Chapter 36
"Ia telah memperkosa ibumu." Mungkin ucapan ini masih dapat dimengerti apabila diungkapkan dalam kesempatan yang tidak seperti sekarang ini.
Tetapi sungguh tidak bijaksana, menurut Mbok Lisoh, karena disampaikan pada saat dukacita begini. Terutama buat si Thole.
Itu pula yang terpikir dalam benak Jaka Pratama sehingga ia mengangkat muka dan menatap kurang senang ke arah Wulan Suminar. Lantas, untuk menghilangkan kekecewaannya, ia menjauh buru-buru menuju ke tempat para kawula Demak berkumpul. Pakaiannya masih berlumur darah segar.
Jaka sedang mengatakan, "Maaf, Kiai dan Kanjeng Mbakyu Sekar Dadu. Juga para kadang lainnya. Saya permisi ke belakang dulu, ke tempat kuda saya untuk berganti pakaian," manakala seorang anak kecil yang badannya juga berlumuran darah mengejarnya seraya memekik, "Jaka Pratama, kubunuh engkau! Jaka Pratama, kubunuh engkau!"
Jaka terperanjat. Ia menyesal dan sedih melihat apa yang terjadi saat ini, dan bagaimana akibatnya terhadap anak kecil yang belum menanggung dosa itu. Jiwanya begitu terguncang sehingga ia kurang sadar atau tidak peduli ketika sesosok bayangan yang gerakannya sangat ringan dan cepat melayang ke arahnya. Daya refleks Jaka membuatnya segera menyiapkan kuda-kuda tanpa berpikir lagi.
Namun pada waktu ia yakin musuh tidak akan menyerangnya, sikapnya berubah menjadi penuh teka-teki. Siapakah dia? Dan apa yang hendak diperbuatnya di tengah malam yang kian mendekati fajar ini?
Ketika yang lain juga saling bertanya-tanya melihat sosok asing yang hanya berciri serba hitam tanpa tanda-tanda identitas diri, terdengar Mbok Lisoh menjerit kecil, "Saya mau dibawa ke mana?"
Lantaran semua orang sedang mencurahkan perhatian ke arah sosok hitam yang mula-mula muncul tadi, mereka tidak melihat atau kurang mengacuhkan datangnya bayangan kedua, yang dengan tangkas hinggap di tanah dan sigap memondong Mbok Lisoh tanpa kesulitan sedikit pun.
Orang-orang hendak mengejar penculik tersebut. Tetapi baru saja mereka bersiap diri, sosok yang pertama pun berbuat serupa. Jaka Pratama yang belum beranjak dari situ segera hendak memburu, terutama didorong rasa tanggung jawabnya yang besar karena sebetulnya ia berniat mengambil si Thole menjadi anak angkatnya. Tetapi ia dicegah oleh Kiai Dolah Pekih sebagaimana dilakukan terhadap yang lain.
Sebab pada waktu itu penculik yang membawa Thole berkata, "Kalian tidak perlu mengejar kami. Thole dan ibunya akan kami pelihara baik-baik. Sebab kami adalah keluarga mereka."
Oleh ucapan yang agak melegakan ini, akhirnya tidak seorang pun berniat melakukan pengejaran. Masih banyak yang harus dikerjakan sebelum mereka dapat dengan tenang beristirahat sambil melambaikan selamat jalan kepada armada Angkatan Laut Demak di bawah pimpinan Laksamana Pangeran Sabrang Lor yang akan bertolak meninggalkan pangkalan Jepara untuk memerangi tentara Peringgi.
Adapun bagaimana nasib si Thole, Wong Pamungkas, beserta ibunya, dan bakal jadi apa dia di kemudian hari nanti, sejarahlah yang akan membeberkannya. Dan sejarah pula yang berhak menceritakan persoalan-persoalan rumit yang membelenggu para pendekar remaja dalam belitan asmara sampai melahirkan keresahan dan pertentangan.
Mudah-mudahan segala kemelut itu dapat diatasi dengan baik sehingga tidak menjadi malapetaka yang mengancam keutuhan bangsa. Untuk itu, Putih Wewangi yang centil tiba-tiba berubah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Jaka Pratama, walaupun ia tahu laki-laki itu telah beristri tiga orang dan pantas menjadi pamannya, sementara tiga orang pemuda remaja dengan hawa panas berusaha menghalang-halangi niat itu.
Untung, sesudah melalui untaian peristiwa yang berbelit-belit, semua kesalahpahaman tersebut dapat diselesaikan secara bijaksana meskipun dihadang oleh "si Calon Pembunuh", yang karena keganasan anak itu, namanya dijadikan sebagai judul cerita seri "Anak-Anak Pendekar" buku kedua.