Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 01

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 01

Seorang tua berumur lima puluh tahun, berwajah tampan, dan berkulit putih kemerahan tanda sehat, berbicara kepada seseorang di depannya. Ia adalah Bangsawan Li Ceng Ong, seorang pegawai perpustakaan di Perkumpulan Naga Terbang dan keturunan pangeran.

"Jangan lupa, tempatnya di tumpukan ketiga! Di belakang kotak-kotak buku yang di tengah!" katanya.

Bangsawan Li Ceng Ong memiliki wajah tampan yang dihiasi jenggot putih seperti perak sampai di dada, dengan sepasang mata tajam bening bersinar-sinar mengawasi orang yang diajak bicara di depannya.

"Apakah ada jalan rahasia yang dekat tempat tersebut?" tanya laki-laki berbadan kekar dan berwajah gagah yang usianya sekitar lima puluh lima tahun, menegaskan.

"Memang ada. Akan tetapi, jalan itu sekarang masih ada atau tidak, aku kurang tahu," jawab Bangsawan Li Ceng Ong.

"Akan kucari nanti di sana!"

"Harap Taihiap berhati-hati. Perkumpulan Naga Terbang tidak bisa dibuat mainan!" Bangsawan Li Ceng Ong memperingatkan.

"Baiklah, Taijin. Saya mohon diri!"

"Semoga berhasil usahamu, Taihiap! Aku hanya mendoakan supaya Taihiap tidak menemui rintangan suatu apa pun." Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie berdiri dari tempat duduknya. Tubuhnya yang tinggi tegap berisi nampak anggun ketika berdiri. Apalagi wajahnya masih tampan dan dihiasi kumis tebal berwarna hitam. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau tajamnya.

Setelah saling memberi hormat, segera Pendekar Golok Terbang menuju keluar ruangan rahasia di rumah Bangsawan Li Ceng Ong. Begitu tiba di luar, Pendekar Golok Terbang segera melesat melompati tembok rumah dan berlompatan dari atas genteng ke atas genteng lainnya dengan cepat sekali.

Ketika sampai di suatu tempat, ia merogoh sesuatu dari saku bajunya dan mengenakannya di wajahnya. Ternyata sebuah topeng berwarna hitam telah menutupi seluruh wajahnya sehingga yang nampak hanyalah sepasang mata tajam seperti mata harimau.

Dalam sekejap saja, Pendekar Golok Terbang telah berada di suatu tempat di mana nampak sebuah rumah besar dan luas, di belakang rumah nampak menjulang tinggi sebuah pagoda bertingkat dua, berdiri di tengah sebuah taman nan penuh dengan aneka bunga.

Sebuah empang lebar mengelilingi pagoda itu, di kanan kiri nampak gunung-gunungan batu menghiasi taman menambah indahnya tempat itu.

"Hyaaaatttt!" Kakinya menginjak tanah di luar tembok bangunan benteng Perkumpulan Naga Terbang. Berhenti sejenak, telinganya yang berpendengaran tajam mendeteksi keadaan di sekitarnya. Mendengarkan kalau-kalau ada sesuatu yang dapat menjadi penghalang usahanya, ternyata telinganya yang tajam itu tidak mendengar suara pernapasan orang di sekitar tempat itu sama sekali!

Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya telah lenyap di balik tembok. Gerakannya bagaikan segumpai asap terbawa angin saja.

Teng-teng-teng! Gembreng dipukul di gardu penjagaan. Agaknya anak buah Perkumpulan Naga Terbang keluar dari gardu dan meronda. Empat orang penjaga berbaris tegap melakukan perondaan lewat di dekat gunung-gunungan batu di jalan menuju ke tengah pagoda di mana nampak jembatan bulan yang berkelok-kelok di empang.

Mereka berjalan biasa saja karena yakin bahwa tidak ada seorang pun yang berani menyatroni perkumpulan mereka. Bayangan hitam itu segera menyelinap di bawah kerimbunan pepohonan di taman. Setelah peronda itu lewat, dengan berindap tanpa meninggalkan kewaspadaan ia bergerak maju. Bagaikan bayangan iblis saja tubuhnya berkelebat ke sana-sini menuju gedung perpustakaan di tengah empang.

Para penjaga tak mengira sama sekali bahwa bayangan hitam yang bergerak cepat itu bukanlah bayangan burung terbang, akan tetapi bayangan orang yang ingin mencari sesuatu di dalam Perkumpulan Naga Terbang di mana terdapat sesuatu yang menjadi incarannya!

Takkk! Begitu tangan kanan Si Bayangan Hitam menyentuh daun jendela, terdengar suara keras patahnya palang kayu di belakang daun jendela. Dia cepat menyelinap masuk dan sepasang matanya segera mengawasi tumpukan kotak-kotak tempat buku-buku rahasia perkumpulan itu!

Setelah merasa pasti di mana benda itu berada, ia segera menarik kotak buku ketiga, dan tangannya merogoh ke dalam dan menarik sebuah buntalan panjang. Sepasang matanya lalu jelalatan memandang ke kanan kiri, lalu bayangan hitam itu pun maju kembali ke depan dan menarik sebuah laci di atas sendiri.

Kain kuning sebagai sampul itu kelihatan robek di sana-sini saking tuanya! Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memasukkan kitab tua itu ke saku di balik pakaian hitamnya. Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie segera mengembalikan kotak-kotak kosong tadi ke tempatnya semula.

Begitu merasa pasti bahwa semua telah dikembalikan dengan baik, ia segera menuju ke jendela, berhenti sejenak untuk melihat keadaan. Sekali berkelebat tubuhnya telah melayang ke atas genteng pagoda. "Berhenti! Siapa di situ?" Bentakan menggeledek ini mengejutkan bayangan hitam yang baru saja menginjakkan kakinya di atas wuwungan pagoda.

Begitu dia menengok, dirinya telah dikurung empat orang yang bukan lain adalah empat murid kepala Perkumpulan Naga Terbang! "Siapa kau? Kenapa malam-malam gentayangan di perkumpulan kami! Cepat jawab!" Salah seorang dari mereka membentak keras.

"Hemmm... siapa aku tidaklah penting! Aku tiada waktu melayani kalian!" Begitu selesai berkata, orang bertopeng hitam itu telah melayang naik ke atas pagoda yang lebih tinggi!

Akan tetapi, baru saja tubuhnya sampai di tengah jalan, keempat murid kepala itu menggerakkan tangan kanan mereka sambil membentak. "Mampus kau, pencuri keparat!" Empat bayangan pedang menyambar dengan kecepatan kilat didahului angin dingin. Siap memotong tubuh Si Bayangan Hitam di tengah udara.

Merasakan angin dingin menyambar dari empat jurusan, Si Bayangan Hitam segera menggerakkan tangannya mencabut pedang dan menangkis. Wirrrrr... tranggggg... Orang pertama yang datang dekat terpental ke belakang akibat tangkisan pedangnya. Tiga temannya lalu memainkan pedang mereka menahan serangan balik orang berbaju hitam itu.

Mereka tidak menduga sama sekali akan mendapat lawan tangguh seperti itu. Si Bayangan Hitam segera turun kembali sambil berusaha menjatuhkan keempat lawannya dengan cepat. Maka pedangnya digerakkan dengan jurus-jurus mematikan dengan dilandasi tenaga dalam yang hebat. Trangg... tranggg... blesssss! Ternyata salah seorang pengeroyoknya telah termakan ujung pedang orang berpakaian serba hitam. Sedangkan dua temannya yang lain terlempar ke bawah, jatuh di tengah empang.

Byuuurrrrr... Byurrrrr... "Pritttttt-prittttt-prittttt!!" Orang keempat ini meloncat ke belakang sambil membunyikan peluitnya, peluit tanda bahaya. Sebentar saja terdengar suara peluit sambung-menyambung memenuhi rumah Perkumpulan Naga Terbang. Terdengar suara kaki mendatangi dari seluruh penjuru! "Hyaaattttt...!" Crakkkkk... Setelah dapat membereskan orang terakhir, segera Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie meloncat ke tengah taman di mana banyak ditumbuhi pepohonan yang rindang. Tubuhnya berputaran di udara beberapa kali melewati empang, dan jatuh di gerumbulan sernak di taman!

"Tangkap penjahat! Tangkap..." "Dia lari ke arah taman! Kepunggggg...!" "Jangan biarkan penjahat lolos! Kepunggggg...!" "Bawa obor ke sini! Cepat! Siapkan pasukan panah..." Teriakan saling sahut ini menggegerkan rumah Perkumpulan Naga Terbang, apalagi suara kaki orang berlarian ke sana ke mari menambah gaduh dan membangunkan seluruh isi perkampungan perkumpulan itu.

Dari jauh nampak seorang tosu berjubah abu-abu nampak berlarian cepat sekali menuju ke tempat keramaian tersebut. Rambutnya putih bagaikan perak dibiarkan terurai di belakang kepala. Wajahnya yang belum berkeriput itu kemerahan dan sepasang matanya tajam mencorong, menakutkan! Di tangan kanannya nampak sebuah tongkat hitam berkelak-kelok seperti ular!

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut membuat kekacauan di tengah malam! Apa yang terjadi, he!" bentaknya keras. Suaranya penuh dengan tenaga dalam sehingga menggetarkan jantung orang di dekatnya.

"Anu... anu... itu... tuuu... Ada... ada pen... pencuri... riii ber... berkedok hitam!" jawab seorang penjaga anak buah Naga Terbang.

"Hemmmmm..." "Gudang perpustakaan terbuka jendelanya... Tolonggggg..." Berkelebat bayangan abu-abu ke arah suara di tengah pagoda. Ternyata bayangan abu-abu tadi adalah Sim Tok Tojin, seorang tosu dari barat yang menjadi Paman Guru dari Ketua Perkumpulan Naga Terbang. Dia adalah seorang pertapa dan Himalaya yang datang berkunjung untuk menghadiri perayaan berdirinya seratus tahun Perkumpulan Naga Terbang!

Begitu tiba di tempat itu, segera saja tosu itu menyuruh buka pintu perpustakaan. Lalu cepat dia memeriksa seluruh tempat itu, sepasang matanya yang sipit mencorong bagaikan mengeluarkan api dari bola matanya.

Tiba-tiba sekali tubuhnya berkelebat ke depan dan tangannya menarik kotak di atas yang tersembul keluar. Begitu dia membuka kotak tersebut, matanya terbelalak. Ternyata kotak itu telah kosong melompong!

"Bangsat! Keparat laknat! Berani betul mendahuluiku!" umpatnya di dalam hati. Penuh kemarahan dan kekecewaan!

Ketika itu masuklah seorang gendut pendek seperti gentong berjalan menggelinding. Usianya sekitar lima puluhan tahun, wajahnya bulat bagaikan rembulan purnama, hidungnya besar, dan mulutnya lebar seakan membelah wajahnya menjadi dua, dan sepasang matanya lebar penuh nafsu jalang.

Pakaiannya tidak karuan bentuknya, agaknya saking terburu-buru ia tidak sempat lagi berdandan. Mungkin tadi sedang bertarung dengan lawan jenisnya ketika mendengar ada pencuri sedang menyatroni perkumpulan mereka!

"Apakah yang dicuri maling itu, Suhu?" tanyanya pelan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment