ia tetap sedih mengingat bagaimanapun buruk laki-laki itu, ia adalah bapak dari anaknya.

Dan kalau ia tewas, berarti si Thole akan menjalani masa kanak-kanaknya tanpa seorang ayah, betapapun rendahnya seorang ayah tidak sah dalam pandangan masyarakat.

Si Thole masih juga bertanya tentang keadaan bapaknya, menang atau kalah dalam pertarungan barusan, ketika Jaka Pratama mendatangi Wong Pamungkas kembali untuk memberikan obat penangkal luka kepadanya.

Tanpa curiga ia melangkah, dan menganggap belum perlu menyapa walaupun ia sudah tahu di tempat itu telah berkumpul sejumlah saudara seperjuangannya.

Dalam perkiraannya, dengan menghitung jejak-jejak kaki mereka tadi, barangkali seluruhnya sudah berada di situ.

Termasuk Kanjeng Dewi Sekar Dadu.

Ia masih belum menaruh curiga tatkala Wulan Suminar setengah melompat mendekatinya pada waktu ia mengangkat tubuh Wong Pamungkas.

Jaka melirik ke arah gadis itu sambil membuka bibirnya sedikit dengan wajah penuh kegembiraan: "Terima kasih."

Maka alangkah kagetnya Jaka Pratama ketika tiba-tiba Wulan Suminar menyarangkan sebilah pisau kecil, persis menusuk pusar Wong Pamungkas, senapati terlaknat yang pernah menculik dan memaksanya menjadi ronggeng di istana Prabu Girindrawardhana.

Dengan mata terbeliak Jaka hampir tidak mempercayai kejadian itu, terutama pada detik-detik Wong Pamungkas meregang nyawa di pangkuannya dengan darah memancar deras melalui lubang di pusarnya.

Wulan Suminar kelihatan sangat puas, dendam lamanya telah terbayar.

Jaka Pratama menatap bingung dan menyesal.

Si Thole menjerit: "Romo!" seraya menghambur lari dari dekapan ibunya, lalu menubruk ayahnya yang sedang bersimbah darah.

Wong Pamungkas masih sempat memandangi anak kecil itu, anaknya sendiri yang saat ini bagaikan tengah mandi dengan darah ayahnya.

Laki-laki penyebar maut itu tertawa mengikik sambil menggumam berat: "Engkau..., anakku..?"

Si Thole mengangguk.

"Romo, jangan mati, Romo," ucapnya sesenggukan.

"Tidak, aku takkan mati. Aku mau... menghancurkan neraka! Hahaha! Karena itu, kalau engkau betul-betul anakku..., engkau harus... menghancurkan dunia.... Aku yang merajai neraka..., engkau yang merajai dunia, putra Wong Pamungkas.... Hahaha ...."

Pendekar mahasakti itu tertawa panjang menyudahi wasiatnya kepada si Thole dengan suara makin pelan dan tersengal-sengal.

Dibarengi jeritan terakhirnya mengutuk nama Jaka Pratama, pundaknya tiba-tiba tersentak ke atas, lalu melengkung ke bawah dan terkulai lemas.

Jiwa Wong Pamungkas baru saja melayang meninggalkan wadah kasarnya.

Jaka Pratama menundukkan kepalanya sangat dalam.

Ia mendengar Kiai Dolah Pekih berkata: "Yang seharusnya sudah lama terjadi, hari ini telah terjadi. Itulah ketentuan takdir yang tak dapat dihindari."

Di tempat yang terpisah, Mbok Lisoh terisak-isak.

Bukan menangisi kematian Wong Pamungkas, jahanam yang telah merampas kegadisannya secara hina, melainkan menangisi masa depan si Thole, sendirian tanpa ayah untuk masa-masa yang amat panjang di hadapannya.

Walaupun barangkali dengan ayahnya masih hidup nasib si Thole malah akan lebih buruk, atau dalam kata lain, walaupun kematian Wong Pamungkas barangkali justru lebih baik buat dirinya, namun selaku seorang ibu ia sangat prihatin mengenangkan masa depan anaknya yang bakal sarat dengan tanda tanya dan gelap.

Si Thole masih memeluk tubuh Wong Pamungkas, dan membiarkan dirinya berkubang dalam darahnya.

Wulan Suminar tiba-tiba tersentuh hatinya melihat keadaan anak tersebut.

Ia menghampiri pelan-pelan dari belakang, dan menggamit pundaknya seraya menegur lembut, "Kulup, sudahlah jangan menangis lagi. Ia memang bapak kandungmu, tapi ialah yang menghancurkan hidup ibumu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment